- Beranda
- Sejarah & Xenology
Maximilien de Robespierre, Revolusioner yang di Fitnah
...
TS
renai.watson
Maximilien de Robespierre, Revolusioner yang di Fitnah
Mohon bila ingin copy-paste cantumkan sumber. Saya menulis ini dengan hasil research yang tidak mudah dan saya benar-benar menghargai upaya Anda untuk tidak menyalin tanpa izin apalagi mengambil klaim intelektual.
Preface
Salut et fraternité!
Kita tidak bisa membicarakan Maximilien de Robespierre tanpa menyulut dua emosi dan dua kubu yang terus berseteru sejak lebih 220 tahun yang lalu: satu kubu mengutuk Robespierre dan satunya mengaguminya. Satu kubu mendukung pemikiran dan langkahnya, satu kubu menganggapnya kurang waras.
Merupakan hal yang terlalu sering terjadi, baik di media berbahasa asing maupun berbahasa Indonesia, terus-menerus membuat figur Maximilien de Robespierre seperti monster. Meskipun dalam buku, film dan video game membuat seseorang menjadi begitu jahat memang menarik dan seru, namun tidak memberikan keadilan apapun bagi manusia-manusia historis yang telah meninggal tersebut.
Siapa itu Robespierre? Mengapa hanya dengan beberapa tahun perannya dalam jungkir-balik politik Perancis membuat namanya terus dikenang hingga 220 tahun setelah kematiannya? Benarkah ia bertanggung jawab terhadap lebih dari belasan ribu jiwa yang dibantai pada masa itu? Benarkah ia seorang diktator yang haus darah? Atau seperti kata Napoleon Bonaparte bahwa Robespierre hanya korban fitnah dari musuh-musuhnya yang menginginkan ia jatuh?
Saya berupaya menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan ini setelah saya membaca sumber-sumber dan opini yang berbahasa asing (baik Inggris atau Perancis), dan mengabaikan apa yang ditulis dalam media berbahasa Indonesia karena buramnya fakta dan ketidakjelasan sumber. Kita tidak bisa memahami Revolusi Perancis dan apa itu sebuah revolusi bila kita tidak mengenal Robespierre terlebih dahulu.
Oh ya bila pembaca juga menyukai Robespierre, Revolusi Perancis dan L.A de Saint-Just silahkan kontak saya. Kita bisa bikin kelompok dimana kita bisa diskusi bareng-bareng dan sharing informasi!
Happy reading!

Pelukis: Mm. Labille-Guiard
Detail Personal :
Nama Baptis: Maximilien François Marie Isidore de Robespierre
Nama Panggilan: Candle of Arras, L'Incorruptible, The Roman
Kelahiran: 6 May 1758 di Arras, Provinsi Artois, Perancis.
Wafat: 28 Juli 1794 (36 tahun), atau 10 Thermidor Year II. Eksekusi guilotin, di Place de la Révolution, Paris, Perancis.
Agama: Deism (The Cult of Supreme Being)
Partai Politik: Jacobin, aliran sayap kiri
Pekerjaan: Pejabat pemerintahan, filsuf, pengacara, hakim, aktivis dan jurnalis.
Deskripsi fisik :
Diambil dari banyak sumber
Tinggi Robespierre termasuk dibawah rata-rata orang pada masa itu, hanya 160cm (5 kaki 3 inchi), dengan perawakan kurus dan kecil. Kulitnya dikatakan lebih pucat daripada warna kulit orang Perancis pada umumnya dengan mata berwarna hijau dan rambutnya panjang berwarna cokelat muda selalu di tutupi dengan powdered wig. Ekspresi wajahnya serius dan tenang, beberapa mengatakan kalau Robespierre berwajah ramah dan melankolis. Ada sedikit bekas cacar di pipinya karena ketika ia berumur 6 tahun terkena penyakit tersebut. Ia memiliki ‘facial twitch’ yang kadang menganggu mata dan mulutnya. Suaranya pelan, tidak bariton dan ringan—ia kesulitan membesarkan volume suaranya. Kerap gemetar gugup saat membawakan pidato, sangat pemalu. Matanya lemah dan memerlukan kacamata. Sering terganggu kesehatan dan sistem imunnya, dapat jatuh sakit dari berhari-hari sampai berminggu-minggu.
Ada suatu sumber yang agak diragukan namun mengklaim pernah hidup bersama Robespierre bercerita kalau Robespierre sering bangun dengan hidung dan bantal penuh dengan darah, dan ada beberapa cerita (entah benar atau tidak) kalau Robespierre juga kerap pingsan. Robespierre juga memiliki gangguan pencernaan dan hampir selalu merasa kelelahan karena kurangnya istirahat dan bekerja terlalu keras.
Baru-baru ini Philippe Froesch dari Visual Forensic Laboratory (Barcelona) spesialis di 3D rekonstruksi wajah dan Philippe Charlier dari anthropology medis dan tim medico-legal dari Université de Versailles-St. Quentin (Perancis)—berpendapat kalau Robespierre sangat mungkin menderita sarcoidosis, sebuah penyakit auto-immune fatal yang menyerang organ serta jaringan tubuh penderitanya. Menurut mereka, meskipun Robespierre tidak di guilotin ia akan meninggal juga dalam usia muda karena digerogoti sistem immune-nya sendiri. Froesch dan Charlier bekerja sama merekonstruksi ulang seperti apa wajah Robespierre, namun para sejarawan menolak hasil rekonstruksi mereka yang bias dan tidak akurat. Rekonstruksi wajah berdasarkan 'death mask' milik Madame Tussauds dan sejak dahulu para sejarawan menganggap 'death mask' tersebut sebuah joke saja mengingat Madam Tussauds tidak mungkin memiliki akses ke kepala Robespierre—kepala Robespierre langsung dikuburkan bersama jasadnya setelah ia dipenggal.
Diagnosis kalau Robespierre menderita sarcoidosis pun masih diragukan pula kebenarannya karena menurut Peter McPhee (salah satu sejarawan Revolusi Perancis dan penulis) jatuh-bangunnya kondisi kesehatan Robespierre lebih dikarenakan pekerjaan berat dan stress, tambah lagi Robespierre jarang beristirahat dan makan tidak benar.
Preface
Salut et fraternité!
Kita tidak bisa membicarakan Maximilien de Robespierre tanpa menyulut dua emosi dan dua kubu yang terus berseteru sejak lebih 220 tahun yang lalu: satu kubu mengutuk Robespierre dan satunya mengaguminya. Satu kubu mendukung pemikiran dan langkahnya, satu kubu menganggapnya kurang waras.
Merupakan hal yang terlalu sering terjadi, baik di media berbahasa asing maupun berbahasa Indonesia, terus-menerus membuat figur Maximilien de Robespierre seperti monster. Meskipun dalam buku, film dan video game membuat seseorang menjadi begitu jahat memang menarik dan seru, namun tidak memberikan keadilan apapun bagi manusia-manusia historis yang telah meninggal tersebut.
Siapa itu Robespierre? Mengapa hanya dengan beberapa tahun perannya dalam jungkir-balik politik Perancis membuat namanya terus dikenang hingga 220 tahun setelah kematiannya? Benarkah ia bertanggung jawab terhadap lebih dari belasan ribu jiwa yang dibantai pada masa itu? Benarkah ia seorang diktator yang haus darah? Atau seperti kata Napoleon Bonaparte bahwa Robespierre hanya korban fitnah dari musuh-musuhnya yang menginginkan ia jatuh?
Saya berupaya menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan ini setelah saya membaca sumber-sumber dan opini yang berbahasa asing (baik Inggris atau Perancis), dan mengabaikan apa yang ditulis dalam media berbahasa Indonesia karena buramnya fakta dan ketidakjelasan sumber. Kita tidak bisa memahami Revolusi Perancis dan apa itu sebuah revolusi bila kita tidak mengenal Robespierre terlebih dahulu.
Spoiler for Q&A:
Oh ya bila pembaca juga menyukai Robespierre, Revolusi Perancis dan L.A de Saint-Just silahkan kontak saya. Kita bisa bikin kelompok dimana kita bisa diskusi bareng-bareng dan sharing informasi!
Happy reading!

Pelukis: Mm. Labille-Guiard
Detail Personal :
Nama Baptis: Maximilien François Marie Isidore de Robespierre
Nama Panggilan: Candle of Arras, L'Incorruptible, The Roman
Kelahiran: 6 May 1758 di Arras, Provinsi Artois, Perancis.
Wafat: 28 Juli 1794 (36 tahun), atau 10 Thermidor Year II. Eksekusi guilotin, di Place de la Révolution, Paris, Perancis.
Agama: Deism (The Cult of Supreme Being)
Partai Politik: Jacobin, aliran sayap kiri
Pekerjaan: Pejabat pemerintahan, filsuf, pengacara, hakim, aktivis dan jurnalis.
Deskripsi fisik :
Diambil dari banyak sumber
Tinggi Robespierre termasuk dibawah rata-rata orang pada masa itu, hanya 160cm (5 kaki 3 inchi), dengan perawakan kurus dan kecil. Kulitnya dikatakan lebih pucat daripada warna kulit orang Perancis pada umumnya dengan mata berwarna hijau dan rambutnya panjang berwarna cokelat muda selalu di tutupi dengan powdered wig. Ekspresi wajahnya serius dan tenang, beberapa mengatakan kalau Robespierre berwajah ramah dan melankolis. Ada sedikit bekas cacar di pipinya karena ketika ia berumur 6 tahun terkena penyakit tersebut. Ia memiliki ‘facial twitch’ yang kadang menganggu mata dan mulutnya. Suaranya pelan, tidak bariton dan ringan—ia kesulitan membesarkan volume suaranya. Kerap gemetar gugup saat membawakan pidato, sangat pemalu. Matanya lemah dan memerlukan kacamata. Sering terganggu kesehatan dan sistem imunnya, dapat jatuh sakit dari berhari-hari sampai berminggu-minggu.
Ada suatu sumber yang agak diragukan namun mengklaim pernah hidup bersama Robespierre bercerita kalau Robespierre sering bangun dengan hidung dan bantal penuh dengan darah, dan ada beberapa cerita (entah benar atau tidak) kalau Robespierre juga kerap pingsan. Robespierre juga memiliki gangguan pencernaan dan hampir selalu merasa kelelahan karena kurangnya istirahat dan bekerja terlalu keras.
Baru-baru ini Philippe Froesch dari Visual Forensic Laboratory (Barcelona) spesialis di 3D rekonstruksi wajah dan Philippe Charlier dari anthropology medis dan tim medico-legal dari Université de Versailles-St. Quentin (Perancis)—berpendapat kalau Robespierre sangat mungkin menderita sarcoidosis, sebuah penyakit auto-immune fatal yang menyerang organ serta jaringan tubuh penderitanya. Menurut mereka, meskipun Robespierre tidak di guilotin ia akan meninggal juga dalam usia muda karena digerogoti sistem immune-nya sendiri. Froesch dan Charlier bekerja sama merekonstruksi ulang seperti apa wajah Robespierre, namun para sejarawan menolak hasil rekonstruksi mereka yang bias dan tidak akurat. Rekonstruksi wajah berdasarkan 'death mask' milik Madame Tussauds dan sejak dahulu para sejarawan menganggap 'death mask' tersebut sebuah joke saja mengingat Madam Tussauds tidak mungkin memiliki akses ke kepala Robespierre—kepala Robespierre langsung dikuburkan bersama jasadnya setelah ia dipenggal.
Diagnosis kalau Robespierre menderita sarcoidosis pun masih diragukan pula kebenarannya karena menurut Peter McPhee (salah satu sejarawan Revolusi Perancis dan penulis) jatuh-bangunnya kondisi kesehatan Robespierre lebih dikarenakan pekerjaan berat dan stress, tambah lagi Robespierre jarang beristirahat dan makan tidak benar.
Spoiler for Trivia:
Spoiler for Biografi Singkat Robespierre:
Diubah oleh renai.watson 02-03-2015 11:30
tien212700 memberi reputasi
1
13.6K
25
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
renai.watson
#18
Quote:
Iya, memang benar ada perdebatan sengit mengenai nasib Louis XVI, kita bisa lihat dari jumlah vote yang menginginkan mati atau di deportasi. Setelah Louis dan Girondins medeklarasikan perang ke Austria dan Prussia, Louis tahu betul kalau Perancis tidak akan menang dikepung seperti itu. Dia ingin agar monarki absolut di restorasi lagi - pikirkan! Jika seandainya Louis dan pendahulunya sudah enak menikmati power seumur hidupnya serta kenikmatan lain (setahun digaji jutaan livres) apakah dia mau tiba-tiba datang sekelompok kaum borjuis berpendidikan ingin berbagi kekuasaan pula melalui Declaration of Rights? Ingin berbagi kekuasaan dengan rakyat juga? Sudah tentu dia tidak mau, seperti kaum royalis dan clergy yang tidak ingin membayar pajak atau kebebasan menempati posisi pemerintahan tanpa pandang bulu. French Revolution adalah tonggak sejarah modern dan pencetus nasionalisme. Kaum royalis dan bangsawan yang kebanyakan konservatif akan mempertahankan hak lamanya. Jadi kita berbicara mengenai peralihan antara dunia lama ke dunia baru, selalu ada penolakan disana terutama dengan pihak yang diuntungkan dengan kebijakan lama. Louis XVI juga di tentang dengan kaum royalis dan bangsawan yang tak mau membayar pajak juga, setelah Seven Years War ekonomi Perancis mengalami keterpurukan. Louis tidak memikirkan konsekuensi dukungannya terhadap tentara asing, akibat deklarasi perangnya itu Perancis banyak makan korban peperangan, sampai beberapa tahun kemudian, belum lagi pemberontakan dalam negeri - semua hanya karena kekerasan kepala Louis XVI dan kaum bangsawan mempertahankan posisinya. Louis hidup atau tidak simpatisan monarki pasti tidak suka melihat hak raja dikurangi bahkan dicabut.
Jika Louis XVI bisa berkelit dari pengadilan karena Konstitusi 1791 seperti yang barusan Anda terangkan, itu tidak mengubah fakta kalau dia sudah berbuat kekejaman terhadap rakyatnya. Senangkah kita dengan orang yang 'get away' dan lolos karena bolongnya konstitusi? Orang yang sudah membuat bangkrut negaranya hanya karena dendam Inggris menang lantas membuat jebol baitul mal dengan dukungan mahal ke Amerika? Uang yang dikeluarkan bisa memberi makan jutaan rakyat Perancis selama setahun. Padahal musim panen sedang buruk, kelaparan dimana-mana. Jangan katakan kalau Louis XVI naik tahta masih muda, itu bukan execuse yang baik. Saya senang dengan penerangan Anda terhadap Konstitusi 1791 dan semoga kita mendapatkan manfaat dari ini, tapi perkataan Anda barusan bisa membuat seorang kriminal lolos dari dosanya, memanfaatkan longgarnya konstitusi - saya jadi ingat perontokan kekuasaan Presiden Mesir dan akhirnya ia jatuh lalu diadili - itu benar. Pengadilan Louis XVI, dengan draft yang ditulis Robert Lindet memuat 33 dakwaan, kemudian ia diadili layaknya penguasa yang mempertanggungjawabkan kebijakannya seharusnya bukan hal yang aneh. Selain itu para republicans mengobrak-abrik barang Louis XVI dan ditemukan banyak surat-surat ke negara asing mengenai plot penghancuran revolusi, bahkan menyuap beberapa deputi seperti Mirabeau. Saya tidak membaca Konstitusi 1791 sepenuhnya, tapi jika mereka melompati lubang konstitusi agar seorang raja bisa diadili atas perbuatannya, itu tidak salah.
Setelah diadili, apakah Louis pantas mati? Kita bisa berbicara dari sisi humanis atau politis - seperti Anda yang menulis mengenai sisi legal atau keamanan nasional membunuh raja. Louis sudah membuat deklarasi perang yang membuat banyak rakyat Perancis mati, tanggal 20 April 1792 (Robespierre dan sebagian kecil orang melawan deklarasi perang ini, dan karena tidak populer maka di isolasi secara politik.) Bagi mereka, Louis pantas mati karena dia sudah menyebabkan banyak kesengsaraan dan kematian - perang berkepanjangan, dsb. Tapi dari sisi keamanan negara Louis mati atau hidup tidak ada pengaruhnya. Kenapa?
Karena Austria dan Prussia datang ke Perancis sudah dengan hasrat membantai, semenjak Louis hidup, mereka di dukung dari kaum royalis - Marie Antoinette salah satunya. Selain itu mereka datang untuk menghancurkan ide-ide revolusi yang ditakutkannya menyebar ke negara-negara mereka. Jika Louis mati, sama saja seperti matinya pendukung invasi asing, konspirator - Louis tidak se-innocent yang dipikirkan. Hidup atau mati Louis, tentara asing tetap menyerang dengan ganas, simpatisan raja dan bangsawan tetap membenci ide revolusi. Kaum kontra-revolusioner dan negara asing tidak akan berhenti sampai monarki absolut direstorasi dan Louis XVI dikembalikan kekuasaan mutlaknya. Melenyapkan Louis XVI sama dengan melenyapkan musuh dibelakang mereka. Saya setuju dengan Robespierre, apa gunanya mengusik raja dan keluarganya? Tapi perang terus-menerus terjadi, bahkan waktu Louis XVI hidup Perancis kalah melulu. Mendeportasi Louis XVI dan keluarganya (atau royalis lain) apakah menjamin dia tidak akan bergabung dengan negara lain dan menginvasi Perancis? Bukankah itu yang diinginkan negara asing, Louis dan keluarganya bisa keluar dari Perancis? Ingat, mereka pernah mencoba lari dan tertangkap di Varennes karena ingin bergabung dengan negara asing - Varennes dekat perbatasan Austria, tempat orang tua Marie Antoinette memerintah - sebelum Louis pergi saja dia meninggalkan surat dimejanya berisi keluhan dan kekesalannya terhadap revolusi dan Assembly. Raja sebagai tawanan saja tentara asing masih brutal memasuki Perancis (menghancurkan desa-desa, merudapaksa para wanita, membunuh, dsb) - tapi setelah raja dibunuh, negara asing kehilangan sebagian tujuan mereka menginvasi Perancis, mereka yang awalnya hendak menyelamatkan raja dari demokrasi dan mengembalikan monarki jadi hilang.
Selain itu ada dua tipe pembunuhan raja, pertama karena perebutan tahta dikalangan keluarga raja [dan monarki masih utuh], kedua pembunuhan raja atas nama revolusi untuk menghancurkan kemistisan monarki dan kekuatan absolutnya. Louis XVI dibunuh karena perlu: menghancurkan tekanan otoritas monarki yang selama ini ditakuti dan mempraktikan kalau hukum tidak tajam ke bawah tumpul keatas - semua orang mendapat perlakuan sama di depan hukum, raja sekalipun… Anda bisa membaca buku karya Michael Walzer, Regicide and Revolution - Speeches at The Trial of Louis XVI, argumennya tentang eksekusi Louis merupakan hal penting demi keberlangsungan revolusi.
Revolusi Italia, seperti kata Mack Smith, mengikuti apa yang terjadi di Inggris dan Perancis (1789). Mereka banyak belajar atas apa yang terjadi di dua negara itu - kekuasaan rakyat mengalahkan kekuasaan raja. Raja Italia dengan menggerutu menerima konstitusi, daripada diganyang seperti Charles I dan Louis XVI. True, seperti kata Mirabeau, yang penting bukan bagaimana memulai revolusi tapi sejauh mana kita mempertahankannya. Hell, Louis XVIII saja setelah kejatuhan Napoleon kembali memerintah. Perseteruan menuntut demokrasi di Perancis akan terus berlanjut akibat 1789 - dua kekaisaran, tiga monarki dan dua republik.
Saya bukan haus terhadap darah Louis XVI tapi saya rasa kematian dia memang tidak terelakkan. Kesalahan terbesar Louis XVI adalah dia tidak cocok menjadi raja karena sifatnya.
Quote:
Robespierre tidak pernah menyukai instrumen terror, sebagian deputi menyalahgunakan Hukum 22 Prairial - penyalahgunaan hukum ini yang menyebabkan mimpi buruk Terror terjadi. Kita tidak bisa menyiram Robespierre dengan semua dosa pembunuhan sementara dia mengutuk deputi-deputi yang seenaknya membunuh para pemberontak secara keji di provinsi-provinsi mereka bertugas - Fouche, Carrier, d'Herbois, dsb. Bahkan Saint-Just deputi terdekat Robespierre tidak pernah melakukan pembunuhan massal, sebaliknya justru berkat kecerdasan berorganisasinya pasukan provinsi mengalami kemenangan atas tentara asing (seperti Fleurus). Yang menentukan siapa yang mati dan tidak bukanPublic Safety tempat Saint-Just dan Robespierre berada. Komite ini tidak bisa seenaknya ikut campur otonomi komite lain. Meskipun begitu, jika seandainya Perancis tidak mengambil kebijakan Terror, Perancis akan remuk-redam akibat serangan internal dan eksternal.
Saya tidak akan sejauh itu mengatakan Robespierre haus kekuasaan dan memiliki pengaruh sebesar itu sampai bisa menyetir National Convention - jika dia haus kekuasaan mengapa ia mengajukan dekrit yang ia tahu akan membuatnya hilang posisinya sebagai deputi Assembly? Selain itu jika kita membaca mengenai psikologi kepribadian, kita bisa menarik kesimpulan seperti apa pribadi Robespierre lewat tulisannya dan perbuatannya - saya sama sekali tidak melihat indikasi dia sebagai tirani. Hanya sebagian Montagnard yang korup, sebagian tidak. Jika Robespierre memiliki banyak pengaruh seperti yang Anda katakan, ia tidak akan digulingkan dan difitnah setelah kematiannya. Rakyat kecil banyak menyukai Robespierre karena ide-idenya, tapi bukan berarti banyak deputi juga yang tunduk dengannya. Ia juga sering kalah dalam pemungutan suara - salah satunya ia tidak berhasil menyelamatkan Mme. Elizabeth, saudari Louis XVI, dari guillotin gara-gara banyak deputi yang setuju dengan d'Herbois.
Suspensi Konstitusi 1793 merupakan keharusan - saya yakin Anda membaca Konstitusi 1793 karena saya rasa Anda orang berpengetahuan, tapi saya merasa Anda kehilangan 'the big picture'. Konstitusi 1793 memuat demokrasi modern - tapi kebijakan pemerintah pada masa damai tidak bisa diterapkan pada masa darurat perang. Exceptional situations needs exceptional measures. Kebijakan itu akan dilaksanakan jika tidak ada lagi situasi serang-dan-bertahan. Peperangan Perancis adalah perang defensif. Kekerasan ala binatang yang dilakukan rakyat akan berhenti jika rakyat melihat pemerintahannya mengambil keadilan dari tangan rakyatnya - contoh: pembunuhan massal tahanan di bulan September. Tentu saja ini tidak berarti pemerintah bisa melakukan pembunuhan massal - kembali ke poin tadi, penyelewengan Hukum 22 Prairial dan kegagalan menjalankan Hukum Ventose yang membuat pemerintahan Terror berdarah terjadi - dua hal ini juga yang membuat Robespierre berseteru dengan deputi-deputi lain. Bahkan saat Hukum 22 Prairial mau dilegalkan, tidak ditemukan tandatangan Robespierre. Robespierre membenci instrumen membunuh, begitu juga Saint-Just serta koleganya. Robespierre melawan kekejaman deputi lain, ia bahkan dituduh moderat. Matinya Robespierre, kata Belloc, merupakan hal ironis: "trying to do the opposite of the very thing which he was popularly supposed to be doing, and his death and removal largely achieved what he was trying to accomplish [the removal of tyranny/dictator].”
Dari Oxford History of the French Revolution oleh William Doyle:
As to Robespierre himself, he was never a dictator, and there is no reliable evidence to suggest that it was his aim…men called him a dictator because they feared moral inflexibility in one who had power. After they had destroyed him, they used the charge to justify what they had done. It also enabled them to blame him for acts they themselves had helped to commit, but which became increasingly a subject for shame, recrimination, and revenge during the months of retreat from terror and ruthless government which now began.
Menyedihkan melihat brutalnya manusia menumpahkan darah, tapi kita yang dimanjakan demokrasi sulit melihat sengsaranya mereka yang menuntut demokrasi. Seperti peribahasa lama "revolutions are not made with rose water", lebih tepatnya perlawanan melawan despotisme/monarki yang menekan rakyatnya akan selalu diiringi darah. Sangat disayangkan tapi tidak bisa dihindari, terutama melawan royalis yang berupaya menghancurkan demokrasi. Saya akan mengutip kata-kata Robespierre, "Citizens, apakah kalian ingin revolusi tanpa revolusi?" apakah kita ingin kopi tanpa kafein, lemon tanpa rasa asam, atau cabai tanpa rasa pedas? Kita ingin sesuatu tanpa elemen kerasnya, padahal itu tidak terelakkan dan kalaupun dihilangkan otomatis akan menghilangkan maknanya juga.
Tentu saja saya disini tidak ngotot mempertahankan pandangan saya - pandangan seseorang merupakan cerminan nuraninya - dan jika Anda memiliki bukti yang bisa menjatuhkan pemahaman saya ini saya dengan senang menerimanya. After all, saya tidak pernah mengklaim kalau saya ahli sejarah.
Quote:
True that. Itulah resiko ketika kita menyuarakan pendapat yang tidak populer...
btw, welcome to the thread!Update:
Saya menulis "Bahkan saat Hukum 22 Prairial mau dilegalkan, tidak ditemukan tandatangan Robespierre." sebenarnya adalah:
Setelah diluluskan Hukum 22 Prairial, tanda tangan Robespierre begitu jarang ditemukan dalam perintah penangkapan atau eksekusi mati.
Diubah oleh renai.watson 13-04-2015 09:54
0



