Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
728.9K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#2220
PART 103
Malamnya selepas waktu Isya, gw sudah bersiap siap menjemput Bunga demi menepati janji gw untuk traktir dia makan. Saat itu gw mengenakan pakaian cukup rapi diantaranya kaos Iron Maiden dan celana jeans hitam soek di bagian lutut (kaya begini dibilang rapi?). Setidaknya walau cuma makan di kedai pecel lele pinggir jalan, aktifitas kaya gini tetap saja disebut dinner. Dan pakaian gw juga mesti istimewa layaknya eksekutip muda KW-70.

Sesampainya disana gw lihat Bunga sudah menunggu duduk bersandar pada kursi beton di depan rumahnya. Tak ada senyum manis yang biasa dia berikan ketika menyambut kedatangan gw. Tak ada pula canda tawa khasnya yang selalu membuat gw cengar cengir sendirian. Yang dia lakukan hanya diam lantas tersenyum ala kadarnya. Ekspresi seperti itu justru menjadi sebuah tanda tanya besar buat gw. Bunga kenapa?

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, kami tiba di sebuah kedai pecel lele pinggir jalan tak jauh dari komplek perumahannya. Bokong gw segera mendarat mulus di atas kursi plastik, disusul Bunga yang duduk tepat disamping gw. Kemudian datanglah dua mangkuk aer kobokan lengkap dengan irisan jeruk nipis.

"Kamu mau hiu junior (lele) apa t-rex dikutuk (ayam)?" Tanya gw pada Bunga.

"Hiu aja deh..." Jawabnya.

"Bang hiunya dua sama es teh manis dua juga." Ucap gw setengah berteriak pada si abang.

Bukannya langsung bergerak nyiapin pesanan gw, si abang ini malah menatap gw sembari mengernyitkan dahi.

"Hiu nggak ada mas...." Ucapnya.

"Aih....Maksud saya lele bang!"

"Oh lele...Bilang kek. Malah hiu!" Gerutu si abang.

"....." Gw nyengir.

Tak lama kemudian pesanan kami datang yakni dua porsi pecel hiu junior dan dua gelas es teh manis. Berhubung gw sudah sangat kelaparan, akhirnya gw langsung menyantap pecel hiu tersebut dimulai dari gadoin daun kemangi. Kemudian gw menoleh ke samping, dan gw lihat Bunga nggak langsung makan. Dia malah maenin sedotan es teh manis sementara kepalanya bertumpu pada tangan kiri di atas meja.

"Ayo makan dulu...jangan didiemin aja ntar hiunya jadi megalodon loh." Canda gw.

"Haha iya..." Sahutnya lesu.

"Kamu kenapa? aku perhatiin datitadi lemes banget."

"Nggak apa apa..."

"Ada masalah?"

"......" Dia menggeleng.

"Yaudah sekarang kamu makan dulu, abis itu cerita sama aku ada apa."

"He'em..."

Singkat cerita makan pun selesai. Gw berhasil menghabiskan makanan tanpa sisa kecuali tulang dan kepala hiu. Sementara Bunga tak sampai habis. Masih cukup banyak makanan yang tersisa diantaranya potongan tubuh hiu dan beberapa lembar daun kemangi. Kemudian dia malah memberikan sisa hiu itu pada komplotan kucing liar dan otomatis itu kucing pada berebut sambil nguang ngeong gak jelas.

"Kamu mau ngomong apa Bung?" Tanya gw selesai makan.

"Emm, kayanya jangan ngobrol disini deh."

"Mau dimana?"

"Terserah, asal jangan di tempat yang rame." Ujarnya.

"Yaudah ke PEMDA aja yuk.. Mau nggak?" Usul gw.

"Boleh." Jawabnya setuju.

Gw kendarai jupi dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang lumayan ramai. Sementara gw makin penasaran dengan apa yang akan Bunga sampaikan kepada gw. Kelihatannya ini bakal menjadi masalah serius mengingat ekspresi dia yang tak biasanya. Kemudian gw menepikan motor di warung wedang jahe bermodel angkringan. Gw masuk ke dalam sedangkan Bunga menunggu gw duduk di atas motor. Kini dua gelas wedang jahe sudah ada di tangan gw dimana satunya lagi untuk bidadari gw yang lagi cemberut.

"Sini duduk..." Ujar Bunga mengajak gw duduk di trotoar.

"......" Gw segera duduk lalu menyeruput wedang hangat di tangan gw.

"Ada dua hal yang mau aku omongin sama kamu..." Ucapnya

"Iya, ngomong aja."

"Yang pertama. Kamu mau sampe kapan?" Tanya dia.

"Maksudnya?" Gw bertanya balik, tidak faham atas pertanyaannya.

"Mau sampe kapan bertahan sama kebohongan ini?" Tanya dia.

"......." Gw mengangkat bahu sebagai isyarat nggak tahu.

"Aku jadi ngerasa berdosa juga sama orang tua kamu Jar. Karena aku ikut nutupin kebohongan kamu. Kapan kamu mau jujur sama mereka?"

"Nggak tau....Aku belum berani ngomong."

"Kamu laki laki, dan kamu harusnya bisa gentle dong! Jujur dengan apapun yang terjadi ke orang tua kamu! Jangan nyembunyiin bangke Jar!"

"......"

"Seandainya nanti orang tua kamu tau yang sebenarnya dan mereka taunya dari orang lain, bukan dari mulut kamu. Terus gimana perasaan mereka nanti?"

"Haah..." Gw menghela nafas.

"Udah hampir satu bulan Jar kamu nutupin ini semua. Sebesar apapun sebuah kebohongan, lebih baik ketauan di awal. Daripada ketauan di akhir, itu jauh lebih menyakitkan."

"Iya aku ngerti. Aku juga lagi nyari cara buat ngomong sama mereka."

"Cara apa? Emang kalo mau jujur harus pake cara ya? Tinggal ngomong apa susahnya..." Ujarnya.

"Kamu ga tau sih susahnya jadi aku!!" Protes gw.

"Nggak ada yang susah Jar!! Kamu justru malah menyusahkan diri kamu sendiri..."

"Terus aku mesti gimana?" Tanya gw frustasi.

"Jujur sama mereka...."

"Ya nanti aku bakalan ngomong."

"Jangan di tunda tunda lagi. Sebelum semuanya makin runyam terus berdampak buruk buat masa depan kamu...."

"......"

"Dan masa depan kita....." Lanjut dia seraya tersenyum manis.

"Iya."

Kemudian Bunga menggenggam tangan kanan gw lalu tersenyum manis sembari merapihkan poninya yang tertiup angin. Dia, tak pernah lelah menghadapi gw, menghadapi sifat pengecut gw dan dia selalu menekankan pada gw untuk jujur. Sebenarnya gw juga nggak mau nutupin masalah ini ke orang tua gw. Gw cuma takut, takut mereka kecewa terhadap gw karena sudah tak terhitung berapa kali gw mengecewakan mereka selama gw hidup di dunia. Biarlah orang tua gw nggak tau kalau gw udah nggak kuliah, tapi di sisi lain, kelak gw akan membayar segala kekecewaan mereka dengan kesuksesan gw di masa depan.

Sudah hampir sepuluh menit kami hanya saling diam tak bersuara. Keadaan disini yang tadinya ramai, perlahan lahan mulai sepi. Gw melirik jam tangan gw, waktu menunjukkan sudah lebih dari jam 9 malam. Lalu tak lama kemudian gw merasa Bunga mengencangkan genggaman tangannya di tangan gw. Dia menghirup nafas panjang, lalu mulai membuka suara lagi.

"Terus yang kedua...." Ujarnya.

"......"

"Aku mau dimasukin jadi CPNS...." Ucapnya.

"Kapan?"

"Bulan depan...."

"Terus kuliah kamu?" Tanya gw.

"Entahlah...Sebenernya aku mau fokus kuliah dulu sampe lulus. Dan saat ini aku nggak mau mikirin kesana."

"....."

"Di satu sisi aku emang minat buat kesana. Tapi di lain sisi, aku belum siap kalau untuk sekarang. Menurut kamu gimana?" Tanya dia.

"Yaudah kamu ikut aja seleksinya. Aku yakin kok, kamu pasti diterima. Masalah kuliah kan bisa ambil cuti dulu. Terus kalau udah diterima jadi PNS, kamu bisa lanjutin lagi, tapi pindah program dari kelas reguler ke non reguler" Ucap gw.

"Iya sih aku mikirnya juga gitu...Tapi aku masih bingung aja." Ujarnya.

"Kenapa bingung? kan enak jadi PNS. Kerja nyantai, ditanggung negara, nggak ada bayang bayang dipecat, seandainya pensiun pun masih dapet tunjangn dari pemerintah..."

"Iya kamu betul, tapi...."

"...Apa?"

"Misalnya aku diterima jadi PNS, terus aku ditempatin di luar kota atau bahkan di luar Jawa gimana? Kamu tau kan, aku nggak bisa jauh dari orang orang yang aku sayang. Terutama kamu...."

"Yaa itu resikonya..."

"Jadi nggak ada solusi nih?"

"Istikharah....Minta petunjuk sama DIA" Ucap gw.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.