Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.4K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#2091
PART 97
Pekerjaan sebagai sales minyak goreng yang sudah gw jalani dalam 3 bulan terakhir ini resmi berakhir. Semenjak tragedi pasar itu, sekalipun gw tak pernah menginjakkan kaki lagi untuk berjualan disana. Tentu karena gw kapok berurusan dengan para kuli dan preman pasar yang mungkin sudah menandakan muka gw. Apabila gw datang, mereka pasti tak segan segan menghabisi gw. Daripada gw bonyok, mendingan gw ikhlas walau harus kehilangan pekerjaan.

Selama menganggur, gw cuma menghabiskan waktu di warung saja membantu kedua orang tua gw. Sesekali gw berbelanja sembako untuk kebutuhan warung. Oya, saat itu gw merubah rute belanja yang tadinya di Pasar Anyar, sekarang jadi pindah belanja di Cibinong. Untuk masalah harga sebenarnya beda tipis lah. Lebih murah di Pasar Anyar.

Akibat menganggur itu pula tabungan gw sedikit demi sedikit mulai habis. Entah itu untuk beli rokok ataupun jajan. Lantas cita cita gw buat beli henpon blekburik akhirnya kandas. Alhasil gw cuma mampu membeli henpon nukiyeu jadul yang fiturnya jauh dari kata lengkap. Yang penting mah ini HP masih bisa nyala biar kata layarnya monochrome. Justru gw malah kangen sama jimbot kesayangan yang saat itu entah siapa 'tuannya". Hey jimbot, apa kabar? Isih kepenak jamanku toh?

Namun selama menganggur, gw jadi lebih banyak waktu untuk menemani Bunga sesuai janji gw waktu itu. Karena memang hanya gw lah yang saat itu paling dekat dengannya dan paling banyak waktu untuknya (namanya juga pengangguran). Hampir setiap sore ataupun malam gw selalu datang kerumahnya untuk sekedar menemaninya maen biliard, maen PS, atau ngajak dia makan pecel lele. Apalagi kondisi kesehatan dia akhir akhir ini sangat tidak stabil. Hari ini sehat, besoknya dia bisa saja sakit. Terkadang kalau dia terlalu capek, dia suka mendadak pingsan tak sadarkan diri. Kalau sudah begitu bisa dipastikan gw lah orang yang paling khawatir teehadapnya. Orang tuanya? Berada nun jauh disana.

Waktu itu, di pertengahan Desember 2010. Semenjak nama gw menyingsing (Fajar), gw sudah bersiap siap membuka warung. Tak lupa segelas kopi dan beberapa batang rokok setia menemani gw di pagi yang mendung itu. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 menjelang sore. Jam segitu biasanya Bunga sudah pulang dari kampus dan sampai di rumah. Tapi sampai adzan Ashar selesai, dia belum memberi kabar kalau dia sudah di rumah. Gw jadi sedikit khawatir dengannya apalagi cuaca hari ini terus menerus diguyur hujan. Selang beberapa menit kemudian, jimbot gw, eh maksudnya HP gw berdering pertanda ada panggilan masuk. Gw lihat layarnya, ternyata dari Bunga.

"Halo assalamualaikum..." Sapa gw.

"Waalaikum salam mas...Mas Fajar?" Jawabnya di seberang sana.

"(Loh kok suaranya laki sih? Kaya suaranya mas Udin) Iya ini siapa yaa?" Tanya gw.

"Ini Udin mas. Anu, emm Mba Bunga pingsan lagi mas tadi waktu baru pulang kuliah" Ujarnya.

"Hah? Serius mas?"

"Iya serius...Mas Fajar bisa kesini nggak? Soalnya nggak ada orang dirumah. Cuma ada saya sama Mbok Lin doang."

"Yaudah saya kesana!"

Dengan cepat gw segera memanggil Bapak gw buat aplusan jaga warung. Gw mengambil jaket serta helm lalu melesat cepat mengendarai jupi. Sesampainya disana, gw lihat Bunga terbaring lemah di atas kasur. Matanya sedikit terbuka menandakan kesadarannya sudah kembali. Disebelahnya ada Mbok Lin yang sedang memegang segelas air putih. Sementara gw hanya diam mematung terus menatapnya. Tak lama kemudian Bunga memanggil gw, diikuti sebuah senyuman manis.

"Jar..."

"Iya..." Sahut gw.

Dia masih sempat sempatnya tersenyum dalam keadaan lemah. Seakan akan hal buruk itu tak pernah terjadi padanya. Hati gw makin perih saja rasanya. Kemudian gw menghampirinya, duduk di sebelahnya.

"Kamu kenapa?" Tanya gw.

"Nggak apa apa. Cuma pusing doang kok. Hehe..."

"Aku nggak bisa liat kamu kaya gini. Aku maunya kamu baik baik aja."

"Aku udah biasa kaya gini"

"Biasa apanya? Kita ke dokter ya sekarang buat mastiin kamu sakit apa."

"Nggak mau..." Tolak dia.

"Harus mau! Pokonya aku maksa!" Ucap gw kekeuh.

Akhirnya Bunga bersedia gw ajak ke dokter. Kemudian gw menuntunnya berjalan menuju halaman belakang dimana motor gw terparkir disana. Namun gw terkejut karena hujan turun lagi dan gw nggak mungkin ngajak dia ujan ujanan. Akhirnya kami memutuskan pergi memakai mobil Bundanya yang terparkir di garasi. Sebenernya gw nggak bisa nyetir, tapi demi Bunga, apapun gw lakukan yang penting dia bisa sehat lagi seperti sedia kala. Lagipula mobilnya matic, nggak pake oper gigi.

Selang 10 menit, kami sudah tiba di sebuah klinik cukup besar tak jauh dari komplek perumahan Bunga. Kemudian gw menuntunnya menuju sebuah ruangan. Disitu sudah ada satu orang dokter bertampang kalem. Dokter itu mempersilahkan Bunga berbaring di kasur untuk diperiksa. Dan, ah sial! Nih dokter malah gerepe gerepe dia pake stetoskop. Entah kenapa kok gw malah kesel sendiri. Padahal hal seperti itu sangat lumrah dalam dunia kedokteran.

"Masnya ini siapanya si mbak ya?" Tanya Pak dokter ketika beres memeriksa Bunga.

"Emm anu, saya kakaknya." Gw bohong.

"Kakaknya? Masa sih? kok nggak mirip? Mbaknya cantik tapi kok masnya dekil. Haha" Canda si dokter.

"Yah elah Dok..."

Dokter sialan. Segala ngatain gw dekil (emang iya aih). Maklum lah gw belum potong rambut saat itu, jadi keliatannya gw sedikit dekil ditambah rambut acak acakan lupa gw kuncir.

"Jadi gimana dok? Dia sakit apa?" Tanya gw.

"Nggak apa apa kok. Cuma kecapean aja. Udah gitu tekanan darah mbaknya rendah banget, ditambah mbaknya ini punya maag."

"Emmm..."

"Kalau bisa jaga makanannya, banyak banyak makan sayuran yang mengandung zat besi."

"Oh gitu ya Dok..."
"Tuh dengerin apa kata dokter!" Lanjut gw pada Bunga.

"......" Bunga nyengir.

"Ini resepnya, obatnya bisa di ambil di apotik sebelah."

"Oke makasih banyak ya Dok." Ucap gw lalu keluar ruangan.

Setelah urusan di klinik selesai, gw langsung ajak Bunga masuk ke dalam mobil. Tak lupa gw menanggalkan jaket gw untuk menutupi kepalanya sebab diluar gerimis masih turun. Ketika berada di dalam mobil, gw melihat Bunga sudah mulai membaik. Dia sudah mulai bisa bernyanyi pelan mengikuti sebuah lagu yang diputar lewat radio. Gw sedikit lega melihatnya tersenyum lagi. Mudah mudahan kedepannya Bunga selalu sehat tidak sakit sakitan lagi.

"Yank...." Panggil dia.

"Hemm."

"Aku laper..."

"Yaudah nanti sampe rumah kita makan ya." Ucap gw.

"Nggak mau ah. Aku mau pecel lele. Tapi pecel lele di deket Pemda yang waktu itu kita pernah makan."

"Hah? Nggak mau ah jauh! Aku ga berani bawa mobil jauh jauh. Belum lancar"

"Yaudah tinggal pelan pelan aja apa susahnya sii. Pokoknya aku mau pecel lele."

"......."

Gw menarik nafas sejenak lalu mengangguk pertanda setuju atas paksaannya. Ketika lagi asik nyetir, gw melihat sebuah CD Guns N Roses album "Use Your Illusion I"di dasbor mobil. Gw meminta Bunga mengambilnya, lalu segera menyetelnya.

"Kamu suka GNR Bung?" Tanya gw.

"Hehe iya. Apalagi lagu November Rain...Keren banget pokoknya." Ucapnya antusias.

"Yaudah setel, November Rain."

Tak lama kemudian lagu dibuka dengan dentingan piano yang nyentrik. Intro yang indah dibalut string orchestra yang menambah suasana 'megah' dan 'mewah'. Lalu, gw dengar Bunga bernyanyi, bait pertama.


"When I look into your eyes, I can see a love restrained"
Diubah oleh javiee 17-02-2015 22:46
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.