Kaskus

Story

mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
when its too late to regret
when its too late to regret
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:




when its too late to regret


when its too late to regret


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy 15-04-2015 16:38
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
327
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
mikhaellafezyAvatar border
TS
mikhaellafezy
#39
sebatang rokok
Kemudian hari demi hari berjalan dengan semestinya, seperti biasanya, dan seindah biasanya. Entah kenapa memang tidak ada yang menyadari sesuatu terjadi diantara kami. Padahal hampir tiap hari kami makan bersama setiap istirahat bersama, mungkin mereka mengira mana mungkin Yudha berhubungan dengan cewek cupu sepertiku, sementara disekelilingnya banyak cewek cantik yang setiap saat mau menemani dan mendengarkan ceritanya. Bahkan sampai sekarang aku masih belum mengerti mengapa dia memiliku dengan segala kekuranganku, tapi entah kenapa aku tidak pernah berminat untuk menanyakan hal ini padanya, aku cukup menikmati kabahagiaanku saat ini, hingga aku tak mempermasalahkan mengapa dan bagaimana tentang apapun dalam hubungan ini.

Tak terasa sudah 4 bulan kami bersama, sepertinya sebentar, tapi entah mengapa aku sudah merasa melalui banyak hal bersama Yudha, banyak hal di dunia kami, walaupun tak pernah kami bagi keluar, tapi aku sudah merasa lebih dari cukup. Aku mulai terbiasa dengan sikap teman teman Yudha yang menurutku sedikit ganjen itu, aku anggap mereka Cuma ingin mencari perhatian, dan aku merasa cukup aman karan perhatian Yudha masih menjadi milikku seorang, bahkan keluarganya pun semakin dekat denganku. Mereka mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yudha, tapi tak satupun tau dan pernah masuk ke Rumahnya.

Semakin hari Yudha semakin menawan, ia menjadi idola banyak cewek seangkatan dan adik kelas, terutama setelah penampilan bandnya di pensi sekolah beberapa waktu yang lalu. Dia tampil hebat dengan gitar hitam strap merahnya, di strapnya tertulis RAINBOW, mungkin tak seorangpun tau kalau itu panggilan kesayangan Yudha untuk aku. Aku mulai merasa percaya diri karena memiliki dia, meskipun tak ada yang tau, paling tidak aku sekarang bisa merasakan yang mereka semua inginkan, perhatian, pelukan, kasih sayang dan kehangatan dari Yudha dan keluarganya. Sejak saat ini, entah kenapa aku mulai berfikir dialah pelabuhan terakhirku. Setelah lebih dari 2 tahun memendam rasaku sendiri, Tuhan akhirnya mengirimkan dia untukku, mungkin dia memang jodohku, semoga dia jodohku.

Meskipun kami menyembunyikan hubungan kami dari siapapun, Yudha tak pernah sedikitpun membuatku kehilangan kepercayaan atasnya, pasalnya dia selalu menghargaiku dengan rutin memberi kabar, mama Yudha dan Tiara juga selalu menceritakan tentang keseharian Yudha, tak mungkin kan mereka berbohong. Yudha bahkan selalu menyuruhku membawa Hpnya saat kami bertemu atau pergi bersama, pernah sekali aku cek, memang dia jarang menanggapi Chat atau sms dari cewek-cewek penggemarnya, di luar memang dia sangat ramah, tapi aku tak menyangka kalau di dunia maya dia bisa sedingin ini. Kebanyakan chat dan sms nya berisi tentang pembicaraan pekerjaan dan manggung, dari situlah aku merasa buat apa aku menyimpan kecurigaan padanya.

Dirumahkupun Yudha sudah akrab dengan ayahku, ibuku dan adikku. Dia bahkan pernah beberapa kali kerumah saat aku masih di sekolah mengambil pelajaran tambahan, keluargaku pun menganggap dia seperti keluarga sendiri. Dia juga mengajari adikku main gitar, bahkan dia sering menemani ibukku masak, sepertinya Yudha memang memiliki minat di dapur.

Satu lagi, Yudha itu perokok berat, suka kebal kebul di kantin, sampai beberapa kali kejar kejaran sama guru BP. Dia bilang dia kecanduan merokok karena dulu saat keluarganya sedang kacau, dia merasa sedikit lega ketika merokok, akhirnya keterusan sampai saat ini. Tapi, waktu malam itu, saat kita pergi menonton konser bersama, terjadi sesuatu. Malam itu kami berdiri di deretan agak belakang, Yudha bilang di depan suka rusuh, takutnya malah keinjak nanti bahaya. Kami berdiri di sebelah orang yang merokok, dan biasalah, kalau melihat orang merokok Yudha suka ikut ikutan, bahkan dirumahpun dia sering merokok bersama ayah. Sebelumnya Yudha tidak pernah merokok di dekatku, dia selalu menyingkir dariku, tapi kali ini tidak, dia merokok di sebelahku ditambah dengan orang disebelah kami tadi yang juga merokok.

Yudha mungkin tidak tau kalau aku tidak tahan dengan asap rokok, keringat dinginku mulai keluar, rasanya pusing sekali, aku genggam tangan Yudha kuat kuat dan semua pandangan kabur.aku menutup mukaku dan langsung bersandar di Yudha, Yudha kaget dan segera menarik tanganku dari mukaku, dia tampak panik melihat mukaku yang pucat pasi. Akhirnya dia menuntunku ke tempat yang lebih lega, mencari tempat duduk di dekat penjual minuman, Yudha membiarkanku bersandar padanya lalu memberikanku minuman. Dia tak bertanya apapun dia hanya membelai rambutku dan sesekali mengusap bahuku sampai aku cukup kuat untuk menegakkan kepalaku lagi. Saat itulah aku menceritakan kalau aku tidak kuat dengan asap rokok.Yudha langsung meminta maaf dan menawariku untuk pulang naik taksi, tapi aku menolaknya dan akhirnya kami pulang naik motor, berboncengan sangat pelan. Berkali kali Yudha memegang tanganku di jalan, memastikan badanku sudah tidak dingin lagi. Sampai di rumah, dia mengantarku sampai kamar, karena saat itu aku sangat lemas, dan ia menceritakan kepada ibu apa yang terjadi di konser tadi, dia juga meminta maaf pada ibu telah menyebabkan aku jadi seperti ini.

Malam itu Yudha tidur dirumah, di sofa depan TV bersama ayah karena mereka menonton bola bersama, lagipula Yudha suda janjian untuk nonton bareng ayah malam itu, ditambah keadaanku seperti itu tadi, jadi sekalian dia menungguiku dirumah.Paginya aku bangun sekitar jam 7, maklum itu hari minggu, aku melihat ayah dan Yudha masih tergeletak pulas di sofa, aku dekati Yudha dan belum sempat membangunkannya, dia sudah lebih dulu terbangun. Dia memegang tanganku dan bernafas lega, karena badanku sudah tidak dingin dan mukaku tidak pucat lagi.
“mulai hari ini, aku janji ngga ngerokok lagi, maafin aku ya Cha”

Dan seperti Yudha yang aku kenal, dia benar benar menepati janjinya, mulia saat itu dia berhenti melakukan kebiasaan yang sejujurnya aku tidak suka itu. Bukan karena apa apa, tapi hanya karena aku tidak kuat dengan asap rokok, kenyataannya ayahku sendiri merokok, tapi karena beliau tau aku tidak kuat dengan asap rokok, beliau selalu jau juah saat akan merokok dariku. Mama Yudha saat mengetahui Yudha berhenti merokok pun terkejut, karena sebenarnya sudah sedari dulu mamanya ingin dia berhenti, tapi apa daya, kalaupun hukumannya adalah potong uang jajan, Yudha juga sudah bisa cari uang sendiri, jadi kesannya malah tidak ada efek jeranya, ya sudahlah mamanya putus asa. Mamanya pun terheran heran, besarnya pengaruhku terhadap Yudha, sampai dapat merubahnya sebesar ini. Aku cuma bisa tersenyum, bersyukur kalau dia berhenti merokok, toh ini baik untuk kesehatannya juga kan ?

Yudha pun kini sudah jauh berubah bukan lagi yudha yang dulu, dia sekarang lebih sering ada di kelas daripada nongkrong di kantin, yah menemani aku. Padahal terkadang saat istirahat kedua aku ke kantin bersama temanku, tapi yah dia tetap dikelas, dia hanya bertemu temn temannya saat masuk sekolah dan saat pulang sekolah. Balakangan dia juga jarang keluar rumah, kecuali untuk urusan bandnya atau untuk ketemu customer yang ingin menyewa alat musiknya. Dia lebih banyak melewatkan waktu dirumah bersama mamanya dan Tiara, mungkin untuk menebus waktunya yang selama ini dia habiskan bersama teman temannya. Kata mamanya, dulu Yudha sangat jarang berada di rumah, paling awal pulang ke rumah stelah sekolah pas waktu magrib, itu paling awal, kalau paling malam dia bisa sampai jam 9 malam baru pulang kerumah, bahkan dulu, ia sempat di leskan mamanya, tapi entah mengapa dia tidak pernah hadir, malah memilih main bersama temannya.

Tapi kata mama Yudha, sekarang dia sudah jauh berbeda, mungkin dia menyadari kalau dirinya sudah besar, apalagi sebentar lagi ujian, makanya dia merubah kebiasaannya itu. Dia memang tidak les lagi, tapi dia sekarang sering belajar dirumah, bahkan kadang kadang kami emngerjakan PR bersama, Yudha debenarnya orang yang cerdas namun sanyangnya dia mals, jadi dia tertinggal banyak pelajaran di sekolah. Tapi sekarang dia sudah lebih baik, dia mulai rajin mengerjakan tugas, dan nilainya di sekolah mulai menanjak. Syukurlah dia menyadari kalau dia harus berubah. Aku tidak pernah berfikir perubahan ini karena aku, justru aku selalu berharap, semoga memang keinginan dia sendiri untuk berubah.
Diubah oleh mikhaellafezy 18-07-2018 14:39
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.