6. Curhat
Quote:
“Adit,” panggil Disty. “Aku mau curhat.”
“Aku pulang dulu, ya.” ucap gue, berpura-pura tidak ingin mendengar curhatannya.
“ADIT!” Tiba-tiba Disty mengeluarkan taring harimau dari mulutnya, serem abis.
“Iya, iya. Cerita aja. Aku akan dengan senang hati dengerin curhatannya kamu.”
“Beneran?”
“Bener. Gini, kalo kita pengen didengerin dengan baik, harus jadi pendengar yang baik juga, kan?” kata gue, sedikit bijak. “Aku juga sadar, suatu hari nanti pasti bakal curhat, ke kamu, mungkin.” Sambung gue,
“Pokoknya gitu, deh.”
Disty terdiam.
“Eh, katanya mau curhat. Jadi gak, nih?”
“Iya, iya.” sambung Disty. “Kamu tadi nanya ke aku gimana rasanya kalo kita suka sama seseorang terus orangnya itu lebih dekat dengan orang lain, kan?”
“I… ya, kenapa emang?”
“Aku sedang merasakannya.”
“Oh, pantes, tadi ketawa kamu kedengarannya palsu, kayak yang dibuat-buat.” jawab gue. “Terus problem-nya?”
“Aku suka sama dia berawal dari tugas sekolah.” Disty membetulkan duduknya. “Awalnya, rasa cinta itu tidak ada, tapi karena sering bertemu, sering berkumpul, bunga cinta itu tumbuh tangkai demi tangkai. Ketika tangkai itu tumbuh, aku nikmati dengan sepenuh hati. Mencium wanginya yang penuh dengan aroma-aroma dua insan sedang kasmaran. Awalnya, sih, gitu.”
Gue pun membetulkan posisi duduk dan lebih serius mendengarkannya.
“Tapi akhirnya dia jadian sama orang lain. Dan orang itu adalah teman dekatku senediri. Kamu tahu rasanya itu seperti apa?”
Gue menggelengkan kepala.
“Sakit.” sambung Disty, lirih. “Gimana gak sakit coba, aku pernah suap-suapan coki-coki sama dia, pernah jatuh bareng sama dia, bahkan dia sempat gendong aku pas aku gak bisa jalan karena luka di kaki, terus dia mencoba menyembuhkan lukaku. Tapi sekarang dia sepertinya tidak akan bisa menyebuhkan luka di hatiku ini. Dan, aku cuma bisa mengobati luka di hati dengan senyuman. Ya, udah, lah, ya. Hahaha.” Disty mencoba untuk tegar.
Belum sempat gue merespon, Disty langsung melanjutkan, “Senyum itu kayak perban, ya.”
“Maksudnya?”
“Perban emang menutupi luka, tapi rasa sakit dari luka itu tetap terasa.”
Gue terdiam sejenak. “Aku gak tahu mau ngasih saran apa.”
“Gak perlu ngasih saran apa-apa, dengan kamu mendengarkanku seperti ini, udah cukup.”
“Aku cuma bisa mendo’akan kamu. Aku harap kamu segera menemukan obatnya, alkohol 75% misalnya.”
Disty tersenyum tipis, gue juga.
“Kamu ada yang mau diomongin?” tanya Disty.
“Kayaknya enggak ada, deh.”
“Masa, sih? Pasti ada.”
“Kalaupun ada, aku lebih suka mendam sendiri. Kamu tahu sendiri, kan, aku orangnya kayak gimana?”
“Iya, aku tahu. Tapi kamu mau suatu saat nanti sesuatu yang kamu pendam sendiri itu tiba-tiba meledak dan akhirnya bisa membuat kamu ‘gila’?” tanya Disty sekaligus membuat gue takut sambil menggerakkan kedua telunjuknya di udara.
“Ya, gak mau, lah.”
“Makanya, cerita, dong!” ucap Disty, sewot.
“Iya, iya. Santai, dong.” sambung gue, “Aku juga lagi suka sama seseorang.”
“Oh, iya, iya, orang yang kamu maksud tadi siapa?” tanya Disty, “Yang pas tadi nunggu angkot.”
“Oh, itu, rahasia.”