- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.4K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#183
Partitur no. 43 : Giving Without Expecting
Menurut banyak orang, hidup itu pasti akan seimbang. Ada laki-laki dan perempuan, siang dan malam, dan lain-lain. Menurut banyak orang itu pula, sebagai makhluk sosial, manusia juga membutuhkan hubungan timbal balik.
Hubungan timbal balik menurut banyak orang adalah suatu hubungan yang saling menguntunkan masing-masing dari kedua pihak. Dalam hubungan timbal balik ada aspek yang tidak akan dari hubungan timbal balik itu sendiri, seperti memberidan menerima.
Seminggu setelah acara buka bersama itu, komunitas ini diundang ke dalam acara Open Mic Stand Up Comedy Kaskus, tepatnya di daerah Pejaten, yang biasa mereka lakukan setiap malam minggu. Kami di undang lagi sebagai ucapan terima kasih atas kesediannya mengundang Stand Up Comedy Kaskus ke dalam acara buka bersama dengan komunitas penggemar breaking benjamin di Indonesia.
Aku dan Tasya diundang ke dalam group dalam suatu messenger yang sedang terkenal waktu itu, sebagai perwakilan agar tetap berkomunikasi satu sama lain. Hubungan kami sangat akrab, sehingga tidak hanya sekali atau dua kali kami menghadiri acara Open Mic tersebut.
Suatu hari, masih di bulan puasa, tepat seminggu setelah acara itu, aku dan teman-teman yang lain ikut menghadiri acara tersebut. Walaupun tidak semuanya ikut, namun orang-orang yang cukup dekat dengan ku ikut menghadiri acara tersebut. Mulai dari Tasya, saudaranya Tasya yang bernama Rahma, yang pernah bertemu sebelumnya dalam event tribute Green Day, dan Chandra, teman dari Azmi yang kebetulan juga ikut dalam acara minggu lalu tersebut.
“Siapa yang tau arahnya, nih?” tanya Chandra di sebuah Halte Busway dibilangan Matraman, tempat kami saling berjanjian untuk bertemu, sekalian untuk jalan menuju tempat acaranya.
“Tasya tuh biasanya tau,” ujar Rahma menyarankan, “Ya kan, Sya?”
“Mas-mas busway mah pasti hapal” kataku meledek Tasya. Tak lama, sesuatu yang tak pernah hilang dari kebiasaan Tasya adalah kegiatan cakar-mencakar atau cubit-mencubit orang.
“Kamu ih ngeledek aja, sih!” katanya sambil dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat. Aku pun tak bisa menahan ketawa karena melihat ekspresi mukanya. “Dasar wapol!”
“Tapi kan faktanya emang kamu pernah dibilang ‘Mas’ sama orang-orang?” ujarku membela diri dengan nada meledek.
“Kalo gitu sekarang aku cowok Kamu, terus Kamu jadi cewek aku.” ia ternyata memang selalu tidak ingin kalah.
“Ssst, yaudah jangan bikin gw keliatan kayak nyamuk, dong.” ujar Chandra. “Bus nya yang itu bukan, sih?” lanjutnya lagi sambil menunjuk sebuah bus yang baru akan datang ke arah kami.
“Iya bukan tuh, Sya?” tanya Rahma.
“Bentar, gw liat dulu,” ia pun melihat-lihat keluar dengan mata jelinya, dan kemudian melihat ke arah kami. “Iya, itu bus kita..” ujarnya. Tak lama, bus itu datang dan mengeluarkan penumpang yang ingin turun di Halte ini. Kami pun masuk ketika penumpang-penumpang itu sudah selesai keluar. Sebuah pemandangan yang sangat nyaman untukku, ketika di dalam bus ternyata sudah sepi, dan kami duduk di dalam satu baris yang sama.
Seperti biasa, Tasya menyuruhku duduk tepat di sebelahnya. Aku pun duduk disebelah kiri Tasya, sementara Rahma dan Chandra duduk disebelah kanan Tasya. Bus pun akhirnya mulai berjalan, dan kami sudah berada di perjalanan menuju acara itu.
Ah, soal kecemburuanku waktu itu. Aku masih penasaran, namun aku tak mau menunjukkan kecemburuan ku, dan seolah semua tidak terjadi apa-apa. Aku membawanya kesebuah obrolan santai namun tidak seperti di introgasi di dalam busway itu. “Nanta nanti dateng?” ujarku membuka sebuah obrolan.
“Dateng kok, sayang,” jawabnya dengan santai. “Kenapa emangnya?”
“Ah, nggak ada apa-apa kok,” kataku dengan seolah santai. “Dia waktu open mic kemaren lucu juga soalnya”
“Hampir semuanya lucu kok menurut aku hehe,” katanya dengan muka polosnya. “Apalagi kamu, kayak badut lucunya.” lanjutnya lagi.
“Kenapa nyambungnya malah jadi badut....” aku pun meladeni bercandaannya.
“Abisnya kamu kan gendut banget kayak wapol sama baduuut” lanjutnya lagi.
“Iya deh aku gendut, yang penting tetep ganteng, kan?” ujarku lagi.
“Ganteng? Genteng kali maksudnya?” candanya.
“Nggak apa-apa deh diledekin mulu, kan yang penting aku milikmu,” ucapku menggodanya. Pipinya memerah, yang untuknya, aku tidak menjadi korban cakarannya lagi. “Btw, kamu emang nge chat apa aja sama Nanta nyampe tengah malem gitu?” lanjutku penasaran.
“Pengen tau banget atau pengen tau aja?” jawabnya dengan penuh selidik sambil mengambil handphone dari sakunya, “Cemburu ya Kamu?” ujarnya meledekku.
“Ngapain mesti cemburu coba?” kataku dengan nada sok.
“Jangan sok, deh. Itu keliatan dari ekspresi muka kamu, sayang,” ujarnya dengan nada penuh perhatian, “Ini kamu baca aja chatnya..” aku pun membaca pesan yang dikirim oleh Nanta kepada Tasya. Memang mirip seperti orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Namun, aku tak marah. Aku salut kepada Tasya yang benar-benar memegang omongannya sejak awal kita memulai semua hubungan ini ‘Kita harus saling terbuka, kalo ada apa-apa omongin aja, jangan dipendem. Harus dikomunikasiin. Kalo ada yang Kamu nggak suka dari aku, biar aku ubah nanti, begitu pula dengan Kamu.’
Kurang lebih, kata-kata itu lah yang setiap sebulan sekali aku dengar dari mulutnya. Ia benar-benar orang yang ingin tidak ingin merusak kepercayaan pasangan nya. Bahkan, ia benar-benar menunjukan nya dan mencontohkan nya kepadaku yang sangat sering berbuat sebuah kesalahan, namun Tasya tak pernah sekalipun marah kepadaku. Dan sesekali jika terjadi suatu masalah atas salahku, permasalahan itu tidak pernah dilanjuti lagi atau diungkit kembali. Dan anehnya, ia yang meminta maaf, “Aku nggak enak kalo berantem sama kamu, nggak betah aja rasanya.. Mendingan jangan berantem, gimana?”
Sesampainya disana, tepat beberapa menit sebelum azan Maghrib berkumandang, Kami langsung bersalaman dengan orang-orang yang sudah datang disana. Ternyata, mereka sudah memulai acara ini dari sekitar jam lima sore, memulainya sebagai event ngabuburit. Orang-orang yang baru kutemui minggu lalu ada disana semua, seperti Opa Jose, yang merupakan seorang penulis juga, Panca, Nanta, Syukron dan pacarnya, dan lain-lain.
Aura persahabatan yang baru kami pupuk sejak minggu lalu masih dalam masa hangat-hangatnya. Kearaban yang jarang ku lihat ketika seseorang baru mengenal satu sama lain, dan bahkan dari dua bidang yang berbeda, namun masih menyatukan kita.
Buka puasa pun tiba, bahkan kami disambut dengan sangat hangat, dibelikan ta’jil gratis oleh mereka, sebagai balas jasa untuk minggu lalu. Sambil menikmati hidangan berbuka puasa, kami pun mengobrol dengan sangat akrab. Terutama Tasya dan pacar dari Syukron ini.
Selesai berbuka dan Shalat maghrib, acara ini pun dilanjutkan. “Gimana, Man? Coba-coba open mic lah sekali..” ujar Nanta membujukku. Aku yang awalnya malu-malu ini pun mencoba memberanikan diri setelah Tasya dan teman-teman juga memberikan dukungan. Sebelumnya, aku menunjuk Chandra untuk open mic, namun ia juga tidak mau.
Dengan panik, aku pun menyiapkan materi yang akan ku bawakan ketika open mic. Kucatat materi demi materi ke dalam handphone ku. Sesekali aku melihat ke panggung untuk mencari inspirasi dalam membuat materi, dan bagaimana para comic membuat sebuah hal itu menjadi hal yang lucu. Mulai dari cara berbicara, ekspresi muka, semuanya harus sinkron. Menurutku, seni dari Stand Up Comedy itu adalah dimana kita harus melawak sendirian diatas panggung dan mengontrol banyak nya masa yang tertuju pada seseorang yang sedang berada di atas panggung.
“Kayaknya kalo akustikan disini asik, ya?” ujarku kepada teman-teman dari Stand Up Comedy Kaskus yang hadir dalam acara minggu lalu.
“Iya, Man. Venue nya dapet juga, pas di pinggir jalan juga kayak Rumah lo, Cuma disini udah ada plang namanya, jadi orang gampang nemu tempatnya..” jawab Nanta kepadaku.
“Gimana caranya bikin disini, ya?” ujarku penasaran.
“Coba lobby pemiliknya aja, gw kenal, kok.” jawabnya kemudian.
“Waktu kalian mau bikin acara disini gimana caranya?” tanyaku kembali, akibat efek penasaran yang cukup besar, aku mendengarkan jawabannya dengan antusias.
“Gw lobby juga, Man. Yuk, kalo mau sekarang aja coba omongin sama owner nya. Nanti tinggal di diskusiin aja biaya sewa nya..” jelas Nanta kepadaku. Aku pun tertarik dengan tawaran itu dan mengikuti Nanta kepada owner yang sedang duduk di sisi panggung.
Harga sewanya relatif cukup murah, jika kita membuat acara disitu, apalagi dengan bantuan Stand Up Kaskus, kita akan mendapatkan harga yang lebih murah. Terlebih lagi, pencarian dana untuk membuat acara ini dengan kurun waktu beberapa bulan pun pasti akan terkumpul juga. Namun, harus disertai juga oleh pertimbangan berapa keuntungan yang owner itu akan dapat. Melihat dari acara kemarin, mungkin bisa memenuhi target, dengan catatan mereka akan datang semua atau menambah massa lagi.
Tak sadar, namaku sudah dipanggil sekitar dua kali. Aku dipanggil untuk menjadi seorang comic di acara itu. Ini adalah kali pertamaku untuk melakukan open mic. Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku hanya bisa menonton acara ini lewat televisi atau bahkan Youtube, dan tak mengerti bagaimana membuat para audience tersebut tertawa.
Aku naik keatas panggung dengan perasaan panik, gugup, dan rasa tak percaya diri. Sesekali, atau bahkan seseribu kali, aku menatap mata teduhnya Tasya, untuk sekedar memberi semangat, walaupun bukan penyemangat secara verbal. Aku bagaikan manusia tanpa nyali diatas sana. Namun, ucapan Tasya yang menyemangati walaupun bukan sebuah verbal, tetap membuatku semangat. Ia mengacungkan jempolnya untuk membuatku semakin semangat.
Ideku yang muncul tiba-tiba adalah tidak terlihat seperti orang panik diatas sana. Aku memulai menceritakan sebuah materi yang baru aku alami beberapa minggu lalu ketika membuka pendaftaran band untuk acara ku, “Perkenalkan, nama gw Iman. Ini pengalaman pertama gw untuk open mic di depan manusia. Iya, manusia. Soalnya gw biasa open mic di hadapan kucing-kucing gw, yang dimana gw berusaha melucu selucu apa pun, kucingnya cuma jawab ‘meong’.” aku pun panik melihat ekpresi para penonton, apakah mereka akan tertawa dan tertarik atau malah tidak mau sama sekali mendengar ucapanku diatas panggung. Namun, respon dari mereka itu netral. Ada yang tertawa ada yang hanya tersenyum.
“Kejadian dimulai ketika mereka mendaftarkan bandnya dan tidak tahu menahu apa itu breaking benjamin. ‘Lagu wajibnya apa kira-kira apa ya, Mas?’ ‘Lagunya breaking benjamin, Mas. Apa aja, asal satu lagu itu bawain lagunya mereka?’ ‘Wah, saya nggak tau lagunya, Mas..’ ‘Judul lagunya Kompor Meleduk, Mas. Coba aja cari di YouTube, banyak kok.’ dan orang itu pun percaya dan bener-bener dicari.
Gw pun membayangkan jika seorang promotor akan menyambut breaking benjamin yang hampir mustahil datang kemari, dan bilang ‘Kita sambut, band yang kita tunggu-tunggu, breaking benjamin dengan Hits single ‘Kompir Meleduk!’’ nanti malah idola gw satu lagi yang dateng ke atas panggung” ujarku yang menurut pendapatku agak jayus sebenarnya, namun aku bersyukur karena mereka cukup mengapresiasinya, walaupun sebenarnya bukan hal yang harus diapresiasi, karena aku masih seorang pemula.
Begitu aku turun dari panggung dengan tepuk tangan yang cukup ramai, Tasya dan kawan-kawan mengajakku untuk pulang. Kebetulan juga, ketika aku melihat jam di handphone ku, waktu itu sudah cukup larut malam, takut kehabisan busway, dan jalan yang kita tempun yang cukup jauh.
Kami semua menaiki busway yang sama sampai terpisah di Halte ketika kami bertemu tadi sore. Hal yang tersusah adalah ketika kami berpisah dan saling menuju tujuannya masing-masing. Aku masih ingin bercanda ria dengan nya, mengisi hariku lebih banyak dengannya. Karena ketika bersamanya, waktu ku seakan berlalu sangat cepat. Seandainya waktu bisa dihentikan. Ya.
Aku sadar bahwa aku bukanlah seorang yang lucu seperti tipe lelaki idaman kebanyakan perempuan. Ketika aku berusaha menjadi seperti laki-laki idaman lainnya, Tasya menegurku agar aku terus menjadi diriku sendiri. Bukan karena orang yang humoris itu tidak menarik perhatiannya, namun, keunikan dalam diriku yang Tasya suka agar tidak dihilangkan dari sifatku. Walaupun, aku sendiri belum tahu apa keunikan dalam diriku.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:51
0
