- Beranda
- Stories from the Heart
Koyo Cabe Ukuran A4
...
TS
alanam
Koyo Cabe Ukuran A4
Ini bukan thread jualan Koyo, bukan juga cerita tentang penjual Koyo, "koyo cabe ukuran A4" hanya sebuah filosofi kecil, betapa seringnya kita masang koyo dengan tidak pas misalnya di leher, sama dengan mencari pasangan ada saja kekurangannya.Tapi lama-lama juga koyonya bikin hangat meski tidak di tempat yang pas. Jika hendak mencari koyo yang menutupi seluruh lehermu, maka carilah Koyo ukuran A4, niscaya anda tidak akan bermasalah lagi, tapi anda akan kepanasan setengah mati.
Ini bukan cerita mengharu biru, bukan juga cerita yang bikin perut anda kesakitan menahan tawa. Baca saja lah.
NB: kalo ada yang mau bertanya seputar proses kehamilan kuda nil, sejarah asal usul kenapa ada istilah "anak tangga" tapi kenapa gak ada istilah "bapak ibu tangga", atau pertanyaan apapun yang manusia normal enggan menjawab ... ke mari saja ask.fm
update
Part 2 : Kejar Tangkap, Kau Kudaku
Part 3 : Jodoh Di Tangan Maradona
Part 4 : Rofi’i, My Angry Bird
Part 5 : The Alchemist
Part 6 : Esa Hilang, Dua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Part 7 : In The Wee Small Hours
Part 8 : Air Beriak Tanda Tak Dalam, Air di Ketiak Tanda Hidup Kelam
Part 9 : Maxalmena
Part 10 : Run, Forrest, Run !!!!
Part 11 : Heidegger
Part 12 : Bagaimana Mungkin Rumput Mau Menjawab Tatkala Dia Sedang Asyik Bergoyang.
Part 13 : Have You Passed Through This Night?
Part 14 : Bahkan Gatot Kaca pun Pernah Sakit Hati
Part 15 : Anomalitas
Part 16 : Sekali Kayuh, Dua Tiga Nomor Punggung Beckham.
Part 17 : Tidak Ada Akar, Umbi-Umbian Pun Jadi.
Part 18 : Mogadishu
Part 19 : Logika Tanpa Logistik Seperti Logout Tanpa Logitech
Part 20 : Warteg Bahari Diatas Awan
Part 21 : Chaos
Part 22 : Eet Niet Te Eten, Samen!
Part 23 : 1974
Part 24 : Utarakan, Selatankan.
Part 25 : Misteri Mahera
Part 26 : Nabi Khidir Wannabe
Part 27 : C, I, N, dan Dua Huruf Dibelakangnya
Part 28 : The Unforgettable Rahmat
Part 29 : De Beak Dengkaks Futsal Club
Part 30 : Bila Saja Bila
Part 31 : Kontraindikasi
Part 32 : Morgan Freeman
Part 33 : Kisah Kasih Kusah Koseh Kesusahan
Part 34 : Sarung
Part 35 : Jurus Tinju Mabuk
Part 36 : No Where, Now Here.
Part 37 : Semut Latihan Paskibra
Part 38 : Berkalang Tanah
Part 39 : Shawshank Redemption
Part 40 : Don't Worry Being Alone
Part 41 : Tour De Pakidulan
Part 42 : Cilok Venezuela
Part 43 : Antara Pedal Dan Jok
Part 44 : Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Sambil Parkour
Part 45 : Bratayudha
Part 46 : Valentino Rosyid
Part 47 : Tera
Part 48 : khir
Part Terakhir : Titik
update lanjutan ada di bawah, di Post #12
Ini bukan cerita mengharu biru, bukan juga cerita yang bikin perut anda kesakitan menahan tawa. Baca saja lah.
NB: kalo ada yang mau bertanya seputar proses kehamilan kuda nil, sejarah asal usul kenapa ada istilah "anak tangga" tapi kenapa gak ada istilah "bapak ibu tangga", atau pertanyaan apapun yang manusia normal enggan menjawab ... ke mari saja ask.fm
Quote:
update
Part 2 : Kejar Tangkap, Kau Kudaku
Part 3 : Jodoh Di Tangan Maradona
Part 4 : Rofi’i, My Angry Bird
Part 5 : The Alchemist
Part 6 : Esa Hilang, Dua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Part 7 : In The Wee Small Hours
Part 8 : Air Beriak Tanda Tak Dalam, Air di Ketiak Tanda Hidup Kelam
Part 9 : Maxalmena
Part 10 : Run, Forrest, Run !!!!
Part 11 : Heidegger
Part 12 : Bagaimana Mungkin Rumput Mau Menjawab Tatkala Dia Sedang Asyik Bergoyang.
Part 13 : Have You Passed Through This Night?
Part 14 : Bahkan Gatot Kaca pun Pernah Sakit Hati
Part 15 : Anomalitas
Part 16 : Sekali Kayuh, Dua Tiga Nomor Punggung Beckham.
Part 17 : Tidak Ada Akar, Umbi-Umbian Pun Jadi.
Part 18 : Mogadishu
Part 19 : Logika Tanpa Logistik Seperti Logout Tanpa Logitech
Part 20 : Warteg Bahari Diatas Awan
Part 21 : Chaos
Part 22 : Eet Niet Te Eten, Samen!
Part 23 : 1974
Part 24 : Utarakan, Selatankan.
Part 25 : Misteri Mahera
Part 26 : Nabi Khidir Wannabe
Part 27 : C, I, N, dan Dua Huruf Dibelakangnya
Part 28 : The Unforgettable Rahmat
Part 29 : De Beak Dengkaks Futsal Club
Part 30 : Bila Saja Bila
Part 31 : Kontraindikasi
Part 32 : Morgan Freeman
Part 33 : Kisah Kasih Kusah Koseh Kesusahan
Part 34 : Sarung
Part 35 : Jurus Tinju Mabuk
Part 36 : No Where, Now Here.
Part 37 : Semut Latihan Paskibra
Part 38 : Berkalang Tanah
Part 39 : Shawshank Redemption
Part 40 : Don't Worry Being Alone
Part 41 : Tour De Pakidulan
Part 42 : Cilok Venezuela
Part 43 : Antara Pedal Dan Jok
Part 44 : Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Sambil Parkour
Part 45 : Bratayudha
Part 46 : Valentino Rosyid
Part 47 : Tera
Part 48 : khir
Part Terakhir : Titik
update lanjutan ada di bawah, di Post #12
Diubah oleh alanam 15-12-2015 00:06
faiqaf dan 5 lainnya memberi reputasi
6
407.8K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alanam
#270
Part 29 : De Beak Dengkaks Futsal Club
Backsound yang disarankan : Maybeshewill - Waking Life
#Enjoykan
Saya, Eng, dan beberapa alumni 234 lain sempat memiliki satu klub futsal, bernama 234 coret. 234 Coret sendiri biasa berlatih tiap kamis sore, namun dengan kesibukan anggotanya, klub menjadi tidak aktif, hanya beberapa saja yang sering berlatih. Beberapa teman dipanggil sekedar menggenapkan jumlah tiap waktu latihan. Hingga pada akhirnya 234 coret punah dari peradaban.
Namun karena kecintaan Saya terhadap futsal, Saya akhirnya membentuk klub sendiri. Hanya ada 5 orang pas. Saya, duo bokep PGSD UNCAR Dangsky – Eng, Galih –masih ex 234 coret, dan Tandi – teman SMP saya. Dan Isan sebagai additional saja, mengingat Isan yang sekedar tahu mana gawang lawan mana gawang lawan sendiri saja susah. Isan hanya dilibatkan jika kasus –kasus tertentu, seperti permainan harus berenam karena perkara ukuran lapangan yang lebih besar dari standar. Ironisnya, dari 6 orang ini tidak ada yang berbakat jadi kiper, kami bergantian tiap kemasukan.
Tim ini bernama De Beak Dengkaks Futsal Club (DBD FC) diambil dari bahasa Belanda yang berarti sampai lelah ngangkang ngangkang. Permainan kami sangat fenomenal dan enerjik, bahkan Eng bisa drible melewati lawan, dari gawang kami sampai gawang lawan dan balik lagi ke gawang kami lalu ke gawang lawan lagi. Kendalanya adalah kami terlalu sering kemasukan gol.
Eng tipikalnya sebagai pengacak lawan, kemampuan individunya tidak bisa diremehkan, sempat mengenyam rumput SSB UNI, namun kemampuan shootingnya parah, akurasi 10% power 30% , 60% lagi gaya. Pernah satu saat ketika melawan tim anak mahasiswa Medan, Eng melewati tiga pemain lalu melakukan tendangan di depan gawang, sangat keren, namun tendangannya hanya mengenai jaring pembatas lapangan, keras? Hanya menggelinding.
Dangsky lain lagi, dia sejenis Inzaghi. Pemalas dan jarang rolling posisi, namun anehnya dengan gaya yang tidak meyakinkan, tendangannya seringkali masuk. Hanya dengan menggoyangkan pinggul saja bola bisa masuk, tapi aktifitas “penyalahgunaan sabun” yang keterlaluan membuatnya hanya bisa sekitar 10 menit berada di lapangan, sisanya minum pocari sweat pinggir lapangan.
Galih, jago, shoot kencang, lari cepat, namun emosinya cepat naik juga. Dari 10 pertandingan persahabatan yang dilakukan, 5 diantaranya berakhir dengan adu jotos.
Tendi, jika ada istilah kapten, dia orangnya, santai, defend-attack sama kokohnya. Tidak ada yang kurang, kecuali sering ngutang bayar lapang
. Saya, biasa saja main futsal, taktis dan main aman ala Busquet, disitulah justru titik fundamentalnya. Jika di Barcelona ada Busquet’s Role. Maka di DBD ada Jep’s Role.
---
Dan Rahmat Sang Raja Jin sepertinya memang diturunkan Tuhan untuk membantu DBD. Rahmat yang zaman saya kecil suka jadi kiper sepertinya cocok untuk melengkapi puzzle tim ini. Satu waktu saya SMS si Rahmat.
“Mat masih suka ngiperan?”
“masih masih..kenapa emang?”
“urang butuh kiper euy, kalo ga sibuk ikut latihan sama tim urang lah, bisa?”
“Insya Allah bisa, kapan?”
“Rebo depan, bisa?”
“Enya, sip sip”
“Okeh , nuhun bro nya”
“sami-sami”
--
Rabu itu seperti yang dijanjikan Rahmat hadir. Stelannya keren botak, tinggi, dan kekar. Cocok nih satu domba Garut. Kali itu, lawan Saya adalah teman – teman seangkatan saya di Manajemen.
Prittt…

Kick off dimulai, Tim Manajemen UNDUR langsung menyerang, Saya telat menutup gerakan Sony, Sony berhadapan dengan Rahmat, Sony mengecoh dengan mengoper bola kepada Rio. Rio menghantam bola dengan kerasnya. Bola dengan mudahnya ditangkap Rahmat menggunakan satu tangan. Disitu Saya yakin Rahmat Raja Jin memang kiper yang tepat buat kami. Semua yang ada di lapangan hanya bengong melihat kejadian tersebut.
Pertandingan berkesudahan dengan skor 11 – 2 untuk kemenangan tim DBD. Rahmat yang berasal dari Garut, seakan kemasukan arwah Domba Garut saja, kokoh dan gaya di bawah mistar gawang. Pedemeter kami 457%.
Akhirnya, karena tim dirasa sudah sangat kompak, hampir tiap minggu uji tanding, dan hasilnya semua menang. Tidak bisa dipungkiri ada faktor Rahmat dengan segala kemistikannya yang berperan besar.
Satu hari kenalan Galih mengajak bertanding nama timnya Al-Maidah. Sempat bingung saya, itu tim futsal atau kelompok Qasidah. Namun Al-Maidah ini sudah cukup terkenal, beberapa pemainnya malah ada yang berstatus pemain PON Jabar. Al-Maidah yang berate hidangan ini, ternyata tidak menyukai sistem taruhan yang kalah bayar lapang, justru uniknya yang kalah harus traktir makan. Dari situlah nama Al-Maidah berasal. Hari Jumat, kami akan bertanding, mari kita lihat apakah De Beak Dengkaks atau Al-Maidah yang harus membayar bill Rumah Makan?
…
Sehari Sebelum Pertandingan
Saya kebetulan tidak ada jadwal hari itu, Saya ajak Eya bermain malam sebelumnya. Eya menolak karena ada kuliah, namun karena rasa cintanya yang terlalu dalam, Eya pun tak kuasa berkilah.
Saya jalan campur naik angkot ke rumah Eya, matahari bahkan belum bangun. Eya keheranan sepagi itu Saya sudah bangun dan berada di rumahnya.
“Mau kemana ganteng pagi-pagi udah gaya?”
“Udah ayo ikut, kita ke sawah..”
“Sawah?..”
“Ayo ikut ajalah”
Kami pun berangkat entah mau kemana Saya juga tidak tahu, asal saja. Niatan awal saya hanya mau melihatnya dari pagi sekali, itu saja.
“Kirain aku teh kamu punya rencana kemana gitu”, Eya ketus.
“hehehe tadi aku gak bisa tidur lagi, Cuma pengen ketemu kamu..”. Alibi.
“jalan kaki aja we keliling kota atau nggak naek DAMRI aja yuk ..”, Eya mulai iseng.
“yaudah lah hayu”
Tak tahu ini keberapa kalinya kami memustuskan pergi keluar tanpa rencana. Namun kadang justru hal-hal seperti inilah yang sering berakhir dengan menyenangkan. “Mengikuti rencana Tuhan” kalau menurut istilah Eya. Dan hal ini seperti miniature dari keseluruhan hidup kita. Kita bingung kenapa kita dilahirkan, Kita bingung dan disorientasi dalam hidup, mau kemana, jadi apa, nikah dengan siapa dll. Hidup perihal pindah dari satu kebingungan satu ke kebingungan yang lain. Namun esensinya bukan itu, tapi dengan siapa kita melewati kebingungan itu. Dan bersama Eya hari itu, mau ke Ujung dunia, Ujung Genteng, atau Ujungpandang pun Saya mau.
Kami pun berjalan dari Terusan Jakarta sampai Alun-Alun, dari Alun-Alun ke Stasiun, lalu jalan mengarah ke sekitar Balai Kota. Di depan SMK 1, Kami duduk dulu sambil mengkonsumsi Sabu, Sarapan Bubur sekaligus Sarapan Bujur budak SMK.
Dari sana, kami naik Damri menuju DU. Dari DU lanjut ke Jatinangor. Bus yang setengahnya terisi mahasiswa Unpad Jatinangor asal kota Bandung, sisanya karyawan. Eya mengajak tebak-tebakan.
“Pej, menurut kamu di damri ini ada yang blahbloh* kaya kita gak?”
*) blahbloh (bahasa Uganda) = bingung, ceilingak celinguk’
“kayanya gak ada, semua orang mau kuliah sama mau kerja..”
“Kita gak ada kerjaan gini sih? Hahaha”
“iya, orang blahbloh kaya kita mah blom pada keluar belum bangun kali..”
“Iya juga ya..entar jam 9 10 baru banyak yg kaya kita nongol..”, Eya setuju.
“Eh Ey, liat itu arah jam 11? Sepatunya.”
“mana..”
“itu”
“hahahhah”, Eya tertawa melihat seorang (mungkin) mahasiswa menggunakan celana bahan dan kemeja tapi dilengkapi dengan sepatu sepakbola berpull besi.
Orang-orang melihat kami.
“ssssttt kamu mah… jangan kenceng-kenceng..”, saya menempelkan jari di mulut Saya, bukan mulut sopir Damri.
“Atuda…hahahha”
Mungkin kami keterlaluan, siapa tahun si mahasiswa bersepatu sepakbola tersebut, mau langsung main bola sepulang kuliah atau sepatu yang biasanya dipakai kuliah kebasahan. Entah. Tapi memang terlihat aneh sekali.
Manusia manusia di bis tersebut sibuk berpagi-pagi mencari ilmu, mencari uang, mencari lain-lain, jika digeneralisir sibuk mencari rizki. Sama seperti saya dan Eya sibuk mencari kebahagian dan kesenangan, itu rizki paling hakiki, versi kami.
Bis pun mulai melaju, di sekitaran gedung sate, seorang pengamen naik, necis sekali gayanya. Jreng. Dengan diawali pidato permohonan maaf dan izin mengganggu yang cepat. “Jreng jreng”, belum nyanyi, masih nyetel senar. Satu lagu sebagai pembuka menuju aktifitas pagi Bapak-Ibu. “Jreng” , kini benar gitar dipetik, saya awalnya melihat gaya penampilannya berprasangka akan menyanyi sejenis Iwan Fals atau Ebiet, ternyata membawakan lagu “If You Were My Baby” – Rick Price. Edannn.
Eya tampak menikmati. jari-jari kami saling mencari, dan bertemu diantara kursi tempat duduk kami. Saya selalu suka kombinasi antara Eya dan pagi hari.
Setelah sampai jatinangor, Kami masuk wilayah kampus Jatinangor Unpad. Kampusnya besar sekali, kami jalan kaki dari ujung ke ujung, dari gerbang utama sampai fakultas peternakan. Di beberapa Fakultas, Kami memutuskan masuk melihat suasananya. Sekedar ingin tahu beberapa disiplin ilmu yang entah kami berpikir bagaimana cara belajarnya.
Saat sedang berjalan di FMIPA, Eya bertanya sesuatu yang menggelitik.
“Kamu kuliah di manajemen kepaksa gak sih? Itu emang mau kamu, atau emang gak ada pilihan?”
“Iya pas dulu SPMB, bingung aja, Aku asal isi soalnya temen juga banyak yg milih manajemen, eh yang masuk aku doang ke UNDUR”
“ohh, kalau aku gak tau kenapa dari dulu sebenernya pengen masuk jurusan sastra yang kurang popular, kaya sastra Nepal, sastra Swahili,dll hahahhaha”
“kenapa? Aneh loh..”
“Iya ada semacam kebanggaan Pej , saat kita mempelajari sesuatu yang jarang diketahui orang banyak.. ”, Eya berseloroh.
“tapi, semakin dewasa, kita berbenturan dengan kenyataan bahwa jurusan kita harus yang bonafit, gampang kerja, dll.. even kita gak terlalu suka , iya gak?”
“betul, ditambah intervensi orang lain,, anak SMA jaman sekarang kurang tahu jurusan ini belajar apa jurusan ini belajar apa ”
“Iya ey, bahkan dalam memilih jurusan kuliah pun kita tidak memiliki kedaulatan…lah kenapa jadi ngomong beginian yah..”
“hahahhaha absurd dan sok betul”
….
Siang itu, ketika Matahari Jatinangor menguras keringat. Diantara berbagai tema percakapan yang aneh, dua manusia asyik menghitung jumlah gedung di kompleks Unpad Jatinangor. Berpacaran dengan Eya tidak melulu soal menonton film di bioskop atau makan di tempat yang mahal, terkadang sekedar melihat dan melakukan hal- hal yang biasa bisa menjadi menyenangkan. Balik lagi, dengan Eya apapun menjadi terasa berkualitas.
#Enjoykan Saya, Eng, dan beberapa alumni 234 lain sempat memiliki satu klub futsal, bernama 234 coret. 234 Coret sendiri biasa berlatih tiap kamis sore, namun dengan kesibukan anggotanya, klub menjadi tidak aktif, hanya beberapa saja yang sering berlatih. Beberapa teman dipanggil sekedar menggenapkan jumlah tiap waktu latihan. Hingga pada akhirnya 234 coret punah dari peradaban.
Namun karena kecintaan Saya terhadap futsal, Saya akhirnya membentuk klub sendiri. Hanya ada 5 orang pas. Saya, duo bokep PGSD UNCAR Dangsky – Eng, Galih –masih ex 234 coret, dan Tandi – teman SMP saya. Dan Isan sebagai additional saja, mengingat Isan yang sekedar tahu mana gawang lawan mana gawang lawan sendiri saja susah. Isan hanya dilibatkan jika kasus –kasus tertentu, seperti permainan harus berenam karena perkara ukuran lapangan yang lebih besar dari standar. Ironisnya, dari 6 orang ini tidak ada yang berbakat jadi kiper, kami bergantian tiap kemasukan.
Tim ini bernama De Beak Dengkaks Futsal Club (DBD FC) diambil dari bahasa Belanda yang berarti sampai lelah ngangkang ngangkang. Permainan kami sangat fenomenal dan enerjik, bahkan Eng bisa drible melewati lawan, dari gawang kami sampai gawang lawan dan balik lagi ke gawang kami lalu ke gawang lawan lagi. Kendalanya adalah kami terlalu sering kemasukan gol.
Eng tipikalnya sebagai pengacak lawan, kemampuan individunya tidak bisa diremehkan, sempat mengenyam rumput SSB UNI, namun kemampuan shootingnya parah, akurasi 10% power 30% , 60% lagi gaya. Pernah satu saat ketika melawan tim anak mahasiswa Medan, Eng melewati tiga pemain lalu melakukan tendangan di depan gawang, sangat keren, namun tendangannya hanya mengenai jaring pembatas lapangan, keras? Hanya menggelinding.

Dangsky lain lagi, dia sejenis Inzaghi. Pemalas dan jarang rolling posisi, namun anehnya dengan gaya yang tidak meyakinkan, tendangannya seringkali masuk. Hanya dengan menggoyangkan pinggul saja bola bisa masuk, tapi aktifitas “penyalahgunaan sabun” yang keterlaluan membuatnya hanya bisa sekitar 10 menit berada di lapangan, sisanya minum pocari sweat pinggir lapangan.
Galih, jago, shoot kencang, lari cepat, namun emosinya cepat naik juga. Dari 10 pertandingan persahabatan yang dilakukan, 5 diantaranya berakhir dengan adu jotos.
Tendi, jika ada istilah kapten, dia orangnya, santai, defend-attack sama kokohnya. Tidak ada yang kurang, kecuali sering ngutang bayar lapang
. Saya, biasa saja main futsal, taktis dan main aman ala Busquet, disitulah justru titik fundamentalnya. Jika di Barcelona ada Busquet’s Role. Maka di DBD ada Jep’s Role.
---
Dan Rahmat Sang Raja Jin sepertinya memang diturunkan Tuhan untuk membantu DBD. Rahmat yang zaman saya kecil suka jadi kiper sepertinya cocok untuk melengkapi puzzle tim ini. Satu waktu saya SMS si Rahmat.
“Mat masih suka ngiperan?”
“masih masih..kenapa emang?”
“urang butuh kiper euy, kalo ga sibuk ikut latihan sama tim urang lah, bisa?”
“Insya Allah bisa, kapan?”
“Rebo depan, bisa?”
“Enya, sip sip”
“Okeh , nuhun bro nya”
“sami-sami”
--
Rabu itu seperti yang dijanjikan Rahmat hadir. Stelannya keren botak, tinggi, dan kekar. Cocok nih satu domba Garut. Kali itu, lawan Saya adalah teman – teman seangkatan saya di Manajemen.
Prittt…

Kick off dimulai, Tim Manajemen UNDUR langsung menyerang, Saya telat menutup gerakan Sony, Sony berhadapan dengan Rahmat, Sony mengecoh dengan mengoper bola kepada Rio. Rio menghantam bola dengan kerasnya. Bola dengan mudahnya ditangkap Rahmat menggunakan satu tangan. Disitu Saya yakin Rahmat Raja Jin memang kiper yang tepat buat kami. Semua yang ada di lapangan hanya bengong melihat kejadian tersebut.
Pertandingan berkesudahan dengan skor 11 – 2 untuk kemenangan tim DBD. Rahmat yang berasal dari Garut, seakan kemasukan arwah Domba Garut saja, kokoh dan gaya di bawah mistar gawang. Pedemeter kami 457%.

Akhirnya, karena tim dirasa sudah sangat kompak, hampir tiap minggu uji tanding, dan hasilnya semua menang. Tidak bisa dipungkiri ada faktor Rahmat dengan segala kemistikannya yang berperan besar.
Satu hari kenalan Galih mengajak bertanding nama timnya Al-Maidah. Sempat bingung saya, itu tim futsal atau kelompok Qasidah. Namun Al-Maidah ini sudah cukup terkenal, beberapa pemainnya malah ada yang berstatus pemain PON Jabar. Al-Maidah yang berate hidangan ini, ternyata tidak menyukai sistem taruhan yang kalah bayar lapang, justru uniknya yang kalah harus traktir makan. Dari situlah nama Al-Maidah berasal. Hari Jumat, kami akan bertanding, mari kita lihat apakah De Beak Dengkaks atau Al-Maidah yang harus membayar bill Rumah Makan?
…
Sehari Sebelum Pertandingan
Saya kebetulan tidak ada jadwal hari itu, Saya ajak Eya bermain malam sebelumnya. Eya menolak karena ada kuliah, namun karena rasa cintanya yang terlalu dalam, Eya pun tak kuasa berkilah.
Saya jalan campur naik angkot ke rumah Eya, matahari bahkan belum bangun. Eya keheranan sepagi itu Saya sudah bangun dan berada di rumahnya.
“Mau kemana ganteng pagi-pagi udah gaya?”
“Udah ayo ikut, kita ke sawah..”
“Sawah?..”
“Ayo ikut ajalah”
Kami pun berangkat entah mau kemana Saya juga tidak tahu, asal saja. Niatan awal saya hanya mau melihatnya dari pagi sekali, itu saja.
“Kirain aku teh kamu punya rencana kemana gitu”, Eya ketus.
“hehehe tadi aku gak bisa tidur lagi, Cuma pengen ketemu kamu..”. Alibi.
“jalan kaki aja we keliling kota atau nggak naek DAMRI aja yuk ..”, Eya mulai iseng.
“yaudah lah hayu”
Tak tahu ini keberapa kalinya kami memustuskan pergi keluar tanpa rencana. Namun kadang justru hal-hal seperti inilah yang sering berakhir dengan menyenangkan. “Mengikuti rencana Tuhan” kalau menurut istilah Eya. Dan hal ini seperti miniature dari keseluruhan hidup kita. Kita bingung kenapa kita dilahirkan, Kita bingung dan disorientasi dalam hidup, mau kemana, jadi apa, nikah dengan siapa dll. Hidup perihal pindah dari satu kebingungan satu ke kebingungan yang lain. Namun esensinya bukan itu, tapi dengan siapa kita melewati kebingungan itu. Dan bersama Eya hari itu, mau ke Ujung dunia, Ujung Genteng, atau Ujungpandang pun Saya mau.
Kami pun berjalan dari Terusan Jakarta sampai Alun-Alun, dari Alun-Alun ke Stasiun, lalu jalan mengarah ke sekitar Balai Kota. Di depan SMK 1, Kami duduk dulu sambil mengkonsumsi Sabu, Sarapan Bubur sekaligus Sarapan Bujur budak SMK.
Dari sana, kami naik Damri menuju DU. Dari DU lanjut ke Jatinangor. Bus yang setengahnya terisi mahasiswa Unpad Jatinangor asal kota Bandung, sisanya karyawan. Eya mengajak tebak-tebakan.
“Pej, menurut kamu di damri ini ada yang blahbloh* kaya kita gak?”
*) blahbloh (bahasa Uganda) = bingung, ceilingak celinguk’
“kayanya gak ada, semua orang mau kuliah sama mau kerja..”
“Kita gak ada kerjaan gini sih? Hahaha”
“iya, orang blahbloh kaya kita mah blom pada keluar belum bangun kali..”
“Iya juga ya..entar jam 9 10 baru banyak yg kaya kita nongol..”, Eya setuju.
“Eh Ey, liat itu arah jam 11? Sepatunya.”
“mana..”
“itu”
“hahahhah”, Eya tertawa melihat seorang (mungkin) mahasiswa menggunakan celana bahan dan kemeja tapi dilengkapi dengan sepatu sepakbola berpull besi.
Orang-orang melihat kami.
“ssssttt kamu mah… jangan kenceng-kenceng..”, saya menempelkan jari di mulut Saya, bukan mulut sopir Damri.
“Atuda…hahahha”
Mungkin kami keterlaluan, siapa tahun si mahasiswa bersepatu sepakbola tersebut, mau langsung main bola sepulang kuliah atau sepatu yang biasanya dipakai kuliah kebasahan. Entah. Tapi memang terlihat aneh sekali.
Manusia manusia di bis tersebut sibuk berpagi-pagi mencari ilmu, mencari uang, mencari lain-lain, jika digeneralisir sibuk mencari rizki. Sama seperti saya dan Eya sibuk mencari kebahagian dan kesenangan, itu rizki paling hakiki, versi kami.
Bis pun mulai melaju, di sekitaran gedung sate, seorang pengamen naik, necis sekali gayanya. Jreng. Dengan diawali pidato permohonan maaf dan izin mengganggu yang cepat. “Jreng jreng”, belum nyanyi, masih nyetel senar. Satu lagu sebagai pembuka menuju aktifitas pagi Bapak-Ibu. “Jreng” , kini benar gitar dipetik, saya awalnya melihat gaya penampilannya berprasangka akan menyanyi sejenis Iwan Fals atau Ebiet, ternyata membawakan lagu “If You Were My Baby” – Rick Price. Edannn.
" I never be lonely, If You were my only love"
"if you were my baby"
"I take my last breath before I would let you go"
"and I promise I love you forever"
"and ever.."
"If you were my baby"
"if you were my baby"
"I take my last breath before I would let you go"
"and I promise I love you forever"
"and ever.."
"If you were my baby"
Eya tampak menikmati. jari-jari kami saling mencari, dan bertemu diantara kursi tempat duduk kami. Saya selalu suka kombinasi antara Eya dan pagi hari.

Setelah sampai jatinangor, Kami masuk wilayah kampus Jatinangor Unpad. Kampusnya besar sekali, kami jalan kaki dari ujung ke ujung, dari gerbang utama sampai fakultas peternakan. Di beberapa Fakultas, Kami memutuskan masuk melihat suasananya. Sekedar ingin tahu beberapa disiplin ilmu yang entah kami berpikir bagaimana cara belajarnya.
Saat sedang berjalan di FMIPA, Eya bertanya sesuatu yang menggelitik.
“Kamu kuliah di manajemen kepaksa gak sih? Itu emang mau kamu, atau emang gak ada pilihan?”
“Iya pas dulu SPMB, bingung aja, Aku asal isi soalnya temen juga banyak yg milih manajemen, eh yang masuk aku doang ke UNDUR”
“ohh, kalau aku gak tau kenapa dari dulu sebenernya pengen masuk jurusan sastra yang kurang popular, kaya sastra Nepal, sastra Swahili,dll hahahhaha”
“kenapa? Aneh loh..”
“Iya ada semacam kebanggaan Pej , saat kita mempelajari sesuatu yang jarang diketahui orang banyak.. ”, Eya berseloroh.
“tapi, semakin dewasa, kita berbenturan dengan kenyataan bahwa jurusan kita harus yang bonafit, gampang kerja, dll.. even kita gak terlalu suka , iya gak?”
“betul, ditambah intervensi orang lain,, anak SMA jaman sekarang kurang tahu jurusan ini belajar apa jurusan ini belajar apa ”
“Iya ey, bahkan dalam memilih jurusan kuliah pun kita tidak memiliki kedaulatan…lah kenapa jadi ngomong beginian yah..”
“hahahhaha absurd dan sok betul”
….
Siang itu, ketika Matahari Jatinangor menguras keringat. Diantara berbagai tema percakapan yang aneh, dua manusia asyik menghitung jumlah gedung di kompleks Unpad Jatinangor. Berpacaran dengan Eya tidak melulu soal menonton film di bioskop atau makan di tempat yang mahal, terkadang sekedar melihat dan melakukan hal- hal yang biasa bisa menjadi menyenangkan. Balik lagi, dengan Eya apapun menjadi terasa berkualitas.
Diubah oleh alanam 09-03-2015 18:03
rafifdx memberi reputasi
2
”, sambil berjabat tangan.