“Itu iler lap dulu.” Wira membuyarkan konsentrasi gue ketika sedang menikmati pembacaan puisi Novi.
“Euh… rese lu!”
“Balikan sama mantan itu gak baik.”
“Apaan, sih, lo? Bawa-bawa mantan segala.”
“Itu, yang lagi, baca—“ ucapan Wira terpotong oleh tepuk tangan meriah. Novi telah selesai menampilkan sebuah pembacaan puisi yang sangat apik.
Gue langsung beranjak, menuju ke belakang panggung.
“Mau ke mana lo?” tanya Wira.
“Mau siap-siap, lah. Bentar lagi, kan, perform.”
“Oh, iya, lupa gue. Hehehe.” ujar Wira, langsung mengikuti gue.
“Test!” gue mengecek microphone yang akan digunakan untuk menyanyi nanti. Sansan mengecek drumnya, Wira mengecek gitarnya, dan Rendy mengecek gitarnya juga.
Mereka mengacungkan jempol tanda sudah siap.
—Mulai…
Quote:
Tetes air mata, basahi pipimu, di saat kita ‘kan berpisah…
Terucapkan janji, padamu kasihku, tak ‘kan kulupakan dirimu...
Begitu beratnya, kau lepas diriku…
Sebut namaku jika kau rindukan aku…
Aku akan datang…
“Rina ngeliatin gue! Oh, God!” ucap gue dalam hati, kegirangan. Dia menyaksikan penampilan kami dan dia terfokus kepada gue. Jelas, ini membuat gerogi. Namun, gue berusaha untuk tetap tenang.
Quote:
Mungkinkah, kita ‘kan selalu bersama…
Walau terbetentang jarak antara kita…
Biarkan kupeluk erat bayangmu,
‘Tuk melepaskan semua kerinduanku…
(Mungkinkah, Stinky).
Kami berlatih cukup keras agar bisa membawakan lagu ini (menuju) sempurna. Gue sendiri rela menjauhi makanan favorit yang nantinya bisa berpengaruh terhadap suara gue nanti. Bakso, misalnya. Waktu itu, ketika pulang sekolah nyokap sengaja membelikan bakso untuk gue. Tapi, dengan halus gue menolaknya. Padahal sebenarnya gue sangat ingin memakan bakso itu. Godaan pun datang lagi, ketika gue melihat bakso itu, seolah-olah ia melambai-lambai ke arah gue sambil berkata, “Makanlah aku! Makan! Makan!”.
Sansan, Wira, dan Rendy pun penuh perjuangan. Rendy misalnya, dia rela berlatih berjam-jam sampai jari-jarinya terluka. Ya, dari kami berempat, Rendy yang tidak bisa memainkan alat musik apapun. Tapi berkat usaha dan kerja kerasnya dan dibantu oleh gue, Sansan, dan Wira, dia menjadi bisa memainkan gitar. Rendy juga sempat ingin menyerah. Ketika dia akan menyerah, gue coba memotivasi dengan sebuah kalimat pendek sarat makna, “Tak ada kerja keras yang sia-sia.”
Hanya sekitar 5 menit lebih sedikit kami tampil. Hasilnya cukup memuaskan. Setidaknya kami telah berusaha.
—Selesai.
Semua orang bertepuk tangan. Sambil tersenyum, gue berkata, “Terimakasih, terimakasih.”
Kami berempat turun dari panggung. “Good job, Guys!” kata gue.
“YEAH!!!” Nampaknya Rendy sangat senang mengingat dari kami berempat, Rendy lah yang paling pedih perjuangannya.
“Ren, sadar, Ren!” Sansan mencoba menyadarkan Rendy dari rasa senangnya.
“Hehehehe.”
Hening sejenak.
“Rendy, tadi lo ada yang salah.” ujar gue.
“Salah gimana maksudnya?”
“Salahnya, harus tadi belum nginjek kunci D, eh, elo malah nginjek duluan. Untung tadi Wira nutupin.”
Rendy terlihat murung.
“Kenapa lu? Baru dikritik gitu aja udah murung kayak gini. Ralat, bukan dikritik, dikasih tau.” sambung gue.
“Kalo lo mau jadi orang yang lebih baik, berharaplah kritikan dari orang lain, bukan berharap pujian.”
Perlahan Rendy tersenyum.
“Kalian emang sobat gue!”ia berkata dengan penuh perasaan.
Kemudian kami berpelukan.
Teletubbies, panggilan yang cocok untuk kami.