- Beranda
- Stories from the Heart
when its too late to regret
...
TS
mikhaellafezy
when its too late to regret

Quote:
Quote:
Quote:
Quote:


Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy 15-04-2015 16:38
anasabila memberi reputasi
1
36K
327
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mikhaellafezy
#209
di parkiran
Dia terlhat berlari ke arahku dari pintu keluar mall, dan entah mengapa melihatnya datang aku justru berhenti dan tidak berbuat apapun, pintu mobilku masih terbuka dan aku terpaku melihatnya semakin mendekat.
“kenapa sih hindarin aku terus?” katanya dengan nafas ter engah engah, sementara aku Cuma diam membatu menatapnya,”aku Cuma pengen kita punya waktu buat memperbaiki semua”
Dan kalimat terakhir tadi menyadarkanku bahwa ini adalah kebodohan semata, membatu di depannya dan berbicara dengan orang yang sama keras kepalanya seperti saat dia meninggalkanku dulu. Lalu aku segera masuk ke mobil, namun saat aku hendak menutup pintu dia menahannya, “cha, hargain aku sebentar, aku cuman pengen minta maaf”, dan kalimat itu langsung memancing amarahku, aku turun dari mobil, kubanting keras pintu mobilku lalu menatap mukanya dengan penuh rasa kesal. Bagaimana bisa dia berucap seperti ini padahal dulu dia melakukan hal yang sama padaku?
“segampang itu lo ngomong kayak gini?” kataku ketus
“Cha aku nyesel Cha, maafin aku” kata Yudha, iya itu Yudha
“kemana aja lo selama ini?” tanyaku semakin ketus dengan senyuman sinis menyertainya
“aku ngerti Cha, ga seharusnya aku gitu”
“terus kenapa sekarang balik lagi kayak gini? Apa yang lo pikirin waktu ninggalin gue di supermarket waktu itu, ha?” tanyaku semakin ketus lagi, “apa karena sekarang lo dah putus, terus lo nyari gue? Kemana aja waktu gue masih cari lo?”
“Cha, pualng dari supermarket itu aku putus sama dia” kata Yudha, masih tenang, “karena aku sadar kalau aku ga akan pernah bisa sayang ke cewe lain seperti saat sama kamu, tapi gengsiku terlalu gede Cha, dan aku terlalu takut kerumah kamu, apalagi waktu itu aku ketemu Faris, dan kayaknya Faris ketus banget sama aku,”
“wajar lah, siapa yang mau kakaknya disakitin kayak gitu?”
“aku tau Cha, aku salah, maafin aku Cha, aku tersiksa selama ini ga bisa lupain kamu,” bicara Yudha mulai melambat, matanya basah, “aku masih sayang banget sama kamu Cha,” dan air matanya menetes, "dan aku nunggu sekian lama buat ketemu kamu, aku janji ke diri aku sendiri, ketika kau ketemu kamu aku harus minta maaf, dan bukan lewat orang lain, sementara kamu dah menutup komunikasi buat kita Cha, aku berusaha beberapa kali ngehubungin kamu dan nanyain kamu ke yang lain, tapi mereka semua bilang kamu ga ada kabar, sampai kita ditemuin disini, bertahun tahun aku tutup hati aku buat siapapun Cha, karena aku yakin suatu saat akan ketemu sama kamu"
Dan saat itu yang kurasakan lebih campur aduk lagii, kesal, marah, tak tega, dan memori itu kembali menyeruak di otakku, hingga tanpa sadar aku juga menangis
“lo tau ga sih Yud? Butuh berapa tahun buat gue move on dari lo? Butuh berapa lama sampe gue punya pacar? Walaupun gue akuin, gue ga bisa sayang sama dia seperti sayang gue ke lo. Berapa kali gue nangis di makam Tiara, dan berapa kali gue nangis di depan mama lo, dan gimana perasaan gue ketika liat lo sama cewe lain di depan mata gue ? tolong Yud, semua ga semudah itu buat gue, lo tu ga ada usaha jadi ga usah bilang kalo lo masih sayang sama gue!”
“Cha, maafin aku Cha”
“minta maaflah sama diri lo sendiri, karena kalo emang lo ga bisa cari pengganti gue, itu berati akibat perbuatan lo sendiri. Lo ga perlu mohon mohon ke gue buat maafin lo seperti yang dulu gue lakuin, karena makin gue ketemu lo, makin gue ga bisa maafin lo, makin lo ungkit semuanya, makin jelas sakitnya di hati gue! Semua udah telat Yud, sialhkan sekarang lo ratapin sendiri kegagalan lo, seperti halnya gue yang ngeratapin lo tiap malem selama bertahun tahun, jangan ganggu gue lagi Yud, hidup kita dah beda, gue bukan Icha yang lo kenal,”
“Cha, kalo kurang hukuman buat aku, tambah semau kamu Cha, asal jangan gini sama aku. Kasih aku kesempatan lagi Cha, pleasee” kata Yudha yang matanya mulai deras berderai air mata
“lo ga perlu nangis di depan gue Yud! Ga ada gunanya”
“Icha, maafin aku Cha, aku salah banget Cha, maafin aku, aku nyesel Cha” dan kalimat itu terus dia keluarkan dengan mukanya yang mulai memerah karena menangis, ya Tuhan, aku paling tidak tega melihat seorang pria menangis
“udahlah Yud, udah!” kataku, tapi dia tak berhenti berbicara, sampai ‘Plaaaakkk’ kutampar pipinya baru dia berhenti bicara dan memanangku dengan tatapan nanar, baru kali ini aku sangat marah sampai bertindak kasar, dalam hati aku berucap 'ya Tuhan, apa yang telah aku perbuat? redamlah amarahku Tuhan'
“udah ya, you have to wake up, Yudha, this is live, its too late to regret, just go on, cz regreting would give you nothing. You know, I’ll never found someone like you, but I’ve tried to make my heart love someone else and forget you.” kataku lalu membuka pintu mobilku dan berlalu meninggalkannya yang masih membatu di tempat itu. Biarlah, aku harus melakukan ini, aku tak iingin terjebak masa lalu lagi.
Pada akhirnya, hatiku menjadi lebih tenang, semua yang kurasakan semua ini telah kuucapkan, aku sudah mendengar penyesalannya. Hari ini membuatku berfikir, kalau aku harus lebih dewasa, ini bukan lagi masa ABGku yang selalu galau karena cinta, this is life Mika, ga ada waktu lagi buat meratapi masa lalu kecuali sekedar melihatnya untuk refleksi. Baru sekarang aku mengerti kata kata Nindo beberapa tahun yang lalu, aku bisa mengingatnya dengan cara lain, dan hari ini saat aku menulis ini, aku tertawa jika mengingat kejadian di parkiran itu, ya Tuhan, menurutku itu memalukan, hahahaha, semoga saja tidak ada yang tau.
Sejak saat itu aku lebih bisa santai ketika Yudha ada disekitarku, aku memang tidak mempedulikannya hanya saja, sekarang aku tak menghindarinya sebagaimana sebelumnya, bahkan beberapa kali dia mengajakku bicara, aku sudah menjadi orang yang lebih luwes dan ramah padanya, walaupun yaa masih cuek. Dia sempat beberapa kali meminta kontakku, namun aku tak pernah memberikannya, aku hanya tersenyum kecil saat dia menanyakan hal yang sama berulang ulang. Dia tak lagi jadi orang yang spesial buatku, malah jatuhnya sekarang seperti bukan siapa siapa yang pernah ku kenal. Tapi baguslah kalau seperti ini, aku jadi lebih tenang melakukan tugasku di panitia.
Tapi ternyata, tugas kepanitiaan membuat kami jadi semakin dekat, dia harus banyak berdiskusi denganku untuk banyak hal, dan aku muali bisa tertawa pada candanya, seperti saat kami dekat dulu. Aku semakin luwes dan dia semakin dekat, walaupun hanya saat pertemuan panitia saja, karena reuni akan diadakan april nanti, jadi aku makin sering rapat, dan disinilah, kami semakin dekat lagi, walaupun jujur saja, its not special for me
“kenapa sih hindarin aku terus?” katanya dengan nafas ter engah engah, sementara aku Cuma diam membatu menatapnya,”aku Cuma pengen kita punya waktu buat memperbaiki semua”
Dan kalimat terakhir tadi menyadarkanku bahwa ini adalah kebodohan semata, membatu di depannya dan berbicara dengan orang yang sama keras kepalanya seperti saat dia meninggalkanku dulu. Lalu aku segera masuk ke mobil, namun saat aku hendak menutup pintu dia menahannya, “cha, hargain aku sebentar, aku cuman pengen minta maaf”, dan kalimat itu langsung memancing amarahku, aku turun dari mobil, kubanting keras pintu mobilku lalu menatap mukanya dengan penuh rasa kesal. Bagaimana bisa dia berucap seperti ini padahal dulu dia melakukan hal yang sama padaku?
“segampang itu lo ngomong kayak gini?” kataku ketus
“Cha aku nyesel Cha, maafin aku” kata Yudha, iya itu Yudha
“kemana aja lo selama ini?” tanyaku semakin ketus dengan senyuman sinis menyertainya
“aku ngerti Cha, ga seharusnya aku gitu”
“terus kenapa sekarang balik lagi kayak gini? Apa yang lo pikirin waktu ninggalin gue di supermarket waktu itu, ha?” tanyaku semakin ketus lagi, “apa karena sekarang lo dah putus, terus lo nyari gue? Kemana aja waktu gue masih cari lo?”
“Cha, pualng dari supermarket itu aku putus sama dia” kata Yudha, masih tenang, “karena aku sadar kalau aku ga akan pernah bisa sayang ke cewe lain seperti saat sama kamu, tapi gengsiku terlalu gede Cha, dan aku terlalu takut kerumah kamu, apalagi waktu itu aku ketemu Faris, dan kayaknya Faris ketus banget sama aku,”
“wajar lah, siapa yang mau kakaknya disakitin kayak gitu?”
“aku tau Cha, aku salah, maafin aku Cha, aku tersiksa selama ini ga bisa lupain kamu,” bicara Yudha mulai melambat, matanya basah, “aku masih sayang banget sama kamu Cha,” dan air matanya menetes, "dan aku nunggu sekian lama buat ketemu kamu, aku janji ke diri aku sendiri, ketika kau ketemu kamu aku harus minta maaf, dan bukan lewat orang lain, sementara kamu dah menutup komunikasi buat kita Cha, aku berusaha beberapa kali ngehubungin kamu dan nanyain kamu ke yang lain, tapi mereka semua bilang kamu ga ada kabar, sampai kita ditemuin disini, bertahun tahun aku tutup hati aku buat siapapun Cha, karena aku yakin suatu saat akan ketemu sama kamu"
Dan saat itu yang kurasakan lebih campur aduk lagii, kesal, marah, tak tega, dan memori itu kembali menyeruak di otakku, hingga tanpa sadar aku juga menangis
“lo tau ga sih Yud? Butuh berapa tahun buat gue move on dari lo? Butuh berapa lama sampe gue punya pacar? Walaupun gue akuin, gue ga bisa sayang sama dia seperti sayang gue ke lo. Berapa kali gue nangis di makam Tiara, dan berapa kali gue nangis di depan mama lo, dan gimana perasaan gue ketika liat lo sama cewe lain di depan mata gue ? tolong Yud, semua ga semudah itu buat gue, lo tu ga ada usaha jadi ga usah bilang kalo lo masih sayang sama gue!”
“Cha, maafin aku Cha”
“minta maaflah sama diri lo sendiri, karena kalo emang lo ga bisa cari pengganti gue, itu berati akibat perbuatan lo sendiri. Lo ga perlu mohon mohon ke gue buat maafin lo seperti yang dulu gue lakuin, karena makin gue ketemu lo, makin gue ga bisa maafin lo, makin lo ungkit semuanya, makin jelas sakitnya di hati gue! Semua udah telat Yud, sialhkan sekarang lo ratapin sendiri kegagalan lo, seperti halnya gue yang ngeratapin lo tiap malem selama bertahun tahun, jangan ganggu gue lagi Yud, hidup kita dah beda, gue bukan Icha yang lo kenal,”
“Cha, kalo kurang hukuman buat aku, tambah semau kamu Cha, asal jangan gini sama aku. Kasih aku kesempatan lagi Cha, pleasee” kata Yudha yang matanya mulai deras berderai air mata
“lo ga perlu nangis di depan gue Yud! Ga ada gunanya”
“Icha, maafin aku Cha, aku salah banget Cha, maafin aku, aku nyesel Cha” dan kalimat itu terus dia keluarkan dengan mukanya yang mulai memerah karena menangis, ya Tuhan, aku paling tidak tega melihat seorang pria menangis
“udahlah Yud, udah!” kataku, tapi dia tak berhenti berbicara, sampai ‘Plaaaakkk’ kutampar pipinya baru dia berhenti bicara dan memanangku dengan tatapan nanar, baru kali ini aku sangat marah sampai bertindak kasar, dalam hati aku berucap 'ya Tuhan, apa yang telah aku perbuat? redamlah amarahku Tuhan'
“udah ya, you have to wake up, Yudha, this is live, its too late to regret, just go on, cz regreting would give you nothing. You know, I’ll never found someone like you, but I’ve tried to make my heart love someone else and forget you.” kataku lalu membuka pintu mobilku dan berlalu meninggalkannya yang masih membatu di tempat itu. Biarlah, aku harus melakukan ini, aku tak iingin terjebak masa lalu lagi.
Pada akhirnya, hatiku menjadi lebih tenang, semua yang kurasakan semua ini telah kuucapkan, aku sudah mendengar penyesalannya. Hari ini membuatku berfikir, kalau aku harus lebih dewasa, ini bukan lagi masa ABGku yang selalu galau karena cinta, this is life Mika, ga ada waktu lagi buat meratapi masa lalu kecuali sekedar melihatnya untuk refleksi. Baru sekarang aku mengerti kata kata Nindo beberapa tahun yang lalu, aku bisa mengingatnya dengan cara lain, dan hari ini saat aku menulis ini, aku tertawa jika mengingat kejadian di parkiran itu, ya Tuhan, menurutku itu memalukan, hahahaha, semoga saja tidak ada yang tau.
Sejak saat itu aku lebih bisa santai ketika Yudha ada disekitarku, aku memang tidak mempedulikannya hanya saja, sekarang aku tak menghindarinya sebagaimana sebelumnya, bahkan beberapa kali dia mengajakku bicara, aku sudah menjadi orang yang lebih luwes dan ramah padanya, walaupun yaa masih cuek. Dia sempat beberapa kali meminta kontakku, namun aku tak pernah memberikannya, aku hanya tersenyum kecil saat dia menanyakan hal yang sama berulang ulang. Dia tak lagi jadi orang yang spesial buatku, malah jatuhnya sekarang seperti bukan siapa siapa yang pernah ku kenal. Tapi baguslah kalau seperti ini, aku jadi lebih tenang melakukan tugasku di panitia.
Tapi ternyata, tugas kepanitiaan membuat kami jadi semakin dekat, dia harus banyak berdiskusi denganku untuk banyak hal, dan aku muali bisa tertawa pada candanya, seperti saat kami dekat dulu. Aku semakin luwes dan dia semakin dekat, walaupun hanya saat pertemuan panitia saja, karena reuni akan diadakan april nanti, jadi aku makin sering rapat, dan disinilah, kami semakin dekat lagi, walaupun jujur saja, its not special for me
Spoiler for dear readers:
0
, cz gw tau ada salah satu tokoh di cerita ini yang punya id kaskus yang lumayan aktif.






, abu2 dan ratenya, jd semakin smangat, makasih bnyk yaa, always stay tune cz akan ada update tiap hari
, tapi mohon maap yaah, karena belakangan kerjaan lagi padet, mungkin update sedikit lambat, dan hari minggu ga ada updatean, tapi tetep stay tune loh ya guyss, , , thanks for reading