- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2261
PART 93
2 minggu pertama di kantor itu gue masih kebanyakan bengong kayak stupa Borobudur. Memang sih, frekuensi pekerjaan yang gue tangani semakin meningkat. Cuma rasio antara gue sibuk sama gue bengong masih banyakan bengongnya. Alhasil di situasi kayak gitu gue jadi punya waktu lebih banyak untuk mengenal temen-temen kantor gue yang lain.
Entah hoki gue atau cobaan, yang duduk tepat di sebelah meja gue adalah si biang ganjen Mbak Mira. Dia ini udah bersuami, anaknya satu, waktu itu masih lumayan kecil. Gak jarang dia iseng nyobek kertas kecil-kecil, kemudian dibentuk bola, dan dilemparin ke gue. Kalo udah gitu kadang gue godain dengan meniup lembut tuh bola kertas dari telapak tangan gue ke dia, layaknya cowok meniupkan ciuman ke cewek. Dan itu sukses bikin Mbak Mira salah tingkah. Kalo udah gitu gue cuma bisa ngakak sambil menutupi mata gue pake tangan.
Sementara Mbak Rani yang cool itu kadang-kadang masih bawain gue kopi, kadang-kadang juga gue yang sengaja titip bikinin kopi ke mbak Rani. Reaksi doi biasanya mencibir meskipun ujung-ujungnya gue tetep dibikinin kopi juga. Gak jarang gue iseng main ke ruangan mbak Rani, sekedar berbagi cemilan yang gue sedang gue makan. Dan biasanya mbak Rani menyambut tawaran gue itu tanpa malu-malu.
Suatu hari, gue lagi ngobrol sama Anin lewat Line. Dia ngabarin kalo bulan Februari mendatang bakal nyusul gue kesini, dia mau tinggal dirumah sodaranya di Cibubur sono. Gue nyengir lebar lah, siapa yang gak seneng ceweknya dateng nyusul di kota rantauan. Sambil senyum-senyum semi nyengir itu gue lanjutkan chattingan sama Anin. Mendadak gue ngeliat ada pantat duduk di bagian depan meja gue. Iya, pantat. Gue mendongak, ngeliat siapa empunya pantat yang duduk seenaknya di meja gue itu.
Gue mengulurkan handphone gue, dan Mbak Rani memandangi foto Anin cukup lama. Untung yang gue tunjukin itu foto Anin paling cantik yang gue punya. Kalo mbak Rani gue tunjukin foto Anin yang lagi bangun tidur bisa berabe ntar komentarnya.
Suatu malam, beberapa hari setelah obrolan diatas.
Gue gegulingan di tempat tidur, lampu udah gue padamkan dari tadi. Gue melihat jam di layar handphone gue, dan waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Gue gak bisa tidur. Kemudian gue menoleh ke jendela yang kebetulan menempel dengan tempat tidur gue, dan tampaklah pemandangan kota Jakarta dari lantai 16 tempat gue tinggal. Lampu-lampu kota Jakarta yang masih gemerlapan di jam segini, membuat gue takjub untuk kesekian kalinya, bahwa ibukota negara ini memang gak pernah tidur.
Gue masih gegulingan dengan gelisah, dan sesekali membuka social media lewat handphone. Setelah beberapa saat, gue tau apa yang harus gue lakukan. Gue mencari nama, satu nama teratas di kontak, dan meneleponnya. Dan seperti yang gue duga, dia selalu ada untuk gue. Sebuah suara lembut yang sangat familiar di kuping gue terdengar di ujung sana.
2 minggu pertama di kantor itu gue masih kebanyakan bengong kayak stupa Borobudur. Memang sih, frekuensi pekerjaan yang gue tangani semakin meningkat. Cuma rasio antara gue sibuk sama gue bengong masih banyakan bengongnya. Alhasil di situasi kayak gitu gue jadi punya waktu lebih banyak untuk mengenal temen-temen kantor gue yang lain.
Entah hoki gue atau cobaan, yang duduk tepat di sebelah meja gue adalah si biang ganjen Mbak Mira. Dia ini udah bersuami, anaknya satu, waktu itu masih lumayan kecil. Gak jarang dia iseng nyobek kertas kecil-kecil, kemudian dibentuk bola, dan dilemparin ke gue. Kalo udah gitu kadang gue godain dengan meniup lembut tuh bola kertas dari telapak tangan gue ke dia, layaknya cowok meniupkan ciuman ke cewek. Dan itu sukses bikin Mbak Mira salah tingkah. Kalo udah gitu gue cuma bisa ngakak sambil menutupi mata gue pake tangan.
Sementara Mbak Rani yang cool itu kadang-kadang masih bawain gue kopi, kadang-kadang juga gue yang sengaja titip bikinin kopi ke mbak Rani. Reaksi doi biasanya mencibir meskipun ujung-ujungnya gue tetep dibikinin kopi juga. Gak jarang gue iseng main ke ruangan mbak Rani, sekedar berbagi cemilan yang gue sedang gue makan. Dan biasanya mbak Rani menyambut tawaran gue itu tanpa malu-malu.
Suatu hari, gue lagi ngobrol sama Anin lewat Line. Dia ngabarin kalo bulan Februari mendatang bakal nyusul gue kesini, dia mau tinggal dirumah sodaranya di Cibubur sono. Gue nyengir lebar lah, siapa yang gak seneng ceweknya dateng nyusul di kota rantauan. Sambil senyum-senyum semi nyengir itu gue lanjutkan chattingan sama Anin. Mendadak gue ngeliat ada pantat duduk di bagian depan meja gue. Iya, pantat. Gue mendongak, ngeliat siapa empunya pantat yang duduk seenaknya di meja gue itu.
Quote:
Gue mengulurkan handphone gue, dan Mbak Rani memandangi foto Anin cukup lama. Untung yang gue tunjukin itu foto Anin paling cantik yang gue punya. Kalo mbak Rani gue tunjukin foto Anin yang lagi bangun tidur bisa berabe ntar komentarnya.
Quote:
Suatu malam, beberapa hari setelah obrolan diatas.
Gue gegulingan di tempat tidur, lampu udah gue padamkan dari tadi. Gue melihat jam di layar handphone gue, dan waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Gue gak bisa tidur. Kemudian gue menoleh ke jendela yang kebetulan menempel dengan tempat tidur gue, dan tampaklah pemandangan kota Jakarta dari lantai 16 tempat gue tinggal. Lampu-lampu kota Jakarta yang masih gemerlapan di jam segini, membuat gue takjub untuk kesekian kalinya, bahwa ibukota negara ini memang gak pernah tidur.
Gue masih gegulingan dengan gelisah, dan sesekali membuka social media lewat handphone. Setelah beberapa saat, gue tau apa yang harus gue lakukan. Gue mencari nama, satu nama teratas di kontak, dan meneleponnya. Dan seperti yang gue duga, dia selalu ada untuk gue. Sebuah suara lembut yang sangat familiar di kuping gue terdengar di ujung sana.
Quote:
Diubah oleh jayanagari 02-03-2015 20:12
chanry dan 6 lainnya memberi reputasi
7


: senyum-senyum sendiri dari tadi, napa sih?
: eh, mbak
: hooh
: beneran ini?
: iyalah, emang aku ada tampang boong ya mbak? Tatap mata saya (dengan nada Deddy Corbuzier)
: kok dia mau sama kamu?
: kamu sekali lagi bilang “lho kok tau” aku lempar lho
: yah bijitulah, 4 tahun lebih mbak, mau 5…
: be-gi-tu-lah mbaaak
: nah gitu. Namanya Anindya ya?

: I miss you too, honey. Kayaknya kamu bilang gini cuma setahun sekali ya mas. Hihihi.
: dua-duanya.