Kaskus

Story

mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
when its too late to regret
when its too late to regret
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:




when its too late to regret


when its too late to regret


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy 15-04-2015 16:38
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
327
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
#69
yang seharusnya jadi indah
Aku berjalan dengan sisa tenagaku , sejak kemarin aku belum makan, tidak tidur dan aku merasakan darah di dahiku meluncur bebas hingga menetes di bajuku. Sambil terisak aku menelpon faris agar menjemputku di venue.

“halo, gimana mbak” jawab faris di ujung telepon.

“ris, kamu dimana?” tanyaku sambil terisak

“lho kok mbak nangis sih? Kenapa mbak” faris terlihat khawatir “mbak dimana?”

“kamu dimanaa risss!!!”
tanyaku lagi, kali ini sambil menangis

“di rumah temen mba, gimana?”

“jemput mbak di venue perpusda ya ris, please sekarang”
tangisku tak berhenti saat itu,

“motor mbak dimana? Mbak kenapa ini?” faris lebih khawatir lagi

“udah kamu kesini cepetttt, tolongin mbak riss, “

“iyah mbak, kebetulan aku di deket sana, aku kesana sekarang”


Aku terduduk sambil menangis, kututupi mukaku dengan jaket, aku merasakan lemas, aku sangat kacau dan aku tidak bisa lagi berfikir jernih. Aku hanya menangis sambil memegangi dahiku yang berdarah darah, tapi sakitnya tak kurasakan, yang kurasakan hanyalah penyesalan yang sangat besar, kekacauan dan kehancuran mewarnai hariku waktu itu. Tak sampai 10 menit faris datang, dia meraih tanganku dan melihat dahiku yang berdarah, dia terlihat sangat khawatir melihatku yang begiitu kacau, aku terlalu lelah untuk menjelaskannya.

“mbak!!! Mbak kenapa bisa kayak gini, siapa yang giniin mbak! Bilang sama faris!” kata faris menggenggam tanganku, dia terlihat sangat khawatir bahkan matanya berkaca kaca.

“ris, jangan bilang ibuk sama ayah yaaa, sekarang anterin mbak ke Yudha” kataku sambil menangis

“mas Yudha yang bikin mbak kayak gini!” sahut faris penuh emosi, aku hanya menggeleng

“anterin mbak ke Yudha Risss,” pintaku lagi sambil menangis, lalu faris menurutinya dan membawaku ke Yudha, sementara lukaku hanya kututup dengan sapu tangan.

Saat tiba dirumah Yudha, mamanya ada di depan rumah, sedang menyirami tanaman, dia melihat kedatanganku dan menyambutku dengan senyum khas nya, namun yang kuberikan adalah tangisan dan wajah yang terlihat sangat kacau.

“icha sayang kamu kenapa? Yudha mana?” tanya mama Yudha mengampiriku

“Yudha mana tante, icha pengen ketemu tantee” kataku sambil menangis, kemudian mama yudha menyuruhku dan faris masuk ke rumah, dia kaget melihat luka di dahiku, dan kemudian dia memutuskan untuk membersihkan lukaku dulu sebelum mengajakku bicara. Dia juga membuatkan teh, menyuruhku minum dan menenangkanku dalam pelukannya. Setelah aku tenang baru dia mengajakku bicara,

“tante ga berharap kamu dateng dengan posisi kaya gini Cha, harusnya kamu hari ini bahagia, apa yudha nyakitin kamu hari ini ?”

“tante, sebenernya apa kejutan yang yudha siapin buat icha hari ini?”
tanyaku sambil terisak.

“Cha, kemarin senin, tante dan yudha beli cincin buat kamu, dia bilang dia mau melamar kamu dari panggung waktu dia kompetisi, dia uda siapin lagu khusus buat kamu, apa dia ga ngelakuin itu semua Cha,?” kata mama Yudha, dan aku mulai menangis lagi.

“te, Icha ga bisa nepatin janji, Icha ga ada waktu Yudha di panggung tadi,” aku menangis keras dan mama Yudha memelukku, “icha kemaren ke Jakarta te buat wawancara beasiswa Icha, tapi icha ga bisa pulang tepat waktu, waktu Icha sampe disana, Yudha uda pulang te, padahal acara belum selesai, sebelum berangkat iha dah berusaha hubungin Yudha tapi hapenya ga aktif, tante juga”

“HP tante ilang Cha, waktu seminar kemarin, kalo yudha sebenarnya Cuma pengen kasih keutan ke kamu Cha, nanti tante coba ngomong ke yudha ya, nanti malem, tante sama Yudha dateng ke rumah, tante akan ngomong sama orang tua icha”


Aku sedikit lega ketika berbicara dengan mama Yudha, aku menungggu Yudha disana hingga jam 4 sore, namun Yudha tak kunjung pulang dan HPnya juga masih tidak aktif, sampai aku memutuskan pulang dan menunggu dirumah, lagipula aku belum mengambil motorku di stasiun, aku tidak ingin ayah ibu curiga atau bahkan tau apa yang terjadi, aku ingin semua tampak biasa saja, tidak ada apa apa

“ris, jangan bilang ayah ibuk ya, janji sama mbak” kataku pada faris, faris mengangguk dan merangkulku,” kalo ditanyain ini kepalaku kenapa, mbak mau bilang kalo mbak jatuh di Jakarta,” sambungku lagi, aku hanya tak ingin orang tuaku khawatir, biarlah ini jadi bebanku sendiri.

Aku sampai rumah saat magrib, saat ayah dan ibu menyambutku pulang, mereka menayakan tetang lukaku, kujawab saja jatuh di stasiun gambir. Maafkan aku ayah, ibuk, aku berbohong waktu itu. Aku segera mandi dan makan, sudah sejak kemarin sore aku tidak makan, aku sangat mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur, aku menunggu kedatangan Yudha, aku berharap dia datang dan aku bisa menjelaskan semua.

Tapi sudah jam setengah 8, belum ada juga tanda tanda Yudha akan datang, HPnya masih tidak aktif, danakupun tidak bisa menghubungi mamanya karena HPnya hilang kemarin. Waktu berllalu dan hatiku semakin kacau, aku menyadari yudha tidak akan datang, apakah dia benar benar marah denganku? Dan malam itu aku tidak bisa tidur, tepat 2 malam kuhabiskan tanpa memejamkan mataku.

Esoknya aku harus sekolah, karena kebetulan hari itu aku masuk siang, aku sengaja menunggu di depan kelas, menunggu yudha keluar. Dari luar sempat kulihat dia ada di dalam kelas, dengan lingkar mata yang jelas, dan wajah mulai memucat, aku menunggu penauh ragu di depan kelas, berharap bisa menemui yudha dan menjelaskan semuanya, tapi saat bel berbunyi,dia memilih keluar cepat dan menghindari aku, mukanya terlihat sangat marah, kukejar dia, dan aku berusaha menahannya dengan menarik tangannya.

”Yudddd, dengerin aku!!!” kataku sambil hampir menangis, dan Yudha hanya diam sambil berusaha melepaskan tangannyu dari lengannya, “Yud, kemarin aku ada seleksi di Jakarta yud, aku berusaha ngasih tau kamu tapi HPmu ga aktif!” mendengar kalimat terkhirku, dia memandangku, bukan dengan wajah melembut, tapi justru terlihat emosinya menjadi naik dan dia melepaskan tanganku dengan paksa, apa salahku sebenarnya Yud!! Itu yang ingin kukatakan saat itu, sementara aku sudah berusaha memberitahunya soal ini, aku sudah berusaha mencarinya walau hasilnya nihil, tapi mengapa ia bisa semarah ini, itu yang belum aku tau hingga saat ini.

Sejak saat itu, dia menghindariku, dia bahkan tak lagi megaktifkan HPnya atau mungkin dia mengganti nomornya, aku beberapa kali mencooba datang kerumahnya, tapi, apa hasilnya? Dia tak pernah berada dirumah selain saat aku di sekolah, ketika kutanyakan pada mamanya, terlihat mamanya menjawab dengan penuh gamang,

“kemarin tante dah bicara sama yudha, dia gak cerita semua sama tante, “ kata mamanya,

“Icha berusaha jelasin te, tapi Yudha gamau denger,” jawabku lirih,

“yudha Cuma cerita Cha, kalo dia kecewa sama malu, dia sudah siapin semua secara matang, dia cerita banyak ke temen temennya, bahkan semua temennya dan official bersedia bantuin yudha, tapi kamu ga dateng,”

“Icha bukannya ga pengen dateng te, “
kataku, singat dan air mataku mulai menetes lagi

“tante juga berusaha jelasin itu ke Yudha, tapi kayaknya Yudha emang belum bisa diajak bicara, malah kita berantem kemaren Cha” aku hanya menunduk, kemudian mama yudha menggenggam tanganku,”tante janji bakal jelasin ke yudha, tante janji bakal pertahanin kamu Cha, please, janji kamu bakal bertahan”

“I’ll hold on as possible as I could te, sebagaimana aku selalu bilang ke tante,” dan kemudian aku teringat Tiara, iya, I’ll hold on dek, aku inget janjiku, aku akan bertahan sekuat yang aku bisa, aku yakin ini semua bakal berlalu, semoga..
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.