- Beranda
- Stories from the Heart
Kelakuan Anak Kuliah
...
TS
pujangga1000
Kelakuan Anak Kuliah
Quote:
Quote:
Quote:
----------------------------------------------------------------------------------
========================================
pujangga1000
Diubah oleh pujangga1000 19-09-2016 03:37
yusrillllll dan 23 lainnya memberi reputasi
22
3.9M
7.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pujangga1000
#1611
Unfooled
Kuliah terakhir hari ini sudah selesai. Gue bereskan buku dan pulpen gue ke dalam tas. Bergegas gue berjalan menuju kelas Una. Tidak lupa ada coklat dalam genggaman yang hendak diberikan. Gue sudah berdiri dikelas Una, tapi gue gak menemukan sosok yang gue cari. Gue coba tanya ke Wawan. Katanya, Una udah pergi daritadi. Gue coba cari dikantin, tapi gue gak melihat sosoknya. Gue coba cari diparkiran, tapi motor Una kelihatannya sudah tidak ada. Akhirnya coklat ini gue bagi berdua dengan Imus di kandang.
Gue menuju parkiran untuk pulang ke kostan. Sialnya ternyata ban roda depan motor gue kempes. Terpaksa gue dorong motornya sampai perempatan jakal untuk nyari tukang tambal ban. Saat dicek sama tukang tambal ban, ternyata ban gue bocor tiga lobang karena paku payung. Sialan, apa iya gue saking galaunya sampai gak ngeliat jalanan?
Malamnya harap-harap cemas gue megang hp. Gue menunggu benda ini untuk berdering. Gue berharap Una sms gue duluan malam ini. Mungkin gue mengalami sindrom kepanikan, jadi bentar-bentar gue mengalihkan mata gue ke hp. Karena gue merasa kalo benda itu berbunyi. Setelah gue cek, ternyata tidak ada apa-apa. Sampai waktu sudah menunjukkan terlalu larut, gue tetap tidak mendapatkan sms atau telpon apapun malam ini. Tidak ada ajakan dinner seperti biasanya. Tidak juga dengan obrolan gak jelas seperti sebelum-sebelumnya.
***
Tiga malam sudah gue lewati dengan menahan ego untuk menghubungi Una duluan. Gue rasa, gue pantas untuk dihubungi duluan oleh Una. Gue pantas mendapat tanggapan terhadap apa yang sudah gue sampaikan kepadanya. Gue berharap ada tanggapan positif dari Una. Tapi jika yang akan diberikan adalah tanggapan negatif, gue tetap akan menerimanya. Toh itu merupakan keputusan Una. Gue tidak berhak untuk mempengaruhinya.
Nyatanya, gue malah tidak mendapat tanggapan sama sekali. Jadi harus gue artikan sebagai apa? Positif atau negatif? Ditengah lamunan gue, tiba-tiba sebuah pesan masuk..
"Bang, uda pernah ngerjain soal x, halaman xx belum?"
dari Una
Wanita ini tiga hari hilang tanpa kabar. Tiba-tiba menghubungi gue hanya untuk bertanya mengenai kuliah. Haruskah gue senang? Well, gue memang mengharapkan dihubungi duluan.
"Sudah"
to Una
Gue sengaja membalas pendek pesan tersebut. Entahlah. Gue berharap Una mengerti maksud gue kalo gue kecewa dengannya.
"Ajarin bang
"
dari Una
"Besok aja ya"
to Una
"Sekarang gak bisa bang? Besok mau dikumpul soalnya"
dari Una
Awalnya gue sengaja mau ngajak dia ketemuan besok. Gue mau liat apakah tingkap laku dan sikapnya terhadap gue masih sama seperti sebelumnya, atau sudah mengalami perubahan. Eh, ternyata Una ngajak ketemuan sekarang. Akhirnya kita sepakat buat ketemuan di restoran cepat saji yang buka 24 jam.
***
Gue sudah berusaha dingin terhadap dirinya. Tapi apa daya, ternyata gue gagal. Tingkah laku dan sikapnya tidak berubah. Masih manja seperti sebelumnya. Rasa-rasanya tidak terjadi apa-apa kemarin.
Gue ingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Gue dan Una berantem dan diem-dieman, tapi besoknya kita kembali normal. Hal ini juga terjadi malam ini. Tiga hari kita diem-dieman, sekarang kita sudah seperti biasa, layaknya tidak terjadi apa-apa.
Gue mengambil kesimpulan kalo ternyata Una memang tidak punya rasa apa-apa terhadap gue. Bahasa kasarnya, gue dibercandain olehnya. Oke kalau begitu! Kalau dulu gue bisa dibercandain oleh Una, sekarang gue gak bisa lagi. Perasaan gue bukan untuk dibuat lelucon seperti ini. Daripada gue terbuai terlalu dalam dengan permainannya dan akhirnya malah sakit sendiri, mending gue mengundurkan diri.
Saat pulang dan kita hendak berjalan menuju parkiran motor. Tangan Una tiba-tiba menggenggam tangan gue. Hal ini biasa kita lakukan dulu. Tapi sekarang...
" (gue tepis tangan Una secara halus) "
"
" Una melihat gue heran
" (kedua tangan gue masukkan ke kantong jaket) "
"
" Una masih melihat gue heran
"
" Gue tersenyum tipis ke arah Una
Sudah menjadi keputusan gue kalau gue harus mengakhiri hubungan "pura-pura" ini.
Gue menuju parkiran untuk pulang ke kostan. Sialnya ternyata ban roda depan motor gue kempes. Terpaksa gue dorong motornya sampai perempatan jakal untuk nyari tukang tambal ban. Saat dicek sama tukang tambal ban, ternyata ban gue bocor tiga lobang karena paku payung. Sialan, apa iya gue saking galaunya sampai gak ngeliat jalanan?
Malamnya harap-harap cemas gue megang hp. Gue menunggu benda ini untuk berdering. Gue berharap Una sms gue duluan malam ini. Mungkin gue mengalami sindrom kepanikan, jadi bentar-bentar gue mengalihkan mata gue ke hp. Karena gue merasa kalo benda itu berbunyi. Setelah gue cek, ternyata tidak ada apa-apa. Sampai waktu sudah menunjukkan terlalu larut, gue tetap tidak mendapatkan sms atau telpon apapun malam ini. Tidak ada ajakan dinner seperti biasanya. Tidak juga dengan obrolan gak jelas seperti sebelum-sebelumnya.
***
Tiga malam sudah gue lewati dengan menahan ego untuk menghubungi Una duluan. Gue rasa, gue pantas untuk dihubungi duluan oleh Una. Gue pantas mendapat tanggapan terhadap apa yang sudah gue sampaikan kepadanya. Gue berharap ada tanggapan positif dari Una. Tapi jika yang akan diberikan adalah tanggapan negatif, gue tetap akan menerimanya. Toh itu merupakan keputusan Una. Gue tidak berhak untuk mempengaruhinya.
Nyatanya, gue malah tidak mendapat tanggapan sama sekali. Jadi harus gue artikan sebagai apa? Positif atau negatif? Ditengah lamunan gue, tiba-tiba sebuah pesan masuk..
"Bang, uda pernah ngerjain soal x, halaman xx belum?"
dari UnaWanita ini tiga hari hilang tanpa kabar. Tiba-tiba menghubungi gue hanya untuk bertanya mengenai kuliah. Haruskah gue senang? Well, gue memang mengharapkan dihubungi duluan.
"Sudah"
to UnaGue sengaja membalas pendek pesan tersebut. Entahlah. Gue berharap Una mengerti maksud gue kalo gue kecewa dengannya.
"Ajarin bang
"
dari Una"Besok aja ya"
to Una"Sekarang gak bisa bang? Besok mau dikumpul soalnya"
dari UnaAwalnya gue sengaja mau ngajak dia ketemuan besok. Gue mau liat apakah tingkap laku dan sikapnya terhadap gue masih sama seperti sebelumnya, atau sudah mengalami perubahan. Eh, ternyata Una ngajak ketemuan sekarang. Akhirnya kita sepakat buat ketemuan di restoran cepat saji yang buka 24 jam.
***
Gue sudah berusaha dingin terhadap dirinya. Tapi apa daya, ternyata gue gagal. Tingkah laku dan sikapnya tidak berubah. Masih manja seperti sebelumnya. Rasa-rasanya tidak terjadi apa-apa kemarin.
Gue ingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Gue dan Una berantem dan diem-dieman, tapi besoknya kita kembali normal. Hal ini juga terjadi malam ini. Tiga hari kita diem-dieman, sekarang kita sudah seperti biasa, layaknya tidak terjadi apa-apa.
Gue mengambil kesimpulan kalo ternyata Una memang tidak punya rasa apa-apa terhadap gue. Bahasa kasarnya, gue dibercandain olehnya. Oke kalau begitu! Kalau dulu gue bisa dibercandain oleh Una, sekarang gue gak bisa lagi. Perasaan gue bukan untuk dibuat lelucon seperti ini. Daripada gue terbuai terlalu dalam dengan permainannya dan akhirnya malah sakit sendiri, mending gue mengundurkan diri.
Saat pulang dan kita hendak berjalan menuju parkiran motor. Tangan Una tiba-tiba menggenggam tangan gue. Hal ini biasa kita lakukan dulu. Tapi sekarang...
" (gue tepis tangan Una secara halus) "
"
" Una melihat gue heran" (kedua tangan gue masukkan ke kantong jaket) "
"
" Una masih melihat gue heran"
" Gue tersenyum tipis ke arah UnaSudah menjadi keputusan gue kalau gue harus mengakhiri hubungan "pura-pura" ini.
jenggalasunyi dan 5 lainnya memberi reputasi
6
