- Beranda
- Stories from the Heart
Claudya.
...
TS
kevinadr04
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baru
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
INDEX
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
Spoiler for :
INDEX
Spoiler for :
Diubah oleh kevinadr04 01-10-2015 04:14
anasabila memberi reputasi
1
9.6K
61
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kevinadr04
#41
Keributan di Sekolah.
Kembali kerutinitasku, yaitu sekolah. lagi-lagi aku terlambat datang ke sekolah, mungkin guru yang menjaga sudah bosan memperingatkanku karena aku sering kali terlambat datang ke sekolah.
“pagi bu. Hehe” salamku pada guru piket yang menjaga gerbang.
“haduhh.. kamu lagi. ibu udah capek bilangin kamu terus, vin.” Ucapnya.
“saya juga bosen bu, ngeliat ibu terus yang jaga gerbang. Hehe”
“Heh.. kurang ajar yaa kamu!” Bentaknya sambil menahan tawa.
“Hehe. bercanda, bu.” Ledekku.
“Haha. iya, ibu juga tau. Yaudah, kamu duduk disitu. Tunggu sampe mata pelajaran pertama selesai.” Suruhnya.
“bosen banget bu disuruh nunggu mulu sama ibu, kepastiannya kapann bu??” tanyaku.
“Huss!! Songong kamu.” Jawabnya sambil tertawa.
“Haha.”
Guru yang menjaga gerbang memang sudah sangat akrab denganku, makanya aku berani bercanda dengannya, kebetulan juga dia mengajar mata pelajaran sosiologi. Dia cantik dan masih muda, dia sudah bersuami dan mempunyai anak satu. Mungkin sewaktu selesai kuliah dia langsung menikah, itu menurutku.
Kringg.. kringg..
Mata pelajaran pertama sudah selesai, itu berarti aku sudah boleh masuk ke kelas. Segera aku langkahkan kaki menuju ke kelas, ketika aku sedang membuka pintu kelas tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.
“weyy..” salah seorang menepuk pundakku.
“ehh…” aku langsung membalikkan badanku.
“ahh.. si dongo, ngagetin gue aja lu no.” ucapku pada rhino yang tadi menepuk pundakku.
“vin, ada yang mau kenalan sama lo. Cewek.” Ucap rhino.
“siapa?” tanyaku penasaran.
“nanti aja gue kenalin, pas jam istirahat. Sekarang masuk aja dulu, udah ada gurunya tuh.” Rhino menunjuk guru geografi yang menuju ke kelas.
“Yaudah..”
di kelas aku penasaran, siapa yang ingin berkenalan denganku. “Perasaan gue kalo di sekolah jarang banget yang namanya nongkrong, malah hampir nggak pernah.” Pikirku.
Saat lagi berfikir siapa yang ingin berkenalan denganku, tiba-tiba guru menunjukku untuk maju mengerjakan tugas yang ada di papan tulis.
“ehh.. kamu, coba kerjain soal yang ada di papan tulis.” Ucap guru Geografi menunjukku.
“hahh?? Saya pak?” tanyaku dengan tampang enggak banget.
“ya, kamu. Masa sebelah kamu.”
“haduhh.. mati nih gue.” Ucapku pelan.
Aku melangkahkan kaki berjalan ke papan tulis, dengan bermodalkan contoh soal yang berada dipapan tulis sebelah dan sudah dilengkapi dengan caranya, akhirnya aku bisa mengerjakan soal rumit tersebut.
“udah nih, pak.” Ucapku.
“tumben kamu bisa ngerjain.” Sindirnya sambil tertawa.
“bisa dong, pak. Orang udah ada caranya di sebelahnya. Haha” aku tertawa.
“yaudah, kamu duduk ke tempat duduk kamu.” Suruhnya.
“tumben lu vin bisa?” tanya fajar saat aku baru duduk.
“nggak tau, gue juga bingung. Tau-tau ada pencerahan aja, begitu maju ke depan. Haha” jawabku sambil cengengesan.
“hett.. bloon banget lu. Haha” fajar tertawa.
Kringg.. Kringg..
Bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke kantin tanpa mengajak rhino atau fajar untuk bareng karena perutku sudah sangat lapar sekali daritadi. Aku memesan ketoprak dan air putih, selesai memesan makanan dan minuman. Aku mencari tempat duduk, tidak peduli aku hanya sendiri di kantin.
Plakk...
“aduhh.. brengsek! Siapa nih yang ngeplak pala gue.” Ucapku begitu kesal karena aku sedang asyik makan tiba-tiba ada yang mengeplak kepalaku.
Saat aku membalikkan badanku, kulihat ada 5 orang anak kelas 3 tengah mengelilingiku.
“ini tempat biasa gue nongkrong, ngapain lu disini?” Ucap salah seorang dari mereka.
“oh. Terus?!” Aku melanjutkan makan.
“ya lo ngapain disini??!!” dia begitu ngotot.
“yaa makan lahh.” Aku masih melanjutkan makan.
“yaudah, gue minta yaa.” Dia duduk di sampingku.
Belum juga aku menjawab, sendok yang sedang kupegang langsung direbut oleh yang duduk disebelahku. Aku hanya bisa diam melihatnya memakan ketoprakku, ku kira dia serius meminta makananku. Tapi ternyata tidak! Makanan yang sudah ia masukkan kemulutnya, dimuntahkan kembali ke ketoprak yang baru kubeli.
“brengsek!” ucapku dalam hati.
“HAHAHA.” Mereka semua tertawa.
“kenapa bro? kok nggak dimakan? Haha.” Tanyanya meledek.
“brengsek lu!”
Bugg..
Aku langsung memukul wajahnya tepat dipipinya, saat aku ingin memukulnya lagi teman-temannya langsung memukulku dari belakang.
Bugg..
“aakk..” teriakku yang langsung jatuh tersungkur dipukul temannya dari belakang.
“pegangin dia.” Ucap orang yang kupukul tadi.
Bugg.. Bugg..
Pukulan bertubi-tubi melayang dipipi dan perutku, aku mencoba memberontak tapi apa daya, pegangan teman-temannya ditanganku begitu kuat. Fajar dan rhino yang baru datang ke kantin langsung menghampiriku yang tengah dipukuli daritadi.
“woyy.. ngapain temen gue lo?!” Fajar langsung berlari memukul orang yang memukulku.
“minggir, jar.” Ucap rhino.
Kulihat rhino mengambil botol minuman teh beling yang ada di meja, langsung dipecahkan botol beling tersebut ke kepala orang yang memukulku tadi.
Prakk..
“aduhh..”
orang yang tadi memukulku langsung merintih kesakitan memegangi kepalanya, darah mulai menetes di jidatnya.
“gila, ini orang berani banget mukul anak orang pake botol beling.” Pikirku.
Teman-temannya yang memegangiku daritadi langsung menghampiri mereka berdua, kantin yang tadinya tidak begitu ramai langsung ramai dari kelas satu sampai anak kelas tiga melihat keributan diantara kami. Fajar dan rhino kulihat sudah mulai kelelahan karena dia dikeroyok empat temannya yang tadi, aku yang kasihan melihat mereka berdua kelelahan langsung membantunya meladeni keempat temannya tadi. aku tidak memikirkan luka yang ada diwajahku, yang kupikirkan hanya membantu rhino dan fajar agar jangan sampai ia dihabisi oleh teman-teman yang memukuliku.
“hehh.. kamuu!! Berhenti!!” tiba-tiba para guru datang memisahkan kita.
Tak perlu waktu lama, kita semua di angkut ke ruang guru. para guru berkumpul dan mengintrogasi kita semua. Aku menceritakan kronologis dari awal dia memuntahkan ketoprakku sampai rhino memukul orang yang telah memuntahkan makananku. Kudengar dari guru bahwa orang yang sangat membuatku kesal namanya Rian, kata guru memang dia orang yang paling suka buat masalah kalau disekolah. Sudah berkali-kali orang tua dia dipanggil karena ia selalu membuat masalah disekolah.
“kamu bertiga, bapak skorsing tidak boleh masuk ke sekolah selama tiga hari! Dan orang tua kalian besok harus datang ke sekolah.” ucap bapak kepala sekolah kepada kita bertiga.
Setelah menyelesaikan masalah di ruang guru, kami bertiga kembali ke kelas dengan muka penuh memar dan badan sakit semua.
“gimana nih besok?” tanya fajar terlihat bingung.
“udah, santai aja. besok kita cabut aja bertiga, masalah panggilan orang tua nggak perlu ditanggepin.” Jawabku santai.
“lagi elo si vin, orang mau gue ajak kenalan sama cewek malah buat onar di kantin.” Rhino menggerutu.
“gue laper banget tadi.” Aku memberitahu.
“yee.. yang buat onar lu tuh! Anak orang palanya dibikin bocor, pake dipukul pake botol segala lagi.” Sambungku.
“tau lu no, bikin perkara aja.” Fajar ikut-ikutan.
“kalo nggak digituin, masih songong terus dia. Lagi juga, denger-denger dari temen gue yang anak kelas tiga, dia orangnya emang ngeselin. Udah gitu sok jagoan lagi.” Ucap rhino.
“pantes.” ucapku singkat.
“gue juga udah lama ngincer itu anak, gue pernah di cegat soalnya waktu pulang. Terus dipalakin.”
“terus lu kasihh?” tanyaku.
“yaa kasih, orang temennya banyak bener. Takut juga gue. Haha” rhino tertawa.
“tadi lu mukul pake botol kagak takut, no.” celetuk fajar.
“itu beda lagi ceritanya.”
“HAHA.” Kami bertiga tertawa bersama.
“eh, besok cabut kemana nih?” tanya fajar.
“kemana kek, yang agak jauh dari rumah sama sekolah aja. Nanti kita ketemuan aja, gue sms lu berdua nanti.”
“yaudahh..”
kami bertiga pulang kerumah masing-masing dengan muka penuh memar, untuk membawa motorpun kita bertiga begitu tidak berdaya. Namun kami paksakan untuk membawa motor.
“jar, nongkrong dulu nggak?” tanyaku.
“terserah.” Jawabnya singkat.
“kayak perempuan lu, jawabnya terserah.” Gerutuku.
“Haha. Gue kagak napsu ngomong, vin. Pada sakit pipi gue, apalagi pas dipukul sama temennya yang tinggi tuh. Berasa banget.” Keluhnya.
“yaudah, nongkrong dulu sebentar. Abis itu kita langsung cabut.”
“iya.”
Akhirnya kita mumutuskan untuk nongkrong di warung biasa aku nongkrong dengan fajar, dengan bibir yang bengkak. Masih sempat-sempatnya aku dengan fajar bercanda kesana kemari mengingat kejadian tadi yang dilakukan kita, memang terdengar agak konyol. Berantem cuma karena ketoprakku dimuntahkan, sebenarnya bukan soal dimuntahkannya makananku oleh rian yang membuatku marah. Tapi karena aku tidak suka ada orang tidak menghargai makanan, aku sangat marah jika ada orang yang menghina makanan.
Setibanya dirumahh…
“kamu kenapa vin? Muka kamu pada memar gitu.” tanya ibuku begitu khawatir melihat wajahku.
“abis berantem, mah.” Jawabku datar.
“loh, berantem sama siapa? Aduhh.. kamu tuh ya, enggak biasanya kamu berantem. Emang kenapa sih?” ibuku mengambil peralatan P3K dari lemari.
“yaa lagi makanan kevin dimuntahin.” Aku masih kesal mengingat kejadian tadi.
“dimuntahin gimana?” ibuku memberikan alcohol pada bibirku.
“jadi tadi kevin lagi makan ketoprak dikantin, anak kelas tiga ada yang nggak seneng tempat duduknya kevin tempatin. terus anak kelas tiga tiba-tiba nyerobot sendok kevin, abis itu dimakan ketoprak kevin. Kirain kevin mau ditelen, gataunya malah dimuntahin ke piring. Ngeselin banget kann.” Aku menceritakan kejadian tadi di kantin pada ibuku.
“ihh.. kok gitu banget sih, nggak ngehargain makanan banget. Terus abis itu?” tanyanya penasaran.
“yaa langsung kevin pukul lah, orang kayak gitu kalo di diemin nanti ngelunjak.”
“yaudah, abis ini kamu mandi.” Suruh ibuku.
“iya. Mah, bapak kemana?” tanyaku.
“bapak lagi nganter kakak kamu kerja, vin.”
“ohh.. yaudah, kevin mandi dulu yaa, mah.”
Aku bergegas ke kamar mandi, badanku juga sudah sangat lengket. Saat aku melepaskan baju sekolahku, kulihat baju sekolahku sobek. Setelah aku ingat-ingat ternyata tadi seorang temannya rian menarik bajuku dibagian belakang. Kenapa aku baru sadar kalau bajuku sobek, aku menyimpan kaos tersebut di lemariku. Ingin kujahit, keadaannya sudah tidak bisa ditambal lagi, cukup besar sobekannya. Mau aku buang sayang, lebih baik aku simpan saja.
“pagi bu. Hehe” salamku pada guru piket yang menjaga gerbang.
“haduhh.. kamu lagi. ibu udah capek bilangin kamu terus, vin.” Ucapnya.
“saya juga bosen bu, ngeliat ibu terus yang jaga gerbang. Hehe”
“Heh.. kurang ajar yaa kamu!” Bentaknya sambil menahan tawa.
“Hehe. bercanda, bu.” Ledekku.
“Haha. iya, ibu juga tau. Yaudah, kamu duduk disitu. Tunggu sampe mata pelajaran pertama selesai.” Suruhnya.
“bosen banget bu disuruh nunggu mulu sama ibu, kepastiannya kapann bu??” tanyaku.
“Huss!! Songong kamu.” Jawabnya sambil tertawa.
“Haha.”
Guru yang menjaga gerbang memang sudah sangat akrab denganku, makanya aku berani bercanda dengannya, kebetulan juga dia mengajar mata pelajaran sosiologi. Dia cantik dan masih muda, dia sudah bersuami dan mempunyai anak satu. Mungkin sewaktu selesai kuliah dia langsung menikah, itu menurutku.
Kringg.. kringg..
Mata pelajaran pertama sudah selesai, itu berarti aku sudah boleh masuk ke kelas. Segera aku langkahkan kaki menuju ke kelas, ketika aku sedang membuka pintu kelas tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.
“weyy..” salah seorang menepuk pundakku.
“ehh…” aku langsung membalikkan badanku.
“ahh.. si dongo, ngagetin gue aja lu no.” ucapku pada rhino yang tadi menepuk pundakku.
“vin, ada yang mau kenalan sama lo. Cewek.” Ucap rhino.
“siapa?” tanyaku penasaran.
“nanti aja gue kenalin, pas jam istirahat. Sekarang masuk aja dulu, udah ada gurunya tuh.” Rhino menunjuk guru geografi yang menuju ke kelas.
“Yaudah..”
di kelas aku penasaran, siapa yang ingin berkenalan denganku. “Perasaan gue kalo di sekolah jarang banget yang namanya nongkrong, malah hampir nggak pernah.” Pikirku.
Saat lagi berfikir siapa yang ingin berkenalan denganku, tiba-tiba guru menunjukku untuk maju mengerjakan tugas yang ada di papan tulis.
“ehh.. kamu, coba kerjain soal yang ada di papan tulis.” Ucap guru Geografi menunjukku.
“hahh?? Saya pak?” tanyaku dengan tampang enggak banget.
“ya, kamu. Masa sebelah kamu.”
“haduhh.. mati nih gue.” Ucapku pelan.
Aku melangkahkan kaki berjalan ke papan tulis, dengan bermodalkan contoh soal yang berada dipapan tulis sebelah dan sudah dilengkapi dengan caranya, akhirnya aku bisa mengerjakan soal rumit tersebut.
“udah nih, pak.” Ucapku.
“tumben kamu bisa ngerjain.” Sindirnya sambil tertawa.
“bisa dong, pak. Orang udah ada caranya di sebelahnya. Haha” aku tertawa.
“yaudah, kamu duduk ke tempat duduk kamu.” Suruhnya.
“tumben lu vin bisa?” tanya fajar saat aku baru duduk.
“nggak tau, gue juga bingung. Tau-tau ada pencerahan aja, begitu maju ke depan. Haha” jawabku sambil cengengesan.
“hett.. bloon banget lu. Haha” fajar tertawa.
Kringg.. Kringg..
Bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke kantin tanpa mengajak rhino atau fajar untuk bareng karena perutku sudah sangat lapar sekali daritadi. Aku memesan ketoprak dan air putih, selesai memesan makanan dan minuman. Aku mencari tempat duduk, tidak peduli aku hanya sendiri di kantin.
Plakk...
“aduhh.. brengsek! Siapa nih yang ngeplak pala gue.” Ucapku begitu kesal karena aku sedang asyik makan tiba-tiba ada yang mengeplak kepalaku.
Saat aku membalikkan badanku, kulihat ada 5 orang anak kelas 3 tengah mengelilingiku.
“ini tempat biasa gue nongkrong, ngapain lu disini?” Ucap salah seorang dari mereka.
“oh. Terus?!” Aku melanjutkan makan.
“ya lo ngapain disini??!!” dia begitu ngotot.
“yaa makan lahh.” Aku masih melanjutkan makan.
“yaudah, gue minta yaa.” Dia duduk di sampingku.
Belum juga aku menjawab, sendok yang sedang kupegang langsung direbut oleh yang duduk disebelahku. Aku hanya bisa diam melihatnya memakan ketoprakku, ku kira dia serius meminta makananku. Tapi ternyata tidak! Makanan yang sudah ia masukkan kemulutnya, dimuntahkan kembali ke ketoprak yang baru kubeli.
“brengsek!” ucapku dalam hati.
“HAHAHA.” Mereka semua tertawa.
“kenapa bro? kok nggak dimakan? Haha.” Tanyanya meledek.
“brengsek lu!”
Bugg..
Aku langsung memukul wajahnya tepat dipipinya, saat aku ingin memukulnya lagi teman-temannya langsung memukulku dari belakang.
Bugg..
“aakk..” teriakku yang langsung jatuh tersungkur dipukul temannya dari belakang.
“pegangin dia.” Ucap orang yang kupukul tadi.
Bugg.. Bugg..
Pukulan bertubi-tubi melayang dipipi dan perutku, aku mencoba memberontak tapi apa daya, pegangan teman-temannya ditanganku begitu kuat. Fajar dan rhino yang baru datang ke kantin langsung menghampiriku yang tengah dipukuli daritadi.
“woyy.. ngapain temen gue lo?!” Fajar langsung berlari memukul orang yang memukulku.
“minggir, jar.” Ucap rhino.
Kulihat rhino mengambil botol minuman teh beling yang ada di meja, langsung dipecahkan botol beling tersebut ke kepala orang yang memukulku tadi.
Prakk..
“aduhh..”
orang yang tadi memukulku langsung merintih kesakitan memegangi kepalanya, darah mulai menetes di jidatnya.
“gila, ini orang berani banget mukul anak orang pake botol beling.” Pikirku.
Teman-temannya yang memegangiku daritadi langsung menghampiri mereka berdua, kantin yang tadinya tidak begitu ramai langsung ramai dari kelas satu sampai anak kelas tiga melihat keributan diantara kami. Fajar dan rhino kulihat sudah mulai kelelahan karena dia dikeroyok empat temannya yang tadi, aku yang kasihan melihat mereka berdua kelelahan langsung membantunya meladeni keempat temannya tadi. aku tidak memikirkan luka yang ada diwajahku, yang kupikirkan hanya membantu rhino dan fajar agar jangan sampai ia dihabisi oleh teman-teman yang memukuliku.
“hehh.. kamuu!! Berhenti!!” tiba-tiba para guru datang memisahkan kita.
Tak perlu waktu lama, kita semua di angkut ke ruang guru. para guru berkumpul dan mengintrogasi kita semua. Aku menceritakan kronologis dari awal dia memuntahkan ketoprakku sampai rhino memukul orang yang telah memuntahkan makananku. Kudengar dari guru bahwa orang yang sangat membuatku kesal namanya Rian, kata guru memang dia orang yang paling suka buat masalah kalau disekolah. Sudah berkali-kali orang tua dia dipanggil karena ia selalu membuat masalah disekolah.
“kamu bertiga, bapak skorsing tidak boleh masuk ke sekolah selama tiga hari! Dan orang tua kalian besok harus datang ke sekolah.” ucap bapak kepala sekolah kepada kita bertiga.
Setelah menyelesaikan masalah di ruang guru, kami bertiga kembali ke kelas dengan muka penuh memar dan badan sakit semua.
“gimana nih besok?” tanya fajar terlihat bingung.
“udah, santai aja. besok kita cabut aja bertiga, masalah panggilan orang tua nggak perlu ditanggepin.” Jawabku santai.
“lagi elo si vin, orang mau gue ajak kenalan sama cewek malah buat onar di kantin.” Rhino menggerutu.
“gue laper banget tadi.” Aku memberitahu.
“yee.. yang buat onar lu tuh! Anak orang palanya dibikin bocor, pake dipukul pake botol segala lagi.” Sambungku.
“tau lu no, bikin perkara aja.” Fajar ikut-ikutan.
“kalo nggak digituin, masih songong terus dia. Lagi juga, denger-denger dari temen gue yang anak kelas tiga, dia orangnya emang ngeselin. Udah gitu sok jagoan lagi.” Ucap rhino.
“pantes.” ucapku singkat.
“gue juga udah lama ngincer itu anak, gue pernah di cegat soalnya waktu pulang. Terus dipalakin.”
“terus lu kasihh?” tanyaku.
“yaa kasih, orang temennya banyak bener. Takut juga gue. Haha” rhino tertawa.
“tadi lu mukul pake botol kagak takut, no.” celetuk fajar.
“itu beda lagi ceritanya.”
“HAHA.” Kami bertiga tertawa bersama.
“eh, besok cabut kemana nih?” tanya fajar.
“kemana kek, yang agak jauh dari rumah sama sekolah aja. Nanti kita ketemuan aja, gue sms lu berdua nanti.”
“yaudahh..”
kami bertiga pulang kerumah masing-masing dengan muka penuh memar, untuk membawa motorpun kita bertiga begitu tidak berdaya. Namun kami paksakan untuk membawa motor.
“jar, nongkrong dulu nggak?” tanyaku.
“terserah.” Jawabnya singkat.
“kayak perempuan lu, jawabnya terserah.” Gerutuku.
“Haha. Gue kagak napsu ngomong, vin. Pada sakit pipi gue, apalagi pas dipukul sama temennya yang tinggi tuh. Berasa banget.” Keluhnya.
“yaudah, nongkrong dulu sebentar. Abis itu kita langsung cabut.”
“iya.”
Akhirnya kita mumutuskan untuk nongkrong di warung biasa aku nongkrong dengan fajar, dengan bibir yang bengkak. Masih sempat-sempatnya aku dengan fajar bercanda kesana kemari mengingat kejadian tadi yang dilakukan kita, memang terdengar agak konyol. Berantem cuma karena ketoprakku dimuntahkan, sebenarnya bukan soal dimuntahkannya makananku oleh rian yang membuatku marah. Tapi karena aku tidak suka ada orang tidak menghargai makanan, aku sangat marah jika ada orang yang menghina makanan.
Setibanya dirumahh…
“kamu kenapa vin? Muka kamu pada memar gitu.” tanya ibuku begitu khawatir melihat wajahku.
“abis berantem, mah.” Jawabku datar.
“loh, berantem sama siapa? Aduhh.. kamu tuh ya, enggak biasanya kamu berantem. Emang kenapa sih?” ibuku mengambil peralatan P3K dari lemari.
“yaa lagi makanan kevin dimuntahin.” Aku masih kesal mengingat kejadian tadi.
“dimuntahin gimana?” ibuku memberikan alcohol pada bibirku.
“jadi tadi kevin lagi makan ketoprak dikantin, anak kelas tiga ada yang nggak seneng tempat duduknya kevin tempatin. terus anak kelas tiga tiba-tiba nyerobot sendok kevin, abis itu dimakan ketoprak kevin. Kirain kevin mau ditelen, gataunya malah dimuntahin ke piring. Ngeselin banget kann.” Aku menceritakan kejadian tadi di kantin pada ibuku.
“ihh.. kok gitu banget sih, nggak ngehargain makanan banget. Terus abis itu?” tanyanya penasaran.
“yaa langsung kevin pukul lah, orang kayak gitu kalo di diemin nanti ngelunjak.”
“yaudah, abis ini kamu mandi.” Suruh ibuku.
“iya. Mah, bapak kemana?” tanyaku.
“bapak lagi nganter kakak kamu kerja, vin.”
“ohh.. yaudah, kevin mandi dulu yaa, mah.”
Aku bergegas ke kamar mandi, badanku juga sudah sangat lengket. Saat aku melepaskan baju sekolahku, kulihat baju sekolahku sobek. Setelah aku ingat-ingat ternyata tadi seorang temannya rian menarik bajuku dibagian belakang. Kenapa aku baru sadar kalau bajuku sobek, aku menyimpan kaos tersebut di lemariku. Ingin kujahit, keadaannya sudah tidak bisa ditambal lagi, cukup besar sobekannya. Mau aku buang sayang, lebih baik aku simpan saja.
0