Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread1Anggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2601
PART 100

Gue membuka mata, dan melihat kegelapan di sekitar gue. Refleks pertama gue adalah mengangkat tangan dan memandangi tangan gue sendiri. Hidung gue membaui aroma yang gue kenal. Gue mengerjap-kerjapkan mata selama beberapa waktu, kemudian bangkit terduduk. Gue melihat sekeliling, dan mendapati kamar gue yang sangat gue kenal. Gue menoleh ke samping, dan melihat gemerlap lampu kota dibawah gue. Setelah beberapa saat, gue baru menyadari kalau napas gue masih tersengal-sengal.

Itu cuma mimpi, pikir gue getir.

Itu cuma mimpi, ulang gue dalam hati. Segalanya terasa nyata. Kebahagiaan itu, rasa itu, sentuhan itu, dan kesedihan itu, semuanya terasa nyata. Dada gue terasa sesak, dan perasaan gue dipenuhi pikiran-pikiran negatif yang datang dari segala penjuru. Gue memutarkan badan, mencari satu benda di sekeliling. Gue meraba-raba dalam gelap, dan akhirnya menemukan benda yang gue cari. Gue melihat angka yang tertera di benda itu. Pukul 3 pagi. Dan kemudian jari gue melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh hati gue, bukan otak gue.

Jari gue menemukan satu nama, dan menelepon nama tersebut. Gue menunggu, hingga terdengar suara nada panggil di ujung sana. Beberapa detik menunggu nada panggil itu berakhir dan berubah menjadi suara seorang wanita, merupakan beberapa detik terlama di hidup gue, hingga saat itu. Semua beban terasa hilang menguap ketika ada seseorang yang menjawab panggilan gue itu. Suara seorang wanita.

Quote:


Gue membisu, tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya bibir gue mengucapkan rasa syukur yang membuncah di dalam benak gue, tapi tidak ada kata yang keluar.

Quote:


Gue masih tidak bisa berkata-kata, dan memegangi kepala gue.

Quote:


Untuk kesekian kalinya, suara wanita di ujung sana terdengar. Dan kali ini bibir dan lidah gue bisa berkompromi, merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan simple itu. Gue tersenyum dengan bibir sedikit bergetar.

Quote:


Gue terdiam sejenak.

Quote:


Anin terdiam. Beberapa saat kemudian diujung sana terdengar suara tawanya yang khas. Lembut, dan menyejukkan.

Quote:


Gue tersenyum, mengamini ucapan Anin barusan dengan segenap hati gue, tapi gue gak bisa ikutan tertawa. Gue masih takut. Gue takut mimpi itu jadi kenyataan. Gue duduk termenung sambil menutupi mulut gue, sementara tangan gue yang satunya masih memegang handphone yang menempel di telinga. Kemudian suara Anin terdengar lagi di ujung sana.

Quote:


Di dalam kegelapan itu gue bisa membayangkan senyumnya ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Senyum khasnya ketika bersama gue, sambil sedikit menggigit bibir bawahnya, yang membuat dia semakin terlihat cantik dan anggun.

Quote:


Setelah telepon ditutup, gue membuka gorden tipis di hadapan gue, dan duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi langit hitam menjelang fajar. Segera semua rasa lelah, takut dan syukur bercampur menjadi satu di benak gue. Gue menangkupkan tangan di hidung, sambil memandangi gemerlap lampu dibawah. Di malam menjelang fajar itu, untuk pertama kali dalam waktu yang lama, gue menangis tersedu-sedu.

Entah berapa lama gue terpaku di tepi tempat tidur itu, gue kemudian beranjak keluar dan ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Setelah beberapa waktu gue menunggu, akhirnya panggilan adzan subuh pun terdengar, dan gue bergegas menunaikan sholat subuh. Setelah sholat, gue membuat kopi favorit gue, untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih sedikit menjalari mata gue. Fajar mulai datang.

Sambil berdiri di depan jendela berukuran besar itu, gue melihat sinar keperakan di kejauhan, yang perlahan-lahan membuat langit biru-hitam di sekelilingnya berubah menjadi oranye dan putih. Pagi telah datang. Hidup gue masih berjalan seperti sediakala, dengan semua yang gue hal yang gue cintai. Gue menyeruput kopi yang masih panas, kemudian tersenyum simpul. Buat gue, itulah matahari pagi terindah di hidup gue, hingga saat itu.
dedii17
khodzimzz
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.