Quote:
Tiba-tiba tas berwarna abu-abu milik Bob Malcore Tyson bergerak cukup kencang. Goncangannya seakan-akan sedang terjadi gempa berkekuatan 7,9 skala richter di dalam. Alih-alih menghentikan goncangan tersebut, Bob justru terpental menabrak pintu putih karena hempasan dari tas tersebut.
"Bantu aku! Jangan diam saja," katanya dengan ekspresi kesakitan.
"Aku sedang berusaha, Bodoh!" balas Leonardo Folks Clemente yang tampaknya juga sedang beradu dengan tas hitamnya. Tasnya dengan liar bergerak cepat ke arah kiri dan kanan di kamar 2108. Gerakannya seperti lalat yang kocar-kacir dikejar oleh raket listrik. Tidak! Bahkan ini lebih seperti sebongkah jet rusak yang sebentar lagi akan meledak karena kesalahan sebuah sistem.
"Benda yang berada di dalam tasmu pemicunya!" teriak Bob seraya menegakkan tubuhnya namun lagi-lagi tas berwarna abu-abu menghantam dan ia kembali jatuh terbujur kaku. "Apa-apaan ini!"
"Aku tahu itu!" Leonardo melompat dari atas tempat tidur yang terbuat dari besi mencoba menangkap salah satu tas. Namun apa daya, tak ada satu pun tas yang ia dapatkan. Ia terbanting jatuh ke lantai dan menghantam kursi plastik berwarna orange hingga patah. "Untung kakiku tidak patah," katanya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Bob mengucek-ucek matanya berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Sementara Leonardo terlentang di bawah lantai seperti memandangi pemandangan bintang-bintang Arcturus di malam hari.
Buku-buku berjatuhan dari atas lemari coklat muda, gelas berisi jus tomat yang baru saja diminum oleh Leonardo, beserta laptopnya yang berwarna hitam dengan merk cukup ternama. "Laptopku! Seharga 10 juta!" Leonardo memegang kepala dengan dua tangan tanda tak percaya. "Aku menabung setiap hari hanya untuk membeli laptop tersebut!"
"Lupakan laptopmu." Bob merubah posisinya sekarang menjadi merangkak. "Ayo kita cari cara untuk menghentikkan tas tersebut."
"Kau ingin membuat tubuhku bertambah memar ya?" Alisnya agak meruncing. "Lakukan saja sendiri! Sebelum kau datang ke kamar ini, tasku sangat jinak seperti kucing yang baru dibelikan tulang ikan!"
"Payah!" Bob menghela napas dan langsung menunjuk ke arah salah satu tas. "Kau lihat gerakan dari tas tersebut? Sangat monoton!"
Leonardo menatap kebingungan. "Jadi apa maksudmu?"
Bob memasang ekspresi murka. "Astaga! Saat kau mencoba menangkapnya dari arah kiri pasti tas tersebut akan bergerak ke arah kanan. Nah sekarang bagianmu adalah menangkap tas dari arah kiri, aku akan bertahan di kanan."
Leonardo memasang wajah angkuh. "Baiklah! Aku membantumu bukan karena benar-benar ingin membantu. Aku tak mau kamar ini terlihat berantakan! Kau tahu itu?"
Leonardo merubah posisinya menjadi merangkak. Ia merangkak perlahan-lahan dan menaiki kembali tempat tidur yang posisi bantalnya sudah acak-acakan. Perlahan-lahan ia mencoba berdiri di atas tempat tidur, sesekali menundukkan kepala karena tas yang berterbangan secepat kilat. Ia melakukan ancang-ancang dan melompat ke arah kiri mencoba menyergap salah satu tas.
Seperti dugaan sebelumnya, tas berwarna abu-abu langsung bergerak ke arah kanan. Di sana tak lain si rambut pirang, Bob Malcore Tyson telah bersiaga. Menangkap tas tersebut dengan sangat kencang, walau kadang tubuhnya agak berguncang seakan-akan sedang memegang mesin bor tanah.
"Dapat!" katanya sambil menampilkan senyuman licik. Seketika senyumannya berubah menjadi seperti orang yang baru pertama kali melihat hantu. "A... Awas!"