- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#160
Partitur no. 36 : Highschool Life
Kata banyak orang, masa-masa remaja, tepatnya masa SMA adalah masa-masa yang paling indah, masa-masa yang paling susah dilupakan. Kenangan demi kenangan dilalui tanpa terasa. Senang, sedih, susah, teman, sahabat, cinta, cita-cita, masa depan, pencarian jati diri. Itulah tema-tema klasik yang sering kita dengar pada seorang remaja umumnya.
Kisah kasih di Sekolah. Mungkin salah satu lagu dari alm. Chrisye yang menggambarkan kisah cinta anak-anak remaja pada masa SMA. Lagu itu seperti benar adanya.
Masih pada bulan Juni. Untuk kalangan tertentu, Juni merupakan pertengahan tahun yang tak mudah dilewati. Menggambarkan suasana senang, bahkan suasana haru. Senang karena kita akhirnya mendapat kesempatan untuk maju ke jenjang yang lebih lanjut, namun sedih karena kita harus berpisah dengan kawan-kawan atau tepatnya sahabat kita saat SMA.
Ketika saat masa SMA kita ngumpul tinggal langsung ngumpul, pada masa perguruan tinggi atau bahkan sudah kerja, intensitas ketemu menjadi berkurang, dan tidak bisa lagi tinggal langsung kumpul. Suatu masa yang memang udah bukan masanya. Begitulah kata orang-orang.
***
Pada suatu bulan Juni di pertengahan tahun 2012, gw berkesempatan untuk mengisi acara Perpisahan kakak kelas SMA gw. Bukan kemauan gw, tapi gw dibujuk oleh seorang guru Matematika yang sangat gaul, bernama Pak Ayi.
Mungkin image guru Matematika pada masa SMA (walau tidak semua) itu terkesan galak-galak, killer, dsb. Namun, berbeda dengan Pak Ayi ini. Ia guru Matematika favorit gw. Seseorang berperawakan sedang, berkumis dn berjenggot, dan aksen Sunda yang kental. Walaupun gw kurang menyukai Matematika, namun kalo diajarin dia pasti ngerti. Udah gitu, dia yang ngajakin gw buat main band bareng untuk perpisahan kakak kelas SMA gw. Aneh kan kedengerannya? Tapi emang begitu adanya.
Pada setiap sepulang sekolah, gw latihan bareng temen gw yang bernama Adnan. Dia temen gw yang pernah nonton band gw saat di sebuah kafe di Jakarta Pusat. Dia menjadi vokalis gw kali ini, karena gw gak enak kalo gw yang nyanyi juga. Sampai setiap pulang sekolah, kita bertemu teman yang itu-itu lagi, sehingga lama kelamaan terbentuk sebuah perkumpulan bernama BS. Di ambil dari kata Bakso Soleh, di mana kita nongkrong setiap pulang latihan sehabis diusir satpam Sekolah. Bukan Soleh temen gw yang sering mecahin gelas kalo di rumah gw. Setiap hari pertemanan kita semakin akrab, intensitas nongkrongnya semakin bertambah, dan semakin malem lah gw pulang.
Karena gw udah mempunyai telpon genggam lagi, gw gak perlu repot-repot pulang cepat untuk ngabarin Tasya via komputer lagi. Kecuali kalo batere hp gw abis hehe
Gw udah melalui banyak proses untuk mengikuti perpisahan kakak kelas gw ini. Walau gw diajakin oleh Pak Ayi, tetep aja gw harus di audisi oleh guru killer di SMA gw, yang bernama Bu Ida.Walaupun killer, dia hanya killer pada suatu yang positif. Kayak soal kebersihan, masa depan, disiplin, dll. Adnan dulu pernah dibotakin oleh Bu Ida hanya karena dia kelupaan nulis absen, dan temen gw pernah di lempar kursi padahal gak salah apa-apa.
Ada beberapa temen gw yang nggak lolos audisi dalam hal band, seperti temen gw yang bernama Ucok. Dia membawakan lagu-lagu reggae kesukaannya, bahkan ia sempat ikut gladi resik di gedung. Namun karena dirombak lagi, ia akhirnya tersingkir dari panggung. Waktu gladi resik, gw seneng karena harus melewatkan jam pelajaran yang membosankan dan memulai suasana baru. Cuma gw harus main tanpa sound yang bagus, karena orang gedungnya ternyata nggak begitu mengerti tentang mengatur sound. Alhasil gw main seadanya sama Adnan. Udah gitu, alat bandnya pada waktu itu belum lengkap.
***
Malam itu telah tiba. Tinggal menunggu berapa jam untuk gw kembali ke gedung untuk membantu mengatur-ngatur untuk puncak acaranya besok. Bokap gw kebagian kerja disini, dibayar oleh sekolah dan koordinasi nya sangat bagus. Pak Joe, guru fisika dan TIK ini yang paling bekerja sama dengan Bokap karena ia mengetahui profesi bokap gw.
Bokap gw yang mengurusi urusan sound, alat band, lighting, bahkan ia juga yang mengedit sebuah video perpisahan untuk perpisahan kali ini. Gw udah ngasih liat bocoran videonya ke temen gw di Kaskuser 280 dan anak-anak BS. Dan respon mereka sangat baik tentang video itu.
Ah, kembali ke topik yang akan gw bicarakan kali ini. Detik-detik menuju sebuah panggung besar yang bikin gw demam panggung lagi. Awalnya, gw nungguin Tasya pulang dari kerjanya di Halte Kp Melayu. Ia datang dengan gembiranya pada setengah enam, dan langsung melanjutkan jalan ke studio untuk ngikut gw latihan sama Adnan. Oh ya, latihan nya minus Pak Ayi karena ia harus stay di gedung. Jadi latihan minus bass. Drummer yang main sama gw ini si Harrys. Karena gw belum nemu drummer yang cocok di sekolah gw. Gw dijatahin main tiga lagu. Karena Adnan lagi tergila-gila dengan Muse karena gw, dua diantara tiga lagu tersebut adalah Muse, dan satunya lagi adalah Green Day.
Sejauh ini, latihannya berjalan lancar, gw berharap Pak Ayi juga sudah melancarkannya agar acara berjalan lancar. Gw mengajak temen-temen gw yang lagi di studio untuk ikut malam mingguan sama anak-anak BS di dekat sekolah. “Gimana sayang, kamu mau nggak?” tanya gw ke Tasya setelah membayar tagihan studio.
“Yuk ah, lagipula aku juga pengen berbaur sama temen-temen Kamu” ujar Tasya dengan sumringah. Dia kebalikan dari gw mungkin ya. Gw paling nggak bisa gampang berbaur gitu, apalagi semangat untuk langsung berbaur.
Yang lain pun mengangguk setuju. Disitu ada Soleh, Hamim, Adnan, Harrys, dan Tasya. Gw menoleh ke arah Harrys, karena ia biasanya mager untuk jalan. “Rys, gimana? Mau ikut juga?”
“Iya deh, sekalian Harrys mau check sound di gedung.” Ujar adik gw menjawab pertanyaan gw. Gw lupa kalo malem ini gw harus check sound di gedung juga. Akhirnya kita memutuskan naik bus yang langsung mengangkut kami ke sekolah gw.
Disana anak-anak BS udah pada ngumpul semua, tepat di depan sekolah. Sekolah gw gelap gulita, hanya ada beberapa lampu menyala, pertanda ada yang sedang berada di ruangan itu. “Eh kenalin, ini pacar yang sering gw ceritain itu, namanya Tasya.” Kata gw ke temen-temen gw yang berada disana.
“Salam kenal, Kak Tasya!” begitulah kata-kata beberapa orang yang sering gw ceritain dan tau kalo Tasya lebih tua dari gw, seakan memberi hormat. Tidak semua orang gw kasih tau kalo Tasya lebih tua dari gw, karena tidak semua orang open minded terhadap hal itu. Tasya pun bersalaman dengan teman-teman gw dengan riang.
“Hai! Salam kenal juga ya!” kata Tasya ke temen gw yang cowo maupun yang cewe. Yang cewe-cewe langsung cepat akrab dengan Tasya. Sepertinya mereka sangat senang. Dan dimulai lah perbicangan ngomongin gw kalo di sekolah gimana, tengsin gw.
“Ssst lo jangan buka kartu gw dong!” ujar gw ke temen gw yang menceritakan hal itu. Tapi bukannya ngebela gw, Tasya malah ngejambak gw dengan tenangnya sambil terus mendengarkan ocehan temen gw.
Setelah itu, gw ngajakin Tasya dan Harrys keliling lingkungan SMA gw. Lingkungannya cukup nyaman, begitu kata Tasya. “Seneng deh, aku jadi makin tau semua tentang kamu. Bikin makin sayang tau nggak!” ujarnya sambil meluk gw di depan Harrys. Gw peluk balik karena pelukannya erat banget. Dia juga mengajak gw untuk mengenalkan kehidupan gw ke Tasya.
Setengah jam berlangsung setelah jalan-jalan itu, kita kembali ke tempat anak-anak BS pada nongkrong. Cepat sekali Tasya berbaur dengan temen-temen gw itu. Pengen rasanya gw bisa begitu. Tak terasa, cukup lama kami menongkrong sampai waktu menunjukan pukul 9 malam. Hp gw berdering menandakan ada telpon masuk. Bokap gw udah nunggu gw di deket sekolah gw untuk bergegas ke gedung.
“Wah, lo ke gedung dulu? Ntar gw sama anak-anak cowonya mau nginep dirumah lo, Man. Gimana dong?” ujar seorang cowo dengan muka agak ke Arab-araban bernama Ikhsan.
“Iya, San. Lo ke rumah gw aja, ntar ketok pagernya. Soleh sering kok ke rumah gw. Atau kalo nggak ada yang bukain, tunggu bentar aja. Kabar-kabarin aja lha~” jawab gw ke Ikhsan. Nggak lama, gw udah meninggalkan tempat yang rame tersebut, mengantarkan Tasya ke destinasinya, walau nggak nyampe rumah. Gw ke gedung bersama Harrys dengan Bokap yang udah nungguin.
Yang kita lakuin disana nggak jauh dari membantu setting alat, dekor panggung, dekor kursi, dll. Adek gw membantu check sound drum sekalian tuning jika ada yang fals. Begitu pula gw dan Pak Ayi, sementara Bokap sibuk dengan mixernya.
Dari kejauhan, gw melihat seseorang yang dulu pernah gw kenal. Seorang laki-laki bertubuh sedang, agak hitam, memakai kacamata sedang melihat tajam ke arah gw. Gw yang rabun jauh ini berusaha mengingat-ingat siapa dia. Setelah dia agak mendekat, ternyata itu adalah gitaris dari band lama gw yang dulu sering ngata-ngatain Harrys ‘bocah’ pasca gw dikeluarin dari band tersebut. Kaget bukan main! Mau ngapain dia disana?
Melihat pemandangan yang kurang nyaman itu, gw bergegas mengajak pulang Bokap yang sedang asyik nya mengutak-ngatik mixer. Tak lama sampai Bokap gw benar-benar selesai dari pekerjaan nya itu, sementara Harrys sudah mulai menguap menandakan ia sudah mengantuk.
Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai rumah karena jalanan sangat kosong. Sampainya di depan rumah, gw melihat temen-temen dari BS udah ngumpul di depan rumah. Hanya cowo-cowo tentunya. Yang menginap antara lain Ikhsan, Soleh, Adnan, Nabil, Budi, dll. Mereka menginap sekalian meminjam pakaian untuk perpisahan kakak kelas besok. Masing-masing dari mereka juga ikut main dalam acara tersebut.
Kamar gw cukup untuk menampung mereka semua, namun karena sangat berantakan, digelar karpet di depan kamar gw. Tidak ada yang tidur sampai pukul satu pagi, namun gw sudah sangat mengantuk. Di dalam kamar gw sangat berisik, sehingga gw tidur sendiri di depan kamar gw. Di tengah nikmatnya tidur gw itu, gw mencium bau aneh. Ternyata bantal gw tidur dimuntahin oleh kucing yang gw pelihara...................
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:47
0
