Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#2205
PART 102
"Ma aku berangkat...." Ucap gw.

"Nih ongkosnya Kak."

"Nggak usah Ma. Masih ada kok...."

"Emang kamu punya uang? Semenjak masuk kuliah kamu belum pernah minta uang ke mama."

"Ada kok mah tenang aja..." Timpal gw lalu tersenyum pada bidadari No.1

Beres memakai sepatu, kemudian gw berjalan ke garasi hendak memanaskan motor kesayangan gw. Itupun tak lama, hanya sekitar 3 menitan. Namun dalam 3 menit itu fikiran gw berselancar pergi entah kemana. Gw merasa menjadi anak yang durhaka, bahkan lebih durhaka dari seorang Malin Kundang. Kebohongan ini masih terus berjalan dan belum ada satu orang pun dari keluarga gw yang tahu. Hidup gw pun semakin lama semakin tak tenang dihinggapi bayang bayang dosa serta perasaan bersalah.

Semenjak kuliah gw berantakan, gw pun memilih untuk bekerja sebagai Sales Regulator LP*. Gw bekerja disini juga berkat bantuan dari Dedi. Karena dia yang menyalurkan gw untuk bekerja disini lewat salah satu saudaranya. Kerjaan macam begini gw jalani semata mata untuk mengisi waktu luang gw sembari menunggu pekerjaan yang jauh lebih layak dan serius. Yah, itung itung buat gw jajan plus beli rokok.

Saat itu memang permasalahan gas LP* 3kg sedang menjadi buah bibir di masyarakat luas lantaran suka mbeledos. Gw fikir ini sebuah peluang untuk gw menjemput rezeki. Singkat cerita, sekarang gw sudah berada di sebuah komplek perumahan daerah Citeureup yang jaraknya lumayan jauh dari daerah gw. Dengan memakai seragam hitam putih khas sales, gw pun memulai aktifitas door to door untuk memasarkan barang dagangan gw.

"Permisi Bu, saya mau nawarin regulator buat............."

Belum selesai gw menjelaskan barang yang gw jual, lantas si Ibu gendut ini langsung bicara, "Nggak mas!". Karena sudah ditolak mentah mentah, gw langsung pergi sambil menggerutu "sombong amat nih orang!". Kemudian gw lanjut menyambangi rumah demi rumah, warung demi warung, Ibu-Ibu PKK, Bapak-Bapak pengangguran, hingga tak terasa adzan Zuhur sudah berkumandang keluar dari TOA Masjid. Sampai detik itu juga barang dagangan gw belum ada yang laku. Hanya ucapan "enggak", "maaf", "Udah punya!" yang secara bergantian keluar dari mulut mereka.

Gw menepikan motor di sebuah mushola kecil, mengambil air wudhu, lalu menunaikan solat Zuhur. Setelah itu gw duduk di teras mushola sembari menghisap sebatang rokok lalu mengeluarkan HP nukiyem gw.

"Kamu lagi apa? Bales nggak pake lama!!" Sms dari Bunga.

Saat hendak mengetik sms balasan, tiba tiba hp gw berdering, Bunga menelefon gw.

"Halo...." Ucap gw.

"Sedang apakah dirimu disana?" Tanya dia.

"Hayah...baru selesai solat nih."

"Waa tumben kamu jadi rajin solat. Biasanya cuma magrib doang..." Sindirnya

"Yeee!!"

"Gimana kerjaan kamu? Udah ada yang kejual?"

"Belum...." Jawab gw lesu.

"Semangat dong jangan lemes..."

"Hehe denger suara kamu aja aku langsung semangat nih!" Ujar gw.

"Huuh gembel!"

"Gombal woi!!"

"Haha iya lah terserah kamu. Oya, nanti kalo kamu udah pulang, ke rumah aku ya. Ada yang mau aku omongin."

"Ngomongin apa?" Tanya gw.

"Ada deh....Penting!"

"Seberapa penting?"

"Udah ah nanti aja yaa...."

"Klik...." Telefon ditutup olehnya.

Sial! Maen tutup aja nih anak kebiasaan banget. Dengan sedikit kesal gw kembali memakai sepatu, kemudian lanjut dagang lagi. Rumah demi rumah sudah gw paranin tapi dagangan gw belum ada yang laku juga. Gw sempat merasa frustasi namun gw tak menyerah begitu saja. Gw berfikir keras, gimana caranya supaya barang dagangan gw bisa laku. Kemudian gw berhenti di sebuah rumah dimana ada sesosok Ibu ibu tengah menyapu halaman depan.

"Permisi Bu?"

"Ya..."

"Ibu pake LP* nggak?" Tanya gw.

"Iya mas pake."

"Tabung 3 kilo apa 12 kilo Bu?"

"3 kilo."

"Udah berapa lama Bu pake LP*?" Tanya gw lagi.

"Udah lama mas. Ada 2 tahunan." Jawabnya.

"Ibu udah pernah ganti ini belum?" Tanya gw sambil menunjukkan Regulator gas.

"......." Si Ibu menggeleng.

"Waw Amazing!! dua tahun belum pernah diganti!! Ibu tau nggak bahayanya kalau regulator rusak?"

"Alhamdulillah nggak pernah ada apa apa mas. Regulatornya masih bagus kok." Ucap si Ibu.

"Oh gitu ya Bu....Ibu bisa tau regulatornya bagus dari mana?"

"Ya nggak bocor mas."

"Mungkin sekarang nggak bocor, tapi besok gimana?"

"Emm iya juga sih....." Ujar si Ibu.

Dari sini gw sudah yakin kalau si Ibu ini mulai masuk ke dalam omongan gw. Selanjutnya yang gw lakukan adalah terus bertanya pada si Ibu ini.

"Boleh saya sek tabung gas Ibu?"

"Emmm yaudah mas."

Dengan dia mengizinkan gw mengecek tabung gasnya, bisa dipastikan 75% si Ibu ini bakalan beli barang dagangan gw. Tapi, gw mesti harus meyakinkan si Ibu ini sampai dia benar benar yakin 100%. Kemudian gw melepas regulator dari tabung untuk sedikit mengecek kondisanya.

"Wah Bu, selangnya udah kaku banget nih. Ditambah tuas pengunci regulatornya udah aus. Ibu tau kan kalo ini bisa menyebabkan kebocoran?" Tanya gw.

"......" Si Ibu mengangguk.

"Nah sekarang silahkan Ibu pasang sendiri deh regulatornya" Ujar gw

"Loh kok saya? Kan tadi si masnya yang buka..."

"Saya nggak mau nanti dikira curang sama Ibu kalau saya yang masang. Makannya saya minta Ibu aja yang pasang sendiri."

Si Ibu pun nurut sama gw memasang regulator ke tabung. Kemudian gw mengambil korek tok*i dari saku celana, kemudian korek itu gw nyalakan di dekat tabung gas. Ekstrem? Ya ini ekstrem! Lalu,

"Berr...."

Seketika api pun menyambar. Tidak besar sih, hanya seperti jilatan api saja. Gw kaget, si Ibu jauh lebih kaget lantas teriak teriak mengucapkan istighfar.

"Astaghfirullah mas kalau meledak gimana??"

"Tenang aja Bu..." Jawab gw gemetar.

"Astaghfirullah...."

"Nah ibu liat sendiri kan kalau regulator Ibu ini udah nggak bagus alias rusak alias bocor! Jadi, Ibu masih mau pake regulator ini??"

"Nggak mas!! Yaudah deh ganti aja sama punya mas!!"

Tetoot!! Kena lu!! Dan akhirnya si Ibu masuk ke dalam kamar mengambil uang senilai 250 ribu lalu memberikannya pada gw. Ada uang ada barang, gw lalu memasang regulator dagangan gw ke tabung gas. Kemudian gw ambil korek lagi, menyalakannya di sekitar tabung.

"Cekrek...."

"Nih Bu liat....Sekarang aman kan?" Tanya gw.

"Iya mas aman."

"Kalo kaya begini Ibu tenang kan?"

"....." Ibu mengangguk.

"Ibu nggak was was lagi kan kalo lagi masak?"

"Iyah mas."

Akhirnya gw dapet panglaris juga dan 250 ribu berada di tangan gw. Kemudian gw lanjut menawarkan dagangan gw ke tempat lain dengan cara yang sama, jurus yang sama, serta taktik yang sama. Hingga tak terasa barang gw habis terjual semuanya.

Dari sini gw dapat pelajaran berharga, pelajaran yang gw dapat melalui insting dan naluri yang keluar begitu saja tanpa ada planning apapun. Karena prinsip marketing itu adalah, "Yang bertanya, dia yang menang. Yang bertanya, dialah yang mengendalikan pembicaraan". Dan gw sudah melakukan hal itu semuanya.
Gw pun balik ke kantor dengan senyum lebar serta setumpuk kepuasan di dalam hati gw.

"Bos, setor nih..." Ucap gw pada si Bos sembari memberikan setumpuk uang.

"Widih??? Banyak amat? Dagangan lu abis?"

"......" Gw hanya mengangkat alis menjawab pertanyaannya.

"Nih bonus buat lu...Hebat lu baru hari pertama udah bisa ngejual 5 biji!!"

"Oke bos. Gue balik ya...."

Sesaat sebelum pulang mengendarai Jupi, gw mengeluarkan HP lalu mengetik sebuah sms.

"Hey Jembung, makan pecel lele yuuk...Aku traktir!" Sent to Bunga.
Diubah oleh javiee 27-02-2015 17:05
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.