- Beranda
- Stories from the Heart
when its too late to regret
...
TS
mikhaellafezy
when its too late to regret

Quote:
Quote:
Quote:
Quote:


Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy 15-04-2015 16:38
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
327
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mikhaellafezy
#65
kita butuh jarak untuk bisa melihat
Kata kata mama Yudha benar benar terngiang di kepalaku, bahkan sampai aku pulang,dirumah aku seperti orang linglung dan tidak bisa fokus terhadap apapun. Bukan karena aku tidak mau, aku hanya masih belum percaya kalau semua ini terjadi, rasanya baru kemarin aku melihat Yudha untuk pertama kalinya di kelas siang itu, rasanya baru kemarin aku merasakan jatuh cinta dan jadi penggemar rahasia, tapi sore ini aku mendengar Mama dari seorang yang waktu itu hanya bisa ku kagumi dari jauh memintaku menjadi menantunya, Ya Tuhan apakah ini nyata ?!
Bahkan aku sudah tidak memandang Yudha sebagai orang yang sama lagi, entah mengapa aku memandangnya dengan cara yang berbeda, dalam hatiku penuh pertanyaan, akankah dia benar benar jadi suamiku? Aku bahkan belum bisa membayangkan menjadi seorang istri, dan yang lebih menggelayut lagi adalah akankah dia bisa setia ketika nanti kami terpisah saat jauh dengan tempo yang bukan hanya harian atau mingguan, tapi berbulan bulan, bahkan bertahun tahun. Bukannya aku tidak mau atas lamaran ini, hanya saja aku belum percaya dengan apa yang aku alammi, aku selalu percaya pada Yudha, tapi perasaan takut kehilangan itu tetap ada.
Dia pernah bilang, dia tak sanggup meskipun hanya untuk membayangkan saat jauh dariku, dia pernah menangis ketika kutanyakan apakah dia sanggup menjaga hatinya ketika kami jauh. Apalagi kami sekarang selalu bertemu setiap hari, bagaimana nantinya kami harus tiba tiba berpisah lama, tanpa bertemu, hanya bisa menyalurkan rindu lewat suara, Ya Tuhan aku sangat galau.
“buk,, mbak mau cerita,” kataku pada ibu yang sedang berkutat di dapur,
“kenapa mbak? Mau cerita apa?” kata ibu sembari masih memotong motong kentang untuk makan malam nanti. “marahan ya sama Yudha, kok kayaknya murem gitu?”
“ngga buk, malah sebaliknya,”
“mm, maksudnya mbak?” jawab ibuku sambil mengrenyitkan dahinya
“kemarin kan mbak kerumah Yudha ya buk, siang kemarin tu hlo” aku memulai dengan tempo yang sangat lambat
“oh, iya kemarin, kenapa mbak?”
“masa mamanya Yudha bilang buk,” aku terdiam sebentar, “ kalau aku jadi sekolah di luar negeri nanti, aku mau dilamar sebelum berangkat buk,”
Ibu terlihat kaget lalu berhenti memotong kentang, ibu Cuma diam melihatku, dengan ekspresi sangat kaget. Cukup lama ibu diam sambil melihatku lalu ia terlihat berfikirkeras, saat itu aku benar benar takut ibu memarahiku, mungkin karena aku masih terlalu muda, atau hubunganku dengan Yudha yang masih sebentar.
“terus mbak jawab apa?” tanya ibu, datar sekali
“mbak ndak jawab buk, Cuma diem, lah bingung, mesti gimana” jawabku sambil menundukkan pandanganku
“mbak sayang ndak sama mas Yudha? Terus yakin sama dia?” tanya ibu lagi, mendekati wajahku
“sayang ya sayang buk, cocok ya iya, nyaman ya iya, yakin ya yakin, “ jawabku sambil memandangi ibu, takut sekal, tapi kemudian ibu tersenyum.
“ibu sama ayah juga punya pikiran begitu sih, jadi kapan mamanya Yudha mau kesini” katanya sambil kembali melanjutkan memotong kentang.
“maksudnya buk? Mbak kira ibuk marah tadi” jawabku sedikit dongkol
“ibuk kaget aja mba, kok bisa mamanya Yudha punya pikiran yang sama kaya ibuk sama ayah, lagian ibuk pengen nggodain mbak aja kok hhehe” jawab ibu dengan nada bercanda
“ah ibuk, anaknya lagi bingung gini”
“hehe, lha gimana? Mbak mau ndak ? rencana sih ibuk mau ngomongin ini setelah mbak resmi keterima beasiswa nanti, tapi kalo mamanya Yudha dahh ngomong dulu ya malah bagus,” jelas ibu
“ya mau sih buk, tapi mbak bingung, “ jawabku sambil menggaruk kepala
“kamu ragu sama Yudha?, kalo ibuk sih suka sama dia, soalnya selama ini dia kelihatan tanggung jawab sama mbak, keluarganya juga baik sama mbak”
“bukan buk, mbak cuman kasian kalo dia mesti nanggung tanggung jawab komitmen pas kita jauh nanti” aku menunduk
“mbak, justru itu buat nguji dia, apa dia bisa tahan ngadepin cobaan jauh dari kamu, ibuk sama ayah tuh dah cocok banget sama Yudha, tapi kan kita belum tau dia secara penuh, justru dengan begini, kamu bisa tau bagaimana mental dia sebenarnya,”ibu lalu meraih kedua tenagnku dan menggenggamnya,”kita butuh jarak untuk bisa melihat mbak,”
Lalu aku tersenyum dan memeluk ibu, ibu juga membalas pelukanku dengan hangat,”makasih ya buk, you’re my best of the best”
Aku jadi lebih lega sejak bercerita dengan ibu, bahkan malamnya ayah juga menasehatiku hampir sama seperti yang dibilang ibu. Bahkan ia menceritakan pengalaman masa mudanya,
“ mbak, cara terbaik menguji perasaan orang lain itu dengan membuat jarak mbak, dengan begitu kita bisa tau, bagaimana dia yang sebenarnya” aku Cuma mengangguk mendengarkan ketika ayah cerita,” dulu kan ayah sama ibu juga LDR, ayah di ITB, ibuk di Brawijaya, tapi nyatanya kita bisa tahan kan mbak?”
“itu kan masih satu pulau yah, “ jawabku,
“eh, kan waktu manten baru ibuk juga ayah tinggalin kuliah di luar negri, ibuk waktu itu masih hamilnya mbak, sampe ayah ga bisa nemenin pas mbak lahir,” ayah menceritakan kembali saat mereka baru menikah. Inilah yang menjadi dorongankku untuk sekolah diluar negeri, ayahku yang berhasil meraih beasiswa S2 di Jerman. Ayah dan ibu menikah sebelum ayah berangkat ke Jerman, jadi pas ibu hamil dan melahirkanku ayah tidak bisa menemani di sampingnya.
“kan ibuk sama ayah dah nikah ituu” jawabku lagiii
“jadi kamu pengen dinikahin sama Yudha?” kata ayah tegas memandangku, tapi kemudian dia tertawa
“ah ayah, becanda nih sukanya,” kataku sambil menepuk lengan ayah
“mbak, jarak itu bukan penyebab, distance means so little when we have greater love,” kata ayah mengusap kepalaku, aku Cuma tersenyum, lebih lega lagi, ternyata orangtuaku memang pakar LDR. “dah sekarang kamu mending berusaha buat seleksi dan ujianmu, ga usah terlalu mikirin ini, biar ayah sama ibu yang beresin oke mbak!”
“siap ndan,” kataku sambil hormat lalu ayah memelukku,
Terimakasih orangtuaku, kalian berdua memang hebat
Bahkan aku sudah tidak memandang Yudha sebagai orang yang sama lagi, entah mengapa aku memandangnya dengan cara yang berbeda, dalam hatiku penuh pertanyaan, akankah dia benar benar jadi suamiku? Aku bahkan belum bisa membayangkan menjadi seorang istri, dan yang lebih menggelayut lagi adalah akankah dia bisa setia ketika nanti kami terpisah saat jauh dengan tempo yang bukan hanya harian atau mingguan, tapi berbulan bulan, bahkan bertahun tahun. Bukannya aku tidak mau atas lamaran ini, hanya saja aku belum percaya dengan apa yang aku alammi, aku selalu percaya pada Yudha, tapi perasaan takut kehilangan itu tetap ada.
Dia pernah bilang, dia tak sanggup meskipun hanya untuk membayangkan saat jauh dariku, dia pernah menangis ketika kutanyakan apakah dia sanggup menjaga hatinya ketika kami jauh. Apalagi kami sekarang selalu bertemu setiap hari, bagaimana nantinya kami harus tiba tiba berpisah lama, tanpa bertemu, hanya bisa menyalurkan rindu lewat suara, Ya Tuhan aku sangat galau.
“buk,, mbak mau cerita,” kataku pada ibu yang sedang berkutat di dapur,
“kenapa mbak? Mau cerita apa?” kata ibu sembari masih memotong motong kentang untuk makan malam nanti. “marahan ya sama Yudha, kok kayaknya murem gitu?”
“ngga buk, malah sebaliknya,”
“mm, maksudnya mbak?” jawab ibuku sambil mengrenyitkan dahinya
“kemarin kan mbak kerumah Yudha ya buk, siang kemarin tu hlo” aku memulai dengan tempo yang sangat lambat
“oh, iya kemarin, kenapa mbak?”
“masa mamanya Yudha bilang buk,” aku terdiam sebentar, “ kalau aku jadi sekolah di luar negeri nanti, aku mau dilamar sebelum berangkat buk,”
Ibu terlihat kaget lalu berhenti memotong kentang, ibu Cuma diam melihatku, dengan ekspresi sangat kaget. Cukup lama ibu diam sambil melihatku lalu ia terlihat berfikirkeras, saat itu aku benar benar takut ibu memarahiku, mungkin karena aku masih terlalu muda, atau hubunganku dengan Yudha yang masih sebentar.
“terus mbak jawab apa?” tanya ibu, datar sekali
“mbak ndak jawab buk, Cuma diem, lah bingung, mesti gimana” jawabku sambil menundukkan pandanganku
“mbak sayang ndak sama mas Yudha? Terus yakin sama dia?” tanya ibu lagi, mendekati wajahku
“sayang ya sayang buk, cocok ya iya, nyaman ya iya, yakin ya yakin, “ jawabku sambil memandangi ibu, takut sekal, tapi kemudian ibu tersenyum.
“ibu sama ayah juga punya pikiran begitu sih, jadi kapan mamanya Yudha mau kesini” katanya sambil kembali melanjutkan memotong kentang.
“maksudnya buk? Mbak kira ibuk marah tadi” jawabku sedikit dongkol
“ibuk kaget aja mba, kok bisa mamanya Yudha punya pikiran yang sama kaya ibuk sama ayah, lagian ibuk pengen nggodain mbak aja kok hhehe” jawab ibu dengan nada bercanda
“ah ibuk, anaknya lagi bingung gini”
“hehe, lha gimana? Mbak mau ndak ? rencana sih ibuk mau ngomongin ini setelah mbak resmi keterima beasiswa nanti, tapi kalo mamanya Yudha dahh ngomong dulu ya malah bagus,” jelas ibu
“ya mau sih buk, tapi mbak bingung, “ jawabku sambil menggaruk kepala
“kamu ragu sama Yudha?, kalo ibuk sih suka sama dia, soalnya selama ini dia kelihatan tanggung jawab sama mbak, keluarganya juga baik sama mbak”
“bukan buk, mbak cuman kasian kalo dia mesti nanggung tanggung jawab komitmen pas kita jauh nanti” aku menunduk
“mbak, justru itu buat nguji dia, apa dia bisa tahan ngadepin cobaan jauh dari kamu, ibuk sama ayah tuh dah cocok banget sama Yudha, tapi kan kita belum tau dia secara penuh, justru dengan begini, kamu bisa tau bagaimana mental dia sebenarnya,”ibu lalu meraih kedua tenagnku dan menggenggamnya,”kita butuh jarak untuk bisa melihat mbak,”
Lalu aku tersenyum dan memeluk ibu, ibu juga membalas pelukanku dengan hangat,”makasih ya buk, you’re my best of the best”
Aku jadi lebih lega sejak bercerita dengan ibu, bahkan malamnya ayah juga menasehatiku hampir sama seperti yang dibilang ibu. Bahkan ia menceritakan pengalaman masa mudanya,
“ mbak, cara terbaik menguji perasaan orang lain itu dengan membuat jarak mbak, dengan begitu kita bisa tau, bagaimana dia yang sebenarnya” aku Cuma mengangguk mendengarkan ketika ayah cerita,” dulu kan ayah sama ibu juga LDR, ayah di ITB, ibuk di Brawijaya, tapi nyatanya kita bisa tahan kan mbak?”
“itu kan masih satu pulau yah, “ jawabku,
“eh, kan waktu manten baru ibuk juga ayah tinggalin kuliah di luar negri, ibuk waktu itu masih hamilnya mbak, sampe ayah ga bisa nemenin pas mbak lahir,” ayah menceritakan kembali saat mereka baru menikah. Inilah yang menjadi dorongankku untuk sekolah diluar negeri, ayahku yang berhasil meraih beasiswa S2 di Jerman. Ayah dan ibu menikah sebelum ayah berangkat ke Jerman, jadi pas ibu hamil dan melahirkanku ayah tidak bisa menemani di sampingnya.
“kan ibuk sama ayah dah nikah ituu” jawabku lagiii
“jadi kamu pengen dinikahin sama Yudha?” kata ayah tegas memandangku, tapi kemudian dia tertawa
“ah ayah, becanda nih sukanya,” kataku sambil menepuk lengan ayah
“mbak, jarak itu bukan penyebab, distance means so little when we have greater love,” kata ayah mengusap kepalaku, aku Cuma tersenyum, lebih lega lagi, ternyata orangtuaku memang pakar LDR. “dah sekarang kamu mending berusaha buat seleksi dan ujianmu, ga usah terlalu mikirin ini, biar ayah sama ibu yang beresin oke mbak!”
“siap ndan,” kataku sambil hormat lalu ayah memelukku,
Terimakasih orangtuaku, kalian berdua memang hebat
0
, cz gw tau ada salah satu tokoh di cerita ini yang punya id kaskus yang lumayan aktif.






, abu2 dan ratenya, jd semakin smangat, makasih bnyk yaa, always stay tune cz akan ada update tiap hari
, tapi mohon maap yaah, karena belakangan kerjaan lagi padet, mungkin update sedikit lambat, dan hari minggu ga ada updatean, tapi tetep stay tune loh ya guyss, , , thanks for reading