- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#166
Partitur no. 38b : A Night That I Spend More Time With You
“Eh, itu yang baru kenal di twitteritu bukan sih?” ujar Rama sambil menunjuk orang yang dimaksud.
“Iya kayaknya, itu celingak-celinguk kayak lagi nyari orang..” kata gw.
“Yaudah aku samperin nih ya?” ujar Tasya yang belum gw iyain tapi dia udah ngacir duluan. Dan bener, dia langsung membawa orang yang baru kenal pada pagi hari itu kesini.
“Hai salam kenal ya..” ujar orang berkerudung tersebut dengan senyuman ramah. “Panggil gw Mbak Lis aja..” katanya lagi kemudian..
“Gw Iman..”
“Gw Rama, salam kenal ya..”
“Cuma berempat aja nih?” tanya nya dengan kebingungan.
“Iya nih, tapi katanya ada yang mau dateng lagi sih..” jawab gw sambil ngeliat timeline twitter. Nggak lama, kita berempat langsung akrab, karena obrolan kita nyambung.
“Yang mau dateng lagi Mbak Winda, ya?” tanya Tasya ke yang lain. Baru Tasya ngomong begitu, orang nya udah hadir di belakang Tasya persis dan menyapa dengan gembira nya.
“Hai!”
“Akhirnya dateng juga ditungguin dari tadi” kata Rama dengan nada bercanda.
“Iya nih, gw nyasar soalnya..” jawabnya sambil menarik kursi.
“Emang Mbak naik apa?” tanya gw sambil mengakrabkan diri.
“Naik busway..”
“Wah sama dong sama kita..” ujar gw sambil nunjuk Tasya.
“Berarti pulangnya barengan ya, gw juga naik busway tadi” kata Mbak Lis menimbruk obrolan tersebut.
“Pada buswayer semua ya, asik nih” kata Tasya dengan senang. Tak lama, obrolan kita mulai serius namun dengan tetap serius membahas seputar band yang cukup jarang dikenal di Indonesia ini. Bagaimana awal masing-masing dari kami suka terhadap band ini, lagu awal yang masing-masing kita dengerin, saling menukar referensi band-band sejenis atau genre lainnya, mengungkapkan rasa senang ketemu dengan orang yang menyukai jenis musik yang sama, sampai ke plan berikutnya untuk fanbase ini, hingga background masing-masing yang hadir.
“Terus gimana nih kelanjutannya? Jangan cuma sekali doang bikin acara kumpul-kumpul gin, kalo bisa bikin acara lagi” kata Rama mengusulkan.
“Boleh tuh, mau acara apa?” ujar gw menanyakan yang lain.
“Bentar lagi kan bulan puasa, kenapa nggak bikin acara bukber aja?” kata Tasya menyarankan.
“Bisa tuh. Konsepnya mau gimana?” tanya gw lagi ke yang lain.
“Kayak acara-acara bukber pada umumnya aja, kumpul-kumpul biasa. Cuma kalo mau tambahin acara akustikan” usul Rama dengan lancarnya.
“Ada yang mau main tapi nggak ya? Kita kan masih kecil banget ini..” jawab gw.
“Band lo aja, gimana, Man?” tanya Mbak Winda.
“Bisa sih, tapi masa gw doang..” jawab gw.
“Bikin panitianya aja dulu kalo begitu, urusan rundown acaranya nanti dulu, fokus ke pusat acaranya aja, bukber” kata Mbak Lis mengusulkan.
“Ada yang bawa kertas atau laptop, nggak? Buat dirapatin..” tanya Tasya tiba-tiba.
“Gw bawa nih..” ujar Mbak Winda sambil mau mengambil laptop di tasnya. “Tapi laptop gw bocor baterenya, nggak bisa lama-lama..”
“Permisi, Mas, Mbak. Ada yang mau pesan makanan atau minuman?” tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba datang ke meja kami disaat sedang asyik-asyiknya mengobrol. Ketika itu juga, sang Pelayan menyodorkan buku menu. Dengan perasaan penasaran berapa harga-harga makanan dan minuman disana, gw membuka buku menu tersebut. Mata gw seketika melotot melihat harga yang kurang bersahabat di kantong anak SMA seperti gw.
Yang lain karena sudah pada kerja, ada pula yang masih kuliah, maupun kerja sambil kuliah juga memesan, mungkin karena takut nggak enak sama yang punya tempatnya. Gw, dengan uang secukupnya, ikut memesan walaupun hanya minum. Tak membutuhkan waktu yang lama sampai pesanan datang ke meja kita.
“Eia lanjutin yang tadi.” pinta Mbak Winda yang laptopnya sudah menyala. “Jadi, siapa yang mau jadi ketuanya?” lanjutnya lagi.
“Si Iman aja..” kata Mbak Lis menyarankan.
“Nah boleh tuh..” ujar Rama menambahkan.
“Wakilnya siapa?” tanya gw.
“Rama aja, gimana?” usul Tasya.
“Ya, boleh aja sih gw mah..” jawabnya.
“Gw nggak mau megang uang ya” ujar Mbak Lis.
“Yaudah berarti lo aja yang jadi seketarisnya, Mbak” kata Mbak Winda. “Gw aja yang jadi Bendahara. Tasya kalo jadi konsumsi mau?”
“Boleh, tuh.” Jawabnya mengiyakan. Kepanitiaan pun akhirnya fix, dan menyetujui untuk rapat seminggu sekali atau sebisanya aja kapan untuk membahas lanjutan dari acara ini. Semuanya sangat semangat, walaupun sempat pesimis akan rame, bahkan, sempat terlintas untuk bukber hanya untuk kita-kita aja. Waktu menunjukan pukul setengah sepuluh menandakan semuanya harus kembali ke rumah masing-masing.
Ada sebuah kejadian lucu ketika Mbak Winda menanyakan ada yang membawa makanan atau nggak. Gw menjawab seinget gw membawa makanan kecil gitu, donut sih seinget gw. Namun, ketika gw keluarin dari tas gw itu, isinya cuma permen dalam jumlah yang cukup banyak. Yang lain langsung dengan muka hopeless gitu. “Makannya, jangan pake perasaan, Man!” kata semuanya karena gw bilang ‘perasaan gw bawa makanan’.
Ketika yang lain sudah berada di lift untuk turun kembali kebawah dan pulang, gw masih memandangi pemandangan yang indah ini. Sebagai orang Jakarta, gw merasa agak gagal karena baru kali ini melihat pemandangan indah dari atas ibu kota ini, seperti alter ego dari Kota yang padat ini.
Tasya pun datang ke arah gw. “Ayuk pulang sayang” katanya sambil memegang lengan gw.
“Sebentar dulu ya sayang..” jawab gw tanpa menengok.
“Bagus, ya, pemandangannya?” ujar Tasya ke gw. Gw pun mengangguk menyetujui perkataan itu. Ketika itu, Tasya mengikuti gw memandangi langit malam itu sambil memberikan tanda untuk teman-teman yang lain duluan aja turunnya. “Banyak orang ngeluh tentang Kota ini, begitu juga aku, walaupun gitu, Kota ini punya sesuatu sifat yang berlawanan. Terkadang bikin gedeg, tapi kadang bikin kangen juga.” ujar dia sambil ngerangkul gw.
Banyaknya Bintang pada malam itu menggambarkan sesuatu yang indah, menambah aura romantis dari sisi lain Jakarta pada malam itu. Banyaknya pengunjung pada malam itu tak membuat suasana di tempat itu terasa bising, tetap tenang dan romantis. Tak ada yang mengganggu ketenangan gw dan Tasya melihat pemandangan itu, kecuali sebuah telpon yang masuk menandakan hari itu harus berakhir...
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:48
0
