- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.2K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#161
Partitur no. 37 : New Social Link
Juni. Ya, Juni. Sebuah bulan dipertengahan tahun yang indah, menandakan sebuah hal yang baru akan datang dan meninggalkan hal lama yang terkadang menyenangkan, bahkan pahit. Pahit karena mengingat kenangan indah, atau pahit karena pengalaman yang memang benar-benar pahit.
Terkadang, kita selalu ingin tahun apa yang terjadi dikehidupan kita nantinya, yang bahkan kita belum tahu itu baik atau buruk. Tapi harus diakui, gw juga penasaran dengan apa yang terjadi pada gw di bulan Juni tahun depan. Membayangkan gw berada di posisi kelas tingkat akhir, bersedia melanjutkan kehidupan ke Perguruan Tinggi. Walau gw takut dengan masa depan gw, setidaknya banyak hal yang membuat gw tetap menikmati hari-hari yang tersisa dimasa SMA ini.
Perpisahan dan pertemuan selalu bisa dianalogikan dengan berbagai macam hal. Perpisahan tidak seluruhnya adalah hal yang buruk.
Begitupula dengan pertemuan. Setiap waktu, bahkan setiap hari, gw selalu ingin memperluas lingkaran pergaulan gw. Mengenal setiap orang dengan karakter berbeda, dan tidak hanya yang itu-itu saja.
Perpisahan kakak kelas gw kemaren sudah berjalan lancar, gw berangkat pagi dengan teman-teman yang lain dan bermain sebagai pembuka. Karena dengan bodohnya gw masih pengen ‘show off’, gw membawa gitarnya Lex yang dititipkan di rumah gw sejak acara ulang tahun Jakarta itu tanpa sepengetahuan Kakak gw, bahkan tanpa sepengetahuan Lex.
Gw membawakan sekitar tiga lagu secara terpisah-pisah. Gw juga mengiringi Adnan yang berduet dengan seorang cewek bernama Alya. Ada suatu kejadian lucu dimana saat lagu pertama selesai, gw langsung keluar untuk menghilangkan nervous.
Ternyata, guru galak gw juga sedang mencari-cari gw dengan nada marah karena gitar gw agak kegedean dikit. Membayangkannya saja gw udah ngeri, lebih baik gw tidak masuk dulu selama beberapa saat.
Acara wisuda tersebut berakhir sekitar pukul satu siang. Temen-temen gw yang nginep langsung balik ke rumah nya masing-masing, begitu pula dengan gw. Ada sesuatu yang terlintas dibenak gw, kira-kira kalo pada tau gw bawa gitarnya Lex gimana ya? Dan beberapa hari setelah perpisahan itu, Lex ingin mengambil gitarnya kembali.
Seketika itu pula gw panik. Bukan karena gw nggak bilang-bilang bawa gitar itu, namun karena ulah teman-teman gw yang waktu itu meminjam gitar itu buat foto-foto tanpa hati-hati yang mengakibatkan gitar itu lecet-lecet, apalagi karena gitarnya itu custom persis seperti punya Matt Bellamy.
Dan benar adanya. Akibat ulah gw dan teman-teman itu, Lex menyindir gw di facebook. “Mintanya sih gitar gw dijaga jangan sampe lecet-lecet, eh malah hampir semuanya lecet-lecet.” Momen tersebut lah yang menyebabkan Kakak gw dan Lex merenggang, nggak pernah nge band bareng lagi. Gw diminta ganti rugi. Karena itu bukan kesalahan gw aja, gw minta temen-temen gw yang menginap itu ikut patungan ganti rugi, masing-masing 25rb. Sayangnya, mereka tidak merasa melecetkan gitar itu sehingga sampai sekarang tidak diganti juga.
Well, sejujurnya gw kecewa banget. Ternyata mereka tidak bisa membantu gw dalam kesusahan seperti ini, gw juga bingung banget.
At least, itu yang mendorong gw untuk membuat lingkungan baru, social baru dihidup gw. Ya, semua berawal ketika gw kenal dengan seseorang admin dari sebuah fanbase band yang sangat gw idolakan, Breaking Benjamin. Gw ketemu admin tersebut karena ternyata dia main Kaskus juga, lanjut lebih kenal via social media lainnya.
“Man, lo mau jadi admin nggak?” ujar sang admin bernama Iqbal pada suatu hari. Gw sangat senang waktu itu karena gw belum pernah jadi admin sebelumnya. Apalagi ini lingkungan sosial baru gw, pengen banget gw mengakrabkan diri lebih jauh.
“Wah, kenapa emangnya bal?” jawab gw dengan gugup.
“Iya kebetulan semakin lama gw makin sibuk. Taku nggak keurus fanbasenya..” kata Iqbal kemudian. “Terus gimana, Man? Mau nggak?”
Gw masih mikir-mikir dulu, karena gw takut gw melakukan kesalahan saat menjadi admin. “Iya deh bal.. Tapi jangan omelin gw ya, gw mau nyari pengalaman dulu..” jawab gw. Bukan hal yang mudah pada awalnya, karena gw harus beradaptasi menjadi admin.
Sejak saat itu, gw fix menjadi salah satu admin dari fanbase tersebut. Komputer langsung gw gunakan untuk membaca sejarah singkat fanbase ini. Karena ini adalah band yang cukup jarang orang tau di Indonesia, followers yang benar-benar orang Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, sementara lebih banyak orang luar negri yang memfollow akun tersebut. Jadi selama ini, akun ini memposting dengan bilingual, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Seiring waktu, pelan tapi pasti, fanbase ini semakin besar, followers yang benar-benar orang Indonesia menambah cukup banyak. Karena fanbase ini belum pernah mengadakan gathering sebagaimana fanbase lain yang gw ikuti, gw berinisiatif untuk membuat first gathering. Karena gw belum begitu hafal daerah yang cukup asyik untuk gathering, akhirnya gw meminta rekomendasi dari seorang temen gw yang baru bergabung dengan fanbase Muse juga, nama panggilan nya Rama.
Di jamming Muse, tepat seminggu sebelum gathering breaking benjamin, Rama ini datang dan mengakrabkan diri dengan teman-teman Muse. Ia seorang keyboardist yang handal.
Akhirnya tercetus juga gathering pertama di sebuah mall tepat di tengah kota yang sangat nyaman.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:48
0
