Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2149
PART 91

Keesokan harinya, sehari sebelum keberangkatan gue.

Malam itu gue berkunjung ke rumah Anin. Gue emang berniat pacaran dulu sebelum gue pergi, soalnya belom tau kapan Anin bisa nyusul gue ke ibukota. Gue menuju rumah Anin dengan motor matic gue yang udah gue pake sejak jaman SMA. Awet juga nih kakek-kakek, udah hampir 6 tahun gak ada masalah. Udara malam itu cukup dingin, sehingga gue terpaksa memacu motor pelan-pelan. Sesampai di rumah Anin, seperti biasa, gue langsung membuka pagar yang gue tau belom digembok, dan memasukkan motor ke garasi.

Gue liat mobil Anin terparkir di garasi dan memarkirkan motor gue disamping mobil itu. Setelah melepas helm, gue langsung masuk lewat pintu di garasi itu yang tersambung langsung ke sebuah koridor didalam rumah. Karena udah sangat terbiasa dengan nih rumah, gue jadi tau dimana sakelar lampu. Gue berjalan di sepanjang koridor itu dan memasuki ruang tengah rumah itu, sambil memandang sekeliling. Gue melihat Anin sedang duduk di sofa, agak membelakangi pintu koridor, sambil menonton TV. Agaknya dia gak sadar kalo gue udah datang.

Gue meringis, dan berjalan pelan-pelan tanpa suara ke arah Anin, dan menutup matanya dengan kedua tangan. Anin yang kaget, refleks langsung memegang tangan gue, dan membalikkan badan kebelakang. Melihat Anin kaget gitu, gue ketawa ngakak.

Quote:


Gue tertawa ngeliat tingkah Anin. Waktu itu dia pake kaos oblong dan celana pendek santai, tapi rambutnya dikuncir kuda. Di sampingnya gue liat ada satu stoples keripik kentang yang ditaruh diatas sofa. Gue menjatuhkan diri di sofa, duduk di samping Anin sambil nonton TV. Gue lirik Anin, ternyata dia udah buka tuh stoples dan mulai ngambil satu keping keripik kentang. Pelan-pelan gue nyoba masukin tangan gue, niatnya sih ambil satu keripik kentang. Sedetik kemudian, tangan gue ditepok pelan.

Quote:


Anin ketawa, kemudian menyuapkan sekeping keripik kentang yang tadi diambilnya ke gue.

Quote:


Anin langsung keliatan gondoknya, dan nyubit pipi gue. Pasrah aja dah kalo Anin udah kesel gini, daripada ntar ujungnya lebih parah. Setelah semua badai amukan itu reda, gue meringis dan menoleh ke Anin.

Quote:


Anin tertawa kecil, dan kemudian gelendotan manja di lengan gue. Malam itu gue habiskan dengan ngobrol-ngobrol panjang bareng Anin, dan makan malam masakan Anin.

Keesokan harinya, gue bangun agak kesiangan. Buru-buru gue langsung mandi dan packing barang-barang terakhir yang harus gue bawa. Nyokap gue udah mulai ngomel-ngomel ngeliat gue kesiangan dan gedebukan di kamar. Di sela-sela ketergesaan gue itu, nyokap melongokkan kepala di pintu.

Quote:


10 menit kemudian, gue udah memasukkan koper dan tas gue ke bagasi mobil, dan memanaskan mesin mobil. Sambil nunggu, gue masuk kedalam rumah dan nyariin nyokap.

Quote:


Gak lama kemudian gue dan nyokap berangkat menuju rumah Anin. Sesampai disana, gue menghentikan mobil di pinggir jalan, dan langsung membuka pagar rumah. Pintu depan rumah Anin terbuka, dan sesaat kemudian keluarlah Anin dari dalam, sudah berdandan cantik. Hari itu Anin menggunakan kemeja putih lembut yang lengannya digulung sampai siku, bercelana jeans biru terang sebetis, menggunakan aksesoris yang sama seperti biasanya dengan tas tangan berwarna coklat tua, dan rambut merah kecoklatannya tergerai indah sebagaimana biasa.

Anin langsung menutup pintu dan menguncinya, kemudian berpamitan dengan pembantu rumahnya, dan mengikuti gue dari belakang. Sementara gue menutup pagar rumah, Anin memberi salam ke nyokap, dengan cium tangan dan cipika-cipiki sama nyokap. Anin duduk di kursi depan, disamping gue, sementara nyokap sendirian di belakang. Selama perjalanan itu nyokap dan Anin ngobrol berdua aja, sementara gue dicuekin. Parah emang nih emoticon-Frown

Sesampai di airport, gue check in dulu, sementara nyokap dan Anin nungguin di sebuah gerai restoran di luar. Setelah kelar semua yang diperlukan, gue keluar menghampiri nyokap dan Anin, dan kemudian duduk disamping Anin.

Quote:


Anin kemudian ketawa cekikikan sambil menutupi mulutnya, gitu pula dengan nyokap. Entahlah.

Sekitar satu jam kemudian, akhirnya tibalah waktunya gue boarding. Announcer udah cerewet nyuruh penumpang pesawat yang akan gue tumpangi untuk masuk. Waktunya gue berpamitan sama nyokap dan Anin. Bokap gue gak bisa ikut nganter karena lagi ada urusan pekerjaan yang gak bisa ditinggal, jadilah tadi bokap cuma telpon bentar, itupun awalannya nanya “gimana, sehat?”. Padahal gue serumah sama bokap emoticon-Nohope

Gue berpamitan sama nyokap, cium tangan dan cipika-cipiki. Nyokap cuma bilang, “ati-ati ya, sukses disana.” Kemudian gue menoleh ke Anin yang berdiri di sebelah nyokap. Gue raih tangannya, dan gue genggam erat. Gue tersenyum, dan Anin membalas dengan senyuman, yang sedikit dipaksakan. Gue tau dia sedih, dan gue gak mau dia semakin larut di kesedihannya.

Quote:


Gue liat Anin tersenyum tapi matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya agak bergetar. Wah bentar lagi nangis nih, pikir gue. Sambil mempertimbangkan nyokap gue di sebelah, gue mendekatkan kepala gue ke dahi Anin, dan menciumnya lembut.

Quote:


Anin mendadak memeluk gue erat, dan kemudian gue balas memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. Nyokap gue melihat semua itu dengan tersenyum. Beliau udah paham betul apa yang dirasakan oleh kedua anaknya ini. Anin kemudian menarik diri sambil tersenyum dengan air mata yang masih mengalir, dan mencium tangan gue, tanda berpamitan.

Gue mencium tangan nyokap sekali lagi, kemudian bergegas masuk sambil melambai pelan ke mereka berdua. Di dalam ternyata udah rame penumpang yang ngantre masuk ke dalam pesawat. Di sela-sela antrian itu handphone yang ada di kantong dada jaket gue berbunyi. Karena ribet, gue angkat setelah melihat sekilas identitas penelepon.

Quote:


Gue menelan ludah. Lupa gue.
khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.