- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2276
PART 106
Gw tidur di sisi ranjang dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di kedua tangan. Sementara di ranjang itu sendiri ada Bunga yang juga tertidur pulas. Memasuki 1/3 malam gw terbangun akibat sebuah belaian lembut menyentuh kepala gw. Dan gw yakin ini tangannya Bunga sebab nggak mungkin kalo ini tangannya JURIG. Tapi gw tak bergeming lantas pura pura tidur sembari menikmati belaian itu.
"Jaar...." Dia memanggil nama gw.
"....." Gw pura pura tidur.
"Kenapa?" Tanya dia.
"(Kenapa apanya Bunga?)" Gw bertanya dalan hati.
"....."
"....."
Kemudian gw mendengar suara isak tangis membelah kesunyian di malam yang dingin ini. Perasaan serta isi hati gw seketika jadi nggak karuan mengetahui Bunga menangis, lantas menyisakan banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul di kepala gw. Sebenarnya ada apa dengan Bunga? Apa ini semua ada hubungannya dengan note berisi 3 paragraf itu?
Gw yang merasa tak tahan dengan pura pura tidur, kini mengganti kepura puraan gw dengan pura pura ngigo. Gw bangkit dengan mata sedikit terbuka lalu menuju kamar mandi sambil mengintip reaksi Bunga ketika gw tiba tiba bangun. Dan gw melihat dia berusaha menyeka segelimang air mata di pipinya. Di dalam kamar mandi gw juga pura pura nyiram jamban agar seolah olah gw baru saja buang air, padahal mah kebelet juga kagak. Ketika keluar dari kamar mandi, gw mendapati Bunga sedang melamun. Entah apa yang dia fikirkan.
"Loh kamu nggak tidur?" Tanya gw
"Aku kebangun..." Jawabnya.
"Oh..."
"......." Bunga diam.
Kemudian gw duduk di kursi samping ranjang sambil terus memperhatikan Bunga. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami berdua hingga waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Ingin sekali gw bertanya perihal note 3 paragraf itu tetapi gw tidak mempunyai keberanian untuk bertanya. Walaupun rasa penasaran gw begitu besar atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu tidur atuh." Ucap gw.
"Kamu juga."
"Lah ini aku nungguin kamu tidur, abis itu baru aku yang tidur."
"Dah kamu aja yang tidur duluan. Aku belum ngantuk. Sini kepalanya senderin disini" Ucapnya sembari menunjuk sisi ranjang.
Gw yang yang sedari tadi sudah ngantuk berat akhirnya menurutinya lalu menyandarkan kepala di sisi ranjang. Kemudian dia mengelus kepala gw dengan lembut diiringi lagu Unintended-nya Muse mengalun pelan dari speaker Ipad. Disini gw merasa kembali ke masa kecil gw dimana Bidadari No.1 selalu memperlakukan gw seperti ini sebelum tidur.
Paginya entah jam berapa gw terbangun dari tidur dengan sedikit terkejut sebab Bunga tidak ada di atas ranjangnya. Kemudian gw celingak celinguk mencari keberadaannya disekitar kamar. Tak lama kemudian, "ceklek" sosoknya keluar dari pintu kamar mandi hanya dibalut handuk saja.
"Aaaaa......Udah bangun!!"
Dia berteriak ketika melihat gw sedang garuk garuk kepala, sementara gw memandanginya sampe mata gw mau coplok. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi lantaran malu sama gw.
"Anyiiir mulus pisan waak!!" Ucap gw dalam hati.
Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan kemeja biru dan rok hitam selutut.
"Udah bangun nggak bilang bilang!!" Ujarnya sembari manyun.
"Hehe...." Gw nyengir.
"Puas yaa udah liat aku? Sampe melotot gitu."
"Ah biasa aja." Kilah gw.
"Yuk turun ke bawah. Aku udah dijemput sama panitianya."
"Loh? emang kamu dah sehat?"
"ih kan udah dibilangin aku tuh nggak sakit!!"
"Yaudah bentar aku mandi dulu." Ucap gw lalu nyelonong ke kamar mandi.
"Ga usah mandi, kelamaan udah ditungguin akunya."
Alhasil pagi itu gw nggak mandi cuma cuci muka doang. Kemudian gw sama Bunga turun ke lantai bawah di antar satu orang suster, sekalian bantuin menenteng barangnya Bunga. Di depan loby rumah sakit sudah ada mobil apanja hitam terparkir disana serta 2 orang panitia CPNS menunggu Bunga.
"Kamu mau langsung ke Bogor?" Tanya dia.
"Iya atuh mau kemana lagi."
"Makasih banget ya udah nemenin aku disini. Kamu baik deh...." Ujarnya.
"Dari dulu juga baik kali..."
"Hehe iya deh, kamu emang pangeran aku yang paling baik!" Puji dia.
"Hayaah!!!"
"Oya, kamu hati hati di jalan ya..."
"....." Gw mengangguk.
"Jangan ngebut!"
"Iya...."
Kemudian Bunga melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil beranjak pergi, gw sempat menghampirinya lalu berbicara dari balik jendela. Sebenarnya gw sangat ingin sekali mengecup keningnya tapi gw malu lantaran kondisi lumayan ramai.
"Bung...." Teriak gw.
"Apa?"
"Semoga sukses..."
"Doain aja. Daaah....." Ujarnya sembari melambaikan tangan.
"........" Gw membalas lambaian tangannya.
Pada akhirnya gw pulang ke Bogor dengan keadaan belum mandi serta kelaparan. Jangankan sarapan, makan malam kemarin saja tak sempat gw laksanaken. Mana uang gw tinggal tiga puluh rebu perak cuma cukup buat beli bensin doang. Tapi setidaknya gw senang bisa menemani Bunga disini walaupun gw dapat oleh oleh berupa rasa penasaran. Ya, penasaran akan note 3 paragraf yang dia tulis di Ipad, dan tangisan dia tengah malam sambil menyebut nama gw.
......................
......................
Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, dan malam kembali lagi ke pagi. Satu minggu waktu yang terasa begitu cepat. Setelah menghadapi berbagai macam tes dan segala tetek bengeknya, kini tibalah hari pengumuman apakah Bunga berhasil lolos seleksi atau tidak. Gw yang bukan peserta CPNS pun merasa sedikit was was akan nasibnya. Semenjak pagi tiba, gw tak henti hentinya memegangi henpon butut menanti kabar darinya.
"Halo gimana?" Tanya gw VIA telefon.
"Yaank aku..."
"Apa?" Tanya gw penasaran.
"Aku...."
"......"
"LULUS!"
"Alhamdulillah...Selamat ya. Terus kamu nanti ditempatin dimana?" Tanya gw lagi.
"Belum tau. Nunggu keputusan dari sana dulu...Lagian aku kan statusnya masih CPNS belum 100% PNS. Kalo SK udah keluar baru deh."
"Oh gitu."
"Terus keputusannya kapan?" Tanya gw lagi.
"Besok lusa sayang...Doain aja mudah mudahan aku nggak ditempatin di luar kota."
"Iya aku selalu doain kamu kok..."
"Yaudah aku masih ada acara lagi disini. Nanti aku telefon kamu lagi. Daah...."
"Klik..."
**SK = Surat Keputusan Calon Pegawai Negeri Sipil. Disini Bunga belum sepenuhnya 100% menjadi PNS sebelum SK PNS itu keluar. Setelah melewati masa kerja kurang lebih 1 tahun lalu dinilai kinerjanya, serta melaksanakan diklat Prajabatan, barulah SK itu keluar dan dia resmi 100% diangkat menjadi PNS.
Tibalah hari ini, hari yang lebih menentukan dibanding kemarin lusa. Apakah Bunga ditempatkan di luar kota, atau di dalam kota. Gw pun berharap semoga Bunga tetap berada disini, tidak jauh dari gw. Pukul 3 sore harapan gw segera terjawab diawali dengan deringan HP butut dari dalam saku celana.
"Klik..." Gw mengangkat telefon.
"Haloo...Aaaaaaaa...." Ucapnya sambil teriak dari seberang sana.
"Loh kamu kenapa? Gimana jadinya?" Tanya gw antusias.
"Aku seneng deh....." Ujarnya lebih antusias.
"Apaa...apa?" Tanya gw
"Aku jadinya ditempatin di Kantor Depok!!" Ujarnya.
"Haah serius kamu??"
"Iyaa serius!!"
"Hah, sukur deh kalo gitu selamat yaa..." Ucap gw.
"Makasih...Aku nggak jadi jauhan deh sama kamu." Ujarnya.
"Iya...."
Gw merasa senang mendengar kabar baik darinya. Apalah arti jarak Bogor-Depok yang hanya berkisar 20-30 kilometer, itu tidak terlalu jauh. Setengah jam gw menghabiskan waktu berbicara VIA telefon dengannya. Banyak yang kami bicarakan terutama pengalaman dia selama di Bandung serta betapa tegangnya dia ketika dihadapkan keputusan penempatan kerja. Kemudian gw menuju dapur untuk menyeduh kopi lalu berjalan keluar rumah menuju lapangan tenis. Sesampainya disana gw segera membakar satu batang rokok sempurna mil.
"Ffuuuuuuh...."
Gw mengehembuskan asap ke langit bersamaan dengan fikiran gw yang ikut melayang bersama asap itu. Bunga sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Masa depannya, sudah jelas bakalan cerah. Kehidupannya, sudah pasti bakalan makmur. Dan kini, giliran gw yang harus berusaha mencari jalan menuju masa depan gw sendiri, bagaimanapun caranya, sesulit apapun itu, gw yakin kalau gw bisa. Demi Bunga dan demi masa depan kami berdua.
"Jaar...." Dia memanggil nama gw.
"....." Gw pura pura tidur.
"Kenapa?" Tanya dia.
"(Kenapa apanya Bunga?)" Gw bertanya dalan hati.
"....."
"....."
Kemudian gw mendengar suara isak tangis membelah kesunyian di malam yang dingin ini. Perasaan serta isi hati gw seketika jadi nggak karuan mengetahui Bunga menangis, lantas menyisakan banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul di kepala gw. Sebenarnya ada apa dengan Bunga? Apa ini semua ada hubungannya dengan note berisi 3 paragraf itu?
Gw yang merasa tak tahan dengan pura pura tidur, kini mengganti kepura puraan gw dengan pura pura ngigo. Gw bangkit dengan mata sedikit terbuka lalu menuju kamar mandi sambil mengintip reaksi Bunga ketika gw tiba tiba bangun. Dan gw melihat dia berusaha menyeka segelimang air mata di pipinya. Di dalam kamar mandi gw juga pura pura nyiram jamban agar seolah olah gw baru saja buang air, padahal mah kebelet juga kagak. Ketika keluar dari kamar mandi, gw mendapati Bunga sedang melamun. Entah apa yang dia fikirkan.
"Loh kamu nggak tidur?" Tanya gw
"Aku kebangun..." Jawabnya.
"Oh..."
"......." Bunga diam.
Kemudian gw duduk di kursi samping ranjang sambil terus memperhatikan Bunga. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami berdua hingga waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Ingin sekali gw bertanya perihal note 3 paragraf itu tetapi gw tidak mempunyai keberanian untuk bertanya. Walaupun rasa penasaran gw begitu besar atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu tidur atuh." Ucap gw.
"Kamu juga."
"Lah ini aku nungguin kamu tidur, abis itu baru aku yang tidur."
"Dah kamu aja yang tidur duluan. Aku belum ngantuk. Sini kepalanya senderin disini" Ucapnya sembari menunjuk sisi ranjang.
Gw yang yang sedari tadi sudah ngantuk berat akhirnya menurutinya lalu menyandarkan kepala di sisi ranjang. Kemudian dia mengelus kepala gw dengan lembut diiringi lagu Unintended-nya Muse mengalun pelan dari speaker Ipad. Disini gw merasa kembali ke masa kecil gw dimana Bidadari No.1 selalu memperlakukan gw seperti ini sebelum tidur.
Paginya entah jam berapa gw terbangun dari tidur dengan sedikit terkejut sebab Bunga tidak ada di atas ranjangnya. Kemudian gw celingak celinguk mencari keberadaannya disekitar kamar. Tak lama kemudian, "ceklek" sosoknya keluar dari pintu kamar mandi hanya dibalut handuk saja.
"Aaaaa......Udah bangun!!"
Dia berteriak ketika melihat gw sedang garuk garuk kepala, sementara gw memandanginya sampe mata gw mau coplok. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi lantaran malu sama gw.
"Anyiiir mulus pisan waak!!" Ucap gw dalam hati.
Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan kemeja biru dan rok hitam selutut.
"Udah bangun nggak bilang bilang!!" Ujarnya sembari manyun.
"Hehe...." Gw nyengir.
"Puas yaa udah liat aku? Sampe melotot gitu."
"Ah biasa aja." Kilah gw.
"Yuk turun ke bawah. Aku udah dijemput sama panitianya."
"Loh? emang kamu dah sehat?"
"ih kan udah dibilangin aku tuh nggak sakit!!"
"Yaudah bentar aku mandi dulu." Ucap gw lalu nyelonong ke kamar mandi.
"Ga usah mandi, kelamaan udah ditungguin akunya."
Alhasil pagi itu gw nggak mandi cuma cuci muka doang. Kemudian gw sama Bunga turun ke lantai bawah di antar satu orang suster, sekalian bantuin menenteng barangnya Bunga. Di depan loby rumah sakit sudah ada mobil apanja hitam terparkir disana serta 2 orang panitia CPNS menunggu Bunga.
"Kamu mau langsung ke Bogor?" Tanya dia.
"Iya atuh mau kemana lagi."
"Makasih banget ya udah nemenin aku disini. Kamu baik deh...." Ujarnya.
"Dari dulu juga baik kali..."
"Hehe iya deh, kamu emang pangeran aku yang paling baik!" Puji dia.
"Hayaah!!!"
"Oya, kamu hati hati di jalan ya..."
"....." Gw mengangguk.
"Jangan ngebut!"
"Iya...."
Kemudian Bunga melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil beranjak pergi, gw sempat menghampirinya lalu berbicara dari balik jendela. Sebenarnya gw sangat ingin sekali mengecup keningnya tapi gw malu lantaran kondisi lumayan ramai.
"Bung...." Teriak gw.
"Apa?"
"Semoga sukses..."
"Doain aja. Daaah....." Ujarnya sembari melambaikan tangan.
"........" Gw membalas lambaian tangannya.
Pada akhirnya gw pulang ke Bogor dengan keadaan belum mandi serta kelaparan. Jangankan sarapan, makan malam kemarin saja tak sempat gw laksanaken. Mana uang gw tinggal tiga puluh rebu perak cuma cukup buat beli bensin doang. Tapi setidaknya gw senang bisa menemani Bunga disini walaupun gw dapat oleh oleh berupa rasa penasaran. Ya, penasaran akan note 3 paragraf yang dia tulis di Ipad, dan tangisan dia tengah malam sambil menyebut nama gw.
......................
......................
Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, dan malam kembali lagi ke pagi. Satu minggu waktu yang terasa begitu cepat. Setelah menghadapi berbagai macam tes dan segala tetek bengeknya, kini tibalah hari pengumuman apakah Bunga berhasil lolos seleksi atau tidak. Gw yang bukan peserta CPNS pun merasa sedikit was was akan nasibnya. Semenjak pagi tiba, gw tak henti hentinya memegangi henpon butut menanti kabar darinya.
"Halo gimana?" Tanya gw VIA telefon.
"Yaank aku..."
"Apa?" Tanya gw penasaran.
"Aku...."
"......"
"LULUS!"
"Alhamdulillah...Selamat ya. Terus kamu nanti ditempatin dimana?" Tanya gw lagi.
"Belum tau. Nunggu keputusan dari sana dulu...Lagian aku kan statusnya masih CPNS belum 100% PNS. Kalo SK udah keluar baru deh."
"Oh gitu."
"Terus keputusannya kapan?" Tanya gw lagi.
"Besok lusa sayang...Doain aja mudah mudahan aku nggak ditempatin di luar kota."
"Iya aku selalu doain kamu kok..."
"Yaudah aku masih ada acara lagi disini. Nanti aku telefon kamu lagi. Daah...."
"Klik..."
**SK = Surat Keputusan Calon Pegawai Negeri Sipil. Disini Bunga belum sepenuhnya 100% menjadi PNS sebelum SK PNS itu keluar. Setelah melewati masa kerja kurang lebih 1 tahun lalu dinilai kinerjanya, serta melaksanakan diklat Prajabatan, barulah SK itu keluar dan dia resmi 100% diangkat menjadi PNS.
Tibalah hari ini, hari yang lebih menentukan dibanding kemarin lusa. Apakah Bunga ditempatkan di luar kota, atau di dalam kota. Gw pun berharap semoga Bunga tetap berada disini, tidak jauh dari gw. Pukul 3 sore harapan gw segera terjawab diawali dengan deringan HP butut dari dalam saku celana.
"Klik..." Gw mengangkat telefon.
"Haloo...Aaaaaaaa...." Ucapnya sambil teriak dari seberang sana.
"Loh kamu kenapa? Gimana jadinya?" Tanya gw antusias.
"Aku seneng deh....." Ujarnya lebih antusias.
"Apaa...apa?" Tanya gw
"Aku jadinya ditempatin di Kantor Depok!!" Ujarnya.
"Haah serius kamu??"
"Iyaa serius!!"
"Hah, sukur deh kalo gitu selamat yaa..." Ucap gw.
"Makasih...Aku nggak jadi jauhan deh sama kamu." Ujarnya.
"Iya...."
Gw merasa senang mendengar kabar baik darinya. Apalah arti jarak Bogor-Depok yang hanya berkisar 20-30 kilometer, itu tidak terlalu jauh. Setengah jam gw menghabiskan waktu berbicara VIA telefon dengannya. Banyak yang kami bicarakan terutama pengalaman dia selama di Bandung serta betapa tegangnya dia ketika dihadapkan keputusan penempatan kerja. Kemudian gw menuju dapur untuk menyeduh kopi lalu berjalan keluar rumah menuju lapangan tenis. Sesampainya disana gw segera membakar satu batang rokok sempurna mil.
"Ffuuuuuuh...."
Gw mengehembuskan asap ke langit bersamaan dengan fikiran gw yang ikut melayang bersama asap itu. Bunga sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Masa depannya, sudah jelas bakalan cerah. Kehidupannya, sudah pasti bakalan makmur. Dan kini, giliran gw yang harus berusaha mencari jalan menuju masa depan gw sendiri, bagaimanapun caranya, sesulit apapun itu, gw yakin kalau gw bisa. Demi Bunga dan demi masa depan kami berdua.
Diubah oleh javiee 06-03-2015 14:04
0