Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#2072
PART 96
Gw menghentikan jupi ketika jarak gw dan para preman itu tak lebih dari 20 meter. Gw berfikir, bertanya dalam hati. Apakah gw mesti nerobos menabraki para preman itu? Tapi gw segera memikirkan resikonya, kalau gw nabrak, kemungkinan gw bakal jatuh dan sudah pasti habis digebugin. Lalu gw kembali berfikir, apa gw harus ngelawan? Satu lawan sepuluh orang? Ahh, ini sih sama aja gw nyari mati. Pastinya gw bakalan kalah dan sudah pasti babak belur. Akhirnya gw memutuskan untuk putar balik! Alias kabur.

Ketika gw hendak membelokkan stang bermaksud putar balik, para preman itu langsung berlari ke arah gw lalu, "Wush" sabetan balok dari salah satu preman hampir saja mengenai badan gw. Untungnya gw sudah keburu tancap gas duluan. Para preman itu lantas tidak diam begitu saja, mereka terus berlari mengejar gw sambil mengacungkan balok di genggamannya. Namun gw sungguh sial, gw malah kabur ke tengah pasar dimana kondisi jalanan saat itu penuh sesak oleh pedagang kaki lima dan angkot yang sedang ngetem.

"tin...tin..."

Gw tak henti hentinya memencet klakson agar para pejalan kaki membuka jalan untuk gw. Tapi percuma. Padatnya kondisi pasar membuat gw sangat kesulitan untuk menambah kecepatan laju motor. Sementara para preman yang mengejar gw semakin mendekat ke arah gw lalu meneriaki gw dengan sebutan MALING. Sontak para pedagang yang standbye disitu yakni tukang batre jam, tukang batu, tukang sayur, langsung berdiri dan ikutan mengejar gw.

"WOI!! MALING...MALING...MALING...."

Teriakan seperti itu sukses membuat gw semakin panik dan badan gw jadi merinding disko. Gw masih terus berusaha untuk keluar dari pasar ini. Tak henti hentinya gw memencet klakson agar orang orang pada minggir. Namun ada satu pemuda yang bandel ketika diklaksonin. Pemuda itu bukannya minggir lantas malah mau nangkep gw. Mungkin dia terpengaruh oleh teriakan "maling" dari para preman dan beberapa penghuni pasar. Dengan sangat terpaksa, gw tabrak pemuda itu hingga terpental beberapa meter.

"Ya Allah lindungi hambamu ini. Tolonglah hamba sebab hamba tak mau mati ditempat seperti ini. Ya allah ya tuhanku, beri hamba jalan untuk keluar dari tempat ini" Doa gw dalam hati.

Para masa yang terdiri dari preman dan penghuni pasar semakin lama semakin mendekat. Sedangkan gw masih terjebak diantara kerumunan orang dan angkot yang ngetem. Gw terus berdoa, berkali kali gw mengucap zikir hingga mulut gw komat kamit. Gw pun akhirnya nekat menerobos jalur sempit diantara angkot yang terparkir. Bahkan setang motor gw sampai mentok ke bodi angkot yang mengakibatkan goresan.

"Braak!! Sreek!!!"

Gw udah nggak peduli kondisi motor gw saat itu sudah bagaimana. Setahu gw, sepion kiri gw hilang akibat bergesekan dengan bodi angkot. Di tengah keputus asaan itu, gw bertemu dengan sebuah pertigaan jalan. Posisinya setelah Mall Dewi Sartika. Tanpa banyak basa basi lagi, gw langsung belok mengambil jalan itu. Untungnya keadaan jalan terbilang cukup sepi dan memungkinkan gw untuk langsung tancap gas meninggalkan amukan masa. Pada akhirnya, James Bond pun berhasil meloloskan diri.

"Alhamdulillah..."

Ucapan puji syukur kepada Tuhan terus keluar dari mulut gw. Setelah posisi gw sudah sangat jauh dari pasar, gw memutuskan untuk melewati jalan ke arah sekolah STM gw, sekalian menghilangkan jejak. Takutnya ada beberapa dari masa yang mengejar gw menggunakan sepeda motor. Lalu gw berhenti di sebuah warung. Tentu saja di warung si AA. Tapi sayangnya saat itu yang jaga warung bukan si AA melainkan seorang perempuan kira kira berusia diatas 20 tahunan, dibalut kerudung merah menutupi kepalanya.

"Teh Rokok dong. Sempurna Mil sebungkus." Pinta gw.

"Nih." Ucap perempuan itu sembari memberikan sebungkus rokok.

"Akwa dingin ada teh?" Tanya gw.

"Ada tuh si kulkas."

Gw berjalan menuju kulkas lalu membukanya. Dari awal gw berniat mengambil akwa dingin, tapi ketika gw melihat ada Teh Kot*k, gw pun berubah fikiran lantas mengambil minuman itu. Kemudian "pluk" gw mencolokkan sedotannya, lalu "Slurp" gw meminumnya. Pantesan aja Niar suka banget sama beginian lah wong enak kok, sueger! (Bukan maksud promosi. Gw bukan salesman).

"Teh si Aa nya mana?" Tanya gw.

"Lagi pulang dulu." Jawab si teteh.

"Oh si teteh ini sodaranya si Aa bukan? Kok saya ga pernah ngeliat yah.."

"Saya istrinya...Udah setaun kok saya disini." Jawabnya.

"Oh...."

Bener bener nih si Aa kimpoi nggak ngundang ngundang gw. Lah emangnya elu siapa? Dulu, gw orang yang paling sering ngutang disini. Haha.

"Teh makasih ya. Salam buat si Aa. Tadi Fajar yang pake jupiter merah kesini."

"Iya sama sama."

Gw kembali menunggangi Jupi melanjutkan perjalanan pulang. Setengah jam berlalu dan gw pun kini sudah berada di rumah. Duduk bersama kedua orang tua gw sambil menceritakan kejadian yang baru saja menimpa gw. Saat itu gw berkata pada mereka bahwa gw tidak akan menginjakkan kaki di pasar itu lagi. Mereka pun memaklumi keputusan gw walaupun gw harus kehilangan pekerjaan gw.

Malamnya selepas waktu Isya gw pergi menuju warnet. Seperti biasa tujuan gw kesana untuk ngobrol dengan Bunga via pesbuk. Gw pengen banyak cerita sama dia tentang hari yang menyebalkan ini. Yah beginilah nasib kalo punya pacar tapi kagak punya henpon. Setelah menunggu selama setengah jam, Bunga belum online juga lantas gw pun lanjut maen poinbleng lagi. Jedar-jeder-mati dan gw frustasi lagi.

"Tingdung...." Suara chat pesbuk.

Bunga : "Maap yank aku ketiduran...Abisnya tadi capek banget"

Gw : "Pantesan...aku nungguin kamu dari tadi"

Bunga : "Hehe yaudah maap. Skype aktifin dong..."

Gw : "Yah billing aku tinggal 10 menit lagi."

Bunga : "Tambah atuh..."

Gw : "Nggak punya duit..."

Bunga : "Yaudah kamu kerumah dong..."

Gw : "Sekarang?"

Bunga : "Besok!! pas ciliwung di urug!"

Gw : "Yeeh..."

Bunga : "Ya sekarang atuh!"

Gw : "Udah setengah 9 ah kemaleman. Ga enak sama Bunda."

Bunga : "Bunda lagi nggak ada kan ikut ayah ke luar kota."

Gw : "Yaudah..."

Bunga : "Horee si Uking mau kesini."

Gw : "Maksud aku yaudah besok aja."

Bunga : "emoticon-Frown emoticon-Frown"

Gw : " Iya iyaa..."

Gw klik stop pada menu billing kemudian berjalan ke meja operator lalu membayar paket 2 jam yang belum gw tuntaskan. Sebenarnya gw sedikit males buat ke rumah Bunga malem malem begini. Kalo dibilang jauh sih ya nggak terlalu jauh dan nggak juga bisa dibilang deket. Padahal malam itu gw mau lanjut maen Poinbleng. Soalnya gw masih penasaran, udah mah pake senjata keris, tapi tetep aja kalah melulu.

Selang 15 menit kemudian gw sudah tiba di depan rumah Bunga. Dan gw mendapati dirinya tengah duduk di teras depan sambil mendengarkan musik. Ketika gw dihadapkan dengan senyumnya, tiba tiba hati ini menjadi rindu. Harus gw akui, kalau gw paling luluh sama gaya senyumnya dia, cara dia tersenyum, dan guratan bibir tipisnya ketika melebar ke samping.

"Assalamualaikum Jembuung..." Sapa gw.

"Waalaikumsalam Uking!" Sahut dia sambil tersenyum.

Seketika nafsu gw buat maen poinbleng hilang begtu saja. Padahal tadi mah ngebet banget maen begituan. Kemudian Bunga mempersilahkan gw masuk lalu duduk di sebuah kursi kayu tempat kita biasa duduk bersama.

"Makasih ya udah nyempetin dateng kesini." Ucapnya.

"Iya..." Balas gw.

"Sebenernya aku lagi sakit....Tadi juga aku nggak kuliah." Ujarnya.

"Loh kamu sakit apa?"

"Nggak tau maag aku kambuh lagi." Jawabnya.

"Ya kamu makan yang teratur dong."

"Udah! tetep aja sakit. Begini nih kalo nggak ada Bunda. Aku sakit terus. Mana kamu susah dihubungin, terus kamu jarang ke rumah nengokin aku..." Ujarnya.

"Yaa maaf. Pagi sampe sore aku kan kerja. Kadang juga dusuruh jaga warung."

"Aku mau kamu yang dulu...Selalu ada buat aku sesibuk apapun itu."

"......"

"Aku mau kamu yang dulu, setiap aku sakit, kamu langsung buru buru dateng ke rumah jenguk aku."

"......."

"Aku sekarang ngerasa sendiri. Jauh dari Ayah, jauh dari bunda. Mamas sibuk sama kerjaannya, Puput jarang ada di rumah sibuk sama ekskulnya. Terlebih sekarang aku ngerasa makin jauh sama kamu."

"......"

"Terus kalo nggak ada kalian, siapa yang mau dengerin keluh kesah aku? Siapa yang bisa aku percaya buat cerita tentang masalah masalah aku?"

"....."

Seketika matanya berkaca kaca. Butiran air itu terlihat menggenang di sudut kelopak matanya. Tak lama kemudian, tumpahlah air matanya mengalir pelan membasahi pipi merahnya. Gw mengerti keadaan dia saat itu. Dia hanya ingin berada di dekat dengan orang orang terkasihnya. Orang tuanya berada jauh di luar kota untuk kepentingan pekerjaan. Kakak dan adiknya sibuk dengan urusannya masing masing. Sedangkan gw yang setiap hari ada di rumah, justru enggan untuk menemuinya. Apalagi datang ke rumahnya. Gw terlalu sibuk sama pekerjaan gw dan poinbleng tanpa menghiraukan bidadari gw yang satu ini. Sekalipun gw hanya bertegur sapa dengannya via media sosial saja.

Hati gw tersentuh menatapnya bercucuran air mata. Sungguh gw merasa menjadi lelaki paling bodoh telah menyianyiakan Bunga. Entahlah apa yang gw fikirkan saat itu, dengan reflek gw menggenggam kedua tangannya. Lalu gw tenggelamkan kepalanya ke pundak gw, memeluknya erat.

"Aku kangen Ayah...aku kangen Bunda...Aku kangen kamu..Hiks." Ujarnya.

"Iyaa. Aku disini kok. Cup jangan nangis ya ntar cantiknya ilang loh..."

"Janji dulu sama aku...." Ucapnya.

"Apa tuh?"

"Jangan ngejauh lagi dari aku...Cuma kamu yang deket sama aku sekarang." Ucapnya pelan.

"Iyaa. Janji...."

Waktu berputar, detik demi detik berubah menjadi menit. Malam pun semakin larut. Gw masih disini, di ssebuah kursi kayu. Bunga masih menyandarkan kepalanya di bahu gw sambil bernyanyi pelan. Entahlah dia nyanyi apa. Tentu suaranya fals banget ditambah intonasi yang tidak jelas. Lama kelamaan suaranya pun hilang tergantikan oleh suara jangkrik yang memecah kesunyian. Gw tatap wajahnya, ternyata dia tidur. Dan baru kali ini gw merasakan seorang gadis tertidur di pundak gw. Lantas gw pun jadi pegel, leher gw kaku nggak bisa miring ke kiri. Ah bener bener nih anak emang dasarnya tukang molor sih.

Gw mengambil henpon blekburik dalam genggamannya bermaksud melihat jam. Ternyata sudah hampir jam 10 malam. Kemudian gw beranikan diri untuk menggendong Bunga berniat memindahkan ke kamarnya. Satu, dua, tiga....Yassalam berat amat yak? Padahal dia nggak gemuk, bisa dibilang "kurus sexy" (paan sih!) tapi kenapa berat dah.

Dengan penuh perjuangan akhirnya gw tiba di depan pintu kamarnya, membuka pintu dengan kaki, lalu merebahkannya di atas kasur. Baru kali ini juga gw masuk ke dalam kamar perempuan. Kamarnya ber-Ase udah gitu wangi, ditambah barang barang tertata rapi sesuai pada tempatnya. Kemudian gw tengok ke sisi dinding, lantas gw tersenyum. Disana terpampang jelas gambar sketsa dirinya yang dibingkai oleh figura kayu. Gambar itu, hadiah dari gw tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18. Gambar itu, gambar buatan bang Sandra tukang roti bakar bergelar Sarjana.

Kemudian gw menutup pintu, berjalan menjauh meninggalkan kamarnya. Lalu gw ke halaman belakang rumahnya untuk memberi tahu pada salah satu pembatu agar mengunci pintu depan ketika gw pulang. Setelah itu gw pun langsung pulang dengan hati yang tenang.




Mimpi indah ya Bunga.....emoticon-roseemoticon-rose
Diubah oleh javiee 13-02-2015 23:24
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.