- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2393
PART 111
Lantunan lagu Sing For Absolution dari MUSE terdengar nyaring memenuhi isi ruangan. Gw masih disini, di depan layar monitor sembari mantengin email gw. Ya, sudah satu minggu ini gw aktif mengirim berkas lamaran ke beberapa perusahaan di Jakarta melalui email, tapi sampai saat itu belum ada satupun balasan dari pihak perusahaan yang gw lamar. "Ya Allah susah amat ya nyari kerjaan di Jakarta". Kemudian gw ambil secangkir kopi lalu menyeruputnya pelan, tak ketinggalan satu batang cocolok cungur terselip di bibir gw.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 siang. Selesai browsing cari info loker serta mengirim beberapa email, gw segera menghabiskan kopi lalu mematikan rokok di atas asbak. Bersamaan dengan itu, Edo muncul dari bilik yang kita sebut sebagai 'kamar' rapih dengan kemeja putih, peci putih, serta sarung.
"Mau kemana lu?" Tanya gw.
"Sekarang Jumat woi!!"
"Lah terus?"
"Solat Jumat lah! Lu kagak berangkat emang? Dah berapa kali lu kagak solat jumat? Mau dikata Kapir lu?" Ujar Edo.
"Ah iya gw lupa. Tungguin gw yak mandi dulu!" Ujar gw
"Udah jam segini cuk! Keburu azan!"
"Yah ilah gw mandi cepet kok. Tunggu..."
Akhirnya gw berangkat Jumatan bareng Edo di masjid yang jaraknya tak jauh dari studio. Sampai disana gw langsung duduk manis di barisan paling belakang mendengarkan ceramah dari sang khatib. Pukul 12.30, solat telah selesai, satu persatu para jamaah mulai meninggalkan masjid dan kini hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk gw. Disana gw berdoa, memohon pada sang Khalik agar gw diberi kemudahan untuk segala urusan yang gw jalani. Tak lupa gw mendoakan orang tua gw agar mereka selalu sehat serta senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
Waktu terus berjalan, hari hari pun berlalu. Kesibukan gw masih sama seperti hari sebelumnya. Jaga studio bareng Edo, bikin lamaran pekerjaan, mantengin email, mantengin HP, dan setiap Sabtu-Minggu gw jadi guru les si Nia. Hingga suatu hari di pertengahan bulan Maret, tiba tiba gw mendapat telefon dari nomor tidak dikenal. Dengan semangat gw langsung mengangkat telefon itu karena gw mengira ini pasti panggilan kerja dari salah satu perusahaan yang gw lamar.
"Halo assalamualaikum, selamat pagi?" Ucap gw di telefon.
"....." tak ada suara balasan.
"Halo, assalamualaikum?" Sapa gw sekali lagi.
"Walaikumsalam...Jar?"
"DEG!" Gw bengong.
"Halo Jar..."
"....."
"Halo..."
"......"
"Kamu dimana Jar??"
"Mama....." Ucap gw pelan.
"Kamu dimana? Kamu sehat kan? Pulang nak....Mama nggak bisa tenang, terus terusan mikirin kamu." Ucap beliau sambil sedikit terisak.
"Kok tau nomor aku?" Tanya gw.
"Mba Bunga yang ngasih tau..."
"Bunga?"
"Kemaren sore mba Bunga dateng kesini, ceritain semua masalah masalah kamu. Kamu kemana aja selama ini?" Suaranya makin serak.
"DEG..."
"Kenapa kamu tega bohongjn mama sama bapak, kenapa nggak bilang aja sama mama terus terang..."
"……"
"Mama sama bapak udah mati matian Jar cari uang buat kuliahin kamu, kenapa malah kaya begini? Kamu cepet pulang Jar. Mama sama bapak bla....bla...bla..." Dan beliaupun bicara sambil menangis.
Gw menjauhkan HP dari telinga, perlahan suara beliau hanya terdengar sayup sayup dari speaker HP. Gw merasa tak sanggup lagi mendengar perkataan beliau, apalagi mendengar tangis kekecewaan dari perempuan yang paling gw cintai di dunia ini. Kemudian "klik" gw mematikan telefon dengan tangan gw yang gemetaran lantas bengong sambil menatap kosong.
Seketika fikiran gw langsung tertuju pada Bunga. Gw nggak habis fikir, kenapa dia tega ngebongkar masalah ini ke orangtua gw. Kenapa dia tega bikin orangtua gw shock berat setelah mengetahui semuanya. Padahal gw sangat mempercayainya untuk menjaga rahasia ini pada semua orang termasuk orang tua gw.
"Bisa kita ketemu sore ini? Ada yang mau aku omongin. Penting!" Sent to Jembung.
Selang beberapa menit kemudian, sms gw dibalas olehnya.
"Asiiik Uking mau pulang!" From Jembung.
Kemudian gw langsung mandi jebar jebur, kagak sampoan, sabunan juga asal kena, gosok gigi kagak pake odol. Total waktu gw mandi cuma 2 menit kurang 3 detik. Setelah rapi berpakaian, gw menghampiri Edo yang lagi asik maenin bass kesayangannya di ruang operator.
"Do, gw Balik ke Bogor dulu ya..." Ucap gw pada Edo.
"Lah kok tiba tiba?"
"Iya, gw ada urusan mendadak. Penting..."
"Yaudah. lu punya ongkos ga?"
"Ada kok tenang aja..."
Sorenya gw sudah tiba di Bogor setelah menghabiskan waktu berdiri di dalam kereta selama lebih dari satu jam. Dan kini, gw juga lagi berdiri di depan sebuah gerbang besar sembari memencet bel berkali kali. Kemudian gerbang itu terbuka, dibukakan oleh Mas Udin, salah satu pembantu di rumah ini.
Gw dipersilahkan masuk, tapi gw menolak. Gw memilih duduk di kursi beton depan rumah sembari menunggu Bunga pulang kerja. Karena memang saat itu Bunga belum sampai di rumah. Setengah jam menunggu, Bunga pun datang mengendarai mobil prednya. Dia meminggirkan mobil, lalu keluar menghampiri gw yang lagi duduk sambil merokok.
Dia tersenyum, senyum yang biasa dia berikan ketika bertemu gw. Tapi gw tak membalas senyumnya, gw juga nggak ngomong apa apa sama dia. Hanya raut wajah dingin yang gw tunjukkan dihadapannya.
"Hey, kamu udah lama disiii....."
"Cepet masuk ke mobil!" gw memotong ucapannya.
"Loh kok? Kan aku baru sampe."
"Udah cepetan masuk!!"
Lalu kami masuk ke dalam mobil. Bunga yang pegang kemudi sementara gw duduk di sebelahnya.
"Jalan!!" Ujar gw
"Kamu kenapa sayang?" Tanya.
"Ga usah banyak nanya! Jalan aja!!"
"……"
"……"
"Kemana?" Tanya dia dengan wajah pucat.
"Terserah lu!!"
Mobil berjalan sangat lambat, seakan akan pedal gas itu berat untuk diinjak. Gw yang udah uring uringan daritadi lantas protes agar dia lebih cepat mengendarai mobilnya. Ketika di tengah jalan raya tak jauh dari gapura kompleknya, gw menyuruh Bunga menghentikan mobil.
"Stop!!
"....."
"Gua bilang stop!!"
"Cekiiiit......" Suara ban mobil berdecit.
"Kamu tuh kenapa sih Jar? Kok tiba tiba aku dimarahin gini sama kamu. Terus kenapa ngomongnya jadi elu-gua sih?"
"……"
"……"
"Kemarin ngapain aja di rumah gw??" Tanya gw.
"Emm, nggak ngapa nga...."
"Ngapain???" Potong gw.
"Enggak ngapa ngapain cuma silatur..."
"Ngapain???" Gw potong lagi.
"......" Dia menundukkan kepalanya, tak menjawab pertanyaan gw.
"Ngomong apa aja sama orang tua gw?"
"Nggak ngomong apa apa Jar cuma...."
"Cuma apa?" Potong gw.
"....." Bunga diam.
"Cuma ngomong kalo gw udah DO dari kampus setahun yang lalu. Iya kan? Cuma ngomong kalo gw kabur ke Jakarta. Iya kan? Terus cuma ngasih tau nomer HP baru gw ke orang tua gw kan?"
"......"
"Kaya gitu lu bilang CUMA?"
"......"
"Apalagi? Apalagi yang elu omongin ke mereka?"
"Maaf....Aku nggak maksud ngomongin kejelekan kamu. Aku cuma nggak mau kamu bohong terus sama orang tua kamu. Biar kamu pulang, terus nyelesain masalah ini sama sama. Aku ngelakuin ini juga demi kamu Jar.
"Demi gw? Otak lo taro dimana hah? Nyokap gw tadi nelefon gw sambil nangis nangis. Untung dia nggak punya penyakit jantung, coba kalo jantungan, terus mati, lu mau tanggung jawab?"
"......"
Seketika puluhan milimeter air mata mengalir deras membasahi pipinya yang merah. Akal sehat gw semakin menghilang entah kemana. Diri gw sudah dipenuhi oleh perasaan emosi terhadapnya yang menyebabkan gw malah semakin menjadi jadi saat itu. Bahkan gw menganggap perempuan itu payah! Ketika merasa kalah dan terdesak, dia malah ngejual air matanya demi membuat hati gw luluh. Tapi sayang, hati gw sudah terlanjur jadi batu.
"Gw nggak nyangka sama elu Bunga...!!"
"Jar, aku tuh capek liat kamu hidup kaya gini, hidup dalam kebohongan, aku juga capek di desak terus sama mama kamu buat buka mulut kamu dimana. Sampe sampe aku disangka 'ngumpetin' kamu sama orang tua kamu. Aku capek Jar...Aku mau kita tuh kaya dulu lagi...!!"
"Ngomong apa lu barusan? Capek?"
"Iya!! Aku capek...."
"Heh sini liat gw!!"
"....." Bunga menatap mata gw.
"Gw kan pernah bilang sama lu, kalo lu capek sama gw, silahkan pergi!! Tinggalin gw!! Gw surem! pengangguran, nggak punya masa depan, miskin! Beda sama elu yang punya segalanya....!!"
"Nggak Jar, nggak!!"
Kemudian gw membuka pintu keluar dari dalam mobil lalu berdiri di pinggir jalan berniat menyetop angkot. Bunga tak tinggal diam, dia menyusul gw ikut keluar sementara air matanya masih berlinang seperti tadi. Otomatis hal seperti ini malah jadi tontonan orang orang sekitar.
"Jar....."
"......."
"Pliss.."
"......"
"Maksud aku nggak gitu Jar...."
"....."
"Aku cuma mau kamu dan keluarga kamu baik kaya dulu..."
"......"
"Jar!!"
Gw melambaikan tangan memberhentikan angkot yang lewat. Kemudian tanpa berkata apa apa pada Bunga, gw segera menaiki angkot itu dan meninggalkannya. Gw sempat menengok ke belakang, melihat dirinya masih mematung memperhatikan angkot yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya. Masa bodohlah dengan Bunga, gw nggak peduli. Saat itu gw cuma mau pulang, sujud di kaki Bidadari No 1 gw, lalu meminta maaf pada beliau.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 siang. Selesai browsing cari info loker serta mengirim beberapa email, gw segera menghabiskan kopi lalu mematikan rokok di atas asbak. Bersamaan dengan itu, Edo muncul dari bilik yang kita sebut sebagai 'kamar' rapih dengan kemeja putih, peci putih, serta sarung.
"Mau kemana lu?" Tanya gw.
"Sekarang Jumat woi!!"
"Lah terus?"
"Solat Jumat lah! Lu kagak berangkat emang? Dah berapa kali lu kagak solat jumat? Mau dikata Kapir lu?" Ujar Edo.
"Ah iya gw lupa. Tungguin gw yak mandi dulu!" Ujar gw
"Udah jam segini cuk! Keburu azan!"
"Yah ilah gw mandi cepet kok. Tunggu..."
Akhirnya gw berangkat Jumatan bareng Edo di masjid yang jaraknya tak jauh dari studio. Sampai disana gw langsung duduk manis di barisan paling belakang mendengarkan ceramah dari sang khatib. Pukul 12.30, solat telah selesai, satu persatu para jamaah mulai meninggalkan masjid dan kini hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk gw. Disana gw berdoa, memohon pada sang Khalik agar gw diberi kemudahan untuk segala urusan yang gw jalani. Tak lupa gw mendoakan orang tua gw agar mereka selalu sehat serta senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
Waktu terus berjalan, hari hari pun berlalu. Kesibukan gw masih sama seperti hari sebelumnya. Jaga studio bareng Edo, bikin lamaran pekerjaan, mantengin email, mantengin HP, dan setiap Sabtu-Minggu gw jadi guru les si Nia. Hingga suatu hari di pertengahan bulan Maret, tiba tiba gw mendapat telefon dari nomor tidak dikenal. Dengan semangat gw langsung mengangkat telefon itu karena gw mengira ini pasti panggilan kerja dari salah satu perusahaan yang gw lamar.
"Halo assalamualaikum, selamat pagi?" Ucap gw di telefon.
"....." tak ada suara balasan.
"Halo, assalamualaikum?" Sapa gw sekali lagi.
"Walaikumsalam...Jar?"
"DEG!" Gw bengong.
"Halo Jar..."
"....."
"Halo..."
"......"
"Kamu dimana Jar??"
"Mama....." Ucap gw pelan.
"Kamu dimana? Kamu sehat kan? Pulang nak....Mama nggak bisa tenang, terus terusan mikirin kamu." Ucap beliau sambil sedikit terisak.
"Kok tau nomor aku?" Tanya gw.
"Mba Bunga yang ngasih tau..."
"Bunga?"
"Kemaren sore mba Bunga dateng kesini, ceritain semua masalah masalah kamu. Kamu kemana aja selama ini?" Suaranya makin serak.
"DEG..."
"Kenapa kamu tega bohongjn mama sama bapak, kenapa nggak bilang aja sama mama terus terang..."
"……"
"Mama sama bapak udah mati matian Jar cari uang buat kuliahin kamu, kenapa malah kaya begini? Kamu cepet pulang Jar. Mama sama bapak bla....bla...bla..." Dan beliaupun bicara sambil menangis.
Gw menjauhkan HP dari telinga, perlahan suara beliau hanya terdengar sayup sayup dari speaker HP. Gw merasa tak sanggup lagi mendengar perkataan beliau, apalagi mendengar tangis kekecewaan dari perempuan yang paling gw cintai di dunia ini. Kemudian "klik" gw mematikan telefon dengan tangan gw yang gemetaran lantas bengong sambil menatap kosong.
Seketika fikiran gw langsung tertuju pada Bunga. Gw nggak habis fikir, kenapa dia tega ngebongkar masalah ini ke orangtua gw. Kenapa dia tega bikin orangtua gw shock berat setelah mengetahui semuanya. Padahal gw sangat mempercayainya untuk menjaga rahasia ini pada semua orang termasuk orang tua gw.
"Bisa kita ketemu sore ini? Ada yang mau aku omongin. Penting!" Sent to Jembung.
Selang beberapa menit kemudian, sms gw dibalas olehnya.
"Asiiik Uking mau pulang!" From Jembung.
Kemudian gw langsung mandi jebar jebur, kagak sampoan, sabunan juga asal kena, gosok gigi kagak pake odol. Total waktu gw mandi cuma 2 menit kurang 3 detik. Setelah rapi berpakaian, gw menghampiri Edo yang lagi asik maenin bass kesayangannya di ruang operator.
"Do, gw Balik ke Bogor dulu ya..." Ucap gw pada Edo.
"Lah kok tiba tiba?"
"Iya, gw ada urusan mendadak. Penting..."
"Yaudah. lu punya ongkos ga?"
"Ada kok tenang aja..."
Sorenya gw sudah tiba di Bogor setelah menghabiskan waktu berdiri di dalam kereta selama lebih dari satu jam. Dan kini, gw juga lagi berdiri di depan sebuah gerbang besar sembari memencet bel berkali kali. Kemudian gerbang itu terbuka, dibukakan oleh Mas Udin, salah satu pembantu di rumah ini.
Gw dipersilahkan masuk, tapi gw menolak. Gw memilih duduk di kursi beton depan rumah sembari menunggu Bunga pulang kerja. Karena memang saat itu Bunga belum sampai di rumah. Setengah jam menunggu, Bunga pun datang mengendarai mobil prednya. Dia meminggirkan mobil, lalu keluar menghampiri gw yang lagi duduk sambil merokok.
Dia tersenyum, senyum yang biasa dia berikan ketika bertemu gw. Tapi gw tak membalas senyumnya, gw juga nggak ngomong apa apa sama dia. Hanya raut wajah dingin yang gw tunjukkan dihadapannya.
"Hey, kamu udah lama disiii....."
"Cepet masuk ke mobil!" gw memotong ucapannya.
"Loh kok? Kan aku baru sampe."
"Udah cepetan masuk!!"
Lalu kami masuk ke dalam mobil. Bunga yang pegang kemudi sementara gw duduk di sebelahnya.
"Jalan!!" Ujar gw
"Kamu kenapa sayang?" Tanya.
"Ga usah banyak nanya! Jalan aja!!"
"……"
"……"
"Kemana?" Tanya dia dengan wajah pucat.
"Terserah lu!!"
Mobil berjalan sangat lambat, seakan akan pedal gas itu berat untuk diinjak. Gw yang udah uring uringan daritadi lantas protes agar dia lebih cepat mengendarai mobilnya. Ketika di tengah jalan raya tak jauh dari gapura kompleknya, gw menyuruh Bunga menghentikan mobil.
"Stop!!
"....."
"Gua bilang stop!!"
"Cekiiiit......" Suara ban mobil berdecit.
"Kamu tuh kenapa sih Jar? Kok tiba tiba aku dimarahin gini sama kamu. Terus kenapa ngomongnya jadi elu-gua sih?"
"……"
"……"
"Kemarin ngapain aja di rumah gw??" Tanya gw.
"Emm, nggak ngapa nga...."
"Ngapain???" Potong gw.
"Enggak ngapa ngapain cuma silatur..."
"Ngapain???" Gw potong lagi.
"......" Dia menundukkan kepalanya, tak menjawab pertanyaan gw.
"Ngomong apa aja sama orang tua gw?"
"Nggak ngomong apa apa Jar cuma...."
"Cuma apa?" Potong gw.
"....." Bunga diam.
"Cuma ngomong kalo gw udah DO dari kampus setahun yang lalu. Iya kan? Cuma ngomong kalo gw kabur ke Jakarta. Iya kan? Terus cuma ngasih tau nomer HP baru gw ke orang tua gw kan?"
"......"
"Kaya gitu lu bilang CUMA?"
"......"
"Apalagi? Apalagi yang elu omongin ke mereka?"
"Maaf....Aku nggak maksud ngomongin kejelekan kamu. Aku cuma nggak mau kamu bohong terus sama orang tua kamu. Biar kamu pulang, terus nyelesain masalah ini sama sama. Aku ngelakuin ini juga demi kamu Jar.
"Demi gw? Otak lo taro dimana hah? Nyokap gw tadi nelefon gw sambil nangis nangis. Untung dia nggak punya penyakit jantung, coba kalo jantungan, terus mati, lu mau tanggung jawab?"
"......"
Seketika puluhan milimeter air mata mengalir deras membasahi pipinya yang merah. Akal sehat gw semakin menghilang entah kemana. Diri gw sudah dipenuhi oleh perasaan emosi terhadapnya yang menyebabkan gw malah semakin menjadi jadi saat itu. Bahkan gw menganggap perempuan itu payah! Ketika merasa kalah dan terdesak, dia malah ngejual air matanya demi membuat hati gw luluh. Tapi sayang, hati gw sudah terlanjur jadi batu.
"Gw nggak nyangka sama elu Bunga...!!"
"Jar, aku tuh capek liat kamu hidup kaya gini, hidup dalam kebohongan, aku juga capek di desak terus sama mama kamu buat buka mulut kamu dimana. Sampe sampe aku disangka 'ngumpetin' kamu sama orang tua kamu. Aku capek Jar...Aku mau kita tuh kaya dulu lagi...!!"
"Ngomong apa lu barusan? Capek?"
"Iya!! Aku capek...."
"Heh sini liat gw!!"
"....." Bunga menatap mata gw.
"Gw kan pernah bilang sama lu, kalo lu capek sama gw, silahkan pergi!! Tinggalin gw!! Gw surem! pengangguran, nggak punya masa depan, miskin! Beda sama elu yang punya segalanya....!!"
"Nggak Jar, nggak!!"
Kemudian gw membuka pintu keluar dari dalam mobil lalu berdiri di pinggir jalan berniat menyetop angkot. Bunga tak tinggal diam, dia menyusul gw ikut keluar sementara air matanya masih berlinang seperti tadi. Otomatis hal seperti ini malah jadi tontonan orang orang sekitar.
"Jar....."
"......."
"Pliss.."
"......"
"Maksud aku nggak gitu Jar...."
"....."
"Aku cuma mau kamu dan keluarga kamu baik kaya dulu..."
"......"
"Jar!!"
Gw melambaikan tangan memberhentikan angkot yang lewat. Kemudian tanpa berkata apa apa pada Bunga, gw segera menaiki angkot itu dan meninggalkannya. Gw sempat menengok ke belakang, melihat dirinya masih mematung memperhatikan angkot yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya. Masa bodohlah dengan Bunga, gw nggak peduli. Saat itu gw cuma mau pulang, sujud di kaki Bidadari No 1 gw, lalu meminta maaf pada beliau.
Darpox memberi reputasi
1