- Beranda
- Stories from the Heart
Kelakuan Anak Kuliah
...
TS
pujangga1000
Kelakuan Anak Kuliah
Quote:
Quote:
Quote:
----------------------------------------------------------------------------------
========================================
pujangga1000
Diubah oleh pujangga1000 19-09-2016 03:37
yusrillllll dan 23 lainnya memberi reputasi
22
3.9M
7.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pujangga1000
#1198
A moment with Una 3
Daripada gue gundah gulana, apa gak lebih baik kalo gue menikmati kebersamaan bersama Una sekarang? Karena menurut gue, toh bisa jadi ini terakhir kalinya gue bisa jalan bareng doi. Gue mesti tanya tentang hubungan kita entar, tapi gue gak siap akan jawaban dari Una. Seandainya Una suka gue, kayaknya gue bakal menyatakan perasaan kepada doi.
Jujur aja, walaupun gue sering bilang kalo gue gak ada rasa sama Una, tapi siapa sih yang bisa menangkal cinta yang tumbuh karena kita selalu bersama? Apalagi candaan maupun godaan dari Una. Lelaki normal macam gue ini, lambat laun juga bakal jatuh hati kepadanya. Walaupun rasa itu sedikit, toh lama-lama bisa gede juga kan?
Itu salah satu skenario, seandainya emang Una punya perasaan ke gue. Jika tidak? Apalagi jika Una tidak menganggap serius semua ini. Apa gak mungkin persahabatan kita jadi korban? Ada beberapa teman-teman cowok gue yang uda dekat sama cewek, tapi ketika penembakan terjadi, mereka ditolak dan hubungan mereka menjadi dingin. Bahkan lebih dingin daripada dua orang yang gak kenalan.
Gue gak bisa menafsirkan secara gamblang. Gue gak bisa bilang seperti ini, "Una suka gue, liat aja sikapnya. Itu semua sudah memberi bukti yang jelas". A big no! Gue tau Una tipe yang suka bercanda. Tipe yang humoris. Tipe wanita seperti ini lebih sulit didekati daripada wanita yang pendiam maupun sombong sekalipun. Ya walaupun gue gak jago-jago banget mendekati perempuan (bahkan boleh dibilang cupu), tapi ini kesimpulan terbaik yang bisa gue buat.

***
Gue dan Una sedang berdiri diatas eskalator.
"Mau kemana bang?" Tanya Una
"Mbuh, sakarep mu neng"
"Hemmm, ke timezone* aja yuk"
"Hayuuuk"
*kurang yakin apa ini timezone atau bukan, tapi anggaplah tempat seperti timezone ya
Gue membeli beberapa keping koin game. Pertama-tama kami main basket. Una jago tuh main beginian. Skor dia selalu tipis-tipis banding skor gue. Karena doi kalah terus, kita main ada sampe 10 kali. Gue ngeliat keringat keluar dari dahi Una.
"
"
Cakep banget! Ketika gue melihat lehernya yang jenjang (saat itu rambut Una lagi dikuncir kuda tinggi), yang ditumbuhi rambut-rambut halus dan keliatan kilat karena keringat. Gue gak bisa mengarahkan pandangan ke arah yang lain. Una terlihat terlalu sempurna sekarang. Asli cakep banget!
"Bang, minta koin lagi donk" Kata Una membuyarkan lamunan gue
"Nih..."
"Kamu perhatiin bang, aku kalahin skor kamu itu"
Gue cuman mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Ahhh, rambutnya yang bergoyang karena hentakan tangannya. Gila! Gue hampir gila! Apa iya wanita secantik ini menyukai gue? Rasanya gak mungkin. Totally impossible
"Udah ahh, capek.." Una memburu nafasnya
"
"
Una mengarah dan duduk disebuah kursi yang ada dekat situ.
Bahkan ketika tampangnya lagi kucel seperti ini, doi tetap terlihat cantik. Bahunya terlihat naik turun mengatur nafas.
Setelah beberapa menit doi duduk dan gue tetap bengong memperhatikannya. Tiba-tiba Una menarik tangan gue dan menggenggamnya. Doi menarik gue keluar dari arena permainan ini. Gue bingung doi kenapa? Apa Una marah karena gue memperhatikannya terus?
Ternyata kita mengarah ke sebuah kursi kosong yang letaknya ada diluar. Una duduk, gue pun ikut duduk. Una mengibas-ibaskan hoodienya memberi angin kepada wajahnya sendiri.
"Panas didalem, disini ACnya lebih terasa" Kata Una
"Ohhh"
"Kipasin napa bang
"
"
"
Dan gue pun dengan sendirinya mengayun-ayunkan telapak tangan gue supaya ada angin yang berhembus ke wajahnya.
"
" senyum Una ke gue
"Bang, foto yuk disitu"
Tunjuk Una ke salah satu studio foto yang ada photobooth-nya
***
Beberapa lembar foto sudah keluar dari cetakannya. Yang pertama pose kita berdua tersenyum menunjukkan gigi. Yang kedua kita menggembungkan pipi. Yang ketiga pose terkejut. Dan yang keempat pose Una mencubit pipi gue.
"Kamu mau yang mana bang?" tanya Una ke gue
"Terserah aja"
"Kamu simpen yang ini aja ya, sama ini, aku kan cakep disitu
" Kata Una.
Gue memandang kedua foto itu. Foto pipi gue yang dicubit Una. Dia tersenyum lebar, sedangkan gue memicingkan mata ke arahnya. Lalu foto yang lain, Una menggembungkan pipi dan salah satunya tangannya menunjuk pipinya. Disitu terlihat doi menyandarkan badannya kearah gue yang lagi menggembungkan pipi juga secara terpaksa.
Una dikedua foto itu cantik. Bukan. Dia cantik disemua foto itu.
***
Gue sedang mengarahkan motor menuju ke arah jalan Solo. Dibelakang gue Una tengah asik bernyanyi-nyanyi kecil. Gue tidak begitu mendengarkan apa yang keluar dari mulut wanita ini, karena dalam otak gue sedang berkecambuk banyak hal.
"Gue harus berani
"
Ucap gue dalam hati sebagai sugesti terhadap diri gue sendiri.
"Aku suka sama kamu, kalo kamu?"
Ahh tidak. Tidak. Pertanyaan bodoh.
"Sebenarnya kamu suka aku gak sih?"
Terlalu egois..
"Neng, aku suka kamu, gimana kalo kita jadian beneran aja"
Ya! Seperti ini!
***
Gue sudah sampai didepan rumah Una. Doi turun dan membuka helmnya.
"Makasih ya bang hehe" Kata Una
Tangan gue dingin, keringat gue mulai bercucuran, jantung gue berdebar kencang dan waktu terasa begitu lambat buat gue.
Gue harus ngomong sekarang. Gue harus dapat kepastiannya sekarang.
Gue menarik nafas panjang.
Dalam hitungan ketiga gue harus mengatakannya.
"satu..
"
"dua..
"
"tiga..
"
"Neng... errrrr"
"
" Una melihat gue bingung
Ayo donk! Gue harus berani!
"Eh iya Bang, yang tadi aku tanyain itu, jangan dianggap serius ya. Aku cuman bercanda kok."
"
"
Bercanda? Jadi semua ini cuman bercanda? Gue pikir Una serius mempertanyaakan status kita, disaat teman-teman kita yang lain sudah jadian. Buat apa gue bertanya tentang kepastian hubungan gue dan Una kalo Una sendiri menganggap semua ini bercanda. Ternyata doi emang gak suka gue...
"Hati-hati bang pulangnya. Motornya dijaga, jangan hilang lagi kayak kemarin" Lanjut Una
"Ya" Gue menjawab lesu
"Ahhh iya, jangan kebut-kebutan!
"
Sore ini...
Gue gak punya kata-kata buat menjelaskannya..
Gue
Jujur aja, walaupun gue sering bilang kalo gue gak ada rasa sama Una, tapi siapa sih yang bisa menangkal cinta yang tumbuh karena kita selalu bersama? Apalagi candaan maupun godaan dari Una. Lelaki normal macam gue ini, lambat laun juga bakal jatuh hati kepadanya. Walaupun rasa itu sedikit, toh lama-lama bisa gede juga kan?
Itu salah satu skenario, seandainya emang Una punya perasaan ke gue. Jika tidak? Apalagi jika Una tidak menganggap serius semua ini. Apa gak mungkin persahabatan kita jadi korban? Ada beberapa teman-teman cowok gue yang uda dekat sama cewek, tapi ketika penembakan terjadi, mereka ditolak dan hubungan mereka menjadi dingin. Bahkan lebih dingin daripada dua orang yang gak kenalan.
Gue gak bisa menafsirkan secara gamblang. Gue gak bisa bilang seperti ini, "Una suka gue, liat aja sikapnya. Itu semua sudah memberi bukti yang jelas". A big no! Gue tau Una tipe yang suka bercanda. Tipe yang humoris. Tipe wanita seperti ini lebih sulit didekati daripada wanita yang pendiam maupun sombong sekalipun. Ya walaupun gue gak jago-jago banget mendekati perempuan (bahkan boleh dibilang cupu), tapi ini kesimpulan terbaik yang bisa gue buat.

***
Gue dan Una sedang berdiri diatas eskalator.
"Mau kemana bang?" Tanya Una
"Mbuh, sakarep mu neng"
"Hemmm, ke timezone* aja yuk"
"Hayuuuk"
*kurang yakin apa ini timezone atau bukan, tapi anggaplah tempat seperti timezone ya
Gue membeli beberapa keping koin game. Pertama-tama kami main basket. Una jago tuh main beginian. Skor dia selalu tipis-tipis banding skor gue. Karena doi kalah terus, kita main ada sampe 10 kali. Gue ngeliat keringat keluar dari dahi Una.
"
"Cakep banget! Ketika gue melihat lehernya yang jenjang (saat itu rambut Una lagi dikuncir kuda tinggi), yang ditumbuhi rambut-rambut halus dan keliatan kilat karena keringat. Gue gak bisa mengarahkan pandangan ke arah yang lain. Una terlihat terlalu sempurna sekarang. Asli cakep banget!
"Bang, minta koin lagi donk" Kata Una membuyarkan lamunan gue
"Nih..."
"Kamu perhatiin bang, aku kalahin skor kamu itu"
Gue cuman mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Ahhh, rambutnya yang bergoyang karena hentakan tangannya. Gila! Gue hampir gila! Apa iya wanita secantik ini menyukai gue? Rasanya gak mungkin. Totally impossible
"Udah ahh, capek.." Una memburu nafasnya
"
"Una mengarah dan duduk disebuah kursi yang ada dekat situ.
Bahkan ketika tampangnya lagi kucel seperti ini, doi tetap terlihat cantik. Bahunya terlihat naik turun mengatur nafas.
Setelah beberapa menit doi duduk dan gue tetap bengong memperhatikannya. Tiba-tiba Una menarik tangan gue dan menggenggamnya. Doi menarik gue keluar dari arena permainan ini. Gue bingung doi kenapa? Apa Una marah karena gue memperhatikannya terus?
Ternyata kita mengarah ke sebuah kursi kosong yang letaknya ada diluar. Una duduk, gue pun ikut duduk. Una mengibas-ibaskan hoodienya memberi angin kepada wajahnya sendiri.
"Panas didalem, disini ACnya lebih terasa" Kata Una
"Ohhh"
"Kipasin napa bang
""
"Dan gue pun dengan sendirinya mengayun-ayunkan telapak tangan gue supaya ada angin yang berhembus ke wajahnya.
"
" senyum Una ke gue"Bang, foto yuk disitu"
Tunjuk Una ke salah satu studio foto yang ada photobooth-nya
***
Beberapa lembar foto sudah keluar dari cetakannya. Yang pertama pose kita berdua tersenyum menunjukkan gigi. Yang kedua kita menggembungkan pipi. Yang ketiga pose terkejut. Dan yang keempat pose Una mencubit pipi gue.
"Kamu mau yang mana bang?" tanya Una ke gue
"Terserah aja"
"Kamu simpen yang ini aja ya, sama ini, aku kan cakep disitu
" Kata Una.Gue memandang kedua foto itu. Foto pipi gue yang dicubit Una. Dia tersenyum lebar, sedangkan gue memicingkan mata ke arahnya. Lalu foto yang lain, Una menggembungkan pipi dan salah satunya tangannya menunjuk pipinya. Disitu terlihat doi menyandarkan badannya kearah gue yang lagi menggembungkan pipi juga secara terpaksa.
Una dikedua foto itu cantik. Bukan. Dia cantik disemua foto itu.

***
Gue sedang mengarahkan motor menuju ke arah jalan Solo. Dibelakang gue Una tengah asik bernyanyi-nyanyi kecil. Gue tidak begitu mendengarkan apa yang keluar dari mulut wanita ini, karena dalam otak gue sedang berkecambuk banyak hal.
"Gue harus berani
"Ucap gue dalam hati sebagai sugesti terhadap diri gue sendiri.
"Aku suka sama kamu, kalo kamu?"
Ahh tidak. Tidak. Pertanyaan bodoh.
"Sebenarnya kamu suka aku gak sih?"
Terlalu egois..
"Neng, aku suka kamu, gimana kalo kita jadian beneran aja"
Ya! Seperti ini!
***
Gue sudah sampai didepan rumah Una. Doi turun dan membuka helmnya.
"Makasih ya bang hehe" Kata Una
Tangan gue dingin, keringat gue mulai bercucuran, jantung gue berdebar kencang dan waktu terasa begitu lambat buat gue.
Gue harus ngomong sekarang. Gue harus dapat kepastiannya sekarang.
Gue menarik nafas panjang.
Dalam hitungan ketiga gue harus mengatakannya.
"satu..
""dua..
""tiga..
""Neng... errrrr"
"
" Una melihat gue bingungAyo donk! Gue harus berani!
"Eh iya Bang, yang tadi aku tanyain itu, jangan dianggap serius ya. Aku cuman bercanda kok."
"
"Bercanda? Jadi semua ini cuman bercanda? Gue pikir Una serius mempertanyaakan status kita, disaat teman-teman kita yang lain sudah jadian. Buat apa gue bertanya tentang kepastian hubungan gue dan Una kalo Una sendiri menganggap semua ini bercanda. Ternyata doi emang gak suka gue...
"Hati-hati bang pulangnya. Motornya dijaga, jangan hilang lagi kayak kemarin" Lanjut Una
"Ya" Gue menjawab lesu
"Ahhh iya, jangan kebut-kebutan!
"Sore ini...
Gue gak punya kata-kata buat menjelaskannya..
Gue

jenggalasunyi dan 8 lainnya memberi reputasi
9
