- Beranda
- Stories from the Heart
Perfect Love: a Love Story [diadaptasi dari pengalaman pribadi]
...
TS
estolagi
Perfect Love: a Love Story [diadaptasi dari pengalaman pribadi]
Spoiler for sampul-sampulan:
Halo Agan dan Aganwati penghuni forum SFTH ini, di thread ini ane mau mencoba bercerita.
Spoiler for FAQ:
Rules:
- Jangan OOT
- sopan
- mengacu ke rules forum H2H dan SFTH
ane usahakan update setiap hari kalau tidak ada kesibukan.
ane berharap agan dan aganwati memberikan bintang lima untuk thread ini
Spoiler for INDEX:

Diubah oleh estolagi 25-03-2015 21:44
anasabila memberi reputasi
1
4.3K
23
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
estolagi
#6
2. Berusaha Berubah
Pemilihan ekstarkurikuler adalah salah satu cara untuk mengubah nasib. Ya, di tahun kedua di SMP, akhirnya gue memutuskan untuk masuk salah satu ekskul, yakni Palang Merah Remaja, disingkat PMR.
Motivasinya karena ingin menghilangkan rasa ketidakpercayaan diri. Selain itu, gue juga termasuk orang yang cuma mikirin diri sendiri. Kata orang, jika kita masuk organisasi, sifat keegoisan kita akan hilang, diganti dengan sifat kesolidaritasan.
Risa dan Riska sedang menunggu gue keluar dari toilet sekolah untuk berganti pakaian. Mereka bukan saudara kembar, juga bukan saudara kandung, hanya kebetulan saja nama mereka hampir sama. Sengaja, gue tidak langsung keluar toilet untuk menemui mereka, tujuannya untuk menyiapkan diri lebih matang lagi karena hari ini adalah hari pertama kali gue berkumpul bersama anggota PMR lainnya, belum menjadi anggota resmi tentunya.
“ADIITT!!” teriak Risa. Namun, gue acuhkan.
Teriakan itu terdengar kembali, sekarang Riska yang berteriak.
Gue menghela napas panjang, lalu membuka pintu toilet.
“Lama banget, ngapain aja kamu di toilet?” tanya Risa, sedikit sewot.
“Ganti baju, lah, mau ngapain lagi coba.”
“Lho, kok lama banget? Kan, cowok ganti bajunya—“
“Udah, udah,” potong Riska. “Yuk, ah.”
Kami bertiga berjalan menuju kelas di mana PMR sedang berkumpul.
“Salim dulu ke alumni.” bisik Riska.
Kemudian gue menyalimi salah satu alumni yang belum gue ketahui namanya.
“5S-nya jangan lupa.” bisik Riska, lagi.
“5S? SeSeSeSeSetan?” gurau gue.
“Aku lagi gak becanda.” jawab Rina, sedikit emosi.
“Sorry…”
Gue masuk ke kelas lalu memperkenalkan diri di depan anak PMR, “Nama saya Adhitia Pratama.” ucap gue dengan sangat cepat.
“Ulangi coba, gak jelas.” sambung Rina, Komandan PMR di sekolah angkatan 13, angkatan gue lebih tepatnya, “Santai aja.”
Gue mengangguk dan mengulanginya kembali, “Nama saya Adhitia Pratama.”
“Alasannya masuk PMR apa?” tanya Rina.
“Alasan utamanya saya ingin belajar berorganisasi. Supaya, dengan saya masuk organisasi, sifat individualisme saya bisa hilang, atau setidaknya meluntur, walaupun sedikit.” jelas gue.
Kemudian terdengar ada seseorang yang bertanya, “Pacarnya siapa?”
Gue tidak menjawab.
Setelah perkenalan singkat, gue mencari bangku kosong dan duduk di bangku tersebut. Hanya celingak-celinguk yang dilakukan, mengingat gue adalah orang baru di sini. Beberapa pembicaraan terdengar, seperti membicarakan tentang uang khas, kehadiran, atau materi-materi. Jelas, gue tidak tahu apa-apa, hanya bisa mendengarkan tanpa tahu maksudnya. Ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan ikut berbicara mengandalkan jurus sok tahu.
Pembicaraan demi pembicaraan telah dilewati, setelah itu kami latihan membuat tandu.
***
Hari demi hari gue lalui, bertemu dengan teman satu organisasi hampir setiap hari. Gue merasakan ada perubahan, namun entah apa yang berubah. Yang pasti ketika gue dekat dengan Rina, hati gue seperti genderang mau perang. Orang bilang yang seperti ini dinamakan jatuh cinta. Memang benar, cinta itu bisa tumbuh ketika sering bertemu juga sering bertegur sapa. Tidak bisa gue pungkiri bahwa gue telah jatuh hati padanya.
But I can’t do anything.
Entah kenapa gue tidak bisa bilang bahwa gue cinta padanya. Mungkin salah satu faktornya karena gue sadar belum bisa menjadi yang terbaik untuknya atau mungkin gue memang bukan yang terbaik untuk dirinya.
Jatuh cinta diam-diam adalah pilihan terbaik, setelah gue tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.
Motivasinya karena ingin menghilangkan rasa ketidakpercayaan diri. Selain itu, gue juga termasuk orang yang cuma mikirin diri sendiri. Kata orang, jika kita masuk organisasi, sifat keegoisan kita akan hilang, diganti dengan sifat kesolidaritasan.
Risa dan Riska sedang menunggu gue keluar dari toilet sekolah untuk berganti pakaian. Mereka bukan saudara kembar, juga bukan saudara kandung, hanya kebetulan saja nama mereka hampir sama. Sengaja, gue tidak langsung keluar toilet untuk menemui mereka, tujuannya untuk menyiapkan diri lebih matang lagi karena hari ini adalah hari pertama kali gue berkumpul bersama anggota PMR lainnya, belum menjadi anggota resmi tentunya.
“ADIITT!!” teriak Risa. Namun, gue acuhkan.
Teriakan itu terdengar kembali, sekarang Riska yang berteriak.
Gue menghela napas panjang, lalu membuka pintu toilet.
“Lama banget, ngapain aja kamu di toilet?” tanya Risa, sedikit sewot.
“Ganti baju, lah, mau ngapain lagi coba.”
“Lho, kok lama banget? Kan, cowok ganti bajunya—“
“Udah, udah,” potong Riska. “Yuk, ah.”
Kami bertiga berjalan menuju kelas di mana PMR sedang berkumpul.
“Salim dulu ke alumni.” bisik Riska.
Kemudian gue menyalimi salah satu alumni yang belum gue ketahui namanya.
“5S-nya jangan lupa.” bisik Riska, lagi.
“5S? SeSeSeSeSetan?” gurau gue.
“Aku lagi gak becanda.” jawab Rina, sedikit emosi.
“Sorry…”
Gue masuk ke kelas lalu memperkenalkan diri di depan anak PMR, “Nama saya Adhitia Pratama.” ucap gue dengan sangat cepat.
“Ulangi coba, gak jelas.” sambung Rina, Komandan PMR di sekolah angkatan 13, angkatan gue lebih tepatnya, “Santai aja.”
Gue mengangguk dan mengulanginya kembali, “Nama saya Adhitia Pratama.”
“Alasannya masuk PMR apa?” tanya Rina.
“Alasan utamanya saya ingin belajar berorganisasi. Supaya, dengan saya masuk organisasi, sifat individualisme saya bisa hilang, atau setidaknya meluntur, walaupun sedikit.” jelas gue.
Kemudian terdengar ada seseorang yang bertanya, “Pacarnya siapa?”
Gue tidak menjawab.
Setelah perkenalan singkat, gue mencari bangku kosong dan duduk di bangku tersebut. Hanya celingak-celinguk yang dilakukan, mengingat gue adalah orang baru di sini. Beberapa pembicaraan terdengar, seperti membicarakan tentang uang khas, kehadiran, atau materi-materi. Jelas, gue tidak tahu apa-apa, hanya bisa mendengarkan tanpa tahu maksudnya. Ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan ikut berbicara mengandalkan jurus sok tahu.
Pembicaraan demi pembicaraan telah dilewati, setelah itu kami latihan membuat tandu.
***
Hari demi hari gue lalui, bertemu dengan teman satu organisasi hampir setiap hari. Gue merasakan ada perubahan, namun entah apa yang berubah. Yang pasti ketika gue dekat dengan Rina, hati gue seperti genderang mau perang. Orang bilang yang seperti ini dinamakan jatuh cinta. Memang benar, cinta itu bisa tumbuh ketika sering bertemu juga sering bertegur sapa. Tidak bisa gue pungkiri bahwa gue telah jatuh hati padanya.
But I can’t do anything.
Entah kenapa gue tidak bisa bilang bahwa gue cinta padanya. Mungkin salah satu faktornya karena gue sadar belum bisa menjadi yang terbaik untuknya atau mungkin gue memang bukan yang terbaik untuk dirinya.
Jatuh cinta diam-diam adalah pilihan terbaik, setelah gue tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.
Diubah oleh estolagi 20-03-2015 22:24
0
![Perfect Love: a Love Story [diadaptasi dari pengalaman pribadi]](https://s.kaskus.id/images/2015/03/09/5743227_20150309082316.png)