- Beranda
- Stories from the Heart
Taruh Aku Di Tempat Yang Istimewa Dihatimu.
...
TS
tomsang
Taruh Aku Di Tempat Yang Istimewa Dihatimu.
Diubah oleh tomsang 07-06-2016 21:53
anasabila memberi reputasi
1
36.5K
221
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tomsang
#172
27
(DUA PULUH TUJUH)
Lagi lagi gue terbangun karena derap langkah beberapa orang masuk ke ruangan gue. Di sini dokter kalo berkunjun pagi banget kali ya, jam 6 pagi udah mulai keliling lorong meriksa pasien-nya masing masing. Ga papa lah, anggap aja semacam jam weker setiap jam 6 pagi.
Gue: “Selamat pagi dok, pagi sekali lho ini. Saya sampe belum sempet mandi kedatengan tamu.”
Dokter: “ Selamat pagi Mas, Iya saya bisanya Cuma pagi kalau ke sini. Bagaimana sudah mendingan? Masih lemes? Kalau masih kita lihat lagi besok bagaimana?”
Gue: ”Enggak dok, udah sehat banget ini, beneran.”
Dokter: “Ok, suhu badan sudah bagus, coba lihat lidahnya.”
Gue ngeluarin lidah
Dokter: “ Yak, sudah agak berwarna, enggak terlalu pucat kaya kemarin.”
Gue: ”Jadi saya boleh pulang hari ini dok?”
Dokter: “Iya, Mas boleh pulang hari ini, nanti saya tulis resep untuk di bawa pulang ya. Jangan lupa yang kemarin saya bilang, di jaga makanannya, waktunya dan kualitasnya, awal awal jangan terlalu capek dulu ya.”
Gue: ”Baik dok, terima kasih.”
Dan mereka berlalu dari hadapan gue, Pandangan gue mengantar sampai mereka keluar pintu dan menuju lorong, kemudian gue menatap Bu Handoyo dan tersenyum. Kemudian kami terlibat perbincangan ringan tentang keluarga, pekerjaan dan tempat tinggal, pembicaraan kecil yang menarik dengan suara ramah ala Bu Handoyo, terima kasih sudah menemani saya 3 hari terakhir di sini Bu.
Setelah merapikan bawaan gue yang hanya satu tas bagpack selesai, gue berpamitan dengan nenek ramah room-mate gue, dan para suster di station nya. Matahari panas sekali siang ini, mengiringi langkah gue keluar lobi mencari taxi pulang.
Di dalam taxi gue mencoba untuk mengarahkan sang supir untuk keluar kawasan ini untuk melewati rute yang bisa gue lewati kalau sedang bersama Novi. Kemungkinan besar Novi tidak sedang di McDonald yang sedang gue lewati ini. Sebelumnya memang tepikir untuk mampir dan membeli sebuah paket untuk take away, tapi keburu ingat kalo gue baru keluar dari rumah sakit, ga mau makanan semacam ini dulu, makanan higenis dulu seperti makanan rumahan. Telor ceplok atau telor dadar berarti kalau makan di rumah (keluh).
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai lah taxi tersebut di rumah nyokap gue. Seperti yang sudah gue sebut kemarin ke nyokap gue akan jemput anak gue di situ setelah pulang sekolah. Hari itu anak gue pulang jam 12 siang dan sudah menunggu gue di rumah neneknya. Papa kangen kamu nak. Gue lagi sangat pengen cepet sampai ke rumah, jadi gue meminta supir taxi untuk standby menunggu gue untuk rute tambahan menuju rumah gue. Rumah gue enggak terlalu jauh, cuma 20 menit kalau naik taxi dari rumah nyokap.
Kali ini gue di kasih bekal makanan higenis ala nyokap untuk gue makan hari itu, jadi gue ga perlu jajan lagi. Nyokap gue berasumsi istri gue tidak masak lagi hari ini.
Sampailah kami berdua di rumah, Siang hingga sore itu gue habiskan buat ngobrol, bermaiun dan membantu anak gue membuat tugas sekolahnya, dan menyiapkan buku. Sesekali memang gue melihat handphone, apakah ada pesan yang gue tunggu? Atau apakah pesan gue sudah berhasil sampai ke orang yang sedang ingin gue ajak bicara beberapa hari terakhir ini. Sambil gue mengirim pesan singkat ke Ina kalau gue sudah di rumah, kita janjian untuk bertemu besok. Dan Ina merespon positif pesan gue itu.
Jam 21an waktu di menunjukan jam di dinding kamar seiring suara bel berbunyi, istri gue sampai di rumah, dan eneng sudah tidur sejak beberapa waktu sebelumnya. Gue lagi enggak dalam mood yang menyenangkan untuk ngobrol sama istri hari ini. Gue baru balik dari Rumah Sakit dan istri gue sibuk dengan MLM nya? Apa yang bisa memperbaiki mood gue di rumah ini selain keberadaan eneng?
Istri: ”Kamu sampai rumah jam berapa pah?”
Gue: “Jam 2an.”
Istri : ”Kamu sudah makan? Aku beli sate tadi untuk makan malem.”
Gue: ”Sudah, tadi di bawain mamaku sayur bening sama nasi liwet, ga boleh makan sembarangan dulu kata mama, dokter juga bilang gitu.”
Gue : ”Kemarin oleh oleh bawaan ku kamu taruh dimana?”
Istri: “Di lemari makan, sebagian sudah aku kasih ke mama-mu dan mama-ku.”
Gue: ”Lho kok tinggal segini? Ada pesanan anak anak kantor lho, kok sisanya sedikit sekali.”
Istri: “Aku sangka cuma untuk orang tua dan kita saja.”
Gue: ”Kamu kenapa enggak nanya sih.”
Istri: “Kemarin aku mau nelpon tapi inget kamu ga ada handphone di Rumah Sakit.”
Gue: “Sudahlah, aku tidur, aku tidur di kamar eneng ya, aku kangen banget.”
Lagi lagi gue terbangun karena derap langkah beberapa orang masuk ke ruangan gue. Di sini dokter kalo berkunjun pagi banget kali ya, jam 6 pagi udah mulai keliling lorong meriksa pasien-nya masing masing. Ga papa lah, anggap aja semacam jam weker setiap jam 6 pagi.
Gue: “Selamat pagi dok, pagi sekali lho ini. Saya sampe belum sempet mandi kedatengan tamu.”
Dokter: “ Selamat pagi Mas, Iya saya bisanya Cuma pagi kalau ke sini. Bagaimana sudah mendingan? Masih lemes? Kalau masih kita lihat lagi besok bagaimana?”
Gue: ”Enggak dok, udah sehat banget ini, beneran.”
Dokter: “Ok, suhu badan sudah bagus, coba lihat lidahnya.”
Gue ngeluarin lidah
Dokter: “ Yak, sudah agak berwarna, enggak terlalu pucat kaya kemarin.”
Gue: ”Jadi saya boleh pulang hari ini dok?”
Dokter: “Iya, Mas boleh pulang hari ini, nanti saya tulis resep untuk di bawa pulang ya. Jangan lupa yang kemarin saya bilang, di jaga makanannya, waktunya dan kualitasnya, awal awal jangan terlalu capek dulu ya.”
Gue: ”Baik dok, terima kasih.”
Dan mereka berlalu dari hadapan gue, Pandangan gue mengantar sampai mereka keluar pintu dan menuju lorong, kemudian gue menatap Bu Handoyo dan tersenyum. Kemudian kami terlibat perbincangan ringan tentang keluarga, pekerjaan dan tempat tinggal, pembicaraan kecil yang menarik dengan suara ramah ala Bu Handoyo, terima kasih sudah menemani saya 3 hari terakhir di sini Bu.
Setelah merapikan bawaan gue yang hanya satu tas bagpack selesai, gue berpamitan dengan nenek ramah room-mate gue, dan para suster di station nya. Matahari panas sekali siang ini, mengiringi langkah gue keluar lobi mencari taxi pulang.
Di dalam taxi gue mencoba untuk mengarahkan sang supir untuk keluar kawasan ini untuk melewati rute yang bisa gue lewati kalau sedang bersama Novi. Kemungkinan besar Novi tidak sedang di McDonald yang sedang gue lewati ini. Sebelumnya memang tepikir untuk mampir dan membeli sebuah paket untuk take away, tapi keburu ingat kalo gue baru keluar dari rumah sakit, ga mau makanan semacam ini dulu, makanan higenis dulu seperti makanan rumahan. Telor ceplok atau telor dadar berarti kalau makan di rumah (keluh).
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai lah taxi tersebut di rumah nyokap gue. Seperti yang sudah gue sebut kemarin ke nyokap gue akan jemput anak gue di situ setelah pulang sekolah. Hari itu anak gue pulang jam 12 siang dan sudah menunggu gue di rumah neneknya. Papa kangen kamu nak. Gue lagi sangat pengen cepet sampai ke rumah, jadi gue meminta supir taxi untuk standby menunggu gue untuk rute tambahan menuju rumah gue. Rumah gue enggak terlalu jauh, cuma 20 menit kalau naik taxi dari rumah nyokap.
Kali ini gue di kasih bekal makanan higenis ala nyokap untuk gue makan hari itu, jadi gue ga perlu jajan lagi. Nyokap gue berasumsi istri gue tidak masak lagi hari ini.
Sampailah kami berdua di rumah, Siang hingga sore itu gue habiskan buat ngobrol, bermaiun dan membantu anak gue membuat tugas sekolahnya, dan menyiapkan buku. Sesekali memang gue melihat handphone, apakah ada pesan yang gue tunggu? Atau apakah pesan gue sudah berhasil sampai ke orang yang sedang ingin gue ajak bicara beberapa hari terakhir ini. Sambil gue mengirim pesan singkat ke Ina kalau gue sudah di rumah, kita janjian untuk bertemu besok. Dan Ina merespon positif pesan gue itu.
Jam 21an waktu di menunjukan jam di dinding kamar seiring suara bel berbunyi, istri gue sampai di rumah, dan eneng sudah tidur sejak beberapa waktu sebelumnya. Gue lagi enggak dalam mood yang menyenangkan untuk ngobrol sama istri hari ini. Gue baru balik dari Rumah Sakit dan istri gue sibuk dengan MLM nya? Apa yang bisa memperbaiki mood gue di rumah ini selain keberadaan eneng?
Istri: ”Kamu sampai rumah jam berapa pah?”
Gue: “Jam 2an.”
Istri : ”Kamu sudah makan? Aku beli sate tadi untuk makan malem.”
Gue: ”Sudah, tadi di bawain mamaku sayur bening sama nasi liwet, ga boleh makan sembarangan dulu kata mama, dokter juga bilang gitu.”
Komunikasi hambar.
Gue : ”Kemarin oleh oleh bawaan ku kamu taruh dimana?”
Istri: “Di lemari makan, sebagian sudah aku kasih ke mama-mu dan mama-ku.”
Gue: ”Lho kok tinggal segini? Ada pesanan anak anak kantor lho, kok sisanya sedikit sekali.”
Istri: “Aku sangka cuma untuk orang tua dan kita saja.”
Gue: ”Kamu kenapa enggak nanya sih.”
Istri: “Kemarin aku mau nelpon tapi inget kamu ga ada handphone di Rumah Sakit.”
Ah sudahlah, memang akan selalu seperti ini, ketidaktahuan, ketidakpedulian, keegoisan memang selalu mewarnai rumah ini.
Gue: “Sudahlah, aku tidur, aku tidur di kamar eneng ya, aku kangen banget.”
Diubah oleh tomsang 03-02-2015 22:10
0

