- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#169
Partitur no. 41 : Porcupine, Clover, and Cedarwood Road
Menulis. Ya, menulis seperti yang gw lakuin sekarang adalah hobi gw dari dulu. Mencurahkan semua perasaan lewat tulisan, sekedar mereview seperti yang paling gw sering lakukan, menulis lirik, dan lain-lain. Tulisan gw ini bisa dibilang belum sempurna. Sangat belum sempurna. Gw bersyukur kenal dekat dengan salah satu TS favorit gw di SFTH, yang dia bilang salut ketika gw bikin cerita ini, dan ia membuat sebuah thread juga di SFTH.
TS itu membuat sebuah thread yang sangat menarik perhatian dengan gaya tulisannya yang menarik, serta glosariumuntuk para pembaca agar tidak kebingungan, jalan cerita yang sederhana, namun tulisannya rapih, mulai dari EYD, tata kata, dll. Gw bersyukur thread itu ramai oleh komentar Kaskuser. Buat gw, memang pantas di apresiasi.
Apa hubungannya sama gw? Ya, kita saling sharing, dan gw bertanya kekurangan demi kekurangan dalam tulisan gw ini, dan dia memberi saran yang sangat membangun, sehingga gw bisa menulis menurut kaidahnya, walaupun belum sempurna. Ya, dialah TS dari sebuah thread berjudul Ingenue, alias sist Immanence.
Selain dia, gw banyak terpengaruh karena tumbuh dengan novel-novel karya Sir Arthur Conan Doyle, Enid Blyton, sampai novel-novel sejarah favorit gw yang di karang oleh Sohaichi Yamaoka, Eiji Yoshikawa, dan Kitami Masao. Kalo di Indonesia, gw banyak belajar dari cerita Sepasang Kaos Kaki Hitam karya om Ariadi Ginting. Sampai sekarang, gw bingung gimana cara mengemas sebuah cerita menjadi sesuatu yang menarik.
Ah, ya. Tentu saja, selain dibidang Musik, interest gw dan Tasya adalah soal buku. Mulai dari novel, komik, buku-buku psikologi, dll.
Pada suatu hari Sabtu, dimana kala itu sedang tidak ada rapat, Tasya mengajak gw untuk datang ke rumahnya. Tidak ada salahnya buat gw sekali-sekali merasakan lagi jauhnya rumah Tasya, sekalian menebus kesalahan atas ketidak pengertian gw waktu rapat itu.
Dia menitip buku-buku yang menurut gw bagus dan harus direkomendasikan ke Tasya. Saat itu, gw membawa komik Cross Game yang menjadi dasar gw main baseball, sama sebuah novel karya Meg Tilly berjudul Porcupine. Alasan gw membawa kedua judul itu sangat sederhana. Walaupun Tasya orangnya tomboy, tapi kalo soal cinta, dia suka banget sesuatu berbau romance. Tapi, ketika gw gombalin, malah gw yang kena cakarnya.
Cross Game walaupun sebuah komik baseball, tapi isinya ada kisah romantis ala remaja. Untuk ukuran gw yang cupu ini, komik tersebut punya alur yang sangat bagus buat gw, cukup banyak plot twist di dalamnya.
Porcupine. Entah siapa yang membelinya, tiba-tiba novel itu ada di meja gw. Awalnya gw kurang tertarik, tapi karena waktu itu lagi bosan karena tidak ada bahan bacaan, akhirnya buku itu gw baca. Novel itu menurut gw, sangat kurang ajar. Ya, kurang ajar. Kurang ajar karena emosi gw bener-bener di aduk disitu, dan novel itu belum gw baca nyampe abis sampai sekarang. Cukup dengan satu alasan. Gw nggak tega bacanya. Dan atas dasar nggak tega itu, novel itu rencananya gw pinjamkan ke Tasya.
Seinget gw, sebelum kali ini, gw pernah ke rumah Tasya sekitar sekali atau dua kali, sementara Tasya sering banget ke rumah gw bareng abangnya. Gw di jemput Tasya di sebuah Mall di Kelapa Gading yang menjadi sejarah dimana gw nembak dia. Tanpa alasan, jantung gw berdegup kenceng banget. Suasana yang gw kangenin banget, udah lama nggak mampir kesini.
Disaat gw celingak-celinguk ngeliat pemandangan selain nyari-nyari Tasya, mengingat setiap mozaik memori indah saat pdkt. Tiba-tiba ada yang nempel sama gw dari belakang, mata gw ditutup.
“Siapa nih?” kata gw kaget. Orang itu nggak menjawab. Dengan panik gw berusaha melepas dekapan kencang itu, dan akhirnya berhasil.
“Eh, Tasya.. Kamu mah ngagetin banget tau nggak” ujar gw setelah berhasil membuka dekapan itu.
“Hehe maaf, abisnya lucu sih kamu celingak-celinguk gitu kayak orang kebingungan” jawabnya dengan ceria.
“Kamu tuh ya..” gw cubit pipinya Tasya. “Abis ini ke rumah kamu naik apa, Sayang?” tanya gw.
“Naik taksi aja sayang” jawabnya santai.
“Waktu itu kamu yang nyaranin aku nggak naik taksi, sekarang kamu malah yang nyuruh naik taksi” kata gw meledek Tasya.
“Hehe abisnya nggak jauh kok, nggak mahal dan nggak pake nyasar kayak kamu wlee” jawabnya ngeledekin gw lagi. Akhirnya kita langsung menuju ke rumah Tasya yang ternyata emang agak jauh dari Mall tersebut. Jalan demi jalan berusaha gw hapalin biar suatu saat kalo main kesini lagi bisa hafal.
Tak lama, akhirnya sampai juga ke rumah yang sederhana namun nyaman. “Di rumah kamu ada siapa?” tanya gw terlintas.
“Ngg.. Nggak ada orang sebenernya hehe” jawab dia dengan santainya. Pikiran gw untung gak melayang kemana-mana.
“Emang pada kemana?” tanya gw lagi.
“Lagi pada keluar entah kemana.. Aku bete sendirian dirumah..” ujar Tasya.
“Wah beneran nggak apa-apa nih? Ntar kalo terjadi hal-hal yang diingikan gimana?” tanya gw. Seketika kepala gw merasakan kesakitan karena dijitak oleh Tasya.
“Awas aja kamu begitu” jawabnya dengan meledek. Pas gw masuk, keadaannya agak lebih berantakan dari sebelumnya. Sepertinya, gw mulai mengerti mengapa gw ada disini.
“Sayang, kamu baik, kan? Mendingan bantuin aku cuci piring deh..” katanya dengan nada imut. Gw kira bakal ada adegan kayak di film-film gitu, taunya gw disini disuruh cuci piring. Akhirnya dengan rasa agak berat hati, gw bantuin cuci piring di dapur Tasya.
“Emang kenapa nggak kamu sendiri aja yang nyuci?” tanya gw sambil nyuci piring.
“Mager, takut juga kan kalo aku sendirian..” jawabnya sambil ngeliatin gw dengan enaknya cuci piring. Akhirnya cucian piring yang banyak itu pun selesai, dan gw pun bisa beristirahat.
“Sayang, bantuin aku lagi dong.. Aku yang nyapu, terus kamu yang ngepel, gimana?” tanyanya lagi. Baru gw duduk, udah dimintain yang lain, duh. Akhirnya dia nyapu dengan bersihnya, sementara gw ngambil air dan masukin sabun ke ember sambil meres-meres kain pel.
Bukan ke ahlian gw untuk melakukan hal ini, tapi anehnya, gw mau aja disuruh untuk bantuin bersihin rumahnya Tasya. “Royalti nya kirim ke atm saya aja ya Mbak” kata gw meledek.
“Yee, jadi nggak ikhlas nih?” ujar Tasya.
“Ikhlas kok ikhlas.. Tapi besok kamu bantuin beresin rumah aku ya. Eh, nggak usah rumah deh, kamar aku aja.” pinta gw.
“Dih, enak aja kamu.. Makannya jangan wapoool, beresin kamar sekalian olahraga!” katanya dengan menjulurkan lidahnya.
Seketika gw melihat kembali seluruh ruangan tamu di rumah Tasya, melihat kembali yang gw pikir dulu ganjil. Hal itu adalah foto abangnya Tasya yang nggak ada dalam foto keluarga maupun foto sendiri, sementara yang lainnya ada. Tapi, kali ini gw gak gitu musingin hal itu, gw takut lancang menanyakan.
“Eh, iya sayang, aku bawa pesenan kamu nih..” ujar gw sambil membuka tas gw.
“Wiihii.. Kamu jadi bawa buku apa, sayang?” tanyanya dengan gembira.
“Ini komik Cross Game lengkap, sama novel yang belum pernah aku selesain dari dulu, judulnya Porcupine..” kata gw sambil mengeluarkan seluruh isi tas gw.
“Wah, tentang apa aja, tuh?” tanyanya lagi dengan antusias.
“Kalo Cross Game tentang baseball gitu, tapi ada romantisnya..” kata gw menjelaskan. Belum selesai menjelaskan, Tasya udah nyelak duluan.
“Romantis gimana?” ujarnya.
“Ngg, gimana, ya? Jadi tokoh utamanya Kou Kitamura itu awalnya nggak suka main baseball, dia main baseball cuma buat jualan seragam sama alat-alatnya doang.. Terus ada sekeluarga yang diibaratkan sama daun Clover yang berdaun empat, katanya sih membawa keberuntungan. Jadi keluarga itu punya empat anak perempuan, cantik-cantik, saling melengkapi, namun setiap orang punya sifatnya masing-masing. Dari keluarga Clover itu ada yang suka sama Kou, namanya Wakaba. Dia suka banget sama Kou, tanpa mandang pandangan adiknya yang bernama Aoba, dia tomboy kayak kamu. Si Aoba ini benci banget sama Kou, sementara si Wakaba nya suka banget, tanpa dengerin pendapat Aoba. Wakaba itu cewek yang paling banyak disukain di angkatannya, sehingga Kou di benci satu angkatannya, karena Wakaba suka deket-deket Kou. Awalnya Kou merasa bersalah dan gak berhak dapet perasaan itu, tapi lagi-lagi Wakaba bikin dia beneran jatuh cinta. Nyampe di akhir komik pertama, si Wakaba ini meninggal. Kalo kamu baca sedih banget. Hari-harinya kosong tiba-tiba, berasa banget. Dari kekosongan nya itu, Kou pengen buktiin ke Wakaba tentang mimpi Kou main di Koshien pada musim panas. Well, tanpa disangka-sangka, selama berapa belas tahun ditinggal Wakaba, tepatnya saat SMA, Kou punya tetangga baru mirip banget sama Wakaba, dan....” tiba-tiba Tasya memotong ucapan gw yang sedang menjelaskan.
“Jangan diceritain semuanya sayang, dari cerita kamu tadi bikin aku penasaran semua! Hihi. Aku minjem semua komiknya ya.. Eiya, satu lagi tentang apa?” tanya Tasya kemudian.
“Ooh ini Porcupine.. Aku nyampe sekarang belum pernah bisa selesain bacanya, sedih. Bayangin aja tiba-tiba Ayahnya ada panggilan tugas sebagai tentara di Afghanistan, dan beberapa minggu kemudian ada berita bahwa Ayahnya meninggal di medan perang. Si Ibunya stress, nggak bisa bayar macem-macem akhirnya membawa anaknya ke tempat neneknya yang udah nggak berdaya. Cukup lama mereka tinggal di mobil nyampe akinya abis atau bensin nya abis gitu. Ada anak terakhir dari keluarga ini nanya dengan polosnya ‘Ayah kapan pulang? Kapan kita bisa ketemu Ayah lagi?’” kata gw menjelaskan kembali. Lalu, untuk melanjutkan cerita itu, gw mengambil minum dulu untuk melepas dahaga gw.
“Terus nggak lama, Ibunya meninggal juga karena stress. Terus Kakak sama Adiknya ini harus tinggal sama neneknya yang udah tua banget. Udah, aku baru baca nyampe situ doang, gak kuat bayanginnya..” ujar gw sambil minum air yang disediain Tasya tadi.
Banyak yang kita perbincangkan soal buku yang bakal gw pinjemin, buku Tasya yang gw pinjem tentang psikologi (di kamarnya banyak banget buku tebel-tebel, belum sempet dibaca karena kerja sambil kuliah), sampai masa lalu kita masing-masing. Entah kenapa topik yang menyenangkan itu berubah menjadi topik yang paling gw sebel.
“Lho, kenapa? Emang ada apa tentang masa lalu?” ujar Tasya ketika mengubah topik.
“Buat aku, kalo kita udah punya pacar, kita harus let it go tentang masa lalu, fokus ke masa depan aja..” jawab gw.
“Salah sayang, jangan begitu.. Mungkin emang kadang ngerasa sebel, pengen di jadiin musuh, dll tapi coba deh sayang, masa lalu itu kan yang ngasih kamu banyak pelajaran berharga? Masa lalu itu kan yang pernah ada di hari-hari kamu sebelum aku? Walaupun akhirnya jelek, tapi seenggaknya dulu dia kan pernah buat kamu senyum..” kata Tasya menjelaskan dengan bahasa tubuh yang ikut menjelaskan. Gw terdiam, memikirkan kata-kata Tasya tadi.
“Emang kenapa? Kamu mau balikan sama mantan kamu?” dengan bodohnya gw bilang gitu.
“Kok kamu ngomongnya gitu? Nggak sayang.. Aku cuma ngejelasin lewat cara aku mandang yang jelas beda dari kamu.. Misalkan ya, misalkan nih. Misalkan aku jadi mantan kamu, terus kamu bakal ngelupain semua hal-hal yang udah kita laluin dengan bahagia gitu aja?” ujar Tasya dengan nada damai. Lagi-lagi, dan lagi-lagi, gw makin diam. Kicep.
Akhirnya lagi-lagi gw minta maaf atas ketidak dewasaan gw, dan mulai menganggap bahwa masa lalu itu cukup penting. Dalam satu hari, gw dicekokin oleh pandangan Tasya yang waktu itu udah dewasa, dengan gw yang masih abg SMA. Sekitar setengah sembilan malam setelah asyik ngobrol-ngobrol, gw pamit dari rumah Tasya. Tasya menelpon ojek langgangan nya untuk ngantering gw nyampe Halte Busway.
“Eiya aku belum ngasih kado atas terima kasih aku ke Kamu udah bantu beres-beres..” ujar Tasya pas gw mau buka pintu rumahnya. Tiba-tiba sebuah ciuman cinta mendarat. Entah lupa di bibir, di kening, atau di pipi. Rahasia pribadi. “Daah sayang..”
Kali ini gw naik busway karena menghemat sambil nabung duit gw, karena suatu tragedi kehilangan tersebut. Ketika nunggu busway agak lama, akhirnya gw masuk juga, untungnya sepi. Gw mengambil earphone dan mengeluarkan hp untuk mendengarkan lagu, mengusir kebetean menunggu di Halte tadi. Tiba-tiba ada notif masuk ke hp gw. Notif BBM rupanya.
“Aku tau aku bukan yang pertama buat kamu, dan aku nggak berniat ngerubah malam yang indah ini jadi buruk. Walaupun aku bukan yang pertama buat kamu, aku bisa jadi yang pertama buat kamu dalam segala hal, seperti merubah cara pandang kamu terhadap kehidupan. Bahkan jadi cinta pertama kamu juga bisa, kan? Hihi. Semoga kita anteng-anter terus ya, Love you sayang..”
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:50
0
