- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.9K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2344
PART 108
Tak ada kesibukan yang berarti dalam minggu pertama gw di Jakarta. Gw hanya sibuk di depan komputer sambil buka Fjb di forum tercinta ini. Kemudian setelah klik, deal, dan ketemuan (Ini Kaskus Woi!!). Gw dan Edo melakukan COD dengan beberapa seller. Tentu saja tujuan kami saat itu untuk membeli perlengkapan studio diantaranya, gitar, bass, drum, amplifier dan lain lain.
"Makasih gan udah belanja dimarih..." Sebuah sms dari seller.
"Iya gan sama sama." Balas gw.
"Nanti ane kirimin cendol ke ID ente!"
"Cendol? Es cendol? ane nggak doyan gan!"
"Yaudah bata aja ya!"
"Bata? Yaudah kirimin satu truk dah gan....!"
"WTF lu gan!!" Balas si seller.
Gw yang kebingungan dengan istilah cendol dan bata akhirnya bertanya pada si Edo. Namun sepertinya gw nanya ke orang yang salah karena si Edo malah bilang begini,
"Oh mungkin kita mau ditraktir minum es cendol ama dia kali Jar!!"
Gw garuk garuk kepala makin bingung dengan istilah cendol. Kemudian gw buka forum tercinta ini mencari tahu apa itu yang namanya cendol, bata dll Sejujurnya gw baru tahu 3 kata populer di kaskus diantaranya, "gan", "No Afgan", "No Rosa". Selebihnya gw sama sekali tidak tahu. Lalu gw lihat ID gw ada yang beda dari sebelumnya sebab di pinggir avatar ada sebuah balok berwarna hijau. Dan gw pun baru tahu, ternyata ini yang namanya cendol.
Ketika semua peralatan sudah lengkap, kemudian gw dan Edo mulai kerja bakti membangun studio dibantu oleh beberapa tukang. Pertama tama dimulai dengan membuat peredam. Gw memilih bahan glaswool high density sebagai peredam utama. Kemudian dilapian kedua ada triplek tebal dibalut karpet warna warni sebagai lapisan terakhir. Oya, bangunan studio ini terdiri dari dua lantai. Dekorasi ala 'minimalis eropa' terhias di lantai satu yang nantinya bakal menjadi tongkrongannya anak band. Sedangkan 'reherseal studio' dan 'control room' berada di lantai dua.
"Do, total lu bangun ini sama belanja abis berapa?" Tanya gw.
"Sekian puluh juta Jar..." Jawabnya.
"Buseeh...gede juga ya modalnya."
"Ya gede lah...."
"Kira kira setaun balik modal ga nih?" Tanya gw lagi.
"Mudah mudahan Jar..."
"Lah, jangan mudah mudahan doang lu...Kalo buka usaha mesti di target Do! Kapan lu balik modal, dan kapan lu bisa makan untung lu...." Ujar gw.
"Ya mangkannya gw minta bantuan lu. Soalnya lu kan ngerti sama beginian. Gw percaya sama lu Jar!"
"Oke Do. Gw bakal bantu lu di dunia permusrikan semampu gw..."
"Musrik??" Tanya dia heran.
"Yoi musriik...!!"
"Musik cuk!!"
"Podo wae su!!
"Lah aku asu koe opo?"
"Sing due Asu!"
Satu bulan pun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu studio mulai ramai didatangi para anak band untuk latihan atau hanya sekedar nongkrong. Dari situ gw mulai mengenal mereka semua. Ada yang ngajak gw 'ngejem' bareng, diskusi soal musrik eh musik, dan bahkan ada satu band yang secara khusus meminta gw untuk bergabung. Tapi gw menolaknya karena gw nggak suka genre yang lembek lembek alias pop alias melayu alias kangenben. Gw DANKER sejati men! (Dangdut Keras!)
Dalam satu bulan itu pula gw benar benar lost contact dengan keluarga gw dan juga Bunga. Nomor HP gw ganti untuk menghilangkan jejak dari mereka dan akun pesbuk gw nonaktifkan agar tak terdeteksi oleh siapapun. Terkadang saat tengah malam ketika gw sendiri, gw selalu teringat wajah Bidadari No.1 gw. Gw ingat gaya bicara beliau ketika memarahi gw, dan gw juga ingat kebiasaan beliau njewer kuping gw kalau gw susah dibangunin buat solat subuh. Gw yakin, beliau pasti nyariin gw yang tiba tiba hilang tanpa jejak. Mudah mudahan beliau nggak sampe lapor pelokis apalagi sampai bikin iklan di koran L*mpu M***h.
Kemudian gw juga ingat Bunga, perempuan yang sangat gw rindukan setelah bidadari No 1. Sedang apa dia disana? Apa yang dia lakukan semenjak gw nggak ada? Apa dia nyariin gw juga? Pertanyaan itulah yang berulang ulang tersirat di kepala gw. Gw hanya bisa memandangi fotonya yang terselip di dompet sebagai penawar rindu.
…………………………
…………………………
Minggu pagi di akhir 2011. Gw masih tidur di dalam ruangan studio sambil memeluk gitar sebagai pengganti guling. Gw biasa tidur disini lantaran enak adem plus ada AC nya, apalagi kota Jakarta panasnya naudzubileh. Kemudian gw terbangun ketika Edo menggoyang goyangkan badan gw yang lagi asik meluk gitar.
"Cuk tangi cuk!"
"Hemmp..."
"Tangi!!"
"Suu!! Ganggu aja lu!" Gerutu gw.
"Tangi cuk! Turu kok koyo wong matek!"
"Ono opo sih? Masih pagi woi!"
"Ada yang nyariin lu tuh!!" Ucap Edo.
Gw terperanjat kaget lantas segera mengambil posisi duduk.
"Siapa? Polisi ya? Aduuh Do bilang aja gw nggak ada gituh!!"
"Ngigo lu ya?"
"Do pliss suruh pergi aja polisinya...tulungin gw lah." Ucap gw memelas.
"Bukan polisi woi! Lu dicariin sama cewek lu tuh!"
"Cewek? Cewek siapa?"
Sambil ngumpulin nyawa gw pun mulai berfikir siapa yang nyariin gw gini hari? Cewek, cewek, cewek. Ah, masa iya sih Bunga nyamperin gw kemari? Tau gw pergi kemana juga nggak tuh anak. Kemudian gw turun ke lantai satu mengintip dari balik tembok siapa yang nyariin gw. Disitu gw melihat sesosok bidadari mengenakan rok corak kembang selutut dibalut sweater putih di atasnya. Gw kucek kucek mata. Dan benar ternyata itu Bunga. Kok dia bisa tau gw disini? tanya gw dalam hati.
"Bunga?" Panggil gw.
Dia menoleh ke arah gw lalu berdiri bertolak pinggang sambil memandangi gw dari atas sampe bawah.
"Tidur terus!!" Ucapnya.
"....."
"Bagus ya! Kamu bisa bisanya tidur nyenyak, aku tiap hari nggak bisa tidur mikirin kamu..." Sindirnya.
"Kamu kok...."
"Kenapa? Kaget ya aku bisa ada disini?" Potong dia.
"....." Gw mengangguk pelan.
"Orang tua kamu mungkin nggak bisa nyari kamu, tapi aku bisa..."
"....."
"Sini duduk. Aku mau bicara...."
Sambil menguap gw pun berjalan menghampirinya lalu duduk. Kemudian gw diam memperhatikan wajahnya. Satu bulan, ya satu bulan gw nggak ngeliat dia, nggak bertegur sapa sekalipun lewat telefon. Ada yang sedikit berubah dari Bunga terutama di bagian rambut. Poni lucu yang selalu menutupi dahinya kini dibiarkan panjang hingga menyentuh hidung. Namun Bunga jadi terlihat lebih dewasa ketimbang sebulan yang lalu terakhir kali gw bertemunya.
"Kamu sehat?" Tanya gw
"......" Bunga mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kesini naek apa?"
"Aku bawa mobil.."
"Sendiri?"
"Iya."
"Terus kamu nyetir sendiri?" Tanya gw penasaran.
"Iyaaaa!!"
"Emang kamu bisa?"
"Ya kalo aku nggak bisa, nggak mungkin aku nyampe sini."
"Terus kamu tau aku disini dari siapa?"
"Ya dari Edo lah. Aku nanya dia di pesbuk, terus minta alamat sini."
"Hebat kamu nggak nyasar...."
"Mobil aku ada GPS nya kali!"
"Oh...."
Di tengah obrolan yang garing itu tiba tiba Edo datang dengan membawa 3 teh botol lengkap dengan sedotannya. Lalu Edo ikut nimbrung duduk di depan kami berdua.
"Minum dulu nih Bung...Maap ya cuma bisa nyuguhin ini doang." Ucap Edo
"Iya makasih..."
"Lu bawal mobil sendiri?" Tanya Edo lagi.
"...." Bunga hanya mengangguk.
Selanjutnya suasana menjadi sunyi senyap ibarat di tengah hutan. Kami bertiga lantas diem dieman tak ada yang bicara. Hingga akhirnya, Bunga lebih dulu membuka suara.
"Edo, maaf bisa tinggalin gw sama Fajar dulu nggak?" Ucap Bunga pada Edo.
"Oh iya iya...Ceritanya lagi ada yang maen serius seriusan nih pake ngomong 4 mata segala?" Balas Edo.
"Hehe iya...." Sahut Bunga.
"Yaudah gw nunggu di depan deh. Kalo lu di apa apain sama Fajar panggil gw aja! Haha..." Canda si Edo.
Kini tinggal gw berdua dengan Bunga yang tersisa di ruangan ini. Edo keluar entah dia kemana. Paling nongkrong di warung depan. Bukannya segera bicara to the point sama gw, Bunga malah diem sembari ngotak ngatik Blekburiknya. Namun setelah itu dia menunjukkan sesuatu kepada gw dari balik layar blekburik.
"Nih kamu liat...Mama nyariin kamu Jar! Setiap hari sms aku buat nanyain kamu."
"....." Gw memperhatikan isi sms itu.
"Aku selalu bales sms mama 'nggak tau, nggak tau, dan nggak tau!' Karena memang aku sendiri nggak tau kamu dimana."
"....."
"Jar, mama kamu sampe sakit sakitan mikirin kamu. Tempo hari mama telfon aku, suaranya serak banget kaya bukan suara Mama." Lanjutnya.
"Terus sekarang kamu udah bilang ke mama kalo aku disini?" Tanya gw.
"Belum..."
Badan gw tiba tiba merinding mengingat Bidadari No 1 gw sampe sakit sakitan mikirin gw yang nggak pulang pulang. Gw sempat luluh lantas mempunyai niat untuk pulang ke rumah. Tapi gw kembali berfikir kalau sekarang belum saatnya, karena gw belum punya apa apa.
"Kamu pulang ya....kasian Mama." Ucap Bunga.
"Iya, nanti."
"Kapan?"
"Nanti, aku pasti pulang. Tapi nggak sekarang."
"Kalau kamu emang nggak mau pulang, tolonglah kabari mama kamu sekali aja biar dia nggak khawatir mikirin kamu."
"Iya nanti aku telefon mama."
Bunga menarik nafas panjang, lalu dia hembuskan perlahan. Mungkin dia sedikit lega setelah menyampaikan amanat dari orang tua gw.
"Maaf ya aku jadi begini....Maaf sekarang semuanya jadi kacau...Maaf aku belom bisa jadi orang yang kamu mau." Ucap gw.
"Kenapa harus minta maaf?"
"Mungkin aku udah nggak pantes buat dampingin seorang Bunga yang sempurna."
"Kamu ngomong apa sih!!" Bentak dia.
"Aku, nggak pantes buat kamu."
"Nggak!!"
"Iya, aku nggak pantes!"
"Nggak Jar nggak!! Kamu tetep kamu, orang yang aku sayang. Kamu tetep pantes di samping aku apapun keadaannya."
"Bunga, kalo emang kamu ngerasa capek sama aku, silahkan tinggalin aku. Nggak apa apa."
"....." Bunga diam.
Tiba tiba saja "brugh" Bunga memeluk gw, menenggelamkan kepalanya di bahu gw. Kemudian gw dengar dia menangis tersedu sedu lantas membuat hati gw serasa hancur mendengar tangisannya. Sudah berapa kali gw tega menguras air mata perempuan yang sangat menyayangi gw.
"Aku mohon, aku mohon banget jangan ngomong kaya gitu lagi!!" Ucapnya
"....."
"Aku nggak mau ninggalin kamu! Kamu kan udah janji sama aku mau lewatin apapun itu sama sama...Kamu inget janji kamu kan?"
"Tapi aku..."
"Nggak usah pake tapi! nggak usah pake alasan!"
"....."
"Udah terlalu banyak hal yang kita alami selama 4 tahun ini Jar. Apa kamu mau masa 4 tahun itu ilang gitu aja? Aku nggak mau!!" Ucapnya.
"Aku juga nggak mau, Bunga....."
"Makasih gan udah belanja dimarih..." Sebuah sms dari seller.
"Iya gan sama sama." Balas gw.
"Nanti ane kirimin cendol ke ID ente!"
"Cendol? Es cendol? ane nggak doyan gan!"
"Yaudah bata aja ya!"
"Bata? Yaudah kirimin satu truk dah gan....!"
"WTF lu gan!!" Balas si seller.
Gw yang kebingungan dengan istilah cendol dan bata akhirnya bertanya pada si Edo. Namun sepertinya gw nanya ke orang yang salah karena si Edo malah bilang begini,
"Oh mungkin kita mau ditraktir minum es cendol ama dia kali Jar!!"
Gw garuk garuk kepala makin bingung dengan istilah cendol. Kemudian gw buka forum tercinta ini mencari tahu apa itu yang namanya cendol, bata dll Sejujurnya gw baru tahu 3 kata populer di kaskus diantaranya, "gan", "No Afgan", "No Rosa". Selebihnya gw sama sekali tidak tahu. Lalu gw lihat ID gw ada yang beda dari sebelumnya sebab di pinggir avatar ada sebuah balok berwarna hijau. Dan gw pun baru tahu, ternyata ini yang namanya cendol.
Ketika semua peralatan sudah lengkap, kemudian gw dan Edo mulai kerja bakti membangun studio dibantu oleh beberapa tukang. Pertama tama dimulai dengan membuat peredam. Gw memilih bahan glaswool high density sebagai peredam utama. Kemudian dilapian kedua ada triplek tebal dibalut karpet warna warni sebagai lapisan terakhir. Oya, bangunan studio ini terdiri dari dua lantai. Dekorasi ala 'minimalis eropa' terhias di lantai satu yang nantinya bakal menjadi tongkrongannya anak band. Sedangkan 'reherseal studio' dan 'control room' berada di lantai dua.
"Do, total lu bangun ini sama belanja abis berapa?" Tanya gw.
"Sekian puluh juta Jar..." Jawabnya.
"Buseeh...gede juga ya modalnya."
"Ya gede lah...."
"Kira kira setaun balik modal ga nih?" Tanya gw lagi.
"Mudah mudahan Jar..."
"Lah, jangan mudah mudahan doang lu...Kalo buka usaha mesti di target Do! Kapan lu balik modal, dan kapan lu bisa makan untung lu...." Ujar gw.
"Ya mangkannya gw minta bantuan lu. Soalnya lu kan ngerti sama beginian. Gw percaya sama lu Jar!"
"Oke Do. Gw bakal bantu lu di dunia permusrikan semampu gw..."
"Musrik??" Tanya dia heran.
"Yoi musriik...!!"
"Musik cuk!!"
"Podo wae su!!
"Lah aku asu koe opo?"
"Sing due Asu!"
Satu bulan pun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu studio mulai ramai didatangi para anak band untuk latihan atau hanya sekedar nongkrong. Dari situ gw mulai mengenal mereka semua. Ada yang ngajak gw 'ngejem' bareng, diskusi soal musrik eh musik, dan bahkan ada satu band yang secara khusus meminta gw untuk bergabung. Tapi gw menolaknya karena gw nggak suka genre yang lembek lembek alias pop alias melayu alias kangenben. Gw DANKER sejati men! (Dangdut Keras!)
Dalam satu bulan itu pula gw benar benar lost contact dengan keluarga gw dan juga Bunga. Nomor HP gw ganti untuk menghilangkan jejak dari mereka dan akun pesbuk gw nonaktifkan agar tak terdeteksi oleh siapapun. Terkadang saat tengah malam ketika gw sendiri, gw selalu teringat wajah Bidadari No.1 gw. Gw ingat gaya bicara beliau ketika memarahi gw, dan gw juga ingat kebiasaan beliau njewer kuping gw kalau gw susah dibangunin buat solat subuh. Gw yakin, beliau pasti nyariin gw yang tiba tiba hilang tanpa jejak. Mudah mudahan beliau nggak sampe lapor pelokis apalagi sampai bikin iklan di koran L*mpu M***h.
Quote:
Kemudian gw juga ingat Bunga, perempuan yang sangat gw rindukan setelah bidadari No 1. Sedang apa dia disana? Apa yang dia lakukan semenjak gw nggak ada? Apa dia nyariin gw juga? Pertanyaan itulah yang berulang ulang tersirat di kepala gw. Gw hanya bisa memandangi fotonya yang terselip di dompet sebagai penawar rindu.
…………………………
…………………………
Minggu pagi di akhir 2011. Gw masih tidur di dalam ruangan studio sambil memeluk gitar sebagai pengganti guling. Gw biasa tidur disini lantaran enak adem plus ada AC nya, apalagi kota Jakarta panasnya naudzubileh. Kemudian gw terbangun ketika Edo menggoyang goyangkan badan gw yang lagi asik meluk gitar.
"Cuk tangi cuk!"
"Hemmp..."
"Tangi!!"
"Suu!! Ganggu aja lu!" Gerutu gw.
"Tangi cuk! Turu kok koyo wong matek!"
"Ono opo sih? Masih pagi woi!"
"Ada yang nyariin lu tuh!!" Ucap Edo.
Gw terperanjat kaget lantas segera mengambil posisi duduk.
"Siapa? Polisi ya? Aduuh Do bilang aja gw nggak ada gituh!!"
"Ngigo lu ya?"
"Do pliss suruh pergi aja polisinya...tulungin gw lah." Ucap gw memelas.
"Bukan polisi woi! Lu dicariin sama cewek lu tuh!"
"Cewek? Cewek siapa?"
Sambil ngumpulin nyawa gw pun mulai berfikir siapa yang nyariin gw gini hari? Cewek, cewek, cewek. Ah, masa iya sih Bunga nyamperin gw kemari? Tau gw pergi kemana juga nggak tuh anak. Kemudian gw turun ke lantai satu mengintip dari balik tembok siapa yang nyariin gw. Disitu gw melihat sesosok bidadari mengenakan rok corak kembang selutut dibalut sweater putih di atasnya. Gw kucek kucek mata. Dan benar ternyata itu Bunga. Kok dia bisa tau gw disini? tanya gw dalam hati.
"Bunga?" Panggil gw.
Dia menoleh ke arah gw lalu berdiri bertolak pinggang sambil memandangi gw dari atas sampe bawah.
"Tidur terus!!" Ucapnya.
"....."
"Bagus ya! Kamu bisa bisanya tidur nyenyak, aku tiap hari nggak bisa tidur mikirin kamu..." Sindirnya.
"Kamu kok...."
"Kenapa? Kaget ya aku bisa ada disini?" Potong dia.
"....." Gw mengangguk pelan.
"Orang tua kamu mungkin nggak bisa nyari kamu, tapi aku bisa..."
"....."
"Sini duduk. Aku mau bicara...."
Sambil menguap gw pun berjalan menghampirinya lalu duduk. Kemudian gw diam memperhatikan wajahnya. Satu bulan, ya satu bulan gw nggak ngeliat dia, nggak bertegur sapa sekalipun lewat telefon. Ada yang sedikit berubah dari Bunga terutama di bagian rambut. Poni lucu yang selalu menutupi dahinya kini dibiarkan panjang hingga menyentuh hidung. Namun Bunga jadi terlihat lebih dewasa ketimbang sebulan yang lalu terakhir kali gw bertemunya.
"Kamu sehat?" Tanya gw
"......" Bunga mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kesini naek apa?"
"Aku bawa mobil.."
"Sendiri?"
"Iya."
"Terus kamu nyetir sendiri?" Tanya gw penasaran.
"Iyaaaa!!"
"Emang kamu bisa?"
"Ya kalo aku nggak bisa, nggak mungkin aku nyampe sini."
"Terus kamu tau aku disini dari siapa?"
"Ya dari Edo lah. Aku nanya dia di pesbuk, terus minta alamat sini."
"Hebat kamu nggak nyasar...."
"Mobil aku ada GPS nya kali!"
"Oh...."
Di tengah obrolan yang garing itu tiba tiba Edo datang dengan membawa 3 teh botol lengkap dengan sedotannya. Lalu Edo ikut nimbrung duduk di depan kami berdua.
"Minum dulu nih Bung...Maap ya cuma bisa nyuguhin ini doang." Ucap Edo
"Iya makasih..."
"Lu bawal mobil sendiri?" Tanya Edo lagi.
"...." Bunga hanya mengangguk.
Selanjutnya suasana menjadi sunyi senyap ibarat di tengah hutan. Kami bertiga lantas diem dieman tak ada yang bicara. Hingga akhirnya, Bunga lebih dulu membuka suara.
"Edo, maaf bisa tinggalin gw sama Fajar dulu nggak?" Ucap Bunga pada Edo.
"Oh iya iya...Ceritanya lagi ada yang maen serius seriusan nih pake ngomong 4 mata segala?" Balas Edo.
"Hehe iya...." Sahut Bunga.
"Yaudah gw nunggu di depan deh. Kalo lu di apa apain sama Fajar panggil gw aja! Haha..." Canda si Edo.
Kini tinggal gw berdua dengan Bunga yang tersisa di ruangan ini. Edo keluar entah dia kemana. Paling nongkrong di warung depan. Bukannya segera bicara to the point sama gw, Bunga malah diem sembari ngotak ngatik Blekburiknya. Namun setelah itu dia menunjukkan sesuatu kepada gw dari balik layar blekburik.
"Nih kamu liat...Mama nyariin kamu Jar! Setiap hari sms aku buat nanyain kamu."
"....." Gw memperhatikan isi sms itu.
"Aku selalu bales sms mama 'nggak tau, nggak tau, dan nggak tau!' Karena memang aku sendiri nggak tau kamu dimana."
"....."
"Jar, mama kamu sampe sakit sakitan mikirin kamu. Tempo hari mama telfon aku, suaranya serak banget kaya bukan suara Mama." Lanjutnya.
"Terus sekarang kamu udah bilang ke mama kalo aku disini?" Tanya gw.
"Belum..."
Badan gw tiba tiba merinding mengingat Bidadari No 1 gw sampe sakit sakitan mikirin gw yang nggak pulang pulang. Gw sempat luluh lantas mempunyai niat untuk pulang ke rumah. Tapi gw kembali berfikir kalau sekarang belum saatnya, karena gw belum punya apa apa.
"Kamu pulang ya....kasian Mama." Ucap Bunga.
"Iya, nanti."
"Kapan?"
"Nanti, aku pasti pulang. Tapi nggak sekarang."
"Kalau kamu emang nggak mau pulang, tolonglah kabari mama kamu sekali aja biar dia nggak khawatir mikirin kamu."
"Iya nanti aku telefon mama."
Bunga menarik nafas panjang, lalu dia hembuskan perlahan. Mungkin dia sedikit lega setelah menyampaikan amanat dari orang tua gw.
"Maaf ya aku jadi begini....Maaf sekarang semuanya jadi kacau...Maaf aku belom bisa jadi orang yang kamu mau." Ucap gw.
"Kenapa harus minta maaf?"
"Mungkin aku udah nggak pantes buat dampingin seorang Bunga yang sempurna."
"Kamu ngomong apa sih!!" Bentak dia.
"Aku, nggak pantes buat kamu."
"Nggak!!"
"Iya, aku nggak pantes!"
"Nggak Jar nggak!! Kamu tetep kamu, orang yang aku sayang. Kamu tetep pantes di samping aku apapun keadaannya."
"Bunga, kalo emang kamu ngerasa capek sama aku, silahkan tinggalin aku. Nggak apa apa."
"....." Bunga diam.
Tiba tiba saja "brugh" Bunga memeluk gw, menenggelamkan kepalanya di bahu gw. Kemudian gw dengar dia menangis tersedu sedu lantas membuat hati gw serasa hancur mendengar tangisannya. Sudah berapa kali gw tega menguras air mata perempuan yang sangat menyayangi gw.
"Aku mohon, aku mohon banget jangan ngomong kaya gitu lagi!!" Ucapnya
"....."
"Aku nggak mau ninggalin kamu! Kamu kan udah janji sama aku mau lewatin apapun itu sama sama...Kamu inget janji kamu kan?"
"Tapi aku..."
"Nggak usah pake tapi! nggak usah pake alasan!"
"....."
"Udah terlalu banyak hal yang kita alami selama 4 tahun ini Jar. Apa kamu mau masa 4 tahun itu ilang gitu aja? Aku nggak mau!!" Ucapnya.
"Aku juga nggak mau, Bunga....."
0