Kaskus

Story

mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
when its too late to regret
when its too late to regret
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:




when its too late to regret


when its too late to regret


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy 15-04-2015 16:38
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
327
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
#118
the man between us 3 : indo - germany III
sepertinya Nindo memang orang yang suka memberi kejutan, dia selalu bisa membuatku terkagum kagum dengan semua hal yang secar tiba tiba ia lakukan untukku. hari itu hari terakhir aku di Indonesia, sudah saatnya aku kembali ke Jerman karena liburan hampir usai. kali ini ayah ibu tidak mengantarku ke jakarta seperti biasanya, aku memilih naik kereta dan kemudian berangkat ke bandara bersama keluarga mbak Fira yang akan menjemputku di bandara. Jumat malam aku berangkat dari kotaku dan sabtu pagi aku sudah sampai di jakarta, saat kereta sampai, kakak mbak Fira sudah ada disana untuk menjemputku mampir sejenak ke rumah mbak Fira, sekedar mandi dan sarapan, lagi pula pesawat baru kan take off sekitar jam 11 siang, dan waktu itu masih jam 6 pagi.

singkat cerita, jam 9 kami berangkat ke bandara, dan jam10an kami sampai, setelah berpamitan dan acara menangis terharu ria, aku dan mbak Fira masuk boarding, di dalam ternyata teman teman yang lain sudah menunggu, lalu kami naik pesawat bersama sama. harusnya di pesawat aku duduk di sebelah Theo, namun kali itu Theo duduk di tempat lain, di sebelah orang asing, padahal kami semua beli tiket dengan tempat duduk bersebelahan, tapi ini kok?

"mas Yo, kok disitu, terus aku sebelah siapa ?" tanyaku pada Theo saat ia menaruh tas nya

"aku duduk disini, dah kamu liat aja sana siapa sebelah kamu," jawab Theosambil tersenyum senyum

kemudian aku melangkahkan kakiku menuju seatku dengan kesal, karena sebenarnya aku ingin cerita banyak dengan Theo, tapi yasudahlah, mau bagaimana lagi. ketika aku sampai di seatku, sudah ada seseorang yang duduk disana, dan senyumnya kembali menyambutku,

"One day would never enough right ?" katanya dengan penuh senyum sambil menunjukkan tiket, aku hanya tertawa kemudian kucubit lengannya,

"dasar bule gilaaaaaa!!!!!" kataku, dan kemudian kami tertawa bersama, kembali bercengkrama banyak dan mengulangi kejadian setahun yang lalu saat kami bertemu di pesawat, ya, Itu Nindo.

Kali ini Nindo mengambil cuti panjang untuk pulang ke Jerman, dia menukar tempat duduk Theo dengannya agar bisa bersebelahan lagi denganku. kali ini lain, jika saat pertama bertemu dulu dia lebih banyak bercerita tentangnya, kali ini dia lebih banyak mendengarkanku, dia menanyakanku semua hal, bahkan akhirnya aku menceritakan tentangku dan Yudha padanya. saat aku menceritakan itu, tak terasa aku menangis, apalagi jika mengingat saat saat dia meninggalkanku, padahal selama ini aku tak pernah menangisinya lagi, tapi entah mengapa kali ini aku sampai menangis.

"kamu masih sayang sama dia, Mik?" tanya Nindo saat aku menghapus airmataku dengan tissue, aku menggeleng,

"aku ga bisa bedain mana benci mana sayang, Ndo " jawabku dengan suar sengau karena habis menangis

"kamu masih inget inget dia?" tanyanya lagi, wajahnya sangat serius saat itu, dan aku lai lagi menggeleng

"aku dah berusaha ga inget dia, tapi kalau ada yang tanya, atau ada sesuatu yang ngingetin aku ke dia, pasti aku inget" jawabku sambil terisak

"waktu kamu jalan sama aku kemaren, kamu inget dia ga ?" tanyanya lagi, seperti sedang mengintrogasi, dan kali ini aku hanya menggeleng tak menjawab apapun, "terus kenapa kamu nangis? toh kemaren bisa lupa"

"it just too difficult to ease that pain" jawabku singkat, dan aku menangis lagi sambil menunduk, lalu Nindo meraih kepalaku dan menyandarkan ke bahunya, dia mengusap rambutku, smbil berkata,

"mungkin aku ga bisa bikin kamu lupa gimana sakitnys, tapi aku akan kasih obat biar hilang itu sakitnya, jadi nanti suatu saat kalau aku pengen kamu cerita lagi, kamu ga akan nangis kayak gini" dan pembicaraan hari itu mentok sampai disini , karena ku terlanjur kehilangan mood karena mengingat masa masa itu lagi. sesampainya di jerman, kami turun pesawat, Nindo memintaku untuk mampir ke rumahnya, nanti dia yang akan mengantarku ke Aachen, bahkan ia memintaku mengajak mbak Fira,  agar aku merasa lebih nyaman katanya, namun karena bawaanku sangat banyak waktu itu, aku menolaknya. dia terlihat kecewa, namun dia berusaha untuk tetap biasa saja waktu itu.

di terminal kedatangan, ayah ibu Nindo telah menunggu, Nindo melambaikan tangan ke arah mereka dan langsung menyeretku bersamanya, iya, dia mengenalkanku pada orangtuanya,

"pap, mam, ini Mika, Nindo nepatin janji kan buat bawa dia kesini" Nindo tdengar sangat semangat sekali waktu itu. aku hanya tersenyum seraya bersalaman dengan mereka, seorang pria jerman dan wanita dengan paras jawa yang manis menyambutku dengan ramahnya,

"ayo dek main kerumah, besok kami antarkan ke Aachen,"kata mama Nindo, sepertinya memang Nindo telah menyiapkan ini sejak lama, karena saat itu orang tuanya tidak menanyakan apapun padaku bahkan mereka langsung tau perihal nindo yang mengajakku ke rumahnya.

"maaf tante, maaf sekali, bukannya saya menolak, tapi ini bawaan sedang banyak sekali tante, ga enak sama temen temen, mungkin nanti kalau libur kuliah, Mika sempatkan main kesana tante" jawabku, dan kedua orang tua didepanku tampak tersenyum kecewa, tidak enak sebenarnya rasanya saat itu, tapi memang kenyataannya bawaanku sangat banyak, aku malah takut nanti merepotkan. kami hanya berbicara sebentar waktu itu, karena jemputan juga sudah datang, jadi aku mohon pamit dan meninggalkan mereka dengan raut kekecewaan yang tersirat di senyuman mereka.

tapi, Nindo itu bukan orang yang pantang menyerah, setengah tahun kemudian, saat liburan musim dingin, dia datang kembali ke Jerman. kali ini dia tidak memberitahuku tentang kedatangannya, tapi dia langsung datang ke flatku di Aachen. dan dia kembali mengajakku kerumahnya, otomatis kali ini aku tidak bisa menolak, apalagi saat itu kami sudah semakin dekat, dia sering menelponku dan kami makin sering berkomunikasi, bukan lagi untuk belajar tari, tapi untuk basa basi dan sekedar bertanya kabar. jumat malam dia datang ke flat, dan berkata akan menjemputku esok pagi untuk membawaku ke Muenchen.

paginya dia datang tepat waktu, seperti biasa. dia tampak lebih tampan dengan baju hangat coklat yang ia kenakan, dan kali ini, aku tak secuek saat pertemuan kami di Indonesia waktu itu, aku berdandan lebih spesial hari ini. kami ke Muenchen naik kereta, dan saat di stasiun inilah aku bertemu dengan franz. yang terjadi saat itu adalah, Nindo menarik tanganku karena kami harus segera naik kereta, tapi jalanku melambat karena franz memanggilku dari belakang. Mungkin Nindo tak mendengar apa yang aku dan Franz bicarakan, karena sepanjang perjalanan dia tak sama sekali menanyakan tentang Franz, tapi dia menanyakan Yudha!

"bisa ga sih kita ngomongin yang lain ?" kataku kesal karena Nindo terus menerus menanyakan semua hal tentang Yudha,

"aku cuma pengen mastiin apa kamu dah lupa ma dia" jawabnya datar

"whats benefit you get for this? aku pengen lupain, tapi kalau kamu nanyain terus gimana aku bisa lupa?" jawabku mulai marah, karena mengingatnya membuatku juga mengingat sakitnya, bahkan cintanya, Nindo hanya menarik nafas kemudian menyandarkan badannya ke kursi, "udah ya , Ndo, aku males ngomongin dia"

"kapan kamu bakal move on?" tanyanya tanpa melihat mukaku, dia hanya memandang lurus

"udah Nindo !" jawabku dengan nada mulai meninggi

"kamu belum lupa Mikaaa"

"aku ga akan inget kalo ga kamu ingetin, please deh stop that......" kataku dengan nada bicara yang semakin meninggi karena jengkel

"kamu ga akan marah marah gini kalo kamu dah move on" Nindo menjawab tegas, memotong pembicaraanku dan menatap tajam ke arahku, " kamu tu mau aku kenalin ke orangtuaku, tapi kamu masih inget sama orang lain gini,"

"maksudnya apa sih Ndo ?" aku kaget dengan kalimatnya yang terakhir tadi

"kamu ga sadar selama ini aku perlakuin spesial? kamu pikir kita ga ada apa apa gitu ?" tanya Nindo,

"tapi apa kamu pernah bicara ?"

"kamu dah dewasa kan ? kamu bisa bedain mana yang spesial mana yang biasa? come on Mika, buat apa aku nglakuin semua ini!" kini nada bicara Nindo yang mulai meninggi,

"tapi kamu kan ga pernah bilang apa apa Nindo, aku gamau ambil kesimpulan sendiri"jawabku,"kalau kamu ga spesial ga mungkin aku mau nemenin kamu hari ini, tapi kamu bahkan ga sedikitpun bilang,"kalimatku terputus "sebenernya ada apa antara kita ini"

"kamu itu spesial Mika..... too special," jawab Nindo sambil memegang tanganku, "tapi aku takut status malah nyiksa kamu disini"

"HTS ?" tanyaku singkat, lirih dengan mengrenyitkan dahiku, Nindo hanya diam, "i better call this friendship," dan semua menjadi hening,

sampai di Muenchen, Nindo hanya bicara ketika ada dirumah, saat dirumahnya, rasanya seperti tak terjadi apapun di kereta tadi, ramah dan menyenangkan, tapi saat ia mengantarku kembali pulang, dia diam lagi, bahkan saat sampai di flatku, dia hanya mengatakan thanks lalu pergi.

Quote:


email yang kuterima dari Nindo, sehari setelah kejadian itu, setelah itu kami jadi jarang komunikasi, hanya sesekali saja, tak se intens sebelumnya, hanya saja Nindo berpesan, jika aku pulang, aku harus memberitahunya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.