- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.5K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#2251
PART 105
Gw terbangun dari tidur singkat dibangunkan oleh deringan HP yang cumiakan telinga. Setengah sadar gw menatap layarnya. Disitu tertulis 'Jembung Memanggil'.
"Halo Assalamualaikum..." Sapa gw pelan.
"Waalaikumsalam..." Sahutnya.
"Tumben adzan subuh juga belom kok udah nelfon aku?" Tanya gw.
"Aku...." Ucapnya tertahan.
"Kenapa?"
"Aku......"
"......"
"Aku sakit."
"Oh yaudah atuh kalo sakit mah istirahat. Jangan nelfon aku gini hari."
"Aku sakit, sekarang....."
"Iya sekarang kamu istirahat. Tidur sana biar cepet sehat lagi."
"Sekarang aku di Rumah Sakit..." Ucapnya.
"Hah!!"
Seketika mata gw jadi terbuka lebar mendengar perkataan dari Bunga. Kemudian gw bangkit untuk duduk.
"Ya ampun kamu kenapa lagi?"
"Nggak tau, aku juga nggak ngerti..."
"Yaudah, sekarang kamu disana sama siapa?" Tanya gw
"Sendiri..." Ucapnya.
"Oke, sekarang juga aku ke Bandung..."
"Nggak usah, jangan..."
"Pokoknya nggak mau tau aku kesana. Kamu di rumah sakit apa?" Tanya gw lagi.
"Rumah sakit Santo xxxxx"
"Yaudah aku kesana sekarang."
"Kamu hati hati yaa."
"Iya tenang aja. Kamu tidur lagi sana biar cepet sembuh."
Gw menggembungkan pipi sebagai bentuk protes tak terima kalau Bidadari gw yang satu ini sakit. Lalu tanpa berfikir panjang, gw segera mengambil handuk untuk mandi. 10 menit kemudian gw pun sudah rapi dengan mengenakan kaos belang lengan panjang dibalut celana jeans hitam soek. Sementara di punggung gw tergantung sebuah tas ransel yang isinya baju satu biji dan sempak satu biji. Mungkin gw bakal menginap disana sebab siapa lagi orang yang akan menemani Bunga selain gw?
"Mau kemana Kak masih subuh udah rapi?" Tanya Bidadari No.1
"Bandung...." Jawab gw singkat.
"Ngapain?" Tanya beliau lagi.
"Ada perlu" Jawab gw.
"Perlu apaan kok sampe ke Bandung segala?"
"......"
Gw diam tak menjawab pertanyaan beliau lantas langsung memakai sepatu lalu keluar rumah.
"Kamu mau pake motor?" Tanya beliau lagi.
"Iya...."
"Hati hati loh Jar..."
"Iya Ma, tenang aja. Yaudah aku berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Diawali dengan mengucap bismillah, perlahan gw jalankan motor di pagi yang dingin nan gelap itu. Berhubung kondisi jalan masih sepi, gw kendarai jupi dengan kecepatan tinggi rata rata 80 kpj. Alhasil baru juga 40 menit perjalanan gw sudah tiba di puncak pas. Sejenak gw hentikan motor di sebuah balkon besar samping rumah makan Rindu Alam lalu membakar sebatang rokok.
"Fuuuuh...."
Rasanya belum lengkap apabila merokok di tempat ini tanpa segelas kopi panas, kemudian gw pun memesan kopi pada pedagang asongan berkupluk dekil dan jaket tebal. Bahagia itu simpel, cukup rokok, kopi, dan udara dingin. Namun kali ini kebahagiaan gw lebih lengkap dengan adanya hamparan pemandangan indah terbentang di hadapan gw. Dari sini bisa terlihat jelas hiruk pikuk Kota Bogor yang jaraknya berada jauh di bawah sana. Kebetulan cuaca sangat cerah tidak tertutup kabut sedikitpun. Cukup lama gw berada disini hingga mentari beranjak naik yang memberikan kehangatan bercampur dengan udara super dingin. Gw memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Kota Kembang karena gw berfikir lebih cepat sampai lebih baik.
Puluhan kilometer sudah gw lewati dengan mulus dan lancar. Kota Cianjur sudah lewat, dan kini memasuki daerah gunung kapur di Padalarang. Kondisi jalan yang belak belok serta truk truk besar pengangkut bebatuan mewarnai perjalanan gw pagi itu. Tak jarang gw menutup rapat kaca helm ketika debu serta asap hitam bersatu menyembur kasar ke arah wajah ganteng gw ini.
Tepat pukul 9 pagi gw sudah melewati kota Cimahi dan kini gw berada di gapura besar bertuliskan "Selamat Datang di Kota Bandung". Setelah bertanya sana sini, akhirnya gw sampai juga di sebuah rumah sakit dimana Bunga dirawat. Rumah sakit yang berada di tengah pasar Tradisional ini memiliki bangunan yang tidak terlalu besar, tapi kondisinya bersih dan nyaman. Apalagi banyak suster suster cantik nan bening berkeliaran di sekitar sini membuat mata gw jadi uadem. Selesai memarkirkan motor, gw berdiri meregangkan pinggang serta leher yang terasa pegal akibat dari 3,5 jam perjalanan, lalu gw mengeluarkan HP dari dalam saku untuk menelfon Bunga.
"Tuut....ceklek....Halo." Ucapnya.
"Halo. Kamu ada di kamar apa terus nomer berapa?" Tanya gw.
"Kamar kelas 1 nomer 'sekian'...Emangnya kamu dimana? Jadi kesini?"
"Masih di rumah. Nih aku baru mau berangkat..." Jawab gw sedikit ngibul.
"Oh yaudah kamu hati hati yaa."
"Iya..."
"Klik" Telefon ditutup.
Kemudian gw menuju meja receptionist untuk bertanya. Setelah diberitahu oleh salah satu petugas kalau kamar atas nama Bunga xxxxxx berada di lantai 2, gw segera memasuki lift untuk naik, lalu keluar lift dengan sedikit pucat. Bagi gw lift lebih memabukkan daripada sebotol minuman keras atau selinting rokok Jamaika.
"Ceklek..."
Dengan pelan gw buka pintu kamar lalu mengintip sedikit ke dalam. Dan benar, ini kamarnya. Gw tak langsung ngeloyor masuk lantas memandanginya yang lagi asik maenan ipad dari balik daun pintu. Kebetulan di ruangan ini dia hanya seorang diri. Ranjang pasien di sebelahnya terlihat kosong tak bertuan. Entah memang belum ada yang menempati, atau entah orangnya udah pulang, atau pulang ke Rahmatullah? Entahlah...
"Ekhem...." Dehem gw lalu masuk.
"....." Bunga menoleh.
"Kayanya seru banget maenan Ipad sampe nggak sadar ada Pangeran Harry datang!" Ujar gw.
"Loh kamu? Aaaa nyebelin!! Katanya masih di rumah...." Ujarnya sedikit teriak.
"Hehe kan biar supres..."
"Syu'prais sayang bukan supres!!"
"Suka suka dong!!!" Ujar gw.
Kemudian gw menaruh tas gw di sebuah kursi lalu duduk di atas ranjang. Dengan cepat gw langsung mengecup lembut keningnya pertanda gw kangen sama dia.
"Kamu sakit apa Jembung?" Tanya gw.
"Sebenernya aku nggak apa apa sih. Cuma pusing aja terus mag aku kambuh..."
"Kalo nggak apa apa terus kenapa bisa ada disini?"
"Nggak tau tuh...Panitianya aja yang lebay langsung bawa aku ke rumah sakit. Padahal aku udah biasa tiba tiba sakit gini."
"Yeeh jangan nyepelein penyakit!!"
"Tapi beneran aku nggak apa apa kok. Besok juga udah balik lagi ke mes."
"Oh gitu...Yaudah nanti siang aku pulang ke Bogor lagi deh..."
"Jangan! Besok aja....pokoknya temenin aku semaleman disini."
"Hehe iyaa...pasti aku temenin."
Setelah berjam jam menghabiskan waktu ngobrol ngalor ngidul sama Bunga, tiba tiba pintu kamar diketuk. Lalu masuklah dua orang perempuan paruh baya dan satu orang bapak bapak. Sebut saja mereka ini adalah panitia penyelenggara tes CPNS. Kedatangan mereka kesini bermaksud untuk mengurus biaya pengobatan dan segala tetek bengeknya. Lantas mereka tak berlama lama di sini, setengah jam kemudian mereka pun pamit pergi dan akan kembali lagi besok siang untuk menjemput Bunga.
Gw minta izin sama Bunga untuk mandi lantaran badan gw serasa lengket serta penuh debu jalanan yang menempel. Bunga sempat mengetes keimanan gw dengan cara menggoda gw,
"Aku juga belum mandi nih yank. Bareng yuk..." Ucapnya sembari pasang wajah genit.
Perkataan dia itu sukses membuat fikiran gw menerawang jauh membayangkan mandi bareng sama dia dan, ah! celana gw jadi sempit. Lantas gw buru buru masuk kamar mandi sambil menutupi wajah mupeng gw dengan handuk. Selesai mandi dan berpakaian lengkap, kemudian gw duduk si sebuah kursi dekat jendela yang menghadap langsung ke arah kerumunan pasar.
"Yank sini...." Panggil Bunga sembari menepuk kasur.
"Kenapa?" Tanya gw lalu duduk di sebelahnya.
"Aku mau dijambe jambe dong...."
"Apaan tuh jambe?"
"Iih itu loh kata kata keramat kamu..."
"Itu jampe!!"
"Hehe iya jampe..."
"Yaudah sini, mana yang sakit?"
"......" Dia menunjuk kepalanya.
Kemudian gw menggenggam sisi kepalanya dengan kedua tangan, lalu mulut gw mulai komat kamit ala dukun cabul buronan mertua.
"Jampe jampe kararas, masih kecil nggak waras, udah gede harus waras.. Jampe jampe harupat, masih kecil makan kupat, udah gede makan kawat. Ffuuuhhh...Ffuuuuh...."
"....." Bunga menatap gw.
"....." Gw balik menatapnya.
"....."
"....."
"Hap..."
Tiba tiba dia memeluk gw erat. Gw yang sedikit kaget malah jadi bengong sambil planga plongo. Cukup lama dia menenggelamkan kepalanga di pundak gw hingga gw merasa sedikit sesak dibuatnya.
"Makasih...." Ucapnya.
"Ya..."
"Makasih kamu masih peduli sama aku, makasih udah jauh juah datang kesini buat nemenin aku."
"Iya...."
"Disaat keadaan kita masing masing udah mulai berubah, sifat kamu sedikitpun nggak pernah berubah sayang. Perhatian kamu masih sama kaya dulu, cara kamu memperlakukan aku masih sama kaya dulu. Selalu buat aku ketawa, selalu ada di waktu aku sakit dan selalu bisa nenangin aku...."
"........" Gw masih diam sambil mengelus rambutnya.
"Makasih...."
"Iya!! Kamu udah 4x nyebut makasih. Kalo sekali lagi nyebut makasih, aku cium neh!!!" Canda gw.
"Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih..."
"......" Gw bengong.
"Makass......" Ucapnya tertahan.
"Cupp..."
"......"
"......"
"Kamu tuh bisa diem nggak sih?" Ujar gw.
"......"
"Cup...." Sekali lagi.
"......"
"......"
"Cup...." Dan lagi.
Ciuman kombo itu sukses membuat badan gw jadi ngaderegdeg. Tangan dan kaki gw gemetaran sementara keringat dingin keluar dari sudut kening gw. Reflek gw melakukan itu semua karena gw sedikit kesel denger kata "makasih" yang diucapkannya secara kombo. Tapi setelahnya gw jadi merasa bersalah sama Bunga lantaran sudah bertindak di luar batas.
"Maaf bukan maksud...." Ucap gw tertahan.
"Cup...."
Kali ini gantian Bunga yang nyosor gw dan aktifitas itu bertahan lebih dari semenit lamanya. Lalu "ceklek" pintu pun terbuka kemudian satu orang suster nyelonong masuk ke dalam kamar. Gw yang masih kiss sama Bunga langsung buru buru melepasnya. Tapi itu telat, mungkin si suster ini sudah terlanjur ngeliat aktifitas kita barusan.
"Maaf, untuk pasien atas nama Bunga mau saya lepas infunya?" Tanya suster.
"Eh....Iya sus lepas aja" Sahut Bunga.
"....." Gw bengong.
Gw jadi salah tingkah dan nampak terlihat bodoh. Bagaimana tidak, gw langsung buang muka ke arah jendela yang tertutup hordeng entah apa yang gw perhatikan disitu. Tak lama kemudian selang infus yang tertancap di lengan kiri Bunga berhasil dilepaas oleh suster itu. Lalu si suster pamit untuk keluar dihiasi senyum sinis ke arah gw. Ya mungkin senyum itu bisa diartikan meledek gw yang kegep lagi kiss sama dia.
"Kamu sih!!" Geruru gw.
"Loh kok aku? Yang nyosor duluan siapa??" Tanya dia.
"Yang mancing mancing duluan siapa?" Gw balik bertanya.
"Kamu!!" Jawabnya lantang.
"Diih...."
"....." Bunga nyengir.
Gw tak meladeni adu bacot dengannya lagi. Kemudian gw mengambil jaket serta kunci motor lalu bergegas pergi meninggalkan Bunga.
"Kemana?" Tanya dia
"Aku ke bawah dulu sebentar." Jawab gw.
"Ngapain?"
"Mau ngerokok sekalian ngopi. Kamu mau aku beliin apa?" Tawar gw.
"Emmm, martabak keju yaa" Pinta dia.
"Loh emang boleh makan begituan? Kan lagi sakit."
"Aku ini udah sehat tauk!! pokonya aku mau martabak."
"Ya bawel!"
Kini gw sudah berada di sebuah warkop yang letaknya tak jauh dari pasar Cikutra. Ngomong ngomong tentang pasar, gw jadi teringat pengalaman mengerikan dikejar kejar preman featuring kuli panggul. Kejadian setahun yang lalu itu sudah hampir saja merenggut nyawa gw yang cuma satu ini. Pasar, hukum rimba masih diterapkan di tempat ini.
Adzan Maghrib sudah berkumandang pertanda malam telah menunjukkan jati dirinya. Sudah puas menghisap beberapa batang rokok gw pun langsung pergi dari warkop untuk balik ke rumah sakit. Tak lupa sebelumnya gw sempat membelikan martabak keju pesanan Bunga. Sesampainya di kamar, gw mendapati Bunga tengah tertidur pulas sambil memeluk Ipadnya. Khawatir Ipadnya nanti rusak, gw segera mengambil ipad itu dari dekapannya kemudian gw membuka tombol pengunci berniat untuk maen game disini.
"Klik..."
Gw sedikit terkejut ketika layar Ipad justru menampilkan sebuah aplikasi notepad. Disana tertulis sebuah note dengan tulisan 3 paragraf. Sepertinya Bunga baru selesai menulis sesuatu disini terus dia ketiduran. Dengan perlahan gw membacanya, dan gw sadar isi dari 3 paragraf itu ternyata membahas tentang gw. Namun gw sedikit lupa detail perkalimat yang diungkapkannya lewat tulisan itu. Yang pasti di akhir paragraf ada satu kalimat yang sampai detik ini sangat gw hafal.
"Aku sayang Fajar dan nggak ada yang bisa misahin aku sama dia termasuk Ayah & Bunda sekalipun...."
"Halo Assalamualaikum..." Sapa gw pelan.
"Waalaikumsalam..." Sahutnya.
"Tumben adzan subuh juga belom kok udah nelfon aku?" Tanya gw.
"Aku...." Ucapnya tertahan.
"Kenapa?"
"Aku......"
"......"
"Aku sakit."
"Oh yaudah atuh kalo sakit mah istirahat. Jangan nelfon aku gini hari."
"Aku sakit, sekarang....."
"Iya sekarang kamu istirahat. Tidur sana biar cepet sehat lagi."
"Sekarang aku di Rumah Sakit..." Ucapnya.
"Hah!!"
Seketika mata gw jadi terbuka lebar mendengar perkataan dari Bunga. Kemudian gw bangkit untuk duduk.
"Ya ampun kamu kenapa lagi?"
"Nggak tau, aku juga nggak ngerti..."
"Yaudah, sekarang kamu disana sama siapa?" Tanya gw
"Sendiri..." Ucapnya.
"Oke, sekarang juga aku ke Bandung..."
"Nggak usah, jangan..."
"Pokoknya nggak mau tau aku kesana. Kamu di rumah sakit apa?" Tanya gw lagi.
"Rumah sakit Santo xxxxx"
"Yaudah aku kesana sekarang."
"Kamu hati hati yaa."
"Iya tenang aja. Kamu tidur lagi sana biar cepet sembuh."
Gw menggembungkan pipi sebagai bentuk protes tak terima kalau Bidadari gw yang satu ini sakit. Lalu tanpa berfikir panjang, gw segera mengambil handuk untuk mandi. 10 menit kemudian gw pun sudah rapi dengan mengenakan kaos belang lengan panjang dibalut celana jeans hitam soek. Sementara di punggung gw tergantung sebuah tas ransel yang isinya baju satu biji dan sempak satu biji. Mungkin gw bakal menginap disana sebab siapa lagi orang yang akan menemani Bunga selain gw?
"Mau kemana Kak masih subuh udah rapi?" Tanya Bidadari No.1
"Bandung...." Jawab gw singkat.
"Ngapain?" Tanya beliau lagi.
"Ada perlu" Jawab gw.
"Perlu apaan kok sampe ke Bandung segala?"
"......"
Gw diam tak menjawab pertanyaan beliau lantas langsung memakai sepatu lalu keluar rumah.
"Kamu mau pake motor?" Tanya beliau lagi.
"Iya...."
"Hati hati loh Jar..."
"Iya Ma, tenang aja. Yaudah aku berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Diawali dengan mengucap bismillah, perlahan gw jalankan motor di pagi yang dingin nan gelap itu. Berhubung kondisi jalan masih sepi, gw kendarai jupi dengan kecepatan tinggi rata rata 80 kpj. Alhasil baru juga 40 menit perjalanan gw sudah tiba di puncak pas. Sejenak gw hentikan motor di sebuah balkon besar samping rumah makan Rindu Alam lalu membakar sebatang rokok.
"Fuuuuh...."
Rasanya belum lengkap apabila merokok di tempat ini tanpa segelas kopi panas, kemudian gw pun memesan kopi pada pedagang asongan berkupluk dekil dan jaket tebal. Bahagia itu simpel, cukup rokok, kopi, dan udara dingin. Namun kali ini kebahagiaan gw lebih lengkap dengan adanya hamparan pemandangan indah terbentang di hadapan gw. Dari sini bisa terlihat jelas hiruk pikuk Kota Bogor yang jaraknya berada jauh di bawah sana. Kebetulan cuaca sangat cerah tidak tertutup kabut sedikitpun. Cukup lama gw berada disini hingga mentari beranjak naik yang memberikan kehangatan bercampur dengan udara super dingin. Gw memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Kota Kembang karena gw berfikir lebih cepat sampai lebih baik.
Puluhan kilometer sudah gw lewati dengan mulus dan lancar. Kota Cianjur sudah lewat, dan kini memasuki daerah gunung kapur di Padalarang. Kondisi jalan yang belak belok serta truk truk besar pengangkut bebatuan mewarnai perjalanan gw pagi itu. Tak jarang gw menutup rapat kaca helm ketika debu serta asap hitam bersatu menyembur kasar ke arah wajah ganteng gw ini.
Tepat pukul 9 pagi gw sudah melewati kota Cimahi dan kini gw berada di gapura besar bertuliskan "Selamat Datang di Kota Bandung". Setelah bertanya sana sini, akhirnya gw sampai juga di sebuah rumah sakit dimana Bunga dirawat. Rumah sakit yang berada di tengah pasar Tradisional ini memiliki bangunan yang tidak terlalu besar, tapi kondisinya bersih dan nyaman. Apalagi banyak suster suster cantik nan bening berkeliaran di sekitar sini membuat mata gw jadi uadem. Selesai memarkirkan motor, gw berdiri meregangkan pinggang serta leher yang terasa pegal akibat dari 3,5 jam perjalanan, lalu gw mengeluarkan HP dari dalam saku untuk menelfon Bunga.
"Tuut....ceklek....Halo." Ucapnya.
"Halo. Kamu ada di kamar apa terus nomer berapa?" Tanya gw.
"Kamar kelas 1 nomer 'sekian'...Emangnya kamu dimana? Jadi kesini?"
"Masih di rumah. Nih aku baru mau berangkat..." Jawab gw sedikit ngibul.
"Oh yaudah kamu hati hati yaa."
"Iya..."
"Klik" Telefon ditutup.
Kemudian gw menuju meja receptionist untuk bertanya. Setelah diberitahu oleh salah satu petugas kalau kamar atas nama Bunga xxxxxx berada di lantai 2, gw segera memasuki lift untuk naik, lalu keluar lift dengan sedikit pucat. Bagi gw lift lebih memabukkan daripada sebotol minuman keras atau selinting rokok Jamaika.
"Ceklek..."
Dengan pelan gw buka pintu kamar lalu mengintip sedikit ke dalam. Dan benar, ini kamarnya. Gw tak langsung ngeloyor masuk lantas memandanginya yang lagi asik maenan ipad dari balik daun pintu. Kebetulan di ruangan ini dia hanya seorang diri. Ranjang pasien di sebelahnya terlihat kosong tak bertuan. Entah memang belum ada yang menempati, atau entah orangnya udah pulang, atau pulang ke Rahmatullah? Entahlah...
"Ekhem...." Dehem gw lalu masuk.
"....." Bunga menoleh.
"Kayanya seru banget maenan Ipad sampe nggak sadar ada Pangeran Harry datang!" Ujar gw.
"Loh kamu? Aaaa nyebelin!! Katanya masih di rumah...." Ujarnya sedikit teriak.
"Hehe kan biar supres..."
"Syu'prais sayang bukan supres!!"
"Suka suka dong!!!" Ujar gw.
Kemudian gw menaruh tas gw di sebuah kursi lalu duduk di atas ranjang. Dengan cepat gw langsung mengecup lembut keningnya pertanda gw kangen sama dia.
"Kamu sakit apa Jembung?" Tanya gw.
"Sebenernya aku nggak apa apa sih. Cuma pusing aja terus mag aku kambuh..."
"Kalo nggak apa apa terus kenapa bisa ada disini?"
"Nggak tau tuh...Panitianya aja yang lebay langsung bawa aku ke rumah sakit. Padahal aku udah biasa tiba tiba sakit gini."
"Yeeh jangan nyepelein penyakit!!"
"Tapi beneran aku nggak apa apa kok. Besok juga udah balik lagi ke mes."
"Oh gitu...Yaudah nanti siang aku pulang ke Bogor lagi deh..."
"Jangan! Besok aja....pokoknya temenin aku semaleman disini."
"Hehe iyaa...pasti aku temenin."
Setelah berjam jam menghabiskan waktu ngobrol ngalor ngidul sama Bunga, tiba tiba pintu kamar diketuk. Lalu masuklah dua orang perempuan paruh baya dan satu orang bapak bapak. Sebut saja mereka ini adalah panitia penyelenggara tes CPNS. Kedatangan mereka kesini bermaksud untuk mengurus biaya pengobatan dan segala tetek bengeknya. Lantas mereka tak berlama lama di sini, setengah jam kemudian mereka pun pamit pergi dan akan kembali lagi besok siang untuk menjemput Bunga.
Gw minta izin sama Bunga untuk mandi lantaran badan gw serasa lengket serta penuh debu jalanan yang menempel. Bunga sempat mengetes keimanan gw dengan cara menggoda gw,
"Aku juga belum mandi nih yank. Bareng yuk..." Ucapnya sembari pasang wajah genit.
Perkataan dia itu sukses membuat fikiran gw menerawang jauh membayangkan mandi bareng sama dia dan, ah! celana gw jadi sempit. Lantas gw buru buru masuk kamar mandi sambil menutupi wajah mupeng gw dengan handuk. Selesai mandi dan berpakaian lengkap, kemudian gw duduk si sebuah kursi dekat jendela yang menghadap langsung ke arah kerumunan pasar.
"Yank sini...." Panggil Bunga sembari menepuk kasur.
"Kenapa?" Tanya gw lalu duduk di sebelahnya.
"Aku mau dijambe jambe dong...."
"Apaan tuh jambe?"
"Iih itu loh kata kata keramat kamu..."
"Itu jampe!!"
"Hehe iya jampe..."
"Yaudah sini, mana yang sakit?"
"......" Dia menunjuk kepalanya.
Kemudian gw menggenggam sisi kepalanya dengan kedua tangan, lalu mulut gw mulai komat kamit ala dukun cabul buronan mertua.
"Jampe jampe kararas, masih kecil nggak waras, udah gede harus waras.. Jampe jampe harupat, masih kecil makan kupat, udah gede makan kawat. Ffuuuhhh...Ffuuuuh...."
"....." Bunga menatap gw.
"....." Gw balik menatapnya.
"....."
"....."
"Hap..."
Tiba tiba dia memeluk gw erat. Gw yang sedikit kaget malah jadi bengong sambil planga plongo. Cukup lama dia menenggelamkan kepalanga di pundak gw hingga gw merasa sedikit sesak dibuatnya.
"Makasih...." Ucapnya.
"Ya..."
"Makasih kamu masih peduli sama aku, makasih udah jauh juah datang kesini buat nemenin aku."
"Iya...."
"Disaat keadaan kita masing masing udah mulai berubah, sifat kamu sedikitpun nggak pernah berubah sayang. Perhatian kamu masih sama kaya dulu, cara kamu memperlakukan aku masih sama kaya dulu. Selalu buat aku ketawa, selalu ada di waktu aku sakit dan selalu bisa nenangin aku...."
"........" Gw masih diam sambil mengelus rambutnya.
"Makasih...."
"Iya!! Kamu udah 4x nyebut makasih. Kalo sekali lagi nyebut makasih, aku cium neh!!!" Canda gw.
"Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih Makasih..."
"......" Gw bengong.
"Makass......" Ucapnya tertahan.
"Cupp..."
"......"
"......"
"Kamu tuh bisa diem nggak sih?" Ujar gw.
"......"
"Cup...." Sekali lagi.
"......"
"......"
"Cup...." Dan lagi.
Ciuman kombo itu sukses membuat badan gw jadi ngaderegdeg. Tangan dan kaki gw gemetaran sementara keringat dingin keluar dari sudut kening gw. Reflek gw melakukan itu semua karena gw sedikit kesel denger kata "makasih" yang diucapkannya secara kombo. Tapi setelahnya gw jadi merasa bersalah sama Bunga lantaran sudah bertindak di luar batas.
"Maaf bukan maksud...." Ucap gw tertahan.
"Cup...."
Kali ini gantian Bunga yang nyosor gw dan aktifitas itu bertahan lebih dari semenit lamanya. Lalu "ceklek" pintu pun terbuka kemudian satu orang suster nyelonong masuk ke dalam kamar. Gw yang masih kiss sama Bunga langsung buru buru melepasnya. Tapi itu telat, mungkin si suster ini sudah terlanjur ngeliat aktifitas kita barusan.
"Maaf, untuk pasien atas nama Bunga mau saya lepas infunya?" Tanya suster.
"Eh....Iya sus lepas aja" Sahut Bunga.
"....." Gw bengong.
Gw jadi salah tingkah dan nampak terlihat bodoh. Bagaimana tidak, gw langsung buang muka ke arah jendela yang tertutup hordeng entah apa yang gw perhatikan disitu. Tak lama kemudian selang infus yang tertancap di lengan kiri Bunga berhasil dilepaas oleh suster itu. Lalu si suster pamit untuk keluar dihiasi senyum sinis ke arah gw. Ya mungkin senyum itu bisa diartikan meledek gw yang kegep lagi kiss sama dia.
"Kamu sih!!" Geruru gw.
"Loh kok aku? Yang nyosor duluan siapa??" Tanya dia.
"Yang mancing mancing duluan siapa?" Gw balik bertanya.
"Kamu!!" Jawabnya lantang.
"Diih...."
"....." Bunga nyengir.
Gw tak meladeni adu bacot dengannya lagi. Kemudian gw mengambil jaket serta kunci motor lalu bergegas pergi meninggalkan Bunga.
"Kemana?" Tanya dia
"Aku ke bawah dulu sebentar." Jawab gw.
"Ngapain?"
"Mau ngerokok sekalian ngopi. Kamu mau aku beliin apa?" Tawar gw.
"Emmm, martabak keju yaa" Pinta dia.
"Loh emang boleh makan begituan? Kan lagi sakit."
"Aku ini udah sehat tauk!! pokonya aku mau martabak."
"Ya bawel!"
Kini gw sudah berada di sebuah warkop yang letaknya tak jauh dari pasar Cikutra. Ngomong ngomong tentang pasar, gw jadi teringat pengalaman mengerikan dikejar kejar preman featuring kuli panggul. Kejadian setahun yang lalu itu sudah hampir saja merenggut nyawa gw yang cuma satu ini. Pasar, hukum rimba masih diterapkan di tempat ini.
Adzan Maghrib sudah berkumandang pertanda malam telah menunjukkan jati dirinya. Sudah puas menghisap beberapa batang rokok gw pun langsung pergi dari warkop untuk balik ke rumah sakit. Tak lupa sebelumnya gw sempat membelikan martabak keju pesanan Bunga. Sesampainya di kamar, gw mendapati Bunga tengah tertidur pulas sambil memeluk Ipadnya. Khawatir Ipadnya nanti rusak, gw segera mengambil ipad itu dari dekapannya kemudian gw membuka tombol pengunci berniat untuk maen game disini.
"Klik..."
Gw sedikit terkejut ketika layar Ipad justru menampilkan sebuah aplikasi notepad. Disana tertulis sebuah note dengan tulisan 3 paragraf. Sepertinya Bunga baru selesai menulis sesuatu disini terus dia ketiduran. Dengan perlahan gw membacanya, dan gw sadar isi dari 3 paragraf itu ternyata membahas tentang gw. Namun gw sedikit lupa detail perkalimat yang diungkapkannya lewat tulisan itu. Yang pasti di akhir paragraf ada satu kalimat yang sampai detik ini sangat gw hafal.
"Aku sayang Fajar dan nggak ada yang bisa misahin aku sama dia termasuk Ayah & Bunda sekalipun...."
Diubah oleh javiee 04-03-2015 23:45
0