- Beranda
- Stories from the Heart
Cowok Manja Merantau
...
TS
karnaufal
Cowok Manja Merantau


Quote:
Quote:
Quote:
Dimohon dengan sangat, anggap ini sebagai cerita fiksidemi kenyamanan kita semua.
Cheers!

Cheers!


Prolog
Hari ini, gue resmi menjadi seorang siswa SMA di sebuah kota yang terletak di provinsi Jawa Barat. Oh ya, perkenalkan gue Naufal. Gue sebenarnya berasal dari timur pulau jawa, karena sebuah keinginan dan keadaan yang mendesak, gue memutuskan untuk menjadi anak rantau.
Gue merupakan anak tunggal. Apa yang identik dengan anak tunggal? Ya, gue selalu dimanja. Apa-apa yang gue inginkan pasti dituruti. Masa kecil gue bisa dibilang cukup bahagia, bahagia karena dibahagiakan oleh materi. Pada masa SD, gue terkenal sebagai anak kecil yang suka mengadu kepada guru karena hal-hal sepele. Misalkan jika gue dijahili oleh teman sekelas gue, gue pasti lapor kepada guru dan guru tersebut memarahi anak yang menjahili gue. Karena itu juga, hampir ga ada anak yang mau berteman dengan gue karena mereka semua takut gue melapor kepada guru jika mereka melakukan sebuah kesalahan kepada gue. Dan karena ini juga, gue menjadi anak rumahan yang hampirjauh dengan sosialisasi bersama dunia luar dan ditambah lagi karena semua kebutuhan gue sudah tercukupi di dalam rumah. Laper? Tinggal teriak minta diambilin ke bibi. Mainan? Tinggal minta dibeliin ke supir keluarga dan kemudian sore harinya mainan tersebut sudah ada di kamar gue.
Hingga gue lulus dari SMP, gue hampir ga pernah yang namanya main keluar rumah. Namun sekarang gue punya 2 orang teman yang mampu bertahan dengan kelakuan manja gue sewaktu di SMP. Sebut saja Suryo dan Dimas. Gue kenal dengan mereka berdua di bangku kelas 1 SMP karena dulu gue pernah satu kelompok dengan mereka berdua. Oh dan sampai detik ini pula, gue belom pernah ngerasain namanya pacaran. Boro-boro pacaran, deket sama cewek aja enggak!
Sebelum gue masuk ke SMA, gue bertekad untuk berubah. Ga lagi manja, harus bisa mandiri dan bebas dari fasilitas orang tua. Kemudian terbersit pikiran gue untuk menjadi seorang perantauan.
Gue mengutarakan keinginan gue kepada orang tua gue. Dan bisa ditebak kalo mereka menolak mentah-mentah keinginan gue. Terutama bokap gue, alasannya karena gue bakal jauh dari rumah. Setelah gue beradu argumen dengan kedua orang tua, akhirnya gue diperbolehkan untuk menjadi seorang anak rantau bersyarat.
Singkat cerita, gue sedang mengepak barang bawaan yang akan gue bawa pergi sebentar lagi. Memang pilihan gue ekstrim, ga punya saudara disana, ga tau lika-liku kota yang akan gue tinggali, dan gue juga ga kenal siapa-siapa disana. Semoga gue bisa bertahan menjalani lembaran baru hidup di kota orang lain.
Semoga...
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 830 suara
Naufal sekarang sama siapa?
Aya
41%
Amel
3%
Hanif
9%
Someone yang belum ada di cerita
8%
Ojan :bettys
39%
Diubah oleh karnaufal 25-05-2015 22:50
pavidean dan 42 lainnya memberi reputasi
43
2M
4.7K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
karnaufal
#1347
ENAM PULUH DUA: Sunday = Sunny Day
Hari ini adalah hari Minggu dan besok adalah hari Senin. Hari dimana Ujian Nasional akan dilaksanakan. Untuk ukuran manusia normal yang akan menghadapi ujian, mereka semua pasti akan belajar lebih giat lagi. Apalagi ini adalah Ujian Nasional, mungkin bakalan ada orang yang mengurung diri di dalam kamar bersama buku-buku tebal yang penuh akan rumus atau hapalan-hapalan yang wajib dihapal.
Tapi ini semua ga berlaku bagi seonggok manusia yang bernama Amalia Dwi Nadia, adik dari Amelia Dwi Nadia.
Pagi-pagi sekali sekitar jam 6 pagi, gue sudah berpakaian lengkap untuk pergi hikingbersama Aya. Setelah menunggu sekitar 10 menit, terdengar suara deru motor yang berhenti di depan rumah. Dengan ogah-ogahan, gue mengenakan sepatu lalu pergi menemui Aya. Saat pagar rumah terbuka, gue mendapati sosok Aya yang sudah rapih dengan setelan training berwarna biru tua. Setelan hiking gue dan Aya bisa dibilang cukup, atau sangat berbeda. Gue hanya memakai kaos oblong yang dibalut dengan jaket serta celana pendek selutut. Sedangkan Aya, dia memakai baju training berlengan panjang dan celana training panjang. Berbeda sekali bukan?
Oke, who cares?
"Siap buat hiking bersama Aya hari ini?" Ujarnya sambil tersenyum aneh. Lalu dia melepaskan helm yang menutupi kepalanya dan memberikan kunci motornya kepada gue.
"Gue ga mau disalahin kalo misalkan besok lo ga bisa ngerjain soalnya. Ngerti?" Gue berkata sambil meraih kunci motornya.
"Ah gancil, besok mah cuma Indonesia doang!" Dia berkata sambil menjentikkan jari.
"Pokoknya gue ga mau disalahin."
"Iyaaa! Cowok kok bawel amat sih." Ujarnya sambil bersungut-sungut.
Gue kemudian mengenakan helm yang juga dibawakan oleh Aya, menaiki motor lalu menstaternya. Sebelum motor menyala, Aya menjatuhkan dirinya pada jok belakang motor dengan hentakan yang cukup keras.
BRUKK!!
Dasar gila!
Gue bergumam di dalam hati.
"Yuk, jalaan!"
"Ummm, Ay..." Gue terdiam sambil memegang stang motor.
"Apa?"
"Gue ga tau jalan..."
"Ah, payah lo!"
PLETAK!
Helm yang gue kenakan dipukul olehnya.
"Udah berapa lama lo tinggal disini?!"
"Yah gue emang udah lumayan lama tinggal disini, cuman gue ga pernah muter-muter."
"Lo beneran payah ah! Udah jalan cepet, gue navigasiin elo dari belakang."
"Eh tib, lo seneng amat perasaan?"
"Hahaha emang! Jalaaan!"
Setelah berhenti di salah satu mini market untuk membeli camilan serta beberapa kali nyasar dan salah belok karena gue yang ga fokus, akhirnya kami berdua sampai di tempat tujuan.
Kami berdua disambut dengab sebuah gapura melengkung yang bertuliskan 'Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda'. Setelah memarkirkan motor, Aya turun lalu berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk.
Sambil menunggu Aya mengantri, gue berjalan-jalan ke sekeliling untuk melihat-lihat dan menikmati sejuknya udara disini. Gue menghirup udara dalam-dalam, mencoba memenuhi seluruh volume paru-paru gue dengan udara sejuk pegunungan hingga tidak ada lagi ruang kosong di dalamnya. Setelah puas menikmati udara pagi, gue memutuskan untuk pergi ke salah satu warung yang berada di bawah pohon rindang yang menjual beraneka macam gorengan.
"Ini berapa bu?" Gue mengangkat pisang goreng yang asapnya masih mengepul dengan ujung kuku ibu jari dan telunjuk.
"Lima ratus dua cep." Ujar sang penjual sambil tetap menggoreng pada wajan panasnya. Gue kemudian merogoh saku dan mengambil dua lembar uang seribuan lalu memberikan kepadanya.
"Ini bu, beli delapan ya bu..."
"Mau yang ini aja atau dicampur?"
"Hmmm, campur aja bu." Setelah gue berkata seperti itu, beliau langsung mengambil bungkusan dari kertas koran lalu dengan cekatan memasukkan satu persatu gorengan ke dalamnya.
"Ieu cep..." Ujarnya sambil memberikan bungkusan berisi gorengan tersebut.
"Eh..." Gue mengkerutkan kening, gue ga ngerti dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Makasih bu..." Kepala gue mengangguk dan tangan gue terjulur, mengambil bungkusan tersebut dari ibu-ibu penjual gorengan.
Gue berjalan menuju motor lalu duduk diatasnya. Gue mengambil salah satu gorengan dan meniup-niupnya sebentar lalu memakannya.
Wuuuh, mantep!
Ga ada yang lebih nikmat dibandingkan makan gorengan hangat sambil diselimuti oleh udara sejuk pegunungan seperti ini.
"Makan gorengan ga bagi-bagi!" Aya tiba-tiba datang dan menarik bungkusan gorengan dari tangan gue.
"Ya beli sendiri kek, maen ambil aja!"
"Males ah belinya. Nih tiketnya udah dapet!" Ujarnya sambil mengacungkan dua lembar tiket.
"Yuk masuk sekarang!" Aya tersenyum lebar, dia sepertinya sangatbersemangat sekali hari ini.
"Bentar, ngabisin dulu gorengannya. Gue belum sarapan..."
"Aaah, makan sambil jalan aja!" Lalu dia membalikkan badan dan berjalan sambil membawa gorengan milik gue di tangannya. Gue hanya bisa menggeleng sambil menahan lapar yang melanda.
Saat melewati persimpangan pertama, gue melihat ada sebuah papan penunjuk jalan. Jika kita pergi ke kanan, maka akan ada goa peninggalan zaman Belanda yang konon katanya seram. Dan jika belok ke kiri, maka akan ada goa peninggalan zaman Jepang dan tentunya ga kalah seram dengan goa Belanda. Setelah gue bertanya kepada Aya, dia memilih untuk mengambil jalan ke kanan karena setelah melewati goa Belanda, masih ada jalan setapak lagi yang menuju ke sebuah air terjun.
Tak henti-hentinya gue mengagumi tempat ini. Di sepanjang jalan yang gue tempuh, bagian kanan dan kirinya masih dipenuhi oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Sesekali juga terdengar suara burung saling bersahut-sahutan yang menambah kesan asri tempat ini.
"Eh itu apaan tuh Ay?" Gue menunjuk pada sekerumunan orang yang berada di bawah. Mereka semua sedang mengantri di depan sebuah, entahlah, pintu masuk?
"Itu yang namanya goa Belanda. Berani masuk situ ga lo?!"
"Hah, gitu doang. Siapa takut?!" Ucap gue santai sambil tetap melihat ke sekeliling.
"Oke, sekarang kita masuk ke situ dulu ya!" Ujarnya dan kemudian dia berjalan lebih cepat menuju pintu masuk goa.
Gue mengejar ketertinggalan dengan sedikit berlari menuruni jalanan yang menurun. Setelah sampai di muka goa, gue berjinjit, mencoba mencari keberadaan Aya diantara kerumunan orang.
"Dor!"
"Nyariin gue ya? Ciee takut gue ilang ciee!" Aya tiba-tiba muncul dan menggoda gue sambil memegang dua buah senter lusuh di tangannya.
"Gue sih ga nyariin elo juga gapapa, yang penting kunci motor ada di tangan gue." Ujar gue dengan cuek.
"Lo emang tau jalan pulang?"
"Tinggal tanya-tanya. Gampang kan?" Gue tersenyum meledek.
"Ish, lo nyebelin ya!" Dia menunjuk gue dengan senter yang dipegangnya sambil cemberut.
"Hahaha, udah yuk masuk."
"Ituuu, masih penuh di depan pintunya juga..." Dia menunjuk kerumunan yang daritadi masih berdiri di mulut goa.
"Ah, lama!" Gue mengambil salah satu senter yang dipegang Aya lalu berjalan menuju pintu masuk goa.
Deg!!!
Gue sekarang sedang berdiri dan menatap nanar pada lorong panjang nan gelap di depan gue. Dari kejauhan, gue dapat melihat ada sebuah pintu keluar namun pintu tersebut terletak sangatjauh di depan sana.
Gue meneguk liur.
Glek...
"Kenapa? Takut? Haha, cemen!" Aya melewati gue dan masuk duluan ke dalam. Gue sebagai laki-laki merasa tertantang dengan perkataannya. Dengan perasaan yang was-was, gue menyalakan senter dan mengikuti langkahnya dari belakang.
Goa ini sangatlah gelap, kosong, dan bersuhu lebih dingin daripada suhu diluar goa. Gue menyinari tanah, terlihat ada bekas rel yang sepertinya dipakai untuk transportasi goa zaman dulu. Lalu di dinding-dinding bagian atasnya terdapat kabel-kabel tua dan juga ada lampu tua yang sudah usang dan berkarat karena dimakan oleh usia. Gue mengarahkan senter ke kanan dan kiri, ternyata ada banyak sekali lorong bercabang yang entah menuju kemana arahnya.
Gue menepuk bahu Aya dengan maksud untuk bertanya tentang lorong-lorong lain yang berada di dalam goa ini. Namun ternyata tepukan gue disalah artikan olehnya.
Dia sedikit menjerit dan buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Gue menghentikan langkah kaki, lalu menggeleng sambil tersenyum setelah melihat reaksi Aya yang kaget saat gue menepuk pundaknya.
"Ngomong ke orang lain cemen, tapi sendirinya langsung lari pas gue tepuk. Cemen! Hahaha..." Gue tertawa puas di depan Aya yang sekarang sudah berkeringat dingin, dan wajahnya pun terlihat sedikit pucat.
"Kan gue kaget Fal, lagian juga itu gelap banget di dalemnya..." Aya mencoba beralibi dan gue kembali terkekeh.
"Yaudah, yuk lanjut jalan. Kesana kan?" Gue menunjuk sebuah jalan yang mulai menanjak.
"Iya, kesana. Ayo."
"Ih itu denger ga Fal?" Aya menunjuk pada salah satu sisi bukit yang penuh dengan pohon rindang.
"Oh, denger kok. Sodara-sodara jauh elo tuh seneng ditengokin sama lo." Ucap gue dengan santai.
"Jahat bener lo gue disamain sama monyet!" Ujarnya bersungut-sungut sambil memukul pelan lengan gue. Gue hanya tersenyum dan tetap melangkah maju, membelah jalan setapak berbatu.
Di sepanjang perjalanan yang naik-turun ini, Aya sesekali berhenti di tengah jalan dan meminta gue untuk beristirahat sebentar. Jujur, menurut gue medan seperti ini memang lumayan berat bagi seorang wanita; melewati jalanan setapak yang masih penuh dengan bebatuan dengan trek yang naik turun, dan gue pun merasa kewalahan dalam menghadapi trek ini. Sesekali gue juga harus menuntun Aya yang kesulitan untuk melewati jalanan berbatu di depannya.
Setelah hampir dua jam lebih berjalan, Aya menjulurkan lengannya, menunjuk kepada sebuah jembatan yang berdiri kokoh di atas aliran air sungai yang mengalir dengan deras. Raut wajahnya yang capek kini tiba-tiba berubah dan menunjukkan sebuah ekspresi semangat.
"Tuh! Tuh! Liat Fal!"
"Iya itu jembatan, kenapa?"
"Air terjunnya udah deket! Ayo cepetan kesana!"
"Eh lo ga cape emang?"
"Engga."
"Kita balap lari kesana, mau?"
"Hmmm, nantangin gue lo?" Gue m menoleh kepadanya.
"Oke siapa takut! Hitungan ke-3 ya..."
"Satuuu..."
"TIGA!!!" Aya berteriak dan mulai berlari, mengabaikan cucuran peluh yang sudah membasahi bagian punggung dan wajahnya.
Hari ini, Aya memang sangatbersemangat sekali. Entah apa yang membuatnya bisa menjadi sesemangat ini.
Ah, biarlah.
Lalu di bawah sang mentari yang sudah mulai meninggi, gue tersenyum dan berlari menyusul Aya yang sudah duluan berlari menuju air terjun di depan sana.

Depapepe - Tears of Love
Tapi ini semua ga berlaku bagi seonggok manusia yang bernama Amalia Dwi Nadia, adik dari Amelia Dwi Nadia.
***
Pagi-pagi sekali sekitar jam 6 pagi, gue sudah berpakaian lengkap untuk pergi hikingbersama Aya. Setelah menunggu sekitar 10 menit, terdengar suara deru motor yang berhenti di depan rumah. Dengan ogah-ogahan, gue mengenakan sepatu lalu pergi menemui Aya. Saat pagar rumah terbuka, gue mendapati sosok Aya yang sudah rapih dengan setelan training berwarna biru tua. Setelan hiking gue dan Aya bisa dibilang cukup, atau sangat berbeda. Gue hanya memakai kaos oblong yang dibalut dengan jaket serta celana pendek selutut. Sedangkan Aya, dia memakai baju training berlengan panjang dan celana training panjang. Berbeda sekali bukan?
Oke, who cares?
"Siap buat hiking bersama Aya hari ini?" Ujarnya sambil tersenyum aneh. Lalu dia melepaskan helm yang menutupi kepalanya dan memberikan kunci motornya kepada gue.
"Gue ga mau disalahin kalo misalkan besok lo ga bisa ngerjain soalnya. Ngerti?" Gue berkata sambil meraih kunci motornya.
"Ah gancil, besok mah cuma Indonesia doang!" Dia berkata sambil menjentikkan jari.
"Pokoknya gue ga mau disalahin."
"Iyaaa! Cowok kok bawel amat sih." Ujarnya sambil bersungut-sungut.
Gue kemudian mengenakan helm yang juga dibawakan oleh Aya, menaiki motor lalu menstaternya. Sebelum motor menyala, Aya menjatuhkan dirinya pada jok belakang motor dengan hentakan yang cukup keras.
BRUKK!!
Dasar gila!
Gue bergumam di dalam hati.
"Yuk, jalaan!"
"Ummm, Ay..." Gue terdiam sambil memegang stang motor.
"Apa?"
"Gue ga tau jalan..."
"Ah, payah lo!"
PLETAK!
Helm yang gue kenakan dipukul olehnya.
"Udah berapa lama lo tinggal disini?!"
"Yah gue emang udah lumayan lama tinggal disini, cuman gue ga pernah muter-muter."
"Lo beneran payah ah! Udah jalan cepet, gue navigasiin elo dari belakang."
"Eh tib, lo seneng amat perasaan?"
"Hahaha emang! Jalaaan!"
***
Setelah berhenti di salah satu mini market untuk membeli camilan serta beberapa kali nyasar dan salah belok karena gue yang ga fokus, akhirnya kami berdua sampai di tempat tujuan.
Kami berdua disambut dengab sebuah gapura melengkung yang bertuliskan 'Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda'. Setelah memarkirkan motor, Aya turun lalu berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk.
Sambil menunggu Aya mengantri, gue berjalan-jalan ke sekeliling untuk melihat-lihat dan menikmati sejuknya udara disini. Gue menghirup udara dalam-dalam, mencoba memenuhi seluruh volume paru-paru gue dengan udara sejuk pegunungan hingga tidak ada lagi ruang kosong di dalamnya. Setelah puas menikmati udara pagi, gue memutuskan untuk pergi ke salah satu warung yang berada di bawah pohon rindang yang menjual beraneka macam gorengan.
"Ini berapa bu?" Gue mengangkat pisang goreng yang asapnya masih mengepul dengan ujung kuku ibu jari dan telunjuk.
"Lima ratus dua cep." Ujar sang penjual sambil tetap menggoreng pada wajan panasnya. Gue kemudian merogoh saku dan mengambil dua lembar uang seribuan lalu memberikan kepadanya.
"Ini bu, beli delapan ya bu..."
"Mau yang ini aja atau dicampur?"
"Hmmm, campur aja bu." Setelah gue berkata seperti itu, beliau langsung mengambil bungkusan dari kertas koran lalu dengan cekatan memasukkan satu persatu gorengan ke dalamnya.
"Ieu cep..." Ujarnya sambil memberikan bungkusan berisi gorengan tersebut.
"Eh..." Gue mengkerutkan kening, gue ga ngerti dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Makasih bu..." Kepala gue mengangguk dan tangan gue terjulur, mengambil bungkusan tersebut dari ibu-ibu penjual gorengan.
Gue berjalan menuju motor lalu duduk diatasnya. Gue mengambil salah satu gorengan dan meniup-niupnya sebentar lalu memakannya.
Wuuuh, mantep!
Ga ada yang lebih nikmat dibandingkan makan gorengan hangat sambil diselimuti oleh udara sejuk pegunungan seperti ini.
"Makan gorengan ga bagi-bagi!" Aya tiba-tiba datang dan menarik bungkusan gorengan dari tangan gue.
"Ya beli sendiri kek, maen ambil aja!"
"Males ah belinya. Nih tiketnya udah dapet!" Ujarnya sambil mengacungkan dua lembar tiket.
"Yuk masuk sekarang!" Aya tersenyum lebar, dia sepertinya sangatbersemangat sekali hari ini.
"Bentar, ngabisin dulu gorengannya. Gue belum sarapan..."
"Aaah, makan sambil jalan aja!" Lalu dia membalikkan badan dan berjalan sambil membawa gorengan milik gue di tangannya. Gue hanya bisa menggeleng sambil menahan lapar yang melanda.
***
Saat melewati persimpangan pertama, gue melihat ada sebuah papan penunjuk jalan. Jika kita pergi ke kanan, maka akan ada goa peninggalan zaman Belanda yang konon katanya seram. Dan jika belok ke kiri, maka akan ada goa peninggalan zaman Jepang dan tentunya ga kalah seram dengan goa Belanda. Setelah gue bertanya kepada Aya, dia memilih untuk mengambil jalan ke kanan karena setelah melewati goa Belanda, masih ada jalan setapak lagi yang menuju ke sebuah air terjun.
Tak henti-hentinya gue mengagumi tempat ini. Di sepanjang jalan yang gue tempuh, bagian kanan dan kirinya masih dipenuhi oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Sesekali juga terdengar suara burung saling bersahut-sahutan yang menambah kesan asri tempat ini.
"Eh itu apaan tuh Ay?" Gue menunjuk pada sekerumunan orang yang berada di bawah. Mereka semua sedang mengantri di depan sebuah, entahlah, pintu masuk?
"Itu yang namanya goa Belanda. Berani masuk situ ga lo?!"
"Hah, gitu doang. Siapa takut?!" Ucap gue santai sambil tetap melihat ke sekeliling.
"Oke, sekarang kita masuk ke situ dulu ya!" Ujarnya dan kemudian dia berjalan lebih cepat menuju pintu masuk goa.
Gue mengejar ketertinggalan dengan sedikit berlari menuruni jalanan yang menurun. Setelah sampai di muka goa, gue berjinjit, mencoba mencari keberadaan Aya diantara kerumunan orang.
"Dor!"
"Nyariin gue ya? Ciee takut gue ilang ciee!" Aya tiba-tiba muncul dan menggoda gue sambil memegang dua buah senter lusuh di tangannya.
"Gue sih ga nyariin elo juga gapapa, yang penting kunci motor ada di tangan gue." Ujar gue dengan cuek.
"Lo emang tau jalan pulang?"
"Tinggal tanya-tanya. Gampang kan?" Gue tersenyum meledek.
"Ish, lo nyebelin ya!" Dia menunjuk gue dengan senter yang dipegangnya sambil cemberut.
"Hahaha, udah yuk masuk."
"Ituuu, masih penuh di depan pintunya juga..." Dia menunjuk kerumunan yang daritadi masih berdiri di mulut goa.
"Ah, lama!" Gue mengambil salah satu senter yang dipegang Aya lalu berjalan menuju pintu masuk goa.
Deg!!!
Gue sekarang sedang berdiri dan menatap nanar pada lorong panjang nan gelap di depan gue. Dari kejauhan, gue dapat melihat ada sebuah pintu keluar namun pintu tersebut terletak sangatjauh di depan sana.
Gue meneguk liur.
Glek...
"Kenapa? Takut? Haha, cemen!" Aya melewati gue dan masuk duluan ke dalam. Gue sebagai laki-laki merasa tertantang dengan perkataannya. Dengan perasaan yang was-was, gue menyalakan senter dan mengikuti langkahnya dari belakang.
Goa ini sangatlah gelap, kosong, dan bersuhu lebih dingin daripada suhu diluar goa. Gue menyinari tanah, terlihat ada bekas rel yang sepertinya dipakai untuk transportasi goa zaman dulu. Lalu di dinding-dinding bagian atasnya terdapat kabel-kabel tua dan juga ada lampu tua yang sudah usang dan berkarat karena dimakan oleh usia. Gue mengarahkan senter ke kanan dan kiri, ternyata ada banyak sekali lorong bercabang yang entah menuju kemana arahnya.
Gue menepuk bahu Aya dengan maksud untuk bertanya tentang lorong-lorong lain yang berada di dalam goa ini. Namun ternyata tepukan gue disalah artikan olehnya.
Dia sedikit menjerit dan buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Gue menghentikan langkah kaki, lalu menggeleng sambil tersenyum setelah melihat reaksi Aya yang kaget saat gue menepuk pundaknya.
"Ngomong ke orang lain cemen, tapi sendirinya langsung lari pas gue tepuk. Cemen! Hahaha..." Gue tertawa puas di depan Aya yang sekarang sudah berkeringat dingin, dan wajahnya pun terlihat sedikit pucat.
"Kan gue kaget Fal, lagian juga itu gelap banget di dalemnya..." Aya mencoba beralibi dan gue kembali terkekeh.
"Yaudah, yuk lanjut jalan. Kesana kan?" Gue menunjuk sebuah jalan yang mulai menanjak.
"Iya, kesana. Ayo."
***
"Ih itu denger ga Fal?" Aya menunjuk pada salah satu sisi bukit yang penuh dengan pohon rindang.
"Oh, denger kok. Sodara-sodara jauh elo tuh seneng ditengokin sama lo." Ucap gue dengan santai.
"Jahat bener lo gue disamain sama monyet!" Ujarnya bersungut-sungut sambil memukul pelan lengan gue. Gue hanya tersenyum dan tetap melangkah maju, membelah jalan setapak berbatu.
Di sepanjang perjalanan yang naik-turun ini, Aya sesekali berhenti di tengah jalan dan meminta gue untuk beristirahat sebentar. Jujur, menurut gue medan seperti ini memang lumayan berat bagi seorang wanita; melewati jalanan setapak yang masih penuh dengan bebatuan dengan trek yang naik turun, dan gue pun merasa kewalahan dalam menghadapi trek ini. Sesekali gue juga harus menuntun Aya yang kesulitan untuk melewati jalanan berbatu di depannya.
Setelah hampir dua jam lebih berjalan, Aya menjulurkan lengannya, menunjuk kepada sebuah jembatan yang berdiri kokoh di atas aliran air sungai yang mengalir dengan deras. Raut wajahnya yang capek kini tiba-tiba berubah dan menunjukkan sebuah ekspresi semangat.
"Tuh! Tuh! Liat Fal!"
"Iya itu jembatan, kenapa?"
"Air terjunnya udah deket! Ayo cepetan kesana!"
"Eh lo ga cape emang?"
"Engga."
"Kita balap lari kesana, mau?"
"Hmmm, nantangin gue lo?" Gue m menoleh kepadanya.
"Oke siapa takut! Hitungan ke-3 ya..."
"Satuuu..."
"TIGA!!!" Aya berteriak dan mulai berlari, mengabaikan cucuran peluh yang sudah membasahi bagian punggung dan wajahnya.
Hari ini, Aya memang sangatbersemangat sekali. Entah apa yang membuatnya bisa menjadi sesemangat ini.
Ah, biarlah.
Lalu di bawah sang mentari yang sudah mulai meninggi, gue tersenyum dan berlari menyusul Aya yang sudah duluan berlari menuju air terjun di depan sana.

Depapepe - Tears of Love
Diubah oleh karnaufal 01-04-2015 15:04
pavidean dan 5 lainnya memberi reputasi
6
