- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2503
PART 98
Gue dan Anin duduk bersebelahan di ruang tunggu airport. Masih sekitar sejam lagi sebelum pesawat kami take off. Sambil makan roti yang sebelumnya gue beli di minimarket, gue menoleh ke Anin. Gue liat dia sedang asik dengan iPod milik gue. Kemeja kotak-kotak warna pastel yang digulung sesiku terasa pas dengan wajahnya yang cantik dan rambut merah kecoklatan yang tergerai di bahu. Gue tersenyum melihat cewek di samping gue ini.
Gue menyodorkan roti yang sedang gue makan, bermaksud menawarkannya ke Anin. Dia memandangi roti itu sejenak dan kemudian menggeleng tanpa berbicara. Gue mengernyit dan memakan roti itu sampe habis. Waktu terasa berjalan lambat. Gue ngantuk, dan gue liat Anin juga mulai mengantuk. Anin menguap, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu gue. Wangi rambut dan tubuhnya menyeruak ke hidung gue, dan membuat gue secara refleks mengelus pipi lembutnya.
Gue menoleh ke Anin yang bersandar di bahu gue, melepaskan satu earphone dari telinganya, dan kemudian berkata pelan.
Anin duduk tegak, sambil menoleh ke gue.
Sambil berkata begitu, Anin merangkul lengan gue dan meringis manja sambil menggigit bibir. Siapa yang gak melting diginiin coba. Gue tertawa gemas dan menyentuh hidungnya pelan. Anin menjulurkan lidah sambil tetep merangkul lengan gue.
Di atas pesawat, gue duduk di tengah, tentu saja. Sementara Anin asik menikmati pemandangan awan putih yang bagaikan karpet tebal dibawah kami. Disebelah kanan gue ada bapak-bapak tua yang lagi asik membaca majalah yang disediakan maskapai. Gue juga mengikuti langkahnya, mengambil majalah di kantong kursi depan gue. Baru baca-baca sebentar, Anin mencolek gue.
Anin mengangguk perlahan sambil bibirnya membentuk kata “ooh” kemudian berkonsentrasi lagi ke pemandangan. Gak lama kemudian dia nyeletuk lagi.
Gue memandangi Anin sambil memiringkan kepala, menyelidiki.
Anin tersenyum manja sambil menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia memandangi lagi pemandangan di luar. Gue tersenyum simpul dan menggelengkan kepala pelan.
Kami berdua akhirnya mendarat di Soekarno-Hatta, dan langsung naik taksi menuju ke rumah saudara Anin di Cibubur. Sesampai disana, gue takjub melihat rumah mewah milik tantenya Anin, di sebuah komplek perumahan mewah. Biarin mau dikatain ndeso juga.
Ketika kami tiba, seorang ibu-ibu berwajah nyaris kembar dengan Tante Ayu sudah berdiri di teras rumah sambil tersenyum lebar. Ketika Anin berlari kecil menghampiri dengan tangan terbuka, beliau juga menyambut keponakannya itu dengan tangan terbuka. Sambil mengambil barang-barang dari bagasi, gue tersenyum memandangi itu.
Setelah taksi pergi, gue menghampiri tante Ratna, itu nama beliau, dan mencium tangannya. Tante Ratna yang ekstra ramah itu mempersilakan gue masuk ke dalam rumah, sementara Anin udah masuk ke dalam duluan. Gue sedikit rikuh dengan keramahan tante Ratna yang tumpe-tumpe itu. Karena Anin udah ngacir ke dalam, jadinya gue yang ngebawa semua barang-barang kami berdua. Ampun deh.
Tante Ratna ngomongnya cepet banget, khas ibu-ibu gitu. Gue cuma tersenyum dan menjawab dengan sopan. Sementara gue mendengar suara Anin yang jejeritan di atas, heboh sendiri ketemu saudaranya. Sama-sama cewek sih, dan umurnya gak jauh beda.
Obrolan gue dan Tante Ratna itu berlangsung beberapa saat, sampe akhirnya gue liat Anin turun ke ruang tamu bersama saudara sepupunya. Untuk sesaat gue melongo melihat saudara sepupu Anin itu. Mukanya mirip banget sama Shinta tapi berambut cukup pendek sebahu, cocok kalo kembar kali. Gue jadi bertanya-tanya gimana alur genetika keluarga besar Anin ini.
Anin kemudian duduk disamping gue, dan Sophia disamping Anin. Tante Ratna kemudian kembali berbicara, dan obrolan kami berempat berlangsung cukup lama. Menjelang sore, gue pamit ke mereka bertiga, karena gue harus pulang, untuk siap-siap kerja keesokan harinya. Tante Ratna ngotot menawarkan sopirnya untuk mengantarkan gue. Awalnya gue menolak dengan halus, tapi paksaan dari beliau plus omelan dari Anin dan sedikit bujukan dari Sophia membuat gue mau gak mau menerima tawaran itu.
Malamnya, gue berdiri di jendela kamar, memandangi gemerlap kota Jakarta di bawah gue. Sambil sesekali menyeruput kopi di tangan dan melodi dari You’ve Got Me Wrapped Around Your Little Finger nya Beth Rowley mengalun, gue berpikir tentang jalan yang akan gue tempuh kedepannya. 3 hari pulang kerumah membawa banyak arti dalam hidup gue.
Terutama arti akan kesetiaan dan kerinduan.
“.....You've got me wrapped around your little finger
If this is love, it's everything i hoped it would be
You"ve got me wrapped around your little finger
You will see, by my words just how much you mean to me….”
Gue dan Anin duduk bersebelahan di ruang tunggu airport. Masih sekitar sejam lagi sebelum pesawat kami take off. Sambil makan roti yang sebelumnya gue beli di minimarket, gue menoleh ke Anin. Gue liat dia sedang asik dengan iPod milik gue. Kemeja kotak-kotak warna pastel yang digulung sesiku terasa pas dengan wajahnya yang cantik dan rambut merah kecoklatan yang tergerai di bahu. Gue tersenyum melihat cewek di samping gue ini.
Gue menyodorkan roti yang sedang gue makan, bermaksud menawarkannya ke Anin. Dia memandangi roti itu sejenak dan kemudian menggeleng tanpa berbicara. Gue mengernyit dan memakan roti itu sampe habis. Waktu terasa berjalan lambat. Gue ngantuk, dan gue liat Anin juga mulai mengantuk. Anin menguap, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu gue. Wangi rambut dan tubuhnya menyeruak ke hidung gue, dan membuat gue secara refleks mengelus pipi lembutnya.
Gue menoleh ke Anin yang bersandar di bahu gue, melepaskan satu earphone dari telinganya, dan kemudian berkata pelan.
Quote:
Anin duduk tegak, sambil menoleh ke gue.
Quote:
Sambil berkata begitu, Anin merangkul lengan gue dan meringis manja sambil menggigit bibir. Siapa yang gak melting diginiin coba. Gue tertawa gemas dan menyentuh hidungnya pelan. Anin menjulurkan lidah sambil tetep merangkul lengan gue.
Di atas pesawat, gue duduk di tengah, tentu saja. Sementara Anin asik menikmati pemandangan awan putih yang bagaikan karpet tebal dibawah kami. Disebelah kanan gue ada bapak-bapak tua yang lagi asik membaca majalah yang disediakan maskapai. Gue juga mengikuti langkahnya, mengambil majalah di kantong kursi depan gue. Baru baca-baca sebentar, Anin mencolek gue.
Quote:
Anin mengangguk perlahan sambil bibirnya membentuk kata “ooh” kemudian berkonsentrasi lagi ke pemandangan. Gak lama kemudian dia nyeletuk lagi.
Quote:
Gue memandangi Anin sambil memiringkan kepala, menyelidiki.
Quote:
Anin tersenyum manja sambil menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia memandangi lagi pemandangan di luar. Gue tersenyum simpul dan menggelengkan kepala pelan.
Kami berdua akhirnya mendarat di Soekarno-Hatta, dan langsung naik taksi menuju ke rumah saudara Anin di Cibubur. Sesampai disana, gue takjub melihat rumah mewah milik tantenya Anin, di sebuah komplek perumahan mewah. Biarin mau dikatain ndeso juga.
Ketika kami tiba, seorang ibu-ibu berwajah nyaris kembar dengan Tante Ayu sudah berdiri di teras rumah sambil tersenyum lebar. Ketika Anin berlari kecil menghampiri dengan tangan terbuka, beliau juga menyambut keponakannya itu dengan tangan terbuka. Sambil mengambil barang-barang dari bagasi, gue tersenyum memandangi itu.
Setelah taksi pergi, gue menghampiri tante Ratna, itu nama beliau, dan mencium tangannya. Tante Ratna yang ekstra ramah itu mempersilakan gue masuk ke dalam rumah, sementara Anin udah masuk ke dalam duluan. Gue sedikit rikuh dengan keramahan tante Ratna yang tumpe-tumpe itu. Karena Anin udah ngacir ke dalam, jadinya gue yang ngebawa semua barang-barang kami berdua. Ampun deh.
Quote:
Tante Ratna ngomongnya cepet banget, khas ibu-ibu gitu. Gue cuma tersenyum dan menjawab dengan sopan. Sementara gue mendengar suara Anin yang jejeritan di atas, heboh sendiri ketemu saudaranya. Sama-sama cewek sih, dan umurnya gak jauh beda.
Quote:
Obrolan gue dan Tante Ratna itu berlangsung beberapa saat, sampe akhirnya gue liat Anin turun ke ruang tamu bersama saudara sepupunya. Untuk sesaat gue melongo melihat saudara sepupu Anin itu. Mukanya mirip banget sama Shinta tapi berambut cukup pendek sebahu, cocok kalo kembar kali. Gue jadi bertanya-tanya gimana alur genetika keluarga besar Anin ini.
Quote:
Anin kemudian duduk disamping gue, dan Sophia disamping Anin. Tante Ratna kemudian kembali berbicara, dan obrolan kami berempat berlangsung cukup lama. Menjelang sore, gue pamit ke mereka bertiga, karena gue harus pulang, untuk siap-siap kerja keesokan harinya. Tante Ratna ngotot menawarkan sopirnya untuk mengantarkan gue. Awalnya gue menolak dengan halus, tapi paksaan dari beliau plus omelan dari Anin dan sedikit bujukan dari Sophia membuat gue mau gak mau menerima tawaran itu.
Malamnya, gue berdiri di jendela kamar, memandangi gemerlap kota Jakarta di bawah gue. Sambil sesekali menyeruput kopi di tangan dan melodi dari You’ve Got Me Wrapped Around Your Little Finger nya Beth Rowley mengalun, gue berpikir tentang jalan yang akan gue tempuh kedepannya. 3 hari pulang kerumah membawa banyak arti dalam hidup gue.
Terutama arti akan kesetiaan dan kerinduan.
“.....You've got me wrapped around your little finger
If this is love, it's everything i hoped it would be
You"ve got me wrapped around your little finger
You will see, by my words just how much you mean to me….”
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: mana?
: mau es Milo dong
: mas, itu gunung apa ya?
: apa ya? Gak tau juga dek. Haha. Ini sampe mana sih? kalo tinggi ya paling itu gunung Slamet atau Ciremai.
: naik gunung yuk.
: kamu habis nonton 5 cm kan?
: pantesan aja.