- Beranda
- Stories from the Heart
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)
...
TS
godaanpuasa
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)

"Semua pertanyaan yang dulu belom bisa gw jawab, semua kalimat yang dulu belum bisa gw ucapin, bakal gw tulis disini"
-Row-
Misi agan-agan semua
ane nubi+ silent reader akhirnya turun gunung juga

ane disini mau nulis cerita ane gan, karna terinspirasi dari beberapa cerita-cerita keren yang ada di SFTH

cerita ini based on real-life events dari seseorang bernama Row, dari jaman dia SMK-Kuliah. Tetapi sebisa mungkin ane samarin, terutama tempat dan nama orang" nya buat menjaga privasi
ok gan, langsung aja kita mulai...
link photo diatas
Spoiler for Prologue:
"ini tempat favorit gw "
"wah keren banget row, lo harusnya ngajak gw dari dulu kesini" gadis itu tersenyum sangat senang, melihat row dengan mata yang berbinar
"ahaha, enak aja ini tempat spesial gw, lagian kalo lagi gak full moon kaya gini, gw juga jarang kok naek kemari"
gadis itu melihat kelangit, memang benar dari tempat ini bulan dan bintang terlihat sangat jelas. Langit biru kegelapan yang luas disinari oleh gemerlap bintang dan cahaya bulan sungguh melegakan hati, seakan untuk saat ini tak ada yang perlu dipikirkan, tak ada yang perlu dicemaskan.
mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati keindahalan langit malam tersebut.
"Row"gadis itu memangil pelan
"Kenapa ?" row menjawab seadanya, masih asik menatap langit.
tiba-tiba gadis itu menggenggam tangan kiri row
"menurut lo, gw ini cw yang menarik gak sih ?"
row yang kaget karna tangan nya di genggam refleks melihat kearah gadis tersebut. Row terdiam, entah apa yang terjadi, gadis disampingnya terlihat berbeda dari biasanya, wajahnya bersinar terkena paparan sinaran Bulan, matanya sedikit berkaca-kaca, dan senyumnya sangat menawan.
Row menatap mata gadis itu, tangan kanan row ikut menggengam tangan gadis tersebut.
"lo itu........"
Spoiler for index:
Prologue,Index,Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Spoiler for Part 1:
LANGIT sudah gelap. Jalanan lengang hanya dilewati beberapa mobil dan motor yang melaju dengan kencang, entah ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat atau takut akan bahaya dari para begal yang mengincar. Jam 01.00 pagi, saat suasana sedang hening, saat semua orang terlelap, saat semua orang tertidur, mengistirahatkan tubuh dan mengisi tenaga untuk menjalani kehidupannya esok pagi. Row justru masih terjaga, di tempat yang sangat ramai ini, di tempat yang penuh teriakan dan juga asap rokok,Warung Internet.
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Diubah oleh godaanpuasa 02-02-2015 00:31
someshitness dan 9 lainnya memberi reputasi
10
79K
Kutip
508
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
godaanpuasa
#474
update
Spoiler for Epilogue Part 3:
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin jelas menuju kearah balkon.
“Woy ngapain lo belom tidur ?”
“Biase sob” Row menjawab tanpa menoleh, instingnya cukup tajam merasakan kehadiran Depan.
“Rokok sob” Depan yang sekarang sudah duduk disamping Row menaruh bungkus rokoknya di meja kecil yang berada ditengah mereka.
“Udah berenti gw” Row tersenyum
“Ebuset gw kira tadi lo becanda pas gw tawarin di mobil, beneran uda berenti lo? betapa di gunung mane lo?”
“Gunung Monyet, kongkow dulu gw bareng sodara-sodara berbulu lo baru sembuh”
“Sial”
Mereka berdua tertawa dengan suara pelan, takut membangunkan Nina dan tetangga
“Jadi gimana uda ketemu jawaban lo sob?”
Row terdiam, mengerti maksud perkataan Depan.
“Lo tau sob” Row terdiam sejenak, tangannya merogoh kantong celana, lalu mengeluarkan segenggam permen jahe dan menaruhnya di meja, Depan tersenyum akhirnya mengerti obat Row dalam menyembuhkan candu Rokoknya.
“Dagang permen mas”Depan tersenyum mengejk Row, Row tak menjawab asik membuka bungkus permennya.
Setelah Row mengemut permen jahe, Row kembali bercerita.
“Selama dua tahun ini, gw udah ngelakuin banyak ha yangl gak pernah gw rencanain, bahkan kelintas di otak gw juga nggak. Gw ngebatalin rencana untuk kerja dan lanjut kuliah dengan jurusan yang jauh beda, mental dari jurusan awal gw di SMK. Berbagai hobi baru udah gw jajal, Naik Gunung, Kelaut, Travelling. Dan bahkan gabung Organisasi kampus, meskipun gw gak betah dan keluar sekitar 2 minggu setelah masuk.”
“Bahkan sampe gw ketemu Rani”
Row berhenti sejenak membuka permennya yang kedua, diikuti oleh Depan yang kembali menyundut Rokoknya dan kembali fokus menunggu Row melanjutkan ceritanya.
“jujur aja semuanya keren banget, banyak hal-hal baru dan kejadian yang gw pikir gak bakal bisa gw dapetin. Banyak pelajaran dan pengalaman yang gak gw temuin di buku-buku.”
“Tapi tetep aja gw masih ngerasa ada yang kurang sob, seakan-akan ada sesuatu yang gw lewatin.”
Row menutup kalimatnya, kini wajahnya menerawang dalam menuju langit malam.
“Ahahaha” Tawa Depan membuyarkan lamunan Row.
“Sob, lo inget waktu pertama kali lo ceritain ke gw tentang masalah ini ?”
Row tidak menjawab, hanya mengangguk sambil asik membuka permen ketiganya.
“Sehabis malem itu lo ceritain kejadian terakhir lo ketemu Ara dan juga kalimat sakti yang ada di surat terakhir itu, untuk pertama kalinya dalam hidup gw…..”
Row terdiam, kali ini Depan berhasil membuat Row fokus dengan ceritanya, penasaran.
“Pertama kali sejak gw lahir, gw gak bisa tidur semaleman Row” Depan menghentikan kalimatnya menatap Row dengan serius. Sebaliknya Row malah melihat Depan dengan ekspresi aneh sekaligus heran.
“Udah gitu doang ?”
“Lah kok gitu doang sih, lo kan tau gw bisa tidur kapanpun dan dimanapun, mangkanya sekalinya gak bisa tidur itu aneh banget buat gw”
“Iyalah, orang lo mah ada kebakaran juga tetep tidur kalo ngak ada yang bangunin kan, ahahahaha” Row tertawa cukup keras, namun melihat ekspresi Depan yang sedang serius, row memutuskan menghentikan tawanya. Row menjulurkan tangannya, mempersilahkan Depan untuk melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu semaleman gw ketiduran, kalimat itu terus kebayang-bayang di otak gw. Tapi untung aja isi otak gw gak penuh dan rumit kaya lo sob” Depan tersenyum kepada Row
“Bilang aja kosong pret” Mereka berdua kembali tertawa
“Dan akhirnya pas pagi-pagi gw keluar kamar dan jalan ke teras, gw ngeliat dia sob. dan saat itu juga gw ngerti, apa yang sebenernya gw pengen dalam hidup ini. Dan saat itu juga, tanpa ada keraguan lagi, gw langsung samperin Nina dan utarakan seperti apa perasaan gw selama ini. Dan akhirnya dengan gagah berani, gw berhasil buat dia terpukau dan yah lo tau lah hasilnya kaya sekarang ini.” Depan menutup ceritanya dengan penuh sumringah.
“Yakin, gagah berani ?” Row tersenyum, kalimat Row sukses mengubah air muka Depan.
“Walah, jangan-jangan ?”
“Bukan jangan-jangan, dari jalan lo yang gemeteran, muka lo yang pucet kaya ayam tiren, sama gaya ngomong lo yang gugup kaya aktor lawak juga terekam lengkap di otak gw sob, ahahahaha” Row tertawa puasa melihat wajah Depan yang tiba-tiba merah padam, tetapi sedetik kemudian Depan kembali tersenyum dan ikut tertawa bersama Row.
♠
8 Februari 2014
13:00
Row sekarang sedang duduk di sebuah bangku panjang, setelah kelelahan berputar-putar mengelilingi “Jalan Seni”, salah satu icon dari Kota Pelajar. Entah mengapa tidak seperti lokasi lainnya, Jalan Seni selalu ramai baik oleh pribumi, pendatang, maupun turis asing yang sedang berlibur di Kota Pelajar.
Para Pedagang memenuhi seluruh sisi jalan, mulai dari pedagang makanan, baju, pernak-pernik, bahkan sampai pedagang jasa lukis tersedia di malioboro. Row yang sudah tak kuat berkeliling dan berdesak-desakan memutuskan untuk beristirahat sejenak, sambil memakan Sate Maranggi serta es Teh manis yang sudah dia beli sebelumnya. Beruntung Row sudah mendapatkan pesan dari Nina bahwa untuk makanan, sebaiknya bertanya lebih dulu sebelum membeli, dikarnakan di jalan ini kebetulan banyak pedagang yang memnafaatkan kesempatan, menjual makanan ke pembeli dengan harga yang relatif mahal dan tak masuk akal. Tapi tidak semua, buktinya Row mendapatkan harga yang rasional dari seorang Ibu pedagang yang duduk santai di suatu sudut jalan ini.
Tak perlu waktu lama untuk Row menghabiskan makanan dan minuman tersebut. Setelah membuang bungkus makanan serta minuman ke tempat sampah yang berada tepat disamping bangku tempat ia duduk, Row merogoh kantongnya mengambil Hp lalu melihat kearah Jam.
“Masih ada waktu 1 jam”
Row kini terdiam kebingungan. Dia memang menyadari bahwa dirinya tidak terlalu betah di keramaian, karnanya Row sudah Meminta tolong Depan untuk menjemputnya pada pukul 14:00 tepat., memberikan Row waktu 1:30 jam untuk menikmati Jalan Seni. Tetapi siapa sangka, 30 menit lebih dari cukup untuk membuat Row bosan.
Row memasukan Hpnya dan kali ini tangan kananya mengambil dompet dari saku belakang. Dengan hati-hati Row mengambil sesuatu yang sengaja ia selipkan dibelakang foto keluarga Row dalam dompetnya, secarik kertas yang terlipat.
Row membuka serta meratakan kertas itu, warnanya sudah berubah kekuningan tetapi tidak ada satu bagian pun yang robek. Dan tulisan didalamnya, tulisan yang hanya satu baris yang diakhiri dengan gambar wajah tersenyum itu masih dapat dengan jelas dibaca oleh Row.
Gimana, udah ketemu belom jawabannya ? ^_^
-Ara
Row tersenyum, hanya dengan membaca satu kalimat itu pikiran Row dengan cepat meluncur kembali ke masa lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengannya, Karaoke bersamanya , pertengkaran di Cafe berdua, hari-hari tanpa komunikasi dengannya, Waktu bersama terakhir dengannya, serta kegagalan dirinya untuk bertemu Ara saat terakhir kali berlalu dengan cepat dipikiran Row.
“hahahaha” terdengar suara tawa seorang wanita tepat di sebelah Row.
“Astaga, sampe ketawa lo aja masih bisa gw denger Ra” Row tersenyum menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya. Row menolehkan kepalanya kearah sumber suara tersebut, Row terdiam, pupilnya melebar, tangannya bergetar. Sungguh kali ini dia sungguh tak bisa membedakan, apakah yang ada didepannya ini adalah kenyataan atau hanya khalayan semu saja.
“Masih tetep angong lo ya, senyum-senyum sendiri lagi”
Row dengan cepat mencubit pipi wanita itu, wanita tersebut tak diam saja dia langsung dengan cepat menjitak kepala Row sambil mengerang kesakitan.
“Apaan sih baru ketemu malah langsung cu…”
Row dengan cepat memluk wanita tersebut, awalnya wanita tersebut terdiam, kaget dengan aksi Row yang tiba-tiba. Tetapi dengan perlahan kedua tangan wanita tersebut merangkul pundak Row, membalas pelukannya. Mereka berdua berada diposisi tersebut cukup lama, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melintas. Toh mereka juga tidak terlalu peduli, hanya penasaran saja.
Row akhirnya dengan perlahan melapaskan pelukannya menatap leka-lekat wajah wanita tersebut. Wajah yang selalu muncul dalam benaknya sebelum tidur, sosok yang keberadaannya selalu dapat dirasakan Row dalam kesenderiannya.
“Lo apa kabar Row ?” Ara menyapa Row
“Baik Ra, lo gimana ?”
“Baik”
Mereka berdua kini terdiam, asik memerhatikan satu sama lain. Kedua fisik mereka sekarang sungguh sudah jauh berbeda. Ara memiliki rambut yang lebih panjang sekarang, Paduan Sweater lengan Panjang berwarna biru dan celana yang berwarna sama, serta senyuman manis yang tersuguh di wajahnya, membuat ia tetap terlihat manis, tidak jauh lebih manis dari sebelumnya.
“Kok lo keliatan kurus banget Row.” Ekspresi Ara terlihat sedikit murung
“Ah cuma rada kecapean aja paling, hehe. Lo lagi ngapai dimari Ra ?”
“Nyari baju, nih” Ara menunjukan tas plastik yang dari tadi digenggamnya.
“Kali ini dompet lo nggak tinggal kan ?” Row tersenyum mengejek Ara, muka Ara memerah.
“Enak Aja, emang dulu” Ara tersenyum kearah Row
“Kalo lo ?”
“Lagi liburan Ra” Row tersenyum kearah Ara, mereka berdua salaing bertatapan. namun beberapa detik kemudian mereka kompak saling memalingkan wajah, tersipu malu.
Sungguh, banyak sekali yang ingin Row utarakan kepada Ara. Mulai dari keingin tahuan dirinya tentang kabar Ara, kebingungannya dengan keberangkatan Ara yang dulu bahkan tak memberitahu dirinya lebih dulu, serta kerinduannya. Kerinduan yang membuat dia melihat sosok Ara di berbgai tempat, kerinduan yang membuat ia terbangun dalam tidurnya, kerinduan yang membuat ia terpaku menatap kosong dalam berbagai kesempatan. Namun semua itu luluh, semua itu hilang seketika saat Row melihat sebuah cincin yang menghiasi jari manis Ara.
“Ara…!” terdengar sebuah panggilan dari seorang laki-laki yang sedang berlari kearah mereka. Dari jauh Row dapat melihat lelaki itu. Seorang laki-laki dengan postur tinggi besar dan tatanan rambut yang rapih serta pakain batik berwarna coklat dan celana dasara hitam membuat laki-laki tersebut sangat berwibawa. Berlawanan jauh dengan tampilannya yang hanya meggunakan Jaket dan cellana denim panjang, persis preman pasar.
Ara dengan cepat berdiri dan menyambut lelaki tersebut.
“Kemana aja aja sih ? ditelponin juga dari tadi, itu Ayah uda nunggu lama lho di mobil.”
“Hehe maaf, Hp ku mati tadi honey”
Demi mendengar Ara mengucapkan kalimat itu, memanggil lelaki tersebut dengan panggilan sayangnya. Row langsung kehilangan kesadarannya, emosinya meluap. Row mengepalkan tangannya ingin segera menghajar lelaki didepannya dengan alasan yang sama sekali tak ia mengerti, hanya mengikuti hati yang tiba-tiba terasa sakit. Tetapi lagi-lagi semua perasaan itu luluh saat Row melihat kearah Ara. Senyuman itu, senyuman manis wanita itu sudah cukup membuat Row mengerti bahwa hal ini adalah apa yang Ara inginkan, bahwa Ara bahagia bersama orang tersebut.
Row beranjak dari kursinya, menghampiri mereka berdua. Tanpa diduga Lelaki tersebut menjulurkan tangan kearah Row sambil tersenyum, Row menyambut tangan lelaki tersebut menatap matanya dan menjabat tangannya dengan erat. Row tersenyum, sepertinya lelaki ini ialah orang yang gentle.
“Saya Genta mas”
“Gw Row”
“Owalah mas Row ya, saya banyak diceritain Ara lho. Makasih ya mas udah ngejagain Ara selama dia di Kota Gajah”
Row hanya mengangguk, dengan cepat ia melihat kearah tangan Genta, lalu tersenyum saat di jari manis Genta juga terpasang cincin yang sama dengan milik Ara.
“Yo wes Ta, Ra. Gw pamit duluan nda pa pa yo, ada tempat yang musti gw datengin soalnya”
“Lah, Nda ikut kia makan siang dulu mas Row ?”
“Iya, lo ini baru ketemu juga. Ayah jugakan pengen ketemu sama lo Row”
Row menggeleng halus, lalu tanpa menunda- nunda lagi memalingkan wajahnya. Berjalan menuju keramaian tanpa tujuan.
“Roooow”
Teriakan Ara menghentikan langkah Row membuatnya berbalik arah kembali menatap Ara.
“Udah ketemu belom jawabannyaaa ?”
Row terdiam sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk. Setelah melihat senyuman Ara untuk terakhir kalinya. Row kembali memutar badan dan melanjutkan langkahnya. Low tersenyum puas, langkah kakinya terasa sangat ringan. Hatinya terasa sangat lega.
“Lo tau Ra ?, setelah 2 tahun gw kebingungan mencari, akhirnya gw nemu jawabannya Ra. Hari ini, beberapa waktu yang lalu, gw nemu jawaban dari apa yang sebenernya gw pengen dalam hidup gw. Dan itu adalah senyuman lo Ra,ya…. senyum bahagia lo”
♠
“Woy ngapain lo belom tidur ?”
“Biase sob” Row menjawab tanpa menoleh, instingnya cukup tajam merasakan kehadiran Depan.
“Rokok sob” Depan yang sekarang sudah duduk disamping Row menaruh bungkus rokoknya di meja kecil yang berada ditengah mereka.
“Udah berenti gw” Row tersenyum
“Ebuset gw kira tadi lo becanda pas gw tawarin di mobil, beneran uda berenti lo? betapa di gunung mane lo?”
“Gunung Monyet, kongkow dulu gw bareng sodara-sodara berbulu lo baru sembuh”
“Sial”
Mereka berdua tertawa dengan suara pelan, takut membangunkan Nina dan tetangga
“Jadi gimana uda ketemu jawaban lo sob?”
Row terdiam, mengerti maksud perkataan Depan.
“Lo tau sob” Row terdiam sejenak, tangannya merogoh kantong celana, lalu mengeluarkan segenggam permen jahe dan menaruhnya di meja, Depan tersenyum akhirnya mengerti obat Row dalam menyembuhkan candu Rokoknya.
“Dagang permen mas”Depan tersenyum mengejk Row, Row tak menjawab asik membuka bungkus permennya.
Setelah Row mengemut permen jahe, Row kembali bercerita.
“Selama dua tahun ini, gw udah ngelakuin banyak ha yangl gak pernah gw rencanain, bahkan kelintas di otak gw juga nggak. Gw ngebatalin rencana untuk kerja dan lanjut kuliah dengan jurusan yang jauh beda, mental dari jurusan awal gw di SMK. Berbagai hobi baru udah gw jajal, Naik Gunung, Kelaut, Travelling. Dan bahkan gabung Organisasi kampus, meskipun gw gak betah dan keluar sekitar 2 minggu setelah masuk.”
“Bahkan sampe gw ketemu Rani”
Row berhenti sejenak membuka permennya yang kedua, diikuti oleh Depan yang kembali menyundut Rokoknya dan kembali fokus menunggu Row melanjutkan ceritanya.
“jujur aja semuanya keren banget, banyak hal-hal baru dan kejadian yang gw pikir gak bakal bisa gw dapetin. Banyak pelajaran dan pengalaman yang gak gw temuin di buku-buku.”
“Tapi tetep aja gw masih ngerasa ada yang kurang sob, seakan-akan ada sesuatu yang gw lewatin.”
Row menutup kalimatnya, kini wajahnya menerawang dalam menuju langit malam.
“Ahahaha” Tawa Depan membuyarkan lamunan Row.
“Sob, lo inget waktu pertama kali lo ceritain ke gw tentang masalah ini ?”
Row tidak menjawab, hanya mengangguk sambil asik membuka permen ketiganya.
“Sehabis malem itu lo ceritain kejadian terakhir lo ketemu Ara dan juga kalimat sakti yang ada di surat terakhir itu, untuk pertama kalinya dalam hidup gw…..”
Row terdiam, kali ini Depan berhasil membuat Row fokus dengan ceritanya, penasaran.
“Pertama kali sejak gw lahir, gw gak bisa tidur semaleman Row” Depan menghentikan kalimatnya menatap Row dengan serius. Sebaliknya Row malah melihat Depan dengan ekspresi aneh sekaligus heran.
“Udah gitu doang ?”
“Lah kok gitu doang sih, lo kan tau gw bisa tidur kapanpun dan dimanapun, mangkanya sekalinya gak bisa tidur itu aneh banget buat gw”
“Iyalah, orang lo mah ada kebakaran juga tetep tidur kalo ngak ada yang bangunin kan, ahahahaha” Row tertawa cukup keras, namun melihat ekspresi Depan yang sedang serius, row memutuskan menghentikan tawanya. Row menjulurkan tangannya, mempersilahkan Depan untuk melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu semaleman gw ketiduran, kalimat itu terus kebayang-bayang di otak gw. Tapi untung aja isi otak gw gak penuh dan rumit kaya lo sob” Depan tersenyum kepada Row
“Bilang aja kosong pret” Mereka berdua kembali tertawa
“Dan akhirnya pas pagi-pagi gw keluar kamar dan jalan ke teras, gw ngeliat dia sob. dan saat itu juga gw ngerti, apa yang sebenernya gw pengen dalam hidup ini. Dan saat itu juga, tanpa ada keraguan lagi, gw langsung samperin Nina dan utarakan seperti apa perasaan gw selama ini. Dan akhirnya dengan gagah berani, gw berhasil buat dia terpukau dan yah lo tau lah hasilnya kaya sekarang ini.” Depan menutup ceritanya dengan penuh sumringah.
“Yakin, gagah berani ?” Row tersenyum, kalimat Row sukses mengubah air muka Depan.
“Walah, jangan-jangan ?”
“Bukan jangan-jangan, dari jalan lo yang gemeteran, muka lo yang pucet kaya ayam tiren, sama gaya ngomong lo yang gugup kaya aktor lawak juga terekam lengkap di otak gw sob, ahahahaha” Row tertawa puasa melihat wajah Depan yang tiba-tiba merah padam, tetapi sedetik kemudian Depan kembali tersenyum dan ikut tertawa bersama Row.
♠
8 Februari 2014
13:00
Row sekarang sedang duduk di sebuah bangku panjang, setelah kelelahan berputar-putar mengelilingi “Jalan Seni”, salah satu icon dari Kota Pelajar. Entah mengapa tidak seperti lokasi lainnya, Jalan Seni selalu ramai baik oleh pribumi, pendatang, maupun turis asing yang sedang berlibur di Kota Pelajar.
Para Pedagang memenuhi seluruh sisi jalan, mulai dari pedagang makanan, baju, pernak-pernik, bahkan sampai pedagang jasa lukis tersedia di malioboro. Row yang sudah tak kuat berkeliling dan berdesak-desakan memutuskan untuk beristirahat sejenak, sambil memakan Sate Maranggi serta es Teh manis yang sudah dia beli sebelumnya. Beruntung Row sudah mendapatkan pesan dari Nina bahwa untuk makanan, sebaiknya bertanya lebih dulu sebelum membeli, dikarnakan di jalan ini kebetulan banyak pedagang yang memnafaatkan kesempatan, menjual makanan ke pembeli dengan harga yang relatif mahal dan tak masuk akal. Tapi tidak semua, buktinya Row mendapatkan harga yang rasional dari seorang Ibu pedagang yang duduk santai di suatu sudut jalan ini.
Tak perlu waktu lama untuk Row menghabiskan makanan dan minuman tersebut. Setelah membuang bungkus makanan serta minuman ke tempat sampah yang berada tepat disamping bangku tempat ia duduk, Row merogoh kantongnya mengambil Hp lalu melihat kearah Jam.
“Masih ada waktu 1 jam”
Row kini terdiam kebingungan. Dia memang menyadari bahwa dirinya tidak terlalu betah di keramaian, karnanya Row sudah Meminta tolong Depan untuk menjemputnya pada pukul 14:00 tepat., memberikan Row waktu 1:30 jam untuk menikmati Jalan Seni. Tetapi siapa sangka, 30 menit lebih dari cukup untuk membuat Row bosan.
Row memasukan Hpnya dan kali ini tangan kananya mengambil dompet dari saku belakang. Dengan hati-hati Row mengambil sesuatu yang sengaja ia selipkan dibelakang foto keluarga Row dalam dompetnya, secarik kertas yang terlipat.
Row membuka serta meratakan kertas itu, warnanya sudah berubah kekuningan tetapi tidak ada satu bagian pun yang robek. Dan tulisan didalamnya, tulisan yang hanya satu baris yang diakhiri dengan gambar wajah tersenyum itu masih dapat dengan jelas dibaca oleh Row.
Gimana, udah ketemu belom jawabannya ? ^_^
-Ara
Row tersenyum, hanya dengan membaca satu kalimat itu pikiran Row dengan cepat meluncur kembali ke masa lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengannya, Karaoke bersamanya , pertengkaran di Cafe berdua, hari-hari tanpa komunikasi dengannya, Waktu bersama terakhir dengannya, serta kegagalan dirinya untuk bertemu Ara saat terakhir kali berlalu dengan cepat dipikiran Row.
“hahahaha” terdengar suara tawa seorang wanita tepat di sebelah Row.
“Astaga, sampe ketawa lo aja masih bisa gw denger Ra” Row tersenyum menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya. Row menolehkan kepalanya kearah sumber suara tersebut, Row terdiam, pupilnya melebar, tangannya bergetar. Sungguh kali ini dia sungguh tak bisa membedakan, apakah yang ada didepannya ini adalah kenyataan atau hanya khalayan semu saja.
“Masih tetep angong lo ya, senyum-senyum sendiri lagi”
Row dengan cepat mencubit pipi wanita itu, wanita tersebut tak diam saja dia langsung dengan cepat menjitak kepala Row sambil mengerang kesakitan.
“Apaan sih baru ketemu malah langsung cu…”
Row dengan cepat memluk wanita tersebut, awalnya wanita tersebut terdiam, kaget dengan aksi Row yang tiba-tiba. Tetapi dengan perlahan kedua tangan wanita tersebut merangkul pundak Row, membalas pelukannya. Mereka berdua berada diposisi tersebut cukup lama, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melintas. Toh mereka juga tidak terlalu peduli, hanya penasaran saja.
Row akhirnya dengan perlahan melapaskan pelukannya menatap leka-lekat wajah wanita tersebut. Wajah yang selalu muncul dalam benaknya sebelum tidur, sosok yang keberadaannya selalu dapat dirasakan Row dalam kesenderiannya.
“Lo apa kabar Row ?” Ara menyapa Row
“Baik Ra, lo gimana ?”
“Baik”
Mereka berdua kini terdiam, asik memerhatikan satu sama lain. Kedua fisik mereka sekarang sungguh sudah jauh berbeda. Ara memiliki rambut yang lebih panjang sekarang, Paduan Sweater lengan Panjang berwarna biru dan celana yang berwarna sama, serta senyuman manis yang tersuguh di wajahnya, membuat ia tetap terlihat manis, tidak jauh lebih manis dari sebelumnya.
“Kok lo keliatan kurus banget Row.” Ekspresi Ara terlihat sedikit murung
“Ah cuma rada kecapean aja paling, hehe. Lo lagi ngapai dimari Ra ?”
“Nyari baju, nih” Ara menunjukan tas plastik yang dari tadi digenggamnya.
“Kali ini dompet lo nggak tinggal kan ?” Row tersenyum mengejek Ara, muka Ara memerah.
“Enak Aja, emang dulu” Ara tersenyum kearah Row
“Kalo lo ?”
“Lagi liburan Ra” Row tersenyum kearah Ara, mereka berdua salaing bertatapan. namun beberapa detik kemudian mereka kompak saling memalingkan wajah, tersipu malu.
Sungguh, banyak sekali yang ingin Row utarakan kepada Ara. Mulai dari keingin tahuan dirinya tentang kabar Ara, kebingungannya dengan keberangkatan Ara yang dulu bahkan tak memberitahu dirinya lebih dulu, serta kerinduannya. Kerinduan yang membuat dia melihat sosok Ara di berbgai tempat, kerinduan yang membuat ia terbangun dalam tidurnya, kerinduan yang membuat ia terpaku menatap kosong dalam berbagai kesempatan. Namun semua itu luluh, semua itu hilang seketika saat Row melihat sebuah cincin yang menghiasi jari manis Ara.
“Ara…!” terdengar sebuah panggilan dari seorang laki-laki yang sedang berlari kearah mereka. Dari jauh Row dapat melihat lelaki itu. Seorang laki-laki dengan postur tinggi besar dan tatanan rambut yang rapih serta pakain batik berwarna coklat dan celana dasara hitam membuat laki-laki tersebut sangat berwibawa. Berlawanan jauh dengan tampilannya yang hanya meggunakan Jaket dan cellana denim panjang, persis preman pasar.
Ara dengan cepat berdiri dan menyambut lelaki tersebut.
“Kemana aja aja sih ? ditelponin juga dari tadi, itu Ayah uda nunggu lama lho di mobil.”
“Hehe maaf, Hp ku mati tadi honey”
Demi mendengar Ara mengucapkan kalimat itu, memanggil lelaki tersebut dengan panggilan sayangnya. Row langsung kehilangan kesadarannya, emosinya meluap. Row mengepalkan tangannya ingin segera menghajar lelaki didepannya dengan alasan yang sama sekali tak ia mengerti, hanya mengikuti hati yang tiba-tiba terasa sakit. Tetapi lagi-lagi semua perasaan itu luluh saat Row melihat kearah Ara. Senyuman itu, senyuman manis wanita itu sudah cukup membuat Row mengerti bahwa hal ini adalah apa yang Ara inginkan, bahwa Ara bahagia bersama orang tersebut.
Row beranjak dari kursinya, menghampiri mereka berdua. Tanpa diduga Lelaki tersebut menjulurkan tangan kearah Row sambil tersenyum, Row menyambut tangan lelaki tersebut menatap matanya dan menjabat tangannya dengan erat. Row tersenyum, sepertinya lelaki ini ialah orang yang gentle.
“Saya Genta mas”
“Gw Row”
“Owalah mas Row ya, saya banyak diceritain Ara lho. Makasih ya mas udah ngejagain Ara selama dia di Kota Gajah”
Row hanya mengangguk, dengan cepat ia melihat kearah tangan Genta, lalu tersenyum saat di jari manis Genta juga terpasang cincin yang sama dengan milik Ara.
“Yo wes Ta, Ra. Gw pamit duluan nda pa pa yo, ada tempat yang musti gw datengin soalnya”
“Lah, Nda ikut kia makan siang dulu mas Row ?”
“Iya, lo ini baru ketemu juga. Ayah jugakan pengen ketemu sama lo Row”
Row menggeleng halus, lalu tanpa menunda- nunda lagi memalingkan wajahnya. Berjalan menuju keramaian tanpa tujuan.
“Roooow”
Teriakan Ara menghentikan langkah Row membuatnya berbalik arah kembali menatap Ara.
“Udah ketemu belom jawabannyaaa ?”
Row terdiam sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk. Setelah melihat senyuman Ara untuk terakhir kalinya. Row kembali memutar badan dan melanjutkan langkahnya. Low tersenyum puas, langkah kakinya terasa sangat ringan. Hatinya terasa sangat lega.
“Lo tau Ra ?, setelah 2 tahun gw kebingungan mencari, akhirnya gw nemu jawabannya Ra. Hari ini, beberapa waktu yang lalu, gw nemu jawaban dari apa yang sebenernya gw pengen dalam hidup gw. Dan itu adalah senyuman lo Ra,ya…. senyum bahagia lo”
♠
Diubah oleh godaanpuasa 02-02-2015 00:36
i4munited dan lumut66 memberi reputasi
2
Kutip
Balas