Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1283
3. Reale
Pelayan menyajikan secangkir Americano di hadapanku dan Blueberry Cheesecake.
Emi memesan teh hangat dan muffin.
Tapi sepertinya diantara kami berdua tidak ada yang berani untuk mulai makan ataupun bicara.

"Jadi,...kamu bisa ceritain ada apa semua ini?" aku mengambil inisiatif.

"Sebenernya simple... jiwa elo ketukar dengan diri sendiri dari dimensi ini." Emi mulai menyeruput tehnya. "O iya, kita seumuran...jadi panggil gue-elo aja ya."

Aku mengangguk tanda tidak keberatan dengan permintaannya.
Masih belum bisa menerima fakta tersebut, aku meneguk kopiku dengan gelisah.

"Kalau cuma beda dimensi, seharusnya cerminan aja kan? Lalu, kenapa hal-hal yang ada di sini berbeda dengan yang di sana?"

Emi menggeleng dan mengoreksiku.

"Kalian manusia salah konsep tentang dimensi. Ini bukan refleksi, tapi ibarat beberapa dunia yang saling berjalan di waktu yang sama. Inget hukum probabilitas? Kemungkinan pertama dan kedua? Atau gampangnya...pernah mengalami deja-vu?"

Aku sepertinya mulai paham dengan penjelasan Emi.

"Ketika elo mengalami deja-vu yang 'seolah-olah' mengulang kejadian yang sama, itu sebenernya dimensi lain dari elo yang sedang mengalaminya. Karena dunia kalian bentuknya sama, kemungkinannya sangat besar untuk terjadi kemiripan."

"Tapi, orangtua yang seharusnya udah pergi mendadak ada? Itu sama-sekali nggak mirip aslinya." aku memprotes lebih jauh.

"Maka itu, seperti yang gue bilang ada yang namanya kemungkinan-kemungkinan alternatif. Di tempat asal elo, sejak bayi kedua orangtua elo ngasih bayi ke panti asuhan. Di sini, mereka memutuskan untuk merawat elo."

Jawaban itu agak memilukan hatiku.
Tapi, mengusut orangtuaku bukanlah prioritasku sekarang.

"Lalu, gimana caranya kembali?"

Emi mengangkat bahunya.

"Soal itu, jujur aja baru kali ini ada kejadian ketukar antar-dimensi begini. Jadi, orang-orang dari atas masih meneliti solusinya."

"Atas?" aku merenyitkan dahi. "Tuhan?"

Emi lagi-lagi mengangkat bahu.

"Bagaimanapun elo menginterpretasikannya, yang jelas ada yang lebih berwenang di atas..." Emi mulai menggigit muffin cokelatnya dan menampakkan ekspresi menikmati kue yang enak tersebut. "Sampai ketemu solusinya, kenapa elo nggak jalanin aja seperti biasa? Toh' bukannya orang lain kan?"

Aku menggeleng kuat-kuat.

"Mana mungkin bisa saya...ehm maksudnya gue bisa bersikap biasa?" aku masih canggung jika berbicara tidak formal dengan orang yang baru saja kutemui. "Semua hal di kehidupan gue berubah, dan sama aja ini udah berubah jadi kehidupan orang lain!"

Emi membersihkan remah-remah kue dari wajahnya.

"Maksud elo, Arzel? Mungkin diri elo di dimensi ini nggak kenal sama Arzel. Solusinya yah simple... kenalan lagi aja."

Aku sebal dengan gaya Emi yang menyepelekan hal tersebut.
Tapi, sebenarnya hati kecilku setuju dengan perkataannya.
Saat ini tidak ada solusi lebih masuk akal selain aku menghampiri Arzel lagi.
Namun, bukankah hal itu menyalahi aturan kodrat?
Maksudku, aku mungkin tidak mengenal dia karena sebuah alasan?

"Daripada pusing, kalo saran gue, mending samperin Arzel. Yah,...itung-itung spend some time sampai elo balik ke dimensi asal. Beres kan?"

Aku menggigit bibir bawahku dan berpikir keras.
Pasrah, aku hanya mengangguk dan menyetujui saran Emi.

"Tapi, gue harus cari dia dari mana?" Aku bertanya kepada diri sendiri.

"Kalian kenal udah sejak SMA kan? Pasti tahu dong rumahnya yang lama?" Emi memberi terkaan.

Aku menepok jidat.
Tentu saja! Kenapa aku tidak kepikiran sebelumnya?
Pasti Arzel masih tinggal di rumah peninggalan kedua orangtuanya.
Aku segera bangkit berdiri dan menjinjing tasku.

"Boleh, tukeran nomer handphone? Biar gue bisa menghubungi elo sewaktu - waktu..."

Emi tertawa kecil.

"Gue nggak butuh handphone. Dan aturannya pantang untuk nyari gue. Satu-satunya cara kita komunikasi, adalah dengan gue yang nyari elo duluan."

Aku kembali duduk dengan protes.

"Kok nggak adil?" aku bertanya dengan nada gusar. "Kalo gue punya pertanyaan? Kalo gue nggak paham tentang sesuatu? Kalo gue ada masalah?"

Aku memang orang yang mudah gusar, terlepas dari karakterku yang ingin selalu mandiri.
Mungkin karena terlalu banyak mengandalkan diri sendiri, aku mudah frustasi jika menemui jalan buntu.

"Jujur aja,...pertemuan kita sekarang ini sebenernya udah menyalahi aturan. GUE udah menyalahi aturan untuk berkomunikasi dengan orang." Emi menepuk bahuku pelan. "Tenang aja, elo pasti bisa kok. Karena elo yang paling ngerti kehidupan elo sendiri, kan?"

Terpaksa menerima jawaban seadanya itu, aku mengangguk dan bangkit berdiri.
Setelah berpamitan, aku keluar dari cafe itu dan kembali lagi naik taksi.
Aku meminta supir taksi tersebut untuk membawaku ke kompleks rumah Arzel yang lama.
Setelah ditinggal orangtuanya ke luar negeri, Arzel hanya tinggal di sana bersama dengan pembantunya.

Sesampaiku di depan rumah tersebut, aku memencet bel.
Dadaku terasa hangat dan lega karena rumah ini masih berdiri tegak.
Setidaknya salah satu kenangan di kepalaku memang benar eksistensinya.
Warna pagarnya, taman kecil di depannya, hingga bunga yang tertanam di sana persis seperti rumah itu setahun yang lalu.
Tentu saja karena sebelum membeli rumah baru, Arzel sudah menjual rumah ini jadi di duniaku sudah hampir setahun aku tidak melihatnya.

Bi'Nur keluar dari dalam rumah dan melongok.
Hatiku melompat kegirangan karena Bi'Nur masih ada di sana.
Setahun lalu, Bi'Nur ikut dipensiunkan bersama dengan rumah ini.
Tentunya dengan uang pesangon yang terbilang cukup fantastis.
Mengingat Bi'Nur sudah merawat Arzel sejak SD, dia sudah merupakan keluarga sendiri.
Tapi usianya yang sudah mau menginjak 60, aku dan Arzel tidak tega jika Bi'Nur masih harus bekerja di rumah baru kami.

"Maaf, siapa ya non?" logat Bi'Nur yang khas menyapaku.

"Bi,..." aku memanggil dengan senyum yang kutahan agar tidak membuncah keluar berlebihan. "Arzel ada?"

Seperti agak bingung Bi'Nur hanya mengangguk.

"Saya,...temen deketnya Arzel. Boleh masuk?" aku meminta dengan sopan.

"Ehm,...tuan Arzelnya sedang kerja, Non... nanti sore baru pulang dari kantor. Mungkin non mau kembali nanti aja?"

Mataku terbelalak lebar.
Arzel...bekerja di kantor?
Dia bukannya mendapatkan uang bulanan yang jumlahnya besar dari ayahnya?
Dulu saat menikah, Arzel menolak keras bekerja karena alasan tersebut.

"Eh,... sekarang jam 4 ya... Arzel pulang jam berapa ya Bi?"

"Tuan biasanya sampai di rumah bisa malam, Non... Jam 7 bisa jam 8." Bi'Nur menjelaskan.

Wajar, mengingat jam pulang kantor biasanya selesai jam 5.
Jika memperhitungkan jalanan yang macet, harusnya Arzel masih lama pulangnya.
Tapi, aku sudah datang sejauh ini.
Jawaban yang kucari sudah tepat di depan mata.
Tidak ada alasan lain bagiku untuk mengambil jalan memutar dan menunggu lagi.

"Kalau nggak keberatan, saya tunggu di ruang tamu aja boleh Bi?" aku meminta lagi dengan sopan.

Seperti ciri khas Bi'Nur yang sudah kukenal, akhirnya dia mempersilakanku masuk dengan ramah.
Aku mempermisikan diri dan membuka sepatu di pintu masuk.
Aku meletakkan sepatuku di dalam rak khusus yang sudah tersedia.

"Eh, non? Kok bisa tahu di sana ada rak sepatu tamu...?"

Aku baru sadar tingkahku sepertinya aneh untuk tamu yang baru pertama kali ke sini.
Cepat-cepat, aku memasang wajah tenang dan menoleh ke Bi'Nur.

"Arzel pernah cerita...di rumahnya punya kebiasaan begini..." aku mengelak.

Bi'Nur hanya mengangguk-angguk saja kemudian mempersilakanku duduk di ruang tamu.
Dia menuju ke dapur dan membuatkan minuman.
Pasti Bi'Nur membuatkan sirup pandan untukku lengkap dengan gelas terpisah berisi es batu.
Aku tersenyum kecil ketika Bi'Nur menaruh nampan di meja kopi dan persis seperti dugaanku, es sirop pandan dengan es batu yang terpisah.

"Permisi non..." Bi'Nur pamit untuk kembali ke dapur.

"Eh,..Bi'Nur mau ke mana?" aku mencegahnya kembali ke dapur.

Seperti agak terkejut, Bi'Nur menatapku dengan cara yang aneh.

"Itu,...Arzel pernah cerita Bibi yang kerja di rumahnya namanya Bi'Nur." aku berbohong lagi untuk mengoreksi keanehan yang kubuat. "Bi'Nur sini...temenin aku ngobrol aja..."

Seperti salah tingkah tapi tidak tega menolak, Bi'Nur akhirnya duduk patuh di lantai.
Jika ingat dulu, kami sudah sering menggosip, masak bersama, bahkan berbagi cerita lucu.
Bi'Nur sudah bagaikan sosok bibi yang tidak pernah kumiliki.
Tapi takut membuatnya terkejut, aku hanya mengajaknya ngobrol hal-hal standar.
Sebagian besar hal tersebut sudah kuketahui sebelumnya, tapi untuk sekarang aku hanya butuh teman mengobrol.
Setidaknya hal itu menjagaku tetap waras dan yakin bahwa hal ini memang nyata.

Jam di ruang tamu berdentang menunjukkan tepat pukul 7 malam.
Bi'Nur sudah pamit untuk shalat maghrib dan memasak makan malam sedari tadi.
Aku hanya duduk terdiam sambil menonton tv di ruang tengah.
Sesaat kemudian, terdengar suara pintu pagar terbuka dan mobil masuk ke garasi.
Aku merapikan posisi dudukku dengan gugup.

Tidak salah lagi, itu pasti Arzel.
Aku hafal caranya berjalan sambil setengah menyeret sepatu bagian belakangnya.
Jantungku berdetak makin keras seakan-akan hampir lepas dari rusukku.
Baru 3 hari tidak bertemu dengan Arzel.
Tapi rasanya sudah bagaikan bertahun-tahun.

Pintu rumah terbuka, dan Arzel masuk dari sana.
Dia mengenakan jas berwarna abu-abu gelap, lengkap dengan dasi.
Dia membawa tas koper kecil dari bahan kulit yang kutebak berisi dokumen-dokumen.
Pangling, aku bangkit dari kursiku.
Baru kali ini aku melihat Arzel berpakaian kerja sangat rapi.
Seperti dandanan seorang eksekutif.

Bahkan ketika upacara pernikahan kami, dia hanya mengenakan dasi kupu-kupu.
Arzel memang bukan tipe orang yang serius dan menghadiri acara yang mengharuskan dia untuk berpakaian formal begini.

"Arzel..." aku refleks memanggil namanya.

Dia menoleh ke arahku dan menyadari keberadaanku di sana.
Kami bertemu pandang, dan untuk sepersekian detik serasa apapun di dunia ini tidak penting lagi.
Arzel ada di hadapanku, dan dia sangat nyata.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.