- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2459
PART 112
Kini gw berada di ruang tamu, terduduk lesu sembari menundukkan kepala. Di samping gw ada bidadari No 1 yang terus menerus menyeka air matanya ketika gw menceritakan perkara yang gw hadapi. Sementara bapak gw memilih diam di warung tak sudi mendengarkan penjelasan dari gw. Beliau terlihat sangat marah terhadap gw. Ketika gw baru datang dan mengajaknya bersalaman, dia tak mau menjabat tangan gw. Bahkan dia sempat berkata, "Ngapain pulang?"
Kemudian gw bersimpuh di kaki bidadari No 1 meminta maaf padanya. Seketika air mata gw mengalir, ya gw menangis. Dan gw sangat menyesal dengan apa yang sudah gw perbuat. Gw sadar, orang tua gw sudah terlanjur sakit hati dan gw nggak bisa apa apa selain meluncurkan kata maaf, berharap mereka sudi memaafkan anaknya yang durhaka ini.
"Maafin Fajar mah..." Ucap gw.
"Yaudah Kak, kalau udah begini mau gimana lagi. Namanya juga musibah. Cuma yang Mama sama Bapak ga suka, kamu nggak jujur..."
"Iya mah ampun maah...."
"Minta maaf sama bapakmu sana..."
Gw beranjak menuju warung dimana bapak gw berada disana. Gw menyapanya, beliau hanya diam. Kemudian gw meminta maaf padanya menggunakan bahasa yang halus nan sopan. Tapi beliau masih diam, bahkan menatap wajah gw pun enggan dia lakukan. Akhirnya gw meninggalkannya sembari berfikir, mungkin dia masih marah sama gw dan semoga besok dia mau menerima permintaan maaf gw.
Esoknya gw bangun tidur pukul 5 subuh dibangunkan oleh bidadari No 1. Dan gw kembali merasakan yang namanya dibangunin buat solat subuh. Tentu saja Ini salah satu momen yang sangat gw rindukan setelah kurang lebih setengah tahun gw meninggalkan rumah. Selesai solat subuh, gw menuju dapur membuat dua gelas kopi. Kopi hitam buat gw dan kopi susu buat bapak gw. Gw fikir dengan begini hatinya bisa melunak dan mau bicara lagi sama gw.
"Pak, nih kopinya..." Ucap gw.
"....." Beliau cuma diam tanpa menoleh ke arah gw.
Sampai tengah hari bolong, kopi bikinan gw sama sekali tak disentuh olehnya. Yang ada tuh kopi malah disemutin plus banyak rametuk lagi pada berenang. Akhirnya kopi itupun gw buang karena sudah tak layak untuk diminum. Yasudahlah, batin gw.
Setiap pagi selepas bangun tidur gw selalu membuatkan kopi untuk beliau dengan harapan beliau mau bertegur sapa dengan gw lagi. Hasilnya sama seperti kemarin, kopi buatan gw sama sekali tak disentuh olehnya. Hingga tiga hari pun berlalu, gw merasa tak tahan dengan keadaan seperti ini. Satu rumah, satu atap, satu keluarga, tapi tak bertegur sapa. Oke, gw memang salah. Tapi kenapa bapak gw sampe segitunya?
Kalo boleh milih mendingan gw di pukul abis abisan sama bapak gw ampe babak beler sekalian, tapi setelah itu semuanya kembali seperti sedia kala. Daripada perang dingin macam begini malah membuat gw sakit hati. Gw merasa kehadiran gw di rumah ini tak dianggap sama sekali. Yah, walaupun sakit hati gw nggak seberapa dibandingkan sakit hatinya Bapak gw. Gw sadar akan hal itu.
"Sabar Jar. Bapakmu emang begitu...." Ucap Bidadari No.1
"....."
"Mungkin dia terlalu marah sama kamu Jar." Lanjutnya.
"Iya, tapi nggak segitunya kali Mah. Aku udah coba negor, minta maaf, tetep aja didiemin." Balas gw.
"Ya salahmu juga sih. Jadi wajar aja kalo bapakmu sampe begitu. Kamu harusnya ngerti lah dengan bapak diemin kamu, berarti kamu harus perbaiki diri"
"Aku nggak tahan aja Mah. Satu rumah tapi ga saling sapa..." Ujar gw
"Baru juga tiga hari, sedangkan Mama sama Bapak nggak di tegor kamu berapa lama? 5 bulan kan? Waktu kamu kabur kemaren?"
"....."
Gw diam nggak bisa ngomong apa apa lagi. Ya, gw di skak mat sama bidadari No 1.
"Kamu udah ketemu mba Bunga belum Jar?" Tanya beliau.
"Belum mah..."
"Kamu marahain dia ya?" Tanya beliau lagi.
"Eh, enggak Mah..." Kilah gw.
"Halah kamu jangan bohong. Nih kemaren mama smsan sama mba Bunga. Katanya dia dibentak bentak sama kamu..."
"......." Gw diam.
"Jangan gitu Jar sama mba Bunga. Dia tuh anaknya baik. Baik sama kamu, baik sama keluarga kita..."
"....."
"Perlakukanlah perempuan dengan cara yang halus Jar. Jangan dikasarin. Hati perempuan itu ibarat kayu yang dimakanin rayap. Luarnya kelihatan utuh, tapi dalemnya? Hancur dan rapuh!!"
"Iya maah...."
Ah dasar si jembung! Segala pake ngadu ke Bidadari No 1 segala. Kan gw jadi malu sendiri. Tapi setelah gw fikir fikir, gw emang salah udah bentak bentak Bunga pake kata kata yang kasar. Bahkan dia sampai nangis ketika gw mengucapkan kata "Silahkan pergi!!" yang meluncur keras dari mulut gw. Gw pun sadar, gw sudah menyakiti hati seorang wanita yang sangat peduli serta menyayangi gw.
Malamnya sekitar pukul 19.30 ba'da Isa, gw sudah berpakaian rapi hendak menuju rumahnya Bunga. Tentu maksud gw kesana untuk meminta maaf padanya. Lagipula gw kangen sama dia karena sudah beberapa hari ini gw nggak ada komunikasi dengannya. Tak ketinggalan gw membawa satu kotak susu Ultra dan dua buah bengbeng sebagai alat pelicin agar dia mau memaafkan gw. Setelah pamit pada bidadari No 1, gw langsung tancap gas menunggangi jupi, motor kesayangan gw.
Sampailah gw di depan gerbang besar rumahnya Bunga lalu gw menekan bel. Kenapa harus ngebel? Yah karena kalo harus tereak 'assalamualaikum' nggak bakal kedengeran dari dalem. Tak lama kemudian pintu terbuka, dibukakan oleh Bundanya Bunga. Gw segera mengulurkan tangan kanan berniat untuk salim. Tapi bunda malah bengong sambil melototin gw dengan raut wajah heran.
"Loh kamu Jar?"
"???"
"Bunganya mana??" Tanya dia.
"Hah?" Gw ikutan heran.
"Nggak pergi sama kamu Jar?" Lanjutnya.
"Nggak bun."
"Loh terus Bunga kemana ya jam segini belum pulang? Smsan sama kamu nggak dia kemana?" Tanyanya lagi.
"Nggak tuh Bun" Jawab gw sembari menggeleng.
"Haduuh...." Ucapnya cemas.
Lalu gw dipersilahkan untuk masuk ke dalam kemudian gw duduk di sebuah kursi. Bunda terlihat sangat cemas, mondar mandir sembari megangin hape. Terkadang Bunda melirik layar hapenya berharap ada kabar dari Bunga. Gw jadi ikutan cemas karena memang nggak biasanya Bunga pulang sampe malem begini, apalagi dia nggak ngasih kabar
"Dari sore bunda telefon tuh anak nomornya nggak aktif. Di sms juga nggak terkirim..."
"....."
"Kemana yah tuh anak? Sampe jam segini belum pulang juga...." Lanjut Bunda.
"....."
Gw cuma diam, tidak menjjawab semua pertanyaan Bunda. Toh gw memang nggak tau dia ada dimana. Lagipula dalam beberapa hari terakhir ini gw nggak pernah komunikasi sama Bunga.
Sekitar satu jam berlalu, tiba tiba dari luar terdengar suara klakson mobil memecah keheningan diantara gw dan Bunda. Kemudian Bunda menyuruh gw segera membuka gerbang karena tentu saja Bunga sudah pulang. Gerbang pun berhasil gw buka, namun tiba tiba "Ngung!!" mobil yang dikendarai Bunga menghentak maju ke depan. Gw yang masih berdiri di tengah, langsung buru buru menghindar agar tak tertabrak.
"Astaghfirullahalaziim..." Ucap gw.
Beres memarkirkan mobilnya secara ngasal (Parkiran rumahnya Bunga luas), Bunga langsung keluar dari mobil lalu "Buk!!" dia membanting pintu mobil dengan keras. Dia sempat melirik ke arah gw tapi tak menghiraukannya bahkan Bundanya sendiri dilewatinya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lantas dia terus berjalan masuk ke dalam rumah. Otomatis hal tersebut membuat Bunda geram lalu mengejar Bunga ke dalam.
"Heh kamu kenapa baru pulang?" Tanya Bunda dari dalam rumah yang terdengar sampai ke tempat gw berada.
"......"
"Kamu kenapa sih? Pulang pulang ngambek gitu?" Lanjut Bunda.
"......"
Selang beberapa detik kemudian, suara bantingan pintu terdengar 'ngejeblag' keras sekali, mungkin Bunga masuk ke kamarnya. Sementara gw masih mematung di dekat pintu sambil memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Sosok perempuan itu bukan seperti sosok Bunga yang gw kenal. Tatapan matanya berubah tajam, raut wajahnya menyeramkan, Bahkan gw hampir di tabrak olehnya. Sebenarnya ada apa di balik sifatnya Bunga yang aneh seperti ini?
Keadaan semakin tak menyenangkan, hampir setengah jam semenjak Bunga datang, dia tak kunjung keluar menemui gw. Dan gw pun nggak tau mesti ngapain lagi disini. Pada akhirnya gw pamit pulang sambil membawa oleh oleh berupa pertanyaan besar tentang Bunga.
Bersambung...
Kemudian gw bersimpuh di kaki bidadari No 1 meminta maaf padanya. Seketika air mata gw mengalir, ya gw menangis. Dan gw sangat menyesal dengan apa yang sudah gw perbuat. Gw sadar, orang tua gw sudah terlanjur sakit hati dan gw nggak bisa apa apa selain meluncurkan kata maaf, berharap mereka sudi memaafkan anaknya yang durhaka ini.
"Maafin Fajar mah..." Ucap gw.
"Yaudah Kak, kalau udah begini mau gimana lagi. Namanya juga musibah. Cuma yang Mama sama Bapak ga suka, kamu nggak jujur..."
"Iya mah ampun maah...."
"Minta maaf sama bapakmu sana..."
Gw beranjak menuju warung dimana bapak gw berada disana. Gw menyapanya, beliau hanya diam. Kemudian gw meminta maaf padanya menggunakan bahasa yang halus nan sopan. Tapi beliau masih diam, bahkan menatap wajah gw pun enggan dia lakukan. Akhirnya gw meninggalkannya sembari berfikir, mungkin dia masih marah sama gw dan semoga besok dia mau menerima permintaan maaf gw.
Esoknya gw bangun tidur pukul 5 subuh dibangunkan oleh bidadari No 1. Dan gw kembali merasakan yang namanya dibangunin buat solat subuh. Tentu saja Ini salah satu momen yang sangat gw rindukan setelah kurang lebih setengah tahun gw meninggalkan rumah. Selesai solat subuh, gw menuju dapur membuat dua gelas kopi. Kopi hitam buat gw dan kopi susu buat bapak gw. Gw fikir dengan begini hatinya bisa melunak dan mau bicara lagi sama gw.
"Pak, nih kopinya..." Ucap gw.
"....." Beliau cuma diam tanpa menoleh ke arah gw.
Sampai tengah hari bolong, kopi bikinan gw sama sekali tak disentuh olehnya. Yang ada tuh kopi malah disemutin plus banyak rametuk lagi pada berenang. Akhirnya kopi itupun gw buang karena sudah tak layak untuk diminum. Yasudahlah, batin gw.
Setiap pagi selepas bangun tidur gw selalu membuatkan kopi untuk beliau dengan harapan beliau mau bertegur sapa dengan gw lagi. Hasilnya sama seperti kemarin, kopi buatan gw sama sekali tak disentuh olehnya. Hingga tiga hari pun berlalu, gw merasa tak tahan dengan keadaan seperti ini. Satu rumah, satu atap, satu keluarga, tapi tak bertegur sapa. Oke, gw memang salah. Tapi kenapa bapak gw sampe segitunya?
Kalo boleh milih mendingan gw di pukul abis abisan sama bapak gw ampe babak beler sekalian, tapi setelah itu semuanya kembali seperti sedia kala. Daripada perang dingin macam begini malah membuat gw sakit hati. Gw merasa kehadiran gw di rumah ini tak dianggap sama sekali. Yah, walaupun sakit hati gw nggak seberapa dibandingkan sakit hatinya Bapak gw. Gw sadar akan hal itu.
"Sabar Jar. Bapakmu emang begitu...." Ucap Bidadari No.1
"....."
"Mungkin dia terlalu marah sama kamu Jar." Lanjutnya.
"Iya, tapi nggak segitunya kali Mah. Aku udah coba negor, minta maaf, tetep aja didiemin." Balas gw.
"Ya salahmu juga sih. Jadi wajar aja kalo bapakmu sampe begitu. Kamu harusnya ngerti lah dengan bapak diemin kamu, berarti kamu harus perbaiki diri"
"Aku nggak tahan aja Mah. Satu rumah tapi ga saling sapa..." Ujar gw
"Baru juga tiga hari, sedangkan Mama sama Bapak nggak di tegor kamu berapa lama? 5 bulan kan? Waktu kamu kabur kemaren?"
"....."
Gw diam nggak bisa ngomong apa apa lagi. Ya, gw di skak mat sama bidadari No 1.
"Kamu udah ketemu mba Bunga belum Jar?" Tanya beliau.
"Belum mah..."
"Kamu marahain dia ya?" Tanya beliau lagi.
"Eh, enggak Mah..." Kilah gw.
"Halah kamu jangan bohong. Nih kemaren mama smsan sama mba Bunga. Katanya dia dibentak bentak sama kamu..."
"......." Gw diam.
"Jangan gitu Jar sama mba Bunga. Dia tuh anaknya baik. Baik sama kamu, baik sama keluarga kita..."
"....."
"Perlakukanlah perempuan dengan cara yang halus Jar. Jangan dikasarin. Hati perempuan itu ibarat kayu yang dimakanin rayap. Luarnya kelihatan utuh, tapi dalemnya? Hancur dan rapuh!!"
"Iya maah...."
Ah dasar si jembung! Segala pake ngadu ke Bidadari No 1 segala. Kan gw jadi malu sendiri. Tapi setelah gw fikir fikir, gw emang salah udah bentak bentak Bunga pake kata kata yang kasar. Bahkan dia sampai nangis ketika gw mengucapkan kata "Silahkan pergi!!" yang meluncur keras dari mulut gw. Gw pun sadar, gw sudah menyakiti hati seorang wanita yang sangat peduli serta menyayangi gw.
Malamnya sekitar pukul 19.30 ba'da Isa, gw sudah berpakaian rapi hendak menuju rumahnya Bunga. Tentu maksud gw kesana untuk meminta maaf padanya. Lagipula gw kangen sama dia karena sudah beberapa hari ini gw nggak ada komunikasi dengannya. Tak ketinggalan gw membawa satu kotak susu Ultra dan dua buah bengbeng sebagai alat pelicin agar dia mau memaafkan gw. Setelah pamit pada bidadari No 1, gw langsung tancap gas menunggangi jupi, motor kesayangan gw.
Sampailah gw di depan gerbang besar rumahnya Bunga lalu gw menekan bel. Kenapa harus ngebel? Yah karena kalo harus tereak 'assalamualaikum' nggak bakal kedengeran dari dalem. Tak lama kemudian pintu terbuka, dibukakan oleh Bundanya Bunga. Gw segera mengulurkan tangan kanan berniat untuk salim. Tapi bunda malah bengong sambil melototin gw dengan raut wajah heran.
"Loh kamu Jar?"
"???"
"Bunganya mana??" Tanya dia.
"Hah?" Gw ikutan heran.
"Nggak pergi sama kamu Jar?" Lanjutnya.
"Nggak bun."
"Loh terus Bunga kemana ya jam segini belum pulang? Smsan sama kamu nggak dia kemana?" Tanyanya lagi.
"Nggak tuh Bun" Jawab gw sembari menggeleng.
"Haduuh...." Ucapnya cemas.
Lalu gw dipersilahkan untuk masuk ke dalam kemudian gw duduk di sebuah kursi. Bunda terlihat sangat cemas, mondar mandir sembari megangin hape. Terkadang Bunda melirik layar hapenya berharap ada kabar dari Bunga. Gw jadi ikutan cemas karena memang nggak biasanya Bunga pulang sampe malem begini, apalagi dia nggak ngasih kabar
"Dari sore bunda telefon tuh anak nomornya nggak aktif. Di sms juga nggak terkirim..."
"....."
"Kemana yah tuh anak? Sampe jam segini belum pulang juga...." Lanjut Bunda.
"....."
Gw cuma diam, tidak menjjawab semua pertanyaan Bunda. Toh gw memang nggak tau dia ada dimana. Lagipula dalam beberapa hari terakhir ini gw nggak pernah komunikasi sama Bunga.
Sekitar satu jam berlalu, tiba tiba dari luar terdengar suara klakson mobil memecah keheningan diantara gw dan Bunda. Kemudian Bunda menyuruh gw segera membuka gerbang karena tentu saja Bunga sudah pulang. Gerbang pun berhasil gw buka, namun tiba tiba "Ngung!!" mobil yang dikendarai Bunga menghentak maju ke depan. Gw yang masih berdiri di tengah, langsung buru buru menghindar agar tak tertabrak.
"Astaghfirullahalaziim..." Ucap gw.
Beres memarkirkan mobilnya secara ngasal (Parkiran rumahnya Bunga luas), Bunga langsung keluar dari mobil lalu "Buk!!" dia membanting pintu mobil dengan keras. Dia sempat melirik ke arah gw tapi tak menghiraukannya bahkan Bundanya sendiri dilewatinya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lantas dia terus berjalan masuk ke dalam rumah. Otomatis hal tersebut membuat Bunda geram lalu mengejar Bunga ke dalam.
"Heh kamu kenapa baru pulang?" Tanya Bunda dari dalam rumah yang terdengar sampai ke tempat gw berada.
"......"
"Kamu kenapa sih? Pulang pulang ngambek gitu?" Lanjut Bunda.
"......"
Selang beberapa detik kemudian, suara bantingan pintu terdengar 'ngejeblag' keras sekali, mungkin Bunga masuk ke kamarnya. Sementara gw masih mematung di dekat pintu sambil memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Sosok perempuan itu bukan seperti sosok Bunga yang gw kenal. Tatapan matanya berubah tajam, raut wajahnya menyeramkan, Bahkan gw hampir di tabrak olehnya. Sebenarnya ada apa di balik sifatnya Bunga yang aneh seperti ini?
Keadaan semakin tak menyenangkan, hampir setengah jam semenjak Bunga datang, dia tak kunjung keluar menemui gw. Dan gw pun nggak tau mesti ngapain lagi disini. Pada akhirnya gw pamit pulang sambil membawa oleh oleh berupa pertanyaan besar tentang Bunga.
Bersambung...
0