Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.6K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#2036
PART 94
"Fire in the hole!! Dar....der....dor...."

Suara bising berondongan peluru serta ledakan granat terdengar menggelegar sampai ke penjuru warnet. Sementara gw masih disini, fokus di depan layar monitor sibuk kejar kejaran dengan teroris. Ketika teroris itu muncul berhadapan dengan gw, gw langsung menembaknya menekan klik kiri pada mouse, dan Headshot! Gw mati lagi. Merasa frustasi, gw memutuskan menyudahi acara main game Poinbleng lantas segera keluar dari game tersebut.

"Kok lu keluar sih A?" Tanya si Baim, junior gw di komplek. (Sempat gw ceritakan di part 20-an).

"Kampret lah mati mulu gw." Jawab gw.

"Hahaha sabar A. Mereka pada menang senjata." Ujarnya.

"Yaah ntar gw beli cash dah biar pakek keeriss."

"Kriss A nggak pake E. Hahaha...." Tawa si Baim.

Kemudian gw membuka modzila, mengetik alamat PesbukDotKom. Daripada stres maen poinbleng mati mulu, mendingan gw buka pesbuk. Siapa tau Bunga lagi online dan gw mau ngobrol sama dia. Sebab seharian ini gw belum ada komunikasi dengannya. Ya, sampai saat itu gw masih belum punya hengpong. Masalahnya simpel, uang gw belum cukup buat beli Blackburik.

Namun setelah mencari di tab online friend, gw tak menemukan namanya di sana. Gw pun lantas membuka profilnya melihat beberapa aktifitas terakhirnya. Dan gw sempat kaget melihat sebuah status update terbaru yang dia posting tadi siang. Statusnya sih biasa saja, tapi ada embel embel "Via Blackburik" di belakangnya. Sial gw keduluan. Ternyata dia udah punya Blackburik, sedangkan gw masih gigit jari sambil terus menguras keringat untuk beli hp macam begitu. Wajar saja karena dia termasuk orang yang gampang mendapatkan apa yang diinginkannya. Tinggal teriak "Ayah, Bunga mau Blackburik dong....". Dan esoknya blackburik itu sudah ada di dalam genggamannya.

"Ting-dung"
"One new message from Yogo"


Yogo : "Woi gimana kabar lu? Sehat?"

Gw : "Bae bae aja Go. Gimana keadaan kampus semenjak nggak ada gw?"

Yogo : "Mau ada lu, atau nggak ada lu, nggak ngaruh Jar. Ya bisa dibilang, lu nggak ada pengaruhnya apa apa di kampus."

Gw : "Wahaha kampret lu! Tapi seenggaknya kampus kehilangan salah satu mahasiswa gantengnya Go! Haha."

Yogo : "Serah lu lah!"

Gw : "Hahaha"

Yogo : "Gw kesepian banget nih di kampus sendirian. Kagak ada lu nggak rame banget.."

Gw : "Lah kan ada mahoan lu tuh, si Edo!"

Yogo : "Nah itu dia Jar masalahnya. Dia udah nggak ada..."

Gw : "Hah? nggak ada? Maksud lu meninggal? Innalilllahi....Lu serius Go? Astaghfirullah Doo Doo...emoticon-Frown"

Yogo : "Bukan meninggal bego!! Maksud gw dia udah nggak kuliah lagi. Gw nggak tau sebabnya apa, gw juga lagi nyari tau tuh anak kemana. Gw coba hubungin dia, tapi nomor HP nya udah ga aktif. Pengen nyamperin ke kontrakannya yang di Kebon Jeruk gw nggak tau."

Gw : "Lahh lu ngapa ga ngabarin gw? Gw kan tau kontrakannya. Soalnya gw pernah kesana."

Yogo : "Eh bego, gw gimana mau ngabarin lu, orang nomor lu juga kaga aktif!!"

Gw : "Oh iya lupa...Hp gw di jual Go."

Yogo : "Yaudah gini aja, besok hari Minggu paranin ke kontrakannya yuk. Mau ga lu?"

Gw : "Ke kebon jeruk? Setdah. Dari sini ya jauh Go!"

Yogo : "Yee gw juga jauh kampret! Dari Bekasi. Jangan gitu lah, gitu gitu juga dia temen kita, sodara kita. Udah 2 taun kita susah seneng bareng bareng."

Gw : "Oke Go. Hari Minggu kita kesana!"

Gw harus mengakui kalau Yogo ini mempunyai sifat yang sangat menjunjung tinggi arti sebuah pertemanan. Dia sangat menghargai teman, dan tak segan menolong temannya apabila sedang kesulitan, termasuk gw. Waktu gw hampir di D.O gara gara kasus sama dosen, dialah orang yang berada di barisan pertama untuk membela gw di hadapan Dekan Fakultas. Ketika itu dia sempat bilang begini pada gw,

"Mau lu bener atau lu salah, lu tetep temen gw. Dan gw bakal ngebelain lu!"

Ada sedikit cerita menyedihkan ketika dulu kami bertiga nginep di kosan buat ngerjain tugas. Malam itu keadaan kita sedang dilanda krisis finansial. Uang gw habis, uang Yogo juga habis, sementara Edo punya sebatang rokok. Mulut kita lagi asem asemnya pengen banget ngerokok, sedangkan rokok cuma sebatang, punya Edo. Kita bertiga pun joinan rokok sebatang. Kebetulan rokoknya Samtek, jadi lumayan awet. Malam pun semakin larut, rokok habis, terlebih 'asem' pun kembali melanda. Lalu apa yang kami lakukan? Ya, mulungan puntung.

Dari sini bisa gw simpulkan kalau mereka bertiga itu adalah teman terbaik gw. Sampai saat ini, detik ini, di tahun 2015. Loh kok bertiga? Tentu saja gw nggak mungkin melewatkan nama Dedi.

....................
....................

Hari yang telah dijanjikan pun tiba, yakni hari Minggu. Gw sama Yogo janjian bertemu di kampus terlebih dahulu, setelah itu baru berangkat ke kontrakannya. Tapi rencana gw tak berjalan mulus, bahkan bisa dibilang terganggu gara gara Bunga. Pagi pagi buta dia sudah ada di rumah gw nongkrong di warung sama Bidadari No.1. Dia ke rumah gw mengendarai motor matic kesayangannya, Pario. Sebenarnya bisa saja gw mengajaknya ikut ke kebon jeruk. Tapi jauh, gw nggak mau nantinya berdampak buruk pada kondisi fisiknya. Apalagi kondisi dia akhir akhir ini sering naik turun akibat penyakit Maagnya kambuh.

"Bung, nanti aku tinggal dulu ya." Ucap gw.

"Loh emang kamu mau kemana?"

"Ke tempatnya Edo mau nengokin dia. Kasian, kuliahnya berenti di tengah jalan, terus sekarang dia nggak ada kabarnya. Makannya aku mau kesana."

"Ooh. Emangnya dia tinggal dimana?" Tanya dia.

"Di kebon Jeruk. Jangan bilang kamu pengen....." Belum sempat gw menyelesaikan kalimat, tiba tiba Bunga langsung menyambar omongan gw.

"Yaudah aku ikut ya...."

"(Plok)." Gw menepuk jidat.

"Kenapa?" Yanya dia heran.

"Jangan sayang...Jauh. kesana itu jaraknya 60 kilo. Pulang pergi 120 kilo. Sama kayak jarak Bogor-Bandung."

"......" Manyun.

"Nanti aja yaa. Minggu depan kita jalan jalan. Oke?" Bujuk gw.

"....." Makin manyun.

"Nanti aku beliin eskrim deh yang banyak...."

"....." Dia menggeleng.

"Sekalian sama susu Ultranya satu dus. Mau?"

"....." Lagi lagi menggeleng.

Gw nyerah, lalu angkat tangan melambai ke kamera. Akhirnya gw putuskan tetap mengajak Bunga. Sebelumnya gw menyuruh dia pulang terlebih dahulu untuk ganti baju. Sebab saat itu dia cuma pake kaos putih sama celana jeans pendek. Selang satu jam kemudian gw sudah berada di depan rumahnya untuk menjemputnya. Dia sudah menunggu gw duduk di kursi tembok depan rumah.

"Yuuk..." Ajak dia.

"Sebentar! Jaket kamu ganti dulu sana pake jaket kulit, jangan pake kardigan. Terus sekalian kamu ambil masker, sarung tangan sama kupluk!"

"ih kamu tuh riweuh banget sih. Kita kan bukan mau ke gunung!!" Ujarnya.

"Pokoknya aku gak mau tau. Ambil apapun itu yang tadi aku sebutin, terus kamu pake."

"Huuuh!!"

Lima menit kemudian Bunga sudah kembali lagi ke depan membawa perlengkapan yang gw sebutkan tadi.

"Sini...Jaketnya diseletingin sampe atas dong sayang!" Ucap gw lalu menaikkan resleting jaketnya.

"......"

"Terus sarung tangannya dipake yang bener." Gw memakaikan sarung tangan ke tangannya.

"......"

"Nah maskernya dipake dulu,"

"....."

"Terus terakhir sebelum pake helm, kamu pake ini dulu yaa..." Gw memakaikan kupluk di kepalanya.

"Aku kaya orang gunung jadinya...." Ucapnya.

"Haha..." Gw tertawa kecil.

Gw melakukan hal seperti itu juga demi kesehatan Bunga. Gw nggak mau nantinya angin jalanan merenggut kesehatannya. Paling tidak dengan begini dia jadi lebih aman. Dan gw hanya ingin menjaganya, menjaga harta paling berharga yang gw punya. Kemudian tanpa banyak basa basi lagi, kita pun berangkat.

Sesampainya di kampus dan bertemu Yogo, lantas kita lanjutkan perjalanan menuju kebon jeruk. Keadaan jalan siang itu cukup lengang, tidak ada kemacetan yang berarti. Tentu saja karena hari ini hari Minggu. Kami bertiga pun akhirnya sampai di sebuah gang kecil yang gw ketahui gang kontrakannya si Edo. Tapi gw sedikit lupa arah menuju kontrakannya. Setelah tanya sana sini, akhirnya gw tiba di sebuah kontrakan kecil yang tidak memiliki jendela.

"Assalamualaikuum....Weduss!!" Panggil gw.

"......." Tidak ada jawaban.

"Duuuss....Raimu nang ndi duss??" Panggil gw sekali lagi.

Kemudian,

"Ceklek"

Pintu pun terbuka, lalu muncul sosok lelaki berkulit putih yang baru bangun tidur. Mata merah, rambut kusut ditambah bau jigong.

"Heh...Buocah Juaancuuk!" Ujarnya dengan logat khas Jawa Timur.

"Masya Allah duuus duss!! Wis jam piro saiki? Nggawe kok turu wae!" Ledek gw.

"Hahaha...merene merene...melebu!"

Kami bertiga masuk kedalam ruangan kontrakan ukuran 3x4 itu. Lalu gw duduk bersandar pada tembok. Disebelah gw ada Bunga yang sibuk ngelepasin sarung tangannya. Sementara Yogo cuma diam, sambil menatap sekeliling ruangan yang agak pengap ini.

"Mau pada ngopi nggak?" Tanya Edo pada kami bertiga.

"Nggak usah repot repot Do." Ucap Yogo.

"Udah tenang aja. Mumpung stok kopi lagi banyak nih..." Ujar Edo.

"Yaa terserah lu dah..." Balas Yogo.

"Bentar bentar..." Ucap si Edo lalu memperhatikan Bunga.

"....." Kami bertiga diam.

"Ini siapa ya? Baru ngeh gw ada perempuan. Emm, ini Bunga bukan?" Tanya si Edo.

"Iya....Edo apa kabar?" Ujar Bunga.

"Alhamdulillah baik. Gw pangling sama lu Bung, soalnya makin cantik aja sih..." Ujar si Edo sambil nyengir kuda.

Kemudian,
"Pluk" Sebuah bungkus korek kayu mendarat di kepalanya si Edo.

"Wuasuu koe Jar...!" Gerutu dia.

"Ne' aku asu, koe opo?" Tanya gw.

"Sing due asu!!" Jawab Edo.

"Pinter luh kampret!" Gerutu gw.

"Hahahaha......" Kami berempat pun tertawa.

Kemudiam Edo berbalik mengambil gelas tak lupa menyalakan dispenser untuk menyeduh empat gelas kopi. Berdasarkan penglihatan gw, keadaan fisik si Edo berubah drastis. Badannya terlihat lebih kurus, matanya cekung, ditambah warna hitam menghiasi kelopak mata bagian bawah. Sebenarnya ada apa dengan sobat gw yang satu ini? Batin gw.

"Do, Mas lu mana?" Tanya gw.

"Udah berangkat kerja dia..." Jawabnya.

"Oh..."

Tak lama kemudian kopi telah siap untuk disajikan. Edo menaruh empat gelas itu dihadapan kami masing masing. Seketika keheningan membungkam suasana diantara kami berempat. Yogo yang gw perhatikan sudah gatel ingin bicara, akhirnya dia angkat bicara.

"Lu kenapa Do?" Tanya Yogo.

"Nggak apa apa Go." Jawabnya.

"Gw sama Fajar temen lu Do. Gw tau lu ada masalah. Ngomong aja sama kita kita. Siapa tau kita bisa bantu" Sambung Yogo.

"Masalah opo toh? Wong biasa biasa aja kok."

"Lu kenapa nggak lanjut?" Tanya Yogo sekali lagi.

"Lanjut opo?" Edo balik bertanya.

"Kuliah..."

Sejenak gw perhatikan Edo sedikit menundukkan kepalanya lalu menarik nafas dalam dalam. Dia menyempatkan diri untuk menyeruput segelas kopi hitam. Bukannya bicara menjawab pertanyaan Yogo, lantas dia hanya sedikit tersenyum sebagai jawaban yang ambigu.

"Heh, lu kenapa?" Tanya Yogo.

"......" Edo hanya senyum.

"Masalah biaya?" Sambung Yogo.

Dahinya mengernyit sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal. Kemudian secara ragu dia mengangguk.

"Gw nggak bisa lanjut soalnya sapi sapi gw di kampung udah nggak ada. Udah habis dijualin semua." Ucapnya.

"Sapi?"

"Iya...gw kira itu (sapi) cukup buat modal gw hidup disini. Nggak taunya yaah...Bisa kalian liat sendiri."

"....."

"Hidup di Jakarta nggak segampang yang dibayangin."

"Lu kenapa nggak ngajuin buat cuti dulu Do? Seandainya lu nggak ada biaya kan bisa cuti dulu. Tuh kayak si Fajar cuti..." Ujar Yogo.

"Dia mah terpaksa di cutiin Go! Hahaha" Canda si Edo.

"Udah udah, nggak usah dibahas lagi kelakuan bocah nggak waras..!" Sambung Yogo sambil melirik ke arah gw.

"Kampeett lu!!" Gerutu gw tiba tiba.

"Terus sekarang lu mau gimana Do?" Tanya Yogo pada Edo.

"Ya beginilah. Paling gw nyari kerjaan dulu. Kalo mentok mentok gw masih nggak bisa hidup disini, ya gw pulang kampung." Jawabnya.

"Terus lu dikampung mau ngapain?" Tanya gw.

"Ngurusin sapi sapi gw laah!" Jawabnya.

"Loh katanya lu udah nggak punya sapi?" Tanya gw heran.

"Masih ada dua lagi. Tapi masih kecil kecil. Baru juga berapa bulan. Kasian mereka yatim piatu. Emak bapaknya mungkin udah pada jadi rendang...." Jawab Edo.

"Suruh aja si Fajar biar jadi orangtua asuh sapi sapi lu Do!! Hahaha!" Canda si Yogo.

"Hahahaha....."

Seketika seisi ruangan larut dalam canda tawa. Suasana pun berubah menjadi jauh lebih hangat. Banyak yang kita bicarakan mengenai beberapa hal, sebagian besar menyangkut masalah perkuliahan, masalah dosen, dan tentu saja masalah dendam kesumat gw sama salah satu dosen. Gw pun pasrah menjadi bahan bullyan mereka semua. Apalagi Bunga juga ikutan ngebully gw. Tapi sudahlah, toh kata kata bully mereka seakan akan menyadarkan gw kalau kekerasan bukan menyelesaikan masalah.

"Jujur, gw ngerasa sepi banget di kampus. Apalagi di kosan gw sendirian. Nggak ada lu berdua." Ucap Yogo tiba tiba.

"......" Kita bertiga diam.

"Elu Do, elu temen gw. Biarpun lu udah nggak di kampus lagi, gw harap lu sama gw masih sama kaya kemaren kemaren, silaturahmi tetep ada. Dan elu juga Jar, Lu temen gw, nanti kalo lu udah masuk kuliah lagi, gw harap lu tetep nongkrong sama gw biar kata secara akademik lu nanti jadi junior gw. Dan satu lagi, pintu kosan masih terbuka lebar buat elu berdua. Datanglah kesana, entah besok, lusa atau kapanpun."

"Lah emang itu kosan nenek moyang elu Go kapan aja bisa maen?" Tanya si Edo.

"Tenang aja....Gw udah perpanjang masa sewa kosan buat dua taun ke depan...." Jawab Yogo.

"Hah? dua taun?" Tanya Gw dan Edo kompak.

"Yoi...."

"Wong ediiiiaaan!!"


Darpox
Darpox memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.