- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.5K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2366
PART 110
Empat minggu berlalu, total sudah 8x pertemuan gw melakoni sampingan sebagai guru geblek. Dan kini murid gw satu satunya (baca: Nia) sudah mahir maenin lagu More Than Words-nya Extreem. Yah walaupun masih rada belepetan tapi sejauh ini kemajuannya sangat pesat dibanding sebulan lalu ketika dia belum bisa apa apa.
Saat itu hari Sabtu, selesai mengajari Nia, gw minta izin sama Edo buat ke Bogor. Gw mau ketemu Bunga lantaran udah kangen banget sama dia karena selama ini gw hanya berkomunikasi VIA telefon saja dengannya. Kebetulan juga gw baru abis dapet gaji hasil dari ngajarin si Nia. Walaupun nggak gede, tapi cukup lah buat transport PP Jakarta-Bogor plus nraktir Bunga makan pecel lele.
Selepas waktu ashar gw sudah tiba di Bogor dan kini gw berada di depan rumahnya Bunga. "tingtong" gw memencet bel, lalu tak lama kemudian gerbang besar itu terbuka, Bunga sendiri yang membukanya.
"....."
"....."
"Ngapain malah ngeliatin aku?" Tanya gw.
"Kamu kok, jadi rada gantengan sih..." Ujarnya.
"Hayyah!! sama aja."
"Serius...Kamu lebih bersih sekarang. Beda sama kemarenan..."
"Ya gimana nggak bersih, aku nggak pernah kena matahari. Di dalem aja terus nungguin studio. Paling keluar cuma beli rokok di warung." Balas gw.
"Tapi aku malah jadi takut deh..." Lanjutnya.
"Takut kenapa?"
"Kalo kamu ganteng, banyak cewek yang naksir terus kamu diambil cewek laen. Aku sama siapa?"
"Hush! ngawur ah! Bukannya seneng punya pacar ganteng! Malah takut...aneh!"
"Hahaha...."
"Mau jalan kemana nih kita?" Tanya gw.
"Makan pecel lele!! Abis itu kita muter muter Bogor sampe pusing..." Ucapnya girang.
"Ah, kita sepemikiran yah...Baru aja aku mau ajak kamu makan pecel lele."
"Hehe 'mungkin' kita jodoh!!"
"....." Gw diam.
"....."
"Bilang amin gitu yank! Malah bengong!" Gerutu dia.
"Eh iya. Amin...." Balas gw seraya tersenyum
Setelah cukup lama ngobrol sembari menunggu waktu sore tiba, kita pun berangkat menggunakan mobil pred nya Bunga. Gw yang memegang kemudi, sementara Bunga disebelah gw lagi sibuk mindahin channel radio. Selang 10 menit, kami pun tiba di kedai pecel lele langganan kami berdua tak jauh dari komplek perumahannya Bunga. Seperti biasa, Bunga selalu menjudge lele gosong itu sebagai hiu junior yang terdampar di air tawar dan hidupnya berakhir di dalam perut manusia.
"Ke B****I Square yuk.." Ajak Bunga.
"Ngapain?"
"Nonton sayang...Udah lama kita nggak nonton."
"Hemm, oke."
Sesampainya di sana gw nggak dapet tempat parkir karena penuh sesak oleh para pengunjung mall ditambah sekarang malam minggu. Akhirnya kami memutuskan parkir menggunakan jasa Vallet Parking yang biayanya bisa 3x lipat dari parkir basement. Kemudian kami pun berjalan menyusuri Mall terbesar di Kota Bogor ini menuju lantai atas dimana XXI berada.
"Waoow penuhnyaa...." Ucap Bunga kaget.
"Malem minggu Bung maklum lah penuh..."
Setelah mengantri, kami berhasil mendapat tiket nonton pada jam 18.30 WIB di teater 3. Kemudian Bunga mengajak gw mencari mushola untuk menunaikan solat maghrib karena kebetulan filmnya baru dimulai selepas maghrib. Inilah Bunga, apa sih yang kurang dari dia? Cantik, baik, masa depan cerah, solehah, pokoknya istriable banget dah.
Puas menonton film yang menurut gw kurang rame (soalnya film animasi. Gw sukanya pilem 3gp), kami pun langsung segera pulang karena waktu sudah malam. Lagipula emang Bunga nggak boleh dibawa pulang malem malem. Bisa di sate gw sama Bundanya dia.
"Bung, nanti ke rumah aku dulu ya sebentar." Ajak gw.
"Alhamdulillah....akhirnya kamu mau pulang juga."
"....." Gw hanya tersenyum menanggapinya.
Gw kendarai mobil dengan kecepatan sedang melibas jalanan kota Bogor yang dipenuhi para muda mudi hilir mudik menghabiskan waktu malam minggu. Kini tibalah kami di depan gang komplek perumahan gw. Nggak ada yang berubah, masih sama seperti tiga bulan yang lalu terakhir kali gw melewatinya. Pelan tapi pasti, dari kejauhan rumah gw sudah terlihat jelas. Kemudian gw menghentikan mobil di dekat lapangan tenis.
"Loh kok berhenti disini?" Tanya Bunga heran.
"....."
"Katanya kamu mau pulang?"
"Nggak Bunga, aku cuma mau ngeliat rumah aja. Ngeliat mama sama bapak..." Jawab gw.
"Kenapa nggak pulang?"
"Belum waktunya. Nanti aku pasti pulang..."
Dari balik kaca mobil, gw memandangi warung sederhana milik keluarga gw yang masih buka. Disana ada bapak gw lagi ngobrol sama beberapa abang ojek persis di depan warung. Kemudian dari dalam warung bidadari No 1 gw muncul sambil membawa dua gelas kopi mungkin pesanan abang ojek. Seketika beliau menoleh ke arah kami, lalu sedikit memicingkan matanya. Pandangan matanya mencoba menembus kaca film mobil yang berwarna hitam gelap memperhatikan gw dan Bunga. Lantas gw segera pindahkan perseneleng menuju "D" lalu tancap gas meninggalkan lapangan tenis.
"Terus kapan?" Tanya Bunga.
"Nanti..."
"Kasian mama..." Ucap Bunga.
"....."
Maksud gw kesini semata mata sebagai penawar kerinduan gw akan rumah, serta memastikan kondisi orang tua gw baik baik saja, terutama Bidadari No 1. Untuk urusan pulang? Mungkin belum saatnya. Gw masih mau mencoba nyari peruntungan di Jakarta. Tepat pukul 10 malam kami tiba di rumahnya Bunga disambut ocehan Bunda karena gw telat mengembalikan anaknya yang paling cantik ini.
"Jam berapa ini Fajar?" Tanya Bunda.
"Jam 10 Bun."
"Kenapa baru pulang jam segini?"
"maaf Bunda tadi jalanan macet. Ada sikomo di lampu merah lagi minta sumbangan." Canda gw.
"Besok besok, jangan kemaleman lagi!"
"Iya Bunda siap."
"Yaudah, bunda mau masuk dulu ya. Udah ngantuk. Kalo masih mau ngobrol sama Bunga, ngobrol aja dulu. Tapi jangan kemaleman, nggak enak diliat tetangga."
"Iya Bunda. Aku juga mau langsung pulang kok."
Baru saja Bunda masuk ke dalam, Bunga pun keluar dari dalam sambil membawa dua gelas teh manis hangat. Dia sudah ganti baju pake baju tidur berbahan tipis sedikit tembus pandang yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Otomatis jakun gw jadi seret buat naek turun.
"Abis minum teh, aku langsung balik ya."
"Kok buru buru banget sih.. Baru juga ketemu masa kamu mau pergi lagi?"
"Udah malem sayang. Besok besok kan bisa ketemu lagi...."
"Besok kapan? belum tentu seminggu sekali kamu kesini nemuin aku. Aku mau banyak cerita sama kamu..."
"Minggu depan aku kesini lagi deh."
"Ah kamu mah janji doang!!"
"Aku usahain...."
"Sekarang kamu nginep sini aja..." ucapnya.
"Waduh, nggak ah! Nggak enak atuh sama Bunda." Kilah gw.
"Ya bunda jangan sampe tau. Kamu tidur di kamar aku, terus subuh subuh kamu kan bisa keluar lewat jendela kamar." Ucapnya.
Mendadak gw bengong sambil mangap. Nih anak polos banget ngomong kaya gitu. Nggak mikir apa akibatnya kalau laki laki sama perempuan yang belum muhrim di dalam satu kamar. Itu bisa memicu kejadian yang diinginkan bro!
"NGACO KAMU!!" Bentak gw.
"Hehe....itu sih kalo kamu mau" Ujar Bunga sambil nyengir.
"Ya jelas aku nggak mau lah!! Bisa bisa aku dirudapaksa sama kamu!" Gerutu gw.
"Itumah maunya kamu huuh...Ntar sayang sabar. Nunggu muhrim dulu..hehehe"
"Naah tuh kamu ngerti! Yaudah aku balik ya keburu kemaleman..."
"....."
Seketika Bunga langsung manyun, bibirnya lebih maju daripada Ronaldikin. Gw menghela nafas sembari garuk garuk kepala memikirkan gimana caranya supaya Bunga ngizinin gw balik ke Jakarta.
"Bung, udah deh jangan kayak bocah ngapa...."
"......" Masih manyun.
"Kamu tuh udah gede, udah dewasa, udah mau 21 tahun, udah jadi PNS, udah punya uang sendiri, masa kelakuan kamu kaya begitu terus?"
"....."
"....."
"Krik krik krik"
Jangkrik pun memulai aktivitas paduan suaranya membekap kesunyian di antara kami berdua. Tiba tiba Bunga merapatkan posisi duduknya ke arah gw sambil memandang mata gw yang mulai merah karena ngantuk
"Kalo mau kamu mau pulang, ini dulu...." Ucapnya lalu menunjuk keningnya sendiri.
Gw yang mengerti maksudnya itu langsung mengecup hangat keningnya.
"Cup..."
"Terus ini..." Kali ini menunjuk pipi kanan.
"Cup..."
"Ini..." Sekarang pipi kiri.
"Cup..."
"Yang Ini nggak?" Dia menunjuk bibirnya.
"Nggak ah...Kapan kapan aja. Sekarang aku boleh pulang kan?"
"...." Bunga mengangguk pelan.
"Jaga diri baik baik ya. Jangan nakal, makan yang teratur biar maag kamu nggak kambuh lagi, jangan begadang sampe tengah malem buat nelfon aku. Terus terakhir, aku titip hati kecil aku ya disini. Jaga dia baik baik, jangan di telantarin, kalo kotor tolong bersihin ya. Kalo dia terluka tolong diobatin..." Ucap gw panjang lebar.
"Hehe. Iya..." balasnya
"Yaudah aku balik. Assalamualaikum...."
"....."
Saat itu hari Sabtu, selesai mengajari Nia, gw minta izin sama Edo buat ke Bogor. Gw mau ketemu Bunga lantaran udah kangen banget sama dia karena selama ini gw hanya berkomunikasi VIA telefon saja dengannya. Kebetulan juga gw baru abis dapet gaji hasil dari ngajarin si Nia. Walaupun nggak gede, tapi cukup lah buat transport PP Jakarta-Bogor plus nraktir Bunga makan pecel lele.
Selepas waktu ashar gw sudah tiba di Bogor dan kini gw berada di depan rumahnya Bunga. "tingtong" gw memencet bel, lalu tak lama kemudian gerbang besar itu terbuka, Bunga sendiri yang membukanya.
"....."
"....."
"Ngapain malah ngeliatin aku?" Tanya gw.
"Kamu kok, jadi rada gantengan sih..." Ujarnya.
"Hayyah!! sama aja."
"Serius...Kamu lebih bersih sekarang. Beda sama kemarenan..."
"Ya gimana nggak bersih, aku nggak pernah kena matahari. Di dalem aja terus nungguin studio. Paling keluar cuma beli rokok di warung." Balas gw.
"Tapi aku malah jadi takut deh..." Lanjutnya.
"Takut kenapa?"
"Kalo kamu ganteng, banyak cewek yang naksir terus kamu diambil cewek laen. Aku sama siapa?"
"Hush! ngawur ah! Bukannya seneng punya pacar ganteng! Malah takut...aneh!"
"Hahaha...."
"Mau jalan kemana nih kita?" Tanya gw.
"Makan pecel lele!! Abis itu kita muter muter Bogor sampe pusing..." Ucapnya girang.
"Ah, kita sepemikiran yah...Baru aja aku mau ajak kamu makan pecel lele."
"Hehe 'mungkin' kita jodoh!!"
"....." Gw diam.
"....."
"Bilang amin gitu yank! Malah bengong!" Gerutu dia.
"Eh iya. Amin...." Balas gw seraya tersenyum
Setelah cukup lama ngobrol sembari menunggu waktu sore tiba, kita pun berangkat menggunakan mobil pred nya Bunga. Gw yang memegang kemudi, sementara Bunga disebelah gw lagi sibuk mindahin channel radio. Selang 10 menit, kami pun tiba di kedai pecel lele langganan kami berdua tak jauh dari komplek perumahannya Bunga. Seperti biasa, Bunga selalu menjudge lele gosong itu sebagai hiu junior yang terdampar di air tawar dan hidupnya berakhir di dalam perut manusia.
"Ke B****I Square yuk.." Ajak Bunga.
"Ngapain?"
"Nonton sayang...Udah lama kita nggak nonton."
"Hemm, oke."
Sesampainya di sana gw nggak dapet tempat parkir karena penuh sesak oleh para pengunjung mall ditambah sekarang malam minggu. Akhirnya kami memutuskan parkir menggunakan jasa Vallet Parking yang biayanya bisa 3x lipat dari parkir basement. Kemudian kami pun berjalan menyusuri Mall terbesar di Kota Bogor ini menuju lantai atas dimana XXI berada.
"Waoow penuhnyaa...." Ucap Bunga kaget.
"Malem minggu Bung maklum lah penuh..."
Setelah mengantri, kami berhasil mendapat tiket nonton pada jam 18.30 WIB di teater 3. Kemudian Bunga mengajak gw mencari mushola untuk menunaikan solat maghrib karena kebetulan filmnya baru dimulai selepas maghrib. Inilah Bunga, apa sih yang kurang dari dia? Cantik, baik, masa depan cerah, solehah, pokoknya istriable banget dah.
Puas menonton film yang menurut gw kurang rame (soalnya film animasi. Gw sukanya pilem 3gp), kami pun langsung segera pulang karena waktu sudah malam. Lagipula emang Bunga nggak boleh dibawa pulang malem malem. Bisa di sate gw sama Bundanya dia.
"Bung, nanti ke rumah aku dulu ya sebentar." Ajak gw.
"Alhamdulillah....akhirnya kamu mau pulang juga."
"....." Gw hanya tersenyum menanggapinya.
Gw kendarai mobil dengan kecepatan sedang melibas jalanan kota Bogor yang dipenuhi para muda mudi hilir mudik menghabiskan waktu malam minggu. Kini tibalah kami di depan gang komplek perumahan gw. Nggak ada yang berubah, masih sama seperti tiga bulan yang lalu terakhir kali gw melewatinya. Pelan tapi pasti, dari kejauhan rumah gw sudah terlihat jelas. Kemudian gw menghentikan mobil di dekat lapangan tenis.
"Loh kok berhenti disini?" Tanya Bunga heran.
"....."
"Katanya kamu mau pulang?"
"Nggak Bunga, aku cuma mau ngeliat rumah aja. Ngeliat mama sama bapak..." Jawab gw.
"Kenapa nggak pulang?"
"Belum waktunya. Nanti aku pasti pulang..."
Dari balik kaca mobil, gw memandangi warung sederhana milik keluarga gw yang masih buka. Disana ada bapak gw lagi ngobrol sama beberapa abang ojek persis di depan warung. Kemudian dari dalam warung bidadari No 1 gw muncul sambil membawa dua gelas kopi mungkin pesanan abang ojek. Seketika beliau menoleh ke arah kami, lalu sedikit memicingkan matanya. Pandangan matanya mencoba menembus kaca film mobil yang berwarna hitam gelap memperhatikan gw dan Bunga. Lantas gw segera pindahkan perseneleng menuju "D" lalu tancap gas meninggalkan lapangan tenis.
"Terus kapan?" Tanya Bunga.
"Nanti..."
"Kasian mama..." Ucap Bunga.
"....."
Maksud gw kesini semata mata sebagai penawar kerinduan gw akan rumah, serta memastikan kondisi orang tua gw baik baik saja, terutama Bidadari No 1. Untuk urusan pulang? Mungkin belum saatnya. Gw masih mau mencoba nyari peruntungan di Jakarta. Tepat pukul 10 malam kami tiba di rumahnya Bunga disambut ocehan Bunda karena gw telat mengembalikan anaknya yang paling cantik ini.
"Jam berapa ini Fajar?" Tanya Bunda.
"Jam 10 Bun."
"Kenapa baru pulang jam segini?"
"maaf Bunda tadi jalanan macet. Ada sikomo di lampu merah lagi minta sumbangan." Canda gw.
"Besok besok, jangan kemaleman lagi!"
"Iya Bunda siap."
"Yaudah, bunda mau masuk dulu ya. Udah ngantuk. Kalo masih mau ngobrol sama Bunga, ngobrol aja dulu. Tapi jangan kemaleman, nggak enak diliat tetangga."
"Iya Bunda. Aku juga mau langsung pulang kok."
Baru saja Bunda masuk ke dalam, Bunga pun keluar dari dalam sambil membawa dua gelas teh manis hangat. Dia sudah ganti baju pake baju tidur berbahan tipis sedikit tembus pandang yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Otomatis jakun gw jadi seret buat naek turun.
"Abis minum teh, aku langsung balik ya."
"Kok buru buru banget sih.. Baru juga ketemu masa kamu mau pergi lagi?"
"Udah malem sayang. Besok besok kan bisa ketemu lagi...."
"Besok kapan? belum tentu seminggu sekali kamu kesini nemuin aku. Aku mau banyak cerita sama kamu..."
"Minggu depan aku kesini lagi deh."
"Ah kamu mah janji doang!!"
"Aku usahain...."
"Sekarang kamu nginep sini aja..." ucapnya.
"Waduh, nggak ah! Nggak enak atuh sama Bunda." Kilah gw.
"Ya bunda jangan sampe tau. Kamu tidur di kamar aku, terus subuh subuh kamu kan bisa keluar lewat jendela kamar." Ucapnya.
Mendadak gw bengong sambil mangap. Nih anak polos banget ngomong kaya gitu. Nggak mikir apa akibatnya kalau laki laki sama perempuan yang belum muhrim di dalam satu kamar. Itu bisa memicu kejadian yang diinginkan bro!
"NGACO KAMU!!" Bentak gw.
"Hehe....itu sih kalo kamu mau" Ujar Bunga sambil nyengir.
"Ya jelas aku nggak mau lah!! Bisa bisa aku dirudapaksa sama kamu!" Gerutu gw.
"Itumah maunya kamu huuh...Ntar sayang sabar. Nunggu muhrim dulu..hehehe"
"Naah tuh kamu ngerti! Yaudah aku balik ya keburu kemaleman..."
"....."
Seketika Bunga langsung manyun, bibirnya lebih maju daripada Ronaldikin. Gw menghela nafas sembari garuk garuk kepala memikirkan gimana caranya supaya Bunga ngizinin gw balik ke Jakarta.
"Bung, udah deh jangan kayak bocah ngapa...."
"......" Masih manyun.
"Kamu tuh udah gede, udah dewasa, udah mau 21 tahun, udah jadi PNS, udah punya uang sendiri, masa kelakuan kamu kaya begitu terus?"
"....."
"....."
"Krik krik krik"
Jangkrik pun memulai aktivitas paduan suaranya membekap kesunyian di antara kami berdua. Tiba tiba Bunga merapatkan posisi duduknya ke arah gw sambil memandang mata gw yang mulai merah karena ngantuk
"Kalo mau kamu mau pulang, ini dulu...." Ucapnya lalu menunjuk keningnya sendiri.
Gw yang mengerti maksudnya itu langsung mengecup hangat keningnya.
"Cup..."
"Terus ini..." Kali ini menunjuk pipi kanan.
"Cup..."
"Ini..." Sekarang pipi kiri.
"Cup..."
"Yang Ini nggak?" Dia menunjuk bibirnya.
"Nggak ah...Kapan kapan aja. Sekarang aku boleh pulang kan?"
"...." Bunga mengangguk pelan.
"Jaga diri baik baik ya. Jangan nakal, makan yang teratur biar maag kamu nggak kambuh lagi, jangan begadang sampe tengah malem buat nelfon aku. Terus terakhir, aku titip hati kecil aku ya disini. Jaga dia baik baik, jangan di telantarin, kalo kotor tolong bersihin ya. Kalo dia terluka tolong diobatin..." Ucap gw panjang lebar.
"Hehe. Iya..." balasnya
"Yaudah aku balik. Assalamualaikum...."
"....."
0