- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2104
PART 90
Suatu hari di akhir 2012.
Gue sedang packing barang-barang pribadi gue, karena harus pindah ke ibukota. Gue memasukkan pernak-pernik kecil ke sebuah tas, dan beberapa buku novel yang belum sempat gue masukkan ke dalam kardus. Tepat pada saat itu gue melihat sosok Anin berdiri bersandar di kusen pintu kamar gue sambil tersenyum. Dia memakai kaos putih bertuliskan New York yang digulung sedikit di bagian lengan, bercelana jeans biru terang, berkalung batu mengkilap berwarna hitam dan bergelang etnik seperti biasa. Rambutnya yang ikal merah kecoklatan tergerai dengan indah, sebagaimana biasa.
Hari itu memang Anin bilang mau kerumah gue, mau bantu-bantu packing, katanya. Dan sekarang dia udah berdiri di pintu kamar gue sambil tersenyum dan menenteng dompet beserta handphone nya di tangan kanan. Gue memandangi Anin sambil meringis dan menggerakkan kepala gue, menyuruh dia masuk. Sambil memandangi sekeliling, Anin pun masuk ke kamar gue dan duduk di lantai di sebelah gue.
Anin menjulurkan tangannya kedepan, mengambil satu buah frame yang masih berdiri diatas meja gue, isinya beberapa foto gue dan Anin jaman dulu. Gue tersenyum.
Anin memandangi foto-foto di dalam frame itu, sambil tersenyum. Cukup lama. Beberapa kali dia memiringkan kepala, seakan ingin mencari angle lain dari foto-foto di genggamannya. Gue menghentikan kegiatan packing gue ini, dan memandangi Anin sementara dia masih terpaku ke foto-foto itu. Gue liat mata Anin berkaca-kaca, dan setetes air mata lembut mengalir pelan di sudut matanya. Anin buru-buru menyeka air matanya dan tersenyum memandangi gue. Gue memegang tangannya erat.
Anin meletakkan frame itu di karpet, dan menoleh ke gue lagi.
Gue tertawa, dan mengacak-acak rambutnya, pelan-pelan tapi. Gue menggeser posisi duduk menjadi menghadap Anin, sambil menatap frame foto yang tergeletak di karpet.
Gue mengambil frame foto itu dari karpet, dan menatapnya dalam-dalam. Sambil memiringkan kepala, gue berpikir flashback tentang apa yang udah terjadi selama kami berdua bersama. Gue tertawa, dan kemudian berpaling ke Anin, memandanginya sesaat, dan tertawa lagi. Anin menatap gue dengan heran.
Gue kembali memasukkan barang-barang ke tas, sambil dibantu oleh Anin. Kadang-kadang dia mengomentari barang-barang kecil milik gue, seperti nanya “ini beli dimana mas?” atau “ini dari siapa?” dan sebagainya. Dan mayoritas gue udah lupa darimana asal barang-barang gue itu. Menjelang sore, gue dan Anin udah selesai beberes, dan kami berdua memutuskan pergi keluar, cari makan. Karena Anin kerumah gue naik mobil, jadinya kita pergi pake mobilnya Anin aja.
Gue termasuk jarang naik mobil Anin, karena biasanya gue sama Anin sering naik motor. Iya, Anin emang lebih doyan naik motor, seperti yang dulu pernah gue ceritakan. Satu hal yang belom gue ceritakan, dan menurut gue ini hal fantastis. Anin bisa dan doyan naik N250 gue. Pertama kali gue liat dia iseng naik tuh motor yang keparkir di garasi, gue terbelalak. Gila nih cewek, bodinya yang bongsor bisa pas banget kalo naik motor gede gini. Akhirnya dia minta diajarin naik motor itu, dan dalam waktu sehari udah pinter. Itu salah satu keunikan Anin yang lain.
Gue dan Anin menuju ke sebuah restoran fastfood, dan menghabiskan sore disitu. Kebiasaan kami, kalo di restoran fastfood gak pernah “jadi anak baik-baik”. Selalu ada aja ngaconya. Kali ini gue yang ngakak ngeliat pipi Anin belepotan minyak dan daging ayam.
Anin buru-buru melap pipinya dengan punggung tangan, dan itu bikin tambah belepotan, dan bikin gue tambah ngakak juga.
Gue melanjutkan makan ayam, dan sengaja mengulitinya lebih dulu. Kulitnya gue makan entaran aja. Save the best for the last. Anin menggumam ke gue.
Gue mengangguk dan beranjak ke kasir, minta tambahan tissue lagi, setelah itu gue langsung kembali ke meja. Dan di meja itu gue liat kulit ayam gue yang sengaja gue singkirin udah lenyap. Raib. Ilang. Gak bersisa. Gue menoleh ke satu-satunya pelaku yang bisa diduga melakukan pelanggaran HAM ini, dan gue liat Anin dengan santainya memakan lembaran kulit crispy ayam gue itu, dengan wajah penuh provokasi.
Ini kalo bukan calon istri gue, udah gue tempelin mukanya pake saos sambel
Suatu hari di akhir 2012.
Gue sedang packing barang-barang pribadi gue, karena harus pindah ke ibukota. Gue memasukkan pernak-pernik kecil ke sebuah tas, dan beberapa buku novel yang belum sempat gue masukkan ke dalam kardus. Tepat pada saat itu gue melihat sosok Anin berdiri bersandar di kusen pintu kamar gue sambil tersenyum. Dia memakai kaos putih bertuliskan New York yang digulung sedikit di bagian lengan, bercelana jeans biru terang, berkalung batu mengkilap berwarna hitam dan bergelang etnik seperti biasa. Rambutnya yang ikal merah kecoklatan tergerai dengan indah, sebagaimana biasa.
Hari itu memang Anin bilang mau kerumah gue, mau bantu-bantu packing, katanya. Dan sekarang dia udah berdiri di pintu kamar gue sambil tersenyum dan menenteng dompet beserta handphone nya di tangan kanan. Gue memandangi Anin sambil meringis dan menggerakkan kepala gue, menyuruh dia masuk. Sambil memandangi sekeliling, Anin pun masuk ke kamar gue dan duduk di lantai di sebelah gue.
Quote:
Anin menjulurkan tangannya kedepan, mengambil satu buah frame yang masih berdiri diatas meja gue, isinya beberapa foto gue dan Anin jaman dulu. Gue tersenyum.
Quote:
Anin memandangi foto-foto di dalam frame itu, sambil tersenyum. Cukup lama. Beberapa kali dia memiringkan kepala, seakan ingin mencari angle lain dari foto-foto di genggamannya. Gue menghentikan kegiatan packing gue ini, dan memandangi Anin sementara dia masih terpaku ke foto-foto itu. Gue liat mata Anin berkaca-kaca, dan setetes air mata lembut mengalir pelan di sudut matanya. Anin buru-buru menyeka air matanya dan tersenyum memandangi gue. Gue memegang tangannya erat.
Quote:
Anin meletakkan frame itu di karpet, dan menoleh ke gue lagi.
Quote:
Gue tertawa, dan mengacak-acak rambutnya, pelan-pelan tapi. Gue menggeser posisi duduk menjadi menghadap Anin, sambil menatap frame foto yang tergeletak di karpet.
Quote:
Gue mengambil frame foto itu dari karpet, dan menatapnya dalam-dalam. Sambil memiringkan kepala, gue berpikir flashback tentang apa yang udah terjadi selama kami berdua bersama. Gue tertawa, dan kemudian berpaling ke Anin, memandanginya sesaat, dan tertawa lagi. Anin menatap gue dengan heran.
Quote:
Gue kembali memasukkan barang-barang ke tas, sambil dibantu oleh Anin. Kadang-kadang dia mengomentari barang-barang kecil milik gue, seperti nanya “ini beli dimana mas?” atau “ini dari siapa?” dan sebagainya. Dan mayoritas gue udah lupa darimana asal barang-barang gue itu. Menjelang sore, gue dan Anin udah selesai beberes, dan kami berdua memutuskan pergi keluar, cari makan. Karena Anin kerumah gue naik mobil, jadinya kita pergi pake mobilnya Anin aja.
Gue termasuk jarang naik mobil Anin, karena biasanya gue sama Anin sering naik motor. Iya, Anin emang lebih doyan naik motor, seperti yang dulu pernah gue ceritakan. Satu hal yang belom gue ceritakan, dan menurut gue ini hal fantastis. Anin bisa dan doyan naik N250 gue. Pertama kali gue liat dia iseng naik tuh motor yang keparkir di garasi, gue terbelalak. Gila nih cewek, bodinya yang bongsor bisa pas banget kalo naik motor gede gini. Akhirnya dia minta diajarin naik motor itu, dan dalam waktu sehari udah pinter. Itu salah satu keunikan Anin yang lain.
Gue dan Anin menuju ke sebuah restoran fastfood, dan menghabiskan sore disitu. Kebiasaan kami, kalo di restoran fastfood gak pernah “jadi anak baik-baik”. Selalu ada aja ngaconya. Kali ini gue yang ngakak ngeliat pipi Anin belepotan minyak dan daging ayam.
Quote:
Anin buru-buru melap pipinya dengan punggung tangan, dan itu bikin tambah belepotan, dan bikin gue tambah ngakak juga.
Quote:
Gue melanjutkan makan ayam, dan sengaja mengulitinya lebih dulu. Kulitnya gue makan entaran aja. Save the best for the last. Anin menggumam ke gue.
Quote:
Gue mengangguk dan beranjak ke kasir, minta tambahan tissue lagi, setelah itu gue langsung kembali ke meja. Dan di meja itu gue liat kulit ayam gue yang sengaja gue singkirin udah lenyap. Raib. Ilang. Gak bersisa. Gue menoleh ke satu-satunya pelaku yang bisa diduga melakukan pelanggaran HAM ini, dan gue liat Anin dengan santainya memakan lembaran kulit crispy ayam gue itu, dengan wajah penuh provokasi.
Ini kalo bukan calon istri gue, udah gue tempelin mukanya pake saos sambel

chanry dan 7 lainnya memberi reputasi
8


: paling yang kecil-kecil ini doang sih, yang gede-gede udah dimasukin ke kardus kemaren. Sama laptop, charger HP gitulah.
: kenapa dek?
: tergantung manusianya sih mas, mau nginget pelajaran hidupnya apa enggak.
: ehehehe…
: enggak, cuma geli aja. Kamu dari dulu sampe sekarang nyaris gak berubah. Berubahnya paling jadi tambah cantik doang sih. Tapi gak tambah gendut atau apalah. Aku curiga, kamu immortal ya dek?
: enak ajaaa. Tapi malah bagus dong awet muda berarti. Harusnya kamu bangga tuh mas punya istri awet terus cantiknya. 
: *setengah menggumam* ah kata siapa…
: kepaksa gak tuh ngomongnya?
: cantik-cantik kok makannya barbar.
: mas, mintain tissue lagi dong.