- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#168
Partitur no. 40 : What Did I Do?
Minggu demi minggu dilalui dengan rapat dan rapat. Perkembangan demi perkembangan semakin maju, menuju deadline yang sebentar lagi akan tiba. Sudah ada beberapa rancangan yang sepertinya bakal fix untuk dijadikan bagian dari acara untuk menarik perhatian umum.
Tak mungkin gw ceritain satu persatu kejadian unik yang gw alami ketika rapat ini terjadi, tapi ada beberapa point yang menurut gw bakal dipilih sebagai cerita kali ini. Gw coba membuat secangkir teh, minum di teras, mengambil sebuah gitar untuk meningat potongan demi potongan mozaik yang terjadi pada waktu itu.
Sedikit demi sedikit yang gw inget, gw coba tuangkan dalam tulisan ini. Untuk menunjukan sebuah ingatan yang valid, gw kembali membuka dokumentasi-dokumentasi yang ada dalam rapat tersebut, sambil menerawang jauh momen-momen tersebut.
Well, progresi sampai saat ini sangat bagus. Perkembangan baru sudah ada, dimana setiap rapat bayar kas, venuenya hampir fix, rangkaian acara, perlengkapan panitia, rundown acara, alat-alat, dll.
Konsep acaranya mulai berubah, dimana awalnya merencanakan hanya tribute akustik sambil buka puasa, menjadi sebuah acara dimana dari kita untuk kita nikmatin bareng. Dimana sebuah band membawakan 3 atau 4 lagu, membawakan minimal satu lagu breaking benjamin, dan selebihnya lagu bebas. Ada juga ide yang awalnya gw utarakan, walaupun sebenarnya kurang nyambung, tapi ternyata mereka pada setuju.
Saat itu Stand Up Comedy sudah mulai banyak peminatnya (mungkin dari dulu, namun baru-baru itu mulai terekspos). Gw sendiri menyukai seni dari Stand Up Comedy tersebut, menurut gw unik aja. Rencananya, kita bakal mengundang komunitas Stand Up Comedy yang ada di Kaskus.
Entah pada rapat keberapa, gw mengalami kejadian unik. Ketika itu, rapat diadakan di sebuah tempat nongkrong yang lagi naik daun di sekitar daerah Tebet, gw sama Tasya janjian di Halte tempat biasa gw janjian. Walaupun Tebet cukup deket dari rumah gw dan kebetulan gw sering kesana, tapi yang kali ini agak berbeda.
Berawal dari ke tidak tahuan gw dan ke sotoy an gw, kita berangkat naik Taksi karena gw nggak tau gimana akses kendaraan umum kesana, ke sebuah tempat nongkrong yang gw kita disitu tempat rapatnya, namun ternyata salah. Tempat itu berada di dekat lingkungan sebuah SMP yang namanya sudah sering di dengar oleh khalayak ramai. Udah diomelin supir Taksinya karena nganternya deket, masuk ke tempat itu nggak ada yang gw kenal, dan malah tempat yang sebenernya kita tuju itu agak jauh dari tempat gw sekarang.
Akhirnya, kita memutuskan untuk jalan kaki ke tempat itu dengan berbekal GPS dari tukang ojek. Gw khawatir Tasya bakal bete karena ke sok tahuan gw. Tapi yang gw liat, nggak tau disembunyiin atau nggak, dia tetep senyum, bahkan mengajak gw ngobrol terus menerus.
***
Pada suatu rapat, dimana hampir mencapai final nya, ada seseorang yang tiba-tiba ngikut ke rapat ini, namanya Azmi. Kita sangat welcome sama dia, bahkan dia bisa menjadi lahan ide yang banyak ke kita. Walau gitu, dia sering jadi bahan bully an Mbak Lis dan Mbak Winda, karena emang dia enak di bully.
Siang itu, ketika dia pertama kali pengen ikut rapat, karena dia nggak tau tempatnya dimana, dia menunggu di sebuah Halte depan Rumah Sakit di deket Rumah gw. Rencananya, kita mau rapat di tongkrongan yang sama, hanya tempatnya di Plaza Festival (atau Pasar Festival, ya?) disebuah tempat yang banyak kuliner di daerah Kuningan.
Gw dan Tasya juga janjian untuk berangkat bareng naik busway, tapi dia nunggu di rumah gw dulu sambil nunggu si Azmi. Cukup lama sampai sebuah notif pun masuk ke group BBM.
Quote:
Gw pun bergegas pamit ke Bokap gw yang kebetulan ada di rumah, begitu pula Tasya, yang salam sama Bokap gw. Entah rejeki atau entah kenapa, gw dikasih uang saku tambahan sama Bokap. Tak lama sampai gw menemukan Azmi, yang gw kira naik busway juga, ternyata dia naik motor.
Kita bergegas menyebrangi jembatan yang terhubung dengan Halte Busway depan Rumah Sakit, dimana si Azmi gw liat di depan Rumah Sakit persis. Ketika itu, gw berniat untuk membeli sebuah tiket busway dulu baru ketemu Azmi.
Tapi, ada sebuah kejadian yang bikin gw makin panik. Tangan gw berusaha mencari-cari di semua kantor celana gw, bahkan tas gw, dimana uang saku tambahan dari Bokap gw itu, ilang mendadak. Mungkin karena gw buru-buru, gw menjatuhkan uang tersebut. Gw mencoba bolak-balik rute dimana gw lewatin tadi, namun naas, gw tetep gak nemuin duit itu.
“Man, darimana aja lo? Katanya deket” ujar Azmi ketika gw samperin ke motornya.
“Duit gw ilang, Mi..” jawab gw melas.
“Hah? Kok bisa?” tanyanya keheranan sambil merokok.
“Iya, kayaknya karena gw buru-buru..” ujar gw.
“Makannya Kamu kalo nyimpen uang yang bener..” kata Tasya menasihati.
“Terus gimana sekarang?” tanya Azmi.
“Kamu aja naik motor sama Azmi, aku naik busway.. Aku kan gak tau jalan kesana kalo naik motor” ujar Tasya sambil ngusap-ngusap rambut gw yang lagi panik.
“Kebalik atuh sayang, harusnya kamu aja yang naik motor..” kata gw ke Tasya.
“Terus gimana, kan uang kamu ilang?” ujar Tasya agak ngotot.
“Gampang lah itu, yang penting kamu naik motor sama Azmi aja..” jawab gw. Seenggaknya dalam pikiran gw, gw udah mencoba menerapkan dimana yang penting cewek lo selamat, nyaman, aman, dll dibanding gw pribadi. Tapi ternyata, Tasya dengan ideologi kesetaraan gendernya, mencoba bilang ke gw bahwa dia bisa sendiri, she’s not a little girl anymore. Akhirnya gw menuruti permintaannya itu.
“Daah sayang, tapi ntar kalo lewat jam enam, aku pulang aja ya?” ujarnya sambil megang tangan gw yang lagi nganterin dia naik busway.
“Yah jangan sayang, masih kangen..” kata gw agak memaksa dengan melas. Setidaknya setelah itu ada lagi perbincangan antara dia pulang atau nggak, tapi bodohnya, gw terlalu memaksaan ego gw, nggak mikirin keadaan nya gimana.
“Iya aku juga masih kangen, tapi kan kamu tau sendiri, dari Kuningan ke Kelapa Gading jauh, ntar aku pulang jam berapa?” jawabnya dengan halus, seperti ingin gw ngertiin dia.
“Tapi ntar rapatnya gimana? Kan kamu yang megang bagian konsumsi?” kata gw tetep kekeuh.
“Hmm yaudah deh..” jawabnya dengan agak melas. “Daah..” sekiranya buat gw satu masalah ini selesai, dan melanjutkan perjalanan bareng Azmi naik motor.
Ternyata, si Azmi belum tau lokasinya dimana, sehingga gw yang biasa kesana naik busway pun bingung memberi arahan sampai muter-muter di daerah Kuningan yang pusat macetnya Jakarta. Akhirnya, gw berinisiatif untuk nanya di group, patokan dari tempat gw waktu itu. Setelah sekitar dua menit, ternyata Rama yang menjawab, langsung gw sampein ke Azmi.
“Yah, gimana sih lo adminnya” ujar Azmi ngeledek. Kita pun sampai di tempat dimana seperti yang dimaksud oleh Rama. Ketika sebentar lagi sudah hampir sampai, tiba-tiba Azmi memberhentikan motornya.
“Kenapa, Mi? Kok berhenti?” tanya gw.
“Bini gw nelpon, Man.” Jawabnya sambil menaruh helm dan mengambil hpnya.
“Lo udah nikah?” tanya gw lagi.
“Belum, ini cewek gw maksudnya.” ujar dia yang nggak lama sudah sibuk dengan handphone nya. Cukup lama dia berbincang-bincang dalam telpon itu. Gw nggak berniat nguping, tapi suaranya yang kencang membuat gw mendengan obrolan mereka. Ya, mereka lagi berantem berat. Ketika itu juga, gw takut bahwa hal yang sama terjadi pada gw dan Tasya, karena tadi pas kita berpisah, dia menampakan muka cemberut.
Azmi pun kembali dari telponnya dan segera memakai helm nya lagi. “Cewek gw ribet banget sih orangnya!” keluh Azmi. Gw nggak berani menjawab karena takut dikira ikut campur urusan orang.
Tak lama, kita pun sudah sampe di tempat yang sudah ditentukan, dan bertemu dengan yang lainnya. “Ini Azmi yang di group itu” kata gw memperkenalkan. Langsung rame seketika itu juga sambil nge-bully Azmi secara langsung, nggak lewat bbm. Mereka nggak nanyain Tasya, karena dia udah ngabarin di group BBM dengan alasan keluar pulang kerjanya telat.
Antara rapat dan bagian nge-bully Azmi secara langsung itu hampir seimbang waktunya. Disaat mereka tertawa terbahak-bahak, gw malah diam karena cemas. Waktu sudah menunjukan pukul enam, dan Tasya belum juga menampakan diri disini.
“PING!”
Tasya : Aku pulang aja ya, Sayang? Lama banget nungguin buswaynya tadi, macet juga..
Gw : Yah jangan dong sayang

Seketika, BBM gw hanya di read oleh Tasya. Gw pada awalnya mau bilang “Nggak apa-apa sayang pulang aja, kan pasti kamu capek..” tapi nurani gw kalah dengan ego gw.
Ketika sedang break rapat, tiba-tiba Tasya datang dengan cemberut tanpa menyapa gw, dan duduk agak berjauhan dengan gw. Waktu datangnya dia setengah jam setelah terakhir BBM gw di read. Dia tersenyum kepada orang lain disana, tapi tidak tersenyum ke arah gw. Apa gw kualat juga karena gw sering menyombongkan diri bahwa gw belum pernah berantem? Gw ajak ngobrol namun tak ditanggapi. Disitu kadang saya merasa sedih.
Akhirnya, gw menganggap dia butuh waktu sendiri. Gw akhirnya masuk ke dalam untuk ke toilet sebentar, sambil membelanjakan uang saku utama gw, bukan yang dikasih bokap gw. Uang saku gw emang nggak banyak, tapi seenggaknya cukup utup membeli minuman dan ongkos pulang. Dan ketika gw balik ke meja, gw melihat Tasya sendiri. “Yang lain pada kemana?” tanya gw.
Hening sebentar. “Lagi pada di dalem, beli makanan katanya” jawabnya dengan agak cuek. Tidak menoleh ke gw sama sekali.
“Hoo gitu.. Kamu kok jadi cuek gitu? Aku minta maaf ya” ujar gw memulai karena gw nggak tahan dengan suasana itu.
“Minta maaf kenapa?” tanya nya balik ke gw. Dan akhirnya, ia menoleh ke arah gw.
“Iya aku ngerti kenapa kamu cuek gitu.. Karena aku terlalu mentingin ego aku, aku nggak mikirin gimana kamu pulangnya.. Aku juga terlalu ceroboh nyampe uang itu ilang.. Aku tau dimana cuma Mama sama Adik kamu yang tau aku pacaran sama Kamu, Papa kamu nggak tau kalo kita pacaran makannya ditanya-tanyain terus.. Yang paling penting, aku nggak tahan kalo suasananya begini, nggak enak diem-dieman sama kamu..” belum selesai gw ngomong, dia udah senyum dan meluk gw. Gw ngomong dengan agak terbata-bata karena panik, takut, dll. Semacam perasaan takut itu awal dari gw sering berantem sama dia, namun takut gw itu nggak beralasan.
Setelah itu, rapat berjalan dengan perasaan yang terasa menyenangkan, tidak ada perasaan tertekan sama sekali. Sepanjang rapat, tangan Tasya tak pernah lepas dari tangan gw. Feels comfortand... Perasaan yang susah gw jelasin. Saat pulang sekitar pukul sembilan, kita tetap ngobrol banyak, seakan selama diem-dieman tadi itu pengen ngobrol tapi gengsi. Syukurlah..
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:49
0
