- Beranda
- The Lounge
Mengetahui Cara Berburu Beberapa Suku di Indonesia
...
TS
backintroduce
Mengetahui Cara Berburu Beberapa Suku di Indonesia


Spoiler for Oli bekas:

Quote:
Komeng agan/aganwati yang terbijak
tidak lupa
+
akan ane simpan di hati paling dalam
Juga REKOMENDASI HOT THREAD Sekiranya bisa dituangkan
tidak lupa
+
akan ane simpan di hati paling dalamJuga REKOMENDASI HOT THREAD Sekiranya bisa dituangkan
Quote:
Terimakasih untuk Mimin, Momon, Hansip, orang-orang greget
serta agan dan agan wati sekalian para KasKus-ers
telah menjadikan Thread ini HT
bakan double HT pada 2/2/2015 ini HT pada hari yang sama

serta agan dan agan wati sekalian para KasKus-ers
telah menjadikan Thread ini HT
bakan double HT pada 2/2/2015 ini HT pada hari yang sama

Spoiler for Pic Hot Thread:

Semoga kita sebagai bangsa indonesia menghargai dan mencintai perbedaan
berpedoman Pancasila
dan mengerti makna dari Bhinneka Tunggal Ika

berpedoman Pancasila
dan mengerti makna dari Bhinneka Tunggal Ika



Hai gan
Selamat berakhir pekan
Selamat datang
di Thread Sederhana ini
di Penghujung Januari, 2015 ini
semoga di bulan depan KASKUS-ers semua
bisa menjalani dengan lebih baik lagi
dan selalu diberi kemudahan dalam hidup



Siapa yang disini orang jawa?
hmm orang sumatra?
ada yang orang kalimantan sulawesi?
kalo orang papua maluku?
oke.. nah kalo orang madura bali NTT NTB?
wah ternyata ada semuaya, KEREN dah

kalo orang GILA ada??

ane gan..
ada perlu apa ente?

kagak apa-apa tong
cuma nanya...




Quote:

Republik Indonesia, disingkat RIatau Indonesia, adalah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau,
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai Suku bangsa, Ras dan Agama.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai Suku bangsa, Ras dan Agama.
Spoiler for Sumber:
Quote:

Suku bangsa adalah suatu golongan manusiayang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai
oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut
seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis.
Spoiler for Sumber:

Nah Agan-Aganwati
yang bakal ane bahas disini dari pendahuluan diatas adalah
"Bagaimana kebiasaan serta perilakubeberapa Suku di Indonesia
dalam berburu berdasarkan sukunya
sebagian ada yang masih berburu, dan sebagian lagi sudah menjadi "cerita" perburuan"
yuk ke Ulasan


- Suku Sangir/ (Sangihe) Talaud
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Suku Talaud diperkirakan telah ada ribuan tahun Sebelum Masehi, hidup dan bertahan di pulau-pulau antara Sulawesi dan Filipina. Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangir Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Melanesiayang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM.
Beberapa warga dari suku Talaud memilki mata pencaharian berburu, meskipun berburu bukanlah mata pencaharian utama (pokok) di Talaud. Selain dilakukan sebagai mata pencaharian, berburu juga dilakukan sebagai hobi atau kegemaran warga Talaud. Adapun beberapa hewan yang menjadi
mangsa buruan suku Talaud adalah: sapi hutan, babi hutan, unggas, biawak, dan buaya.
Perburuan hewan-hewan ini dilakukan di hutan sekunder, dibekas-bekas ladang yang sudah ditinggalkan, di tepi sungai dan juga di hutan rimba primer. Perburuan pun dilakukan dengan menggunakan senjata sederhana, seperti tombak, parang, sumpit, pukat, dan alat tradisional lainnya yang berupa perangkap.
Cara berburu yang paling terkenal di suku Talaud adalah Manabba.
Manabba adalah salah satu kegiatan berburu babi hutan dan sapi hutan yang dilakukan oleh kaum lelaki dewasa secara beramai-ramai di kepualauan Talaud. Perburuan dilakukan dalam waktu seharian penuh.
Persiapan yang pertama sebelum melakukan Manabba adalah membuat panggung, maupun membuat rintangan-rintangan di sekeliling panggung. Panggung ini dibuat pada tempat-tempat tertentu yang terjal dan condong ke jurang. Jika hewan-hewan buruan tersebut berhasil melewati panggung, mereka akan masuk ke jurang, sungai, atau pantai sesuai dengan tempat buruan. Kemudian hewan buruan tersebut
ditombak oleh para pemburu yang sudah bersiap di sekitar panggung.
Beberapa warga dari suku Talaud memilki mata pencaharian berburu, meskipun berburu bukanlah mata pencaharian utama (pokok) di Talaud. Selain dilakukan sebagai mata pencaharian, berburu juga dilakukan sebagai hobi atau kegemaran warga Talaud. Adapun beberapa hewan yang menjadi
mangsa buruan suku Talaud adalah: sapi hutan, babi hutan, unggas, biawak, dan buaya.
Perburuan hewan-hewan ini dilakukan di hutan sekunder, dibekas-bekas ladang yang sudah ditinggalkan, di tepi sungai dan juga di hutan rimba primer. Perburuan pun dilakukan dengan menggunakan senjata sederhana, seperti tombak, parang, sumpit, pukat, dan alat tradisional lainnya yang berupa perangkap.
Cara berburu yang paling terkenal di suku Talaud adalah Manabba.
Manabba adalah salah satu kegiatan berburu babi hutan dan sapi hutan yang dilakukan oleh kaum lelaki dewasa secara beramai-ramai di kepualauan Talaud. Perburuan dilakukan dalam waktu seharian penuh.
Persiapan yang pertama sebelum melakukan Manabba adalah membuat panggung, maupun membuat rintangan-rintangan di sekeliling panggung. Panggung ini dibuat pada tempat-tempat tertentu yang terjal dan condong ke jurang. Jika hewan-hewan buruan tersebut berhasil melewati panggung, mereka akan masuk ke jurang, sungai, atau pantai sesuai dengan tempat buruan. Kemudian hewan buruan tersebut
ditombak oleh para pemburu yang sudah bersiap di sekitar panggung.
"ane kira tuh hewan mau konser diatas panggung, eh..ga taunya bakalan di tombak" 

Spoiler for Sumber:
[URL=" [url]http://protomalayans.blogspot.com/2011/09/suku-sangir-talaud.html[/url]"]Source 1 + PIC[/URL]Source 2
- Suku Mentawai
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Suku Mentawai adalah penghuni asliKepulauan Mentawai, Pulau Siberut, Sumatera Barat. Masyarakat Mentawai adalah masyarakat tradisional yang masih mempertahankan kehidupan adat dan tradisi.
Berburu merupakan sebuah aktivitas kebanggaan kaum laki-laki Mentawai. Kebanggaan tersebut dapat dilihat dari pajangan tengkorak binatang buruan ( abakmanang ) di dalam uma ( rumah adat suku Mentawai ). Perburuan menggunakan peralatan berburu ( busur dan anak panah ), berburu juga menjadi sebuah bentuk pengetahuan tradisional masyarakat adat Mentawai terhadap alam dan fenomenanya.
Berburu juga biasanya dilakukan sebagai penutup upacara atau pesta adat ( puliaijat ).
Selain itu setiap kali berburu, harus dilakukan ( kei-kei ) yang harus dijalani oleh setiap orang yang ikut pergi berburu. Mereka berburu dengan menggunakan panah dengan anak panah yang diolesi ramuan beracun. Ramuan itu terdiri dari sepuluh lembar daun raggi, beberapa butir cabe rawit, dan akar atau kulit kayu laingik yang digiling halus dan diperas dengan penjepit kayu, tanpa tersentuh tangan.
Lalu cairannya dioleskan ke anak panah dengan kuas dari bulu monyet.
Anak panah itu lalu dijemur di panas matahari dan disimpan dalam tabung bambu. Tidak boleh terkena tangan, jika terkena sedikit saja, maka tangan yang terkena tersebut harus dipotong, bila tidak dipotong tidak ada harapan hidup, tidak ada binatang yang dapat bertahan lama setelah terkena racun panah tersebut.
Berburu merupakan sebuah aktivitas kebanggaan kaum laki-laki Mentawai. Kebanggaan tersebut dapat dilihat dari pajangan tengkorak binatang buruan ( abakmanang ) di dalam uma ( rumah adat suku Mentawai ). Perburuan menggunakan peralatan berburu ( busur dan anak panah ), berburu juga menjadi sebuah bentuk pengetahuan tradisional masyarakat adat Mentawai terhadap alam dan fenomenanya.
Berburu juga biasanya dilakukan sebagai penutup upacara atau pesta adat ( puliaijat ).
Selain itu setiap kali berburu, harus dilakukan ( kei-kei ) yang harus dijalani oleh setiap orang yang ikut pergi berburu. Mereka berburu dengan menggunakan panah dengan anak panah yang diolesi ramuan beracun. Ramuan itu terdiri dari sepuluh lembar daun raggi, beberapa butir cabe rawit, dan akar atau kulit kayu laingik yang digiling halus dan diperas dengan penjepit kayu, tanpa tersentuh tangan.
Lalu cairannya dioleskan ke anak panah dengan kuas dari bulu monyet.
Anak panah itu lalu dijemur di panas matahari dan disimpan dalam tabung bambu. Tidak boleh terkena tangan, jika terkena sedikit saja, maka tangan yang terkena tersebut harus dipotong, bila tidak dipotong tidak ada harapan hidup, tidak ada binatang yang dapat bertahan lama setelah terkena racun panah tersebut.
"ane jadi inget cara suku amazon yang berburu seperti ini,
tapi dari racun kodok !! efek? sama aja gan, Modar"
tapi dari racun kodok !! efek? sama aja gan, Modar"

Spoiler for Sumber:
- Suku Lampung
Spoiler for Pic + Explain:

Quote:
Secaratradisional geografis adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung
dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura,
Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir, serta Merpas
di sebelah selatan Bengkulu juga Cikoneng di pantai barat Banten.
Suku ini adalah salah satu pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deuteuro Melayu (Melayu Muda) yang migrasi ke Indonesia sambil membawa kebudayaan Dongson. Sehingga dalam hal mata pencaharian,
Suku Lampung lebih mengutamakan becocok tanam. Namun masih melakukan perburuan
untuk sekedar sampingan.
Suku Lampung melakukan pekerjaan berburu pada musim kemarau, sesudah masa panen padi yang jumlahnya sekitar bulan Juli, sampai masa turun hujan pada akhir tahun. Saat berburu harimau, rusa dan babi
dilakukan pada malam hari. Sedangkan di siang hari mereka berburu kijang, kera, ayam hutan dan burung. Disamping itu juga karena daerah banyak sungai dan laut, seiring waktu mereka mayoritas berburu ikan/nelayan. Alat-alat yang dipakai penduduk untuk berburu ialah senapan locok atau sundut, tembak, serampang, dan berbagai bentuk perangkap seperti serkap dan pinja, peralatan lainnya adalah tali temali. Serta alat-alat pancing, jala, dll untuk mencari ikan.
Cara lain dalam berburu adalah dengan membawa anjing ( masu ). Jika sasaran binatang buruannya kijang, cara yang dilakukan adalah nyuling. Menaiki pohon dan membunyikan seruling kayu atau bambu, atau dengan bersuara keras menyerupai suara kijang. Cara lain adalah dalam penggunaan perangkap,
cara berburu ini mempunyai sasaran hewan buruan seperti, harimau.
Caranya, dengan menggunakan serkap atau pinja yang menggunakan balok-balok kayu. Sedangkan perangkap berlubang atau galian tanah digunakan untuk menangkap kijang, rusa, atau babi.
dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura,
Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir, serta Merpas
di sebelah selatan Bengkulu juga Cikoneng di pantai barat Banten.
Suku ini adalah salah satu pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deuteuro Melayu (Melayu Muda) yang migrasi ke Indonesia sambil membawa kebudayaan Dongson. Sehingga dalam hal mata pencaharian,
Suku Lampung lebih mengutamakan becocok tanam. Namun masih melakukan perburuan
untuk sekedar sampingan.
Suku Lampung melakukan pekerjaan berburu pada musim kemarau, sesudah masa panen padi yang jumlahnya sekitar bulan Juli, sampai masa turun hujan pada akhir tahun. Saat berburu harimau, rusa dan babi
dilakukan pada malam hari. Sedangkan di siang hari mereka berburu kijang, kera, ayam hutan dan burung. Disamping itu juga karena daerah banyak sungai dan laut, seiring waktu mereka mayoritas berburu ikan/nelayan. Alat-alat yang dipakai penduduk untuk berburu ialah senapan locok atau sundut, tembak, serampang, dan berbagai bentuk perangkap seperti serkap dan pinja, peralatan lainnya adalah tali temali. Serta alat-alat pancing, jala, dll untuk mencari ikan.
Cara lain dalam berburu adalah dengan membawa anjing ( masu ). Jika sasaran binatang buruannya kijang, cara yang dilakukan adalah nyuling. Menaiki pohon dan membunyikan seruling kayu atau bambu, atau dengan bersuara keras menyerupai suara kijang. Cara lain adalah dalam penggunaan perangkap,
cara berburu ini mempunyai sasaran hewan buruan seperti, harimau.
Caranya, dengan menggunakan serkap atau pinja yang menggunakan balok-balok kayu. Sedangkan perangkap berlubang atau galian tanah digunakan untuk menangkap kijang, rusa, atau babi.
"cara nyuling yang unik, bisa memanggil hewan buruan dengan cara meniupnya, sehingga menimbulkan bunyi hewan yang diburu tsb" 

Spoiler for Sumber:
- Suku Punan/Penan
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Sebenarnya Suku Punan ini merupakan salah satu kelompok orang Dayak. Penamaan Punanatau Penan mengacu kepada kelompok orang dayak yang punya daya jelajah/mobilitas yang tinggi. Nama Punan sendiri berasal dari nama yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat Punan di Taman Nasional Kayan Mentarang, pada zaman dulu merupakan kelompok suku pengembara yang berasal dari Sungai Malinau, mereka tersebar ke seluruh penjuru wilayah tengah Kalimantan hingga ke Sarawak.
Aktivitas terpenting dalam ciri kultural Suku Penan ini adalah berburu,
meskipun mereka tidak punya istilah khusus untuk ini. Dengan tingkat mobilitas yang tinggi untuk berburu,
maka mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang biasanya terdiri dari keluarga inti. Para lelaki setidaknya berburu paling tidak 2 kali dalam seminggu.
Ada 6 cara berburu yang dilakukan Suku Penan, yaitu Mene pelangui, Ngaso, Nedok, Ngeleput, Nyalapang, dan Nyaur. Pemilihan tehnik-tehnik berburu tersebut didasarkan atas berbagai faktor, antara lain peralatan yang digunakan, pengalaman dan kekuatan si pemburu, jumlah pemburu dan anjing buruan yang menemani pemburu juga menentukan pilihan tehnik berburu, jenis satwa yang akan diburu, lokasi dan
kuantitas makanan binatang, dan keadaan cuaca dan topografi wilayah.
Aktivitas terpenting dalam ciri kultural Suku Penan ini adalah berburu,
meskipun mereka tidak punya istilah khusus untuk ini. Dengan tingkat mobilitas yang tinggi untuk berburu,
maka mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang biasanya terdiri dari keluarga inti. Para lelaki setidaknya berburu paling tidak 2 kali dalam seminggu.
Ada 6 cara berburu yang dilakukan Suku Penan, yaitu Mene pelangui, Ngaso, Nedok, Ngeleput, Nyalapang, dan Nyaur. Pemilihan tehnik-tehnik berburu tersebut didasarkan atas berbagai faktor, antara lain peralatan yang digunakan, pengalaman dan kekuatan si pemburu, jumlah pemburu dan anjing buruan yang menemani pemburu juga menentukan pilihan tehnik berburu, jenis satwa yang akan diburu, lokasi dan
kuantitas makanan binatang, dan keadaan cuaca dan topografi wilayah.
"kelompok dayak dengan mobilitas tinggi ...wuzzzzzz " 

Spoiler for Sumber:
- Suku Kluet/Alas Kluet
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Suku Kluet adalah sebuah suku yang mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh bagian Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur. Daerah Kluet ini dipisahkan oleh sungai Lawé Kluetyang berhulu di Gunung Leuser dan bermuara di SamudraHindia. Wilayah kediaman orang Kluet ini terletak 30 km dari kota Tapak Tuan atau 500 km dari Banda Aceh.
Tradisi berburu dalam Suku Kluet sangat kuat. Hal tersebut didukung oleh kondisi alam yang masih alami. Bintang-binatang yang menjadi target buruan ialah antara lain, rusa. Masyarakat Kluet atau Aneu Jamee biasa menyebutnya dengan ruso. Kemudian binatang lainnya yaitu kijang, penyu atau dalam bahasa Kluet ialah katung, dan lain-lain. Binatang-binatang lain yang menjadi target perburuan, yaitu badak, babi, dan harimau.
Masyarakat Aceh, terutama Kluet memiliki macam-macam teknik dalam perburuan misalnya untuk menangkap kijang mereka menggunakan beberapa teknik perburuan. Di antaranya dengan menggunakan jarring, jerat, pancang, giring, dan tembak.
Dalam teknik menjaring tentu saja alat yang digunakan, yaitu jaring. Jaring tersebut direntangkan membujur tempat yang akan dilewati rusa atau kijang, dan saat rusa atau kijang yang dihalau oleh pemburu melewati jaring tersebut, ia akan terserandung dan tersangkut pada jaring.
Lain lagi dengan jerat. Konstruksi jerat berbentuk bulatan lingkaran. Jerat tersebut digntungkan beberapa biji pada pohon-pohon kayu, tingginya buru tersangkut kepalanya pada jerat yang dipasang, maka jerat tersebut akan terkatup menjerat kepalanya.
Sementara itu, pancang merupakan teknik berburu yang menggunakan pancang sebagai alat utamanya. Pancang tersebut terbuat dari bambu yang diruncingkan sedemikian rupa. Pancang-pacang ditancapkan di atas tanah secara bersaf-saf dengan formasi miring 45 derajat menghadap arah rusa atau kijang
yang akan dihalau. bila rusa atau kijang dihalau oleh pemburu melewati tempat itu,
maka pancang akan mengenai dadanya.
Sementara itu, Suku Kluet juga melakukan perburuan telur penyu. Kegiatan ini dilakukan pada masyarakat Kluet bagian pesisir. Kegiatan ini secara umum masyarakat Aceh menyebutnya sebagai meupinyie. Apabila masyarakat Kluet menyebutnya mencari talua katuang. Para pencari telur penyu telah mengetahui saat penyu pergi bertelur ke darat, yaitu dengan memperhatikan pada gejala-gejala dan tanda-tanda alam tertentu, seperti musim pohon dadap berbunga atau pada musim pandan berbunga.
Tradisi berburu dalam Suku Kluet sangat kuat. Hal tersebut didukung oleh kondisi alam yang masih alami. Bintang-binatang yang menjadi target buruan ialah antara lain, rusa. Masyarakat Kluet atau Aneu Jamee biasa menyebutnya dengan ruso. Kemudian binatang lainnya yaitu kijang, penyu atau dalam bahasa Kluet ialah katung, dan lain-lain. Binatang-binatang lain yang menjadi target perburuan, yaitu badak, babi, dan harimau.
Masyarakat Aceh, terutama Kluet memiliki macam-macam teknik dalam perburuan misalnya untuk menangkap kijang mereka menggunakan beberapa teknik perburuan. Di antaranya dengan menggunakan jarring, jerat, pancang, giring, dan tembak.
Dalam teknik menjaring tentu saja alat yang digunakan, yaitu jaring. Jaring tersebut direntangkan membujur tempat yang akan dilewati rusa atau kijang, dan saat rusa atau kijang yang dihalau oleh pemburu melewati jaring tersebut, ia akan terserandung dan tersangkut pada jaring.
Lain lagi dengan jerat. Konstruksi jerat berbentuk bulatan lingkaran. Jerat tersebut digntungkan beberapa biji pada pohon-pohon kayu, tingginya buru tersangkut kepalanya pada jerat yang dipasang, maka jerat tersebut akan terkatup menjerat kepalanya.
Sementara itu, pancang merupakan teknik berburu yang menggunakan pancang sebagai alat utamanya. Pancang tersebut terbuat dari bambu yang diruncingkan sedemikian rupa. Pancang-pacang ditancapkan di atas tanah secara bersaf-saf dengan formasi miring 45 derajat menghadap arah rusa atau kijang
yang akan dihalau. bila rusa atau kijang dihalau oleh pemburu melewati tempat itu,
maka pancang akan mengenai dadanya.
Sementara itu, Suku Kluet juga melakukan perburuan telur penyu. Kegiatan ini dilakukan pada masyarakat Kluet bagian pesisir. Kegiatan ini secara umum masyarakat Aceh menyebutnya sebagai meupinyie. Apabila masyarakat Kluet menyebutnya mencari talua katuang. Para pencari telur penyu telah mengetahui saat penyu pergi bertelur ke darat, yaitu dengan memperhatikan pada gejala-gejala dan tanda-tanda alam tertentu, seperti musim pohon dadap berbunga atau pada musim pandan berbunga.
"kasihan penyunya, kenapa harus penyu ? kenapa gak ubur-ubur ?haa ?" 

Spoiler for Sumber:
- Nomor.6 s/d 10 ada kolom bawah
+ 


Quote:
Mohon Maaf jika ada salah/kurang dalam Thread ane ini
sekiranya mohon dimaafkan 
sekiranya mohon dimaafkan 
Quote:
Semoga Thread ini bermanfaat
agar Kaskus-ers bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan
DAN
- Bila Agan/Aganwati ingin menambahkan, ane persilahkan -
agar Kaskus-ers bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan
DAN
- Bila Agan/Aganwati ingin menambahkan, ane persilahkan -
MARI BUDAYAKAN




Diubah oleh backintroduce 15-02-2015 23:41
4iinch dan anasabila memberi reputasi
2
73.2K
Kutip
461
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
backintroduce
#4

- Suku Dayak
Spoiler for Pic + Video + Explain:


Quote:
Suku Dayak adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni pedalaman yang mendiami Pulau Kalimantan. Menurut sensusBadan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia ( 268 suku bangsa ) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah Budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.
Adat istiadat Suku Dayak selalu terkait dengan ajaran kehidupan yang baik pada setiap warganya. Terutama dalam hal mencari makanan atau berburu. Mereka tidak pernah melakukan perburuan bisa persediaan makanan masih banyak. Mereka hanya akan berburu selepas musim panen dan jika akan melaksanakan upacara tradisi atau pesta.
Suku Dayak memiliki keahlian khusus untuk memanggil binatang yang diinginkannya untuk datang mendekati mereka. Caranya tergantung dari binatang apa yang mereka buru. Jika berburu rusa mereka akan menggunakan sejenis daun serai yang dilipat melintang dan ditiup untuk menirukan suara anak rusa. Hasil tiupannya akan muncul suara seperti suara anak rusa. Secara insting seekor rusa akan mendatangi suara ini, karena mengira anaknya membutuhkan pertolongan.
Jika yang diburu adalah Celeng atau Babi hutan yang suka sekali diambil kutunya oleh Beruk (monyet besar), maka si pemburu akan menepuk pantat mereka berulang kali sehingga muncul suara seperti Beruk menepuk badannya. Atau menangkap beruk lalu ditepuk tubuhnya agar mau mengeluarkan suaranya untuk memanggil celeng. Kalau ingin berburu Enggang, burung besar yang suka terbang si pemburu akan menirukan suara burung dengan mulutnya sendiri dengan dimiripkan suara Elang.
Suku Dayak hanya menggunakan tombak atau sumpit yang dalam bahasa dayak disebut sipet sebagai alat berburu. Bagi suku Dayak, sumpit merupakan senjata berburu yang paling efektif. Dengan bahan dari kayu, senjata sumpit bisa tersamar di antara pepohonan. Sumpit juga tidak mengeluarkan bunyi ledakan seperti senapan, sehingga binatang buruan tidak bakal lari. Selain itu, dari jarak sekitar 200 meter, anak sumpit masih efektif merobohkan hewan buruan.
Karena sumpit mereka panjang, biasanya sumpit tersebut bisa juga digunakan sebagai tombak. Jarum sumpit yang digunakan berburu diolesi dengan ramuan racun yang berfungsi untuk melumpuhkan atau bahkan mematikan. Mereka juga membawa anjing peliharaan karena anjing mempunyai penciuman yang tajam dan berfungsi untuk mengejar binatang buruan yang lari setelah terkena racun sumpit.
Mereka juga menghitung waktu dan arah angin selama berburu. Perhitungan waktu berkaitan dengan aktivitas binatang buruan sementara arah angin untuk membantu mereka menentukan posisi untuk menyembunyikan diri. Kewaspadaan binatang buruan saat mendekati sumber bunyi yang ditirukan para pemburu, sangat dipengaruhi oleh bau asing yang dibawa angin.
FYI, ada juga sih cara berburu mereka yang "diluar" itu, namanya ngayau. Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang berkaitan dengan berburu kepala manusia dari pihak musuh.
Adat istiadat Suku Dayak selalu terkait dengan ajaran kehidupan yang baik pada setiap warganya. Terutama dalam hal mencari makanan atau berburu. Mereka tidak pernah melakukan perburuan bisa persediaan makanan masih banyak. Mereka hanya akan berburu selepas musim panen dan jika akan melaksanakan upacara tradisi atau pesta.
Suku Dayak memiliki keahlian khusus untuk memanggil binatang yang diinginkannya untuk datang mendekati mereka. Caranya tergantung dari binatang apa yang mereka buru. Jika berburu rusa mereka akan menggunakan sejenis daun serai yang dilipat melintang dan ditiup untuk menirukan suara anak rusa. Hasil tiupannya akan muncul suara seperti suara anak rusa. Secara insting seekor rusa akan mendatangi suara ini, karena mengira anaknya membutuhkan pertolongan.
Jika yang diburu adalah Celeng atau Babi hutan yang suka sekali diambil kutunya oleh Beruk (monyet besar), maka si pemburu akan menepuk pantat mereka berulang kali sehingga muncul suara seperti Beruk menepuk badannya. Atau menangkap beruk lalu ditepuk tubuhnya agar mau mengeluarkan suaranya untuk memanggil celeng. Kalau ingin berburu Enggang, burung besar yang suka terbang si pemburu akan menirukan suara burung dengan mulutnya sendiri dengan dimiripkan suara Elang.
Suku Dayak hanya menggunakan tombak atau sumpit yang dalam bahasa dayak disebut sipet sebagai alat berburu. Bagi suku Dayak, sumpit merupakan senjata berburu yang paling efektif. Dengan bahan dari kayu, senjata sumpit bisa tersamar di antara pepohonan. Sumpit juga tidak mengeluarkan bunyi ledakan seperti senapan, sehingga binatang buruan tidak bakal lari. Selain itu, dari jarak sekitar 200 meter, anak sumpit masih efektif merobohkan hewan buruan.
Karena sumpit mereka panjang, biasanya sumpit tersebut bisa juga digunakan sebagai tombak. Jarum sumpit yang digunakan berburu diolesi dengan ramuan racun yang berfungsi untuk melumpuhkan atau bahkan mematikan. Mereka juga membawa anjing peliharaan karena anjing mempunyai penciuman yang tajam dan berfungsi untuk mengejar binatang buruan yang lari setelah terkena racun sumpit.
Mereka juga menghitung waktu dan arah angin selama berburu. Perhitungan waktu berkaitan dengan aktivitas binatang buruan sementara arah angin untuk membantu mereka menentukan posisi untuk menyembunyikan diri. Kewaspadaan binatang buruan saat mendekati sumber bunyi yang ditirukan para pemburu, sangat dipengaruhi oleh bau asing yang dibawa angin.
FYI, ada juga sih cara berburu mereka yang "diluar" itu, namanya ngayau. Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang berkaitan dengan berburu kepala manusia dari pihak musuh.
"yang Ngayau cuma perkenalan aja, gak ane bahas lebih lanjut gan " 

Spoiler for Sumber:
- Suku Sasak
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok, Nusa Tenggara Baratdan menggunakan bahasa Sasak. Asal nama sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Mereka bermata pencaharian bercocok tanam dan berburu. Dalam hal berburu
mereka memiliki alat/senjata tradisional, serta tekhnik berburu.
Tulup adalah salah satu senjata tradisional berburu Suku Sasak, Lombok. Tulup terbuat dari kayu meranti yang dilubangi, berpeluru potongan-potongan seperti lidi dari pelepah pohon enau yang berbentuk seperti mata panah yang disebut ancar. Mata ancar biasanya diolesi racun dari getah pohon tatar. tulup adalah alat mereka mencari rezeki, untuk itu tulup perlu dihargai dan dihormati. Pensakralan terhadap tulup mereka ekspresikan dalam bentuk memberi doa atau jampi-jampi pada tulup mereka.
Di zaman sekarang, beberapa kelompok masyarakat yang tinggal di dekat hutan, masih menggunakan tulup untuk berburu. Hutan Lombok yang lebat dan banyaknya babi serta kera yang berkeliaran di sana membuat praktik berburu ini masih diminati oleh beberapa penduduk.
Tulup orang Sasak mempunyai tiga komponen penting yaitu, gagang tulup, ancar (peluru tulup), dan terontong ( tempat menyimpan ancar ). Agar binatang cepat mati, biasanya pada ancar ( peluru tulup ) dioleskan racun yang berasal dari getah pohon tatar. Getah ini sangat manjur untuk membunuh binatang. Binatang seperti kera akan mati dalam waktu lebih kurang 15-30 menit. Sementara babi membutuhkan waktu lebih kurang 2 hari. Saat berburu, ketiga komponen tersebut harus dibawa karena ketiganya saling melengkapi.
Akan tetapi ketika pemerintah propinsi yang bekerjasama dengan Departemen Kehutanan melarang kera (lutung budeng atau trachypithecus auratus kohlbruggei ) untuk dibunuh karena hewan ini termasuk hewan yang dilindungi, jumlah pemburu tradisional semakin hilang.
mereka memiliki alat/senjata tradisional, serta tekhnik berburu.
Tulup adalah salah satu senjata tradisional berburu Suku Sasak, Lombok. Tulup terbuat dari kayu meranti yang dilubangi, berpeluru potongan-potongan seperti lidi dari pelepah pohon enau yang berbentuk seperti mata panah yang disebut ancar. Mata ancar biasanya diolesi racun dari getah pohon tatar. tulup adalah alat mereka mencari rezeki, untuk itu tulup perlu dihargai dan dihormati. Pensakralan terhadap tulup mereka ekspresikan dalam bentuk memberi doa atau jampi-jampi pada tulup mereka.
Di zaman sekarang, beberapa kelompok masyarakat yang tinggal di dekat hutan, masih menggunakan tulup untuk berburu. Hutan Lombok yang lebat dan banyaknya babi serta kera yang berkeliaran di sana membuat praktik berburu ini masih diminati oleh beberapa penduduk.
Tulup orang Sasak mempunyai tiga komponen penting yaitu, gagang tulup, ancar (peluru tulup), dan terontong ( tempat menyimpan ancar ). Agar binatang cepat mati, biasanya pada ancar ( peluru tulup ) dioleskan racun yang berasal dari getah pohon tatar. Getah ini sangat manjur untuk membunuh binatang. Binatang seperti kera akan mati dalam waktu lebih kurang 15-30 menit. Sementara babi membutuhkan waktu lebih kurang 2 hari. Saat berburu, ketiga komponen tersebut harus dibawa karena ketiganya saling melengkapi.
Akan tetapi ketika pemerintah propinsi yang bekerjasama dengan Departemen Kehutanan melarang kera (lutung budeng atau trachypithecus auratus kohlbruggei ) untuk dibunuh karena hewan ini termasuk hewan yang dilindungi, jumlah pemburu tradisional semakin hilang.
"iya sih, itu kan dilindungi, makanya dilarang, tapi ternyata gak hanya suku mereka gan,
yang bunuh/beburu hewan yang dilindungi, nanti ane bahas yang lainnya"
yang bunuh/beburu hewan yang dilindungi, nanti ane bahas yang lainnya"

Spoiler for Sumber:
- Suku Maybrat
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Suku maybrat adalah salah satu yang berada di bagian Timur Indonesia, Papua. Kegiatan berburu merupakan kegiatan sampingan yang dilakukan oleh suku Maybrat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan daging dalam keluarga. Mata pencarian hidup yang utama dari orang Maybrat adalah bercocok tanam secara berpindah-pindah. Walaupun sampingan ternyata ada beberapa teknik dan cara menarik yang dilakukan untuk erburu di Suku ini.
Antara lain Berburu Mata. Yakni teknik berburu menggunakanbusur dan panah. Bisa dilakukan saat siang maupun malam hari. Satu hal yang unik, dalam berburu cara ini, alat berburu diperlakukan suku Maybrat dengan kesakralannya tersendiri. Mereka mengenal konsep pamali dalam menjaga alat berburu yang mereka gunakan. Satu lagi, alat berburu mereka tidak boleh digunakan untuk menangkap ikan yang berenang disungai. Kedua, Menggunakan Anjing Pemburu. Dalam berburu menggunakan anjing, biasanya telah diberikan ramuan-ramuan khusus untuk meningkatkan kepekaan anjing terhadap satwa buruan.
Dalam sebutan suku Maybrat, mereka memberikan Bofit ( ramuan ) kepada anjing buruan mereka.
Ketiga, Ilmu Berburu. Terdengar agak ilmiah, sejatinya dalam teknik ini
suku Maybrat menggunakan ramuan-ramuan tertentu. Gunanya untuk menghilangkan “aroma” manusia yang mereka miliki. Hingga mereka tak dikenali keberadaannya, tentu oleh satwa yang hendak diburu tentunya. Teknik ini terbilang sulit. Dan merupakan teknik turun temurun.
Keempat, Meniru Suara Binatang. Seperti namanya, teknik ini dengan menggunakan suara agar satwa yang hendak ditangkap mengira si pemburu adalah teman mereka. Dan Kelima, Jerat. Yakni menggunakan semacam ayaman dari rotan. Namun dalam kalangan Orang Maybrat, teknik ini kurang begitu disukai.
Antara lain Berburu Mata. Yakni teknik berburu menggunakanbusur dan panah. Bisa dilakukan saat siang maupun malam hari. Satu hal yang unik, dalam berburu cara ini, alat berburu diperlakukan suku Maybrat dengan kesakralannya tersendiri. Mereka mengenal konsep pamali dalam menjaga alat berburu yang mereka gunakan. Satu lagi, alat berburu mereka tidak boleh digunakan untuk menangkap ikan yang berenang disungai. Kedua, Menggunakan Anjing Pemburu. Dalam berburu menggunakan anjing, biasanya telah diberikan ramuan-ramuan khusus untuk meningkatkan kepekaan anjing terhadap satwa buruan.
Dalam sebutan suku Maybrat, mereka memberikan Bofit ( ramuan ) kepada anjing buruan mereka.
Ketiga, Ilmu Berburu. Terdengar agak ilmiah, sejatinya dalam teknik ini
suku Maybrat menggunakan ramuan-ramuan tertentu. Gunanya untuk menghilangkan “aroma” manusia yang mereka miliki. Hingga mereka tak dikenali keberadaannya, tentu oleh satwa yang hendak diburu tentunya. Teknik ini terbilang sulit. Dan merupakan teknik turun temurun.
Keempat, Meniru Suara Binatang. Seperti namanya, teknik ini dengan menggunakan suara agar satwa yang hendak ditangkap mengira si pemburu adalah teman mereka. Dan Kelima, Jerat. Yakni menggunakan semacam ayaman dari rotan. Namun dalam kalangan Orang Maybrat, teknik ini kurang begitu disukai.
"ane sih penasaran dengan ramuan yang bisa 'menyamarkan' bau manusia,
kan mayan gan, maling Tipi tetangga sebelah, soalnya guguk nya sangar"
kan mayan gan, maling Tipi tetangga sebelah, soalnya guguk nya sangar"

Spoiler for Sumber:
- Suku Laut
Spoiler for Pic + Explain:

Quote:
Suku Laut atau sering juga disebut Orang Lautadalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau. Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.
Sesuai dengan namanya, suku Laut senantiasa mencari penghidupan dari air, baik lautan, maupun sungai. Oleh sebab itu, apabila berbicara mengenai Suku Laut, selalu berkaitan dengan air.
Salah satunya upacara megale.
Megale adalah salah satu istilah yang digunakan untuk memancing. Baik itu memancing ikan maupun memancing binatang-binatang lainnya. Ada lagi bermacam-macam istilah memancing ikan yang dipakai di daerah ini, antara lain: mengail, mengedik, menganggang, dan mewarnai. Istilah-istilah tersebut dipakai untuk memancing ikan yang beratnya kurang dari 20 kg.
Sedangkan mengale adalah istilah yang dipakai untuk memancing ikan dan binatang lain yang beratnya lebih dari 20 kg. Oleh karena itu, menangkap buaya dengan cara memancing
sering disebut dengan istilah ‘mangale buaya".
Orang-orang akan bersepakat menangkap buaya, apabila buaya mengganggu ketentraman kampung. Misalnya menangkap ternak dan menakut-nakuti orang kampung dengan sering menampakan diri di hadapan banyak orang. Apabila buaya telah memberikan tanda-tanda seperti itu, pawang akan segera bertindak. Sang pawang akan bermusyawah dengan beberapa orang pemuka masyarakat di daerah itu untuk segera melaksanakan upacara mangale buaya.
Selain untuk menjaga ketentraman orang-orang kampung, upacara ini juga dilaksanakan dengan maksud untuk mengambil kulitnya. Kulit buaya sangat baik untuk bahan dasar pembuatan tas, tali pinggang dan sebagainya. Oleh karena itu harganya sangat mahal. Dalam berburu buaya, Apabila terdengar kabar bahwa ale telah dimakan oleh buaya, maka pawang harus memperhitungkan saat yang tepat untuk menjemput sang buaya yang terkena ale tersebut. Biasanya sang pawang mengetahui saat-saat yang baik untuk berangkat dan saat-saat yang dapat mendatangkan bahaya.
Sesuai dengan namanya, suku Laut senantiasa mencari penghidupan dari air, baik lautan, maupun sungai. Oleh sebab itu, apabila berbicara mengenai Suku Laut, selalu berkaitan dengan air.
Salah satunya upacara megale.
Megale adalah salah satu istilah yang digunakan untuk memancing. Baik itu memancing ikan maupun memancing binatang-binatang lainnya. Ada lagi bermacam-macam istilah memancing ikan yang dipakai di daerah ini, antara lain: mengail, mengedik, menganggang, dan mewarnai. Istilah-istilah tersebut dipakai untuk memancing ikan yang beratnya kurang dari 20 kg.
Sedangkan mengale adalah istilah yang dipakai untuk memancing ikan dan binatang lain yang beratnya lebih dari 20 kg. Oleh karena itu, menangkap buaya dengan cara memancing
sering disebut dengan istilah ‘mangale buaya".
Orang-orang akan bersepakat menangkap buaya, apabila buaya mengganggu ketentraman kampung. Misalnya menangkap ternak dan menakut-nakuti orang kampung dengan sering menampakan diri di hadapan banyak orang. Apabila buaya telah memberikan tanda-tanda seperti itu, pawang akan segera bertindak. Sang pawang akan bermusyawah dengan beberapa orang pemuka masyarakat di daerah itu untuk segera melaksanakan upacara mangale buaya.
Selain untuk menjaga ketentraman orang-orang kampung, upacara ini juga dilaksanakan dengan maksud untuk mengambil kulitnya. Kulit buaya sangat baik untuk bahan dasar pembuatan tas, tali pinggang dan sebagainya. Oleh karena itu harganya sangat mahal. Dalam berburu buaya, Apabila terdengar kabar bahwa ale telah dimakan oleh buaya, maka pawang harus memperhitungkan saat yang tepat untuk menjemput sang buaya yang terkena ale tersebut. Biasanya sang pawang mengetahui saat-saat yang baik untuk berangkat dan saat-saat yang dapat mendatangkan bahaya.
"ternyata suku yang doyan ama laut seperti ini gak hanya di Riau gan,
di daerah lain juga ada yang memiliki suku yang gemar di laut juga,
misalkan suku bajau/bajo yang tersebar di Sulawesi dan juga suku yang akan ane bahas di nomor 10"
di daerah lain juga ada yang memiliki suku yang gemar di laut juga,
misalkan suku bajau/bajo yang tersebar di Sulawesi dan juga suku yang akan ane bahas di nomor 10"

Spoiler for Sumber:
- Suku Lamalera
Spoiler for Pic + Video + Explain:


Quote:
Secara ras, orang Lamalera memiliki postur fisik mirip dengan orang-orang dari Sulawesi Tengah. Beberapa anggapan mereka masih berhubungan sejarah masa lalu dengan suku-suku di Sulawesi Tengah.
Sedangkan menurut cerita turun-temurun, bahwa orang-orang Lamalera dahulunya berasal
dari daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Luwuk, mereka
melakukan perjalanan menyeberangi laut. Melakukan perjalanan laut untuk mencari tempat yang lebih baik.
Dalam perjalanan mereka sampai di pulau Lepanbatan.
Tapi setelah sekian lama menetap di pulau Lepanbatan ini, ternyata pulau Lepanbatan tenggelam akibat bencana alam, sehingga mereka pun bergegas meninggalkan pulau Lepanbatan dan melanjutkan perjalanan melalui laut dengan menaiki peledang kebakopuka (perahu tradisional), serta membawa kerangka perahu yang bernama Buipuka, yang sampai sekarang masih digunakan di Lamalera.
Akhirnya mereka tiba di sebuah pulau yang bernama pulau Lembata.
Wilayah Lamalera terletak di pantai selatan pulau Lembata provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini pulau Lembata sudah menjadi kabupaten sendiri yang sebelumnya gabung dengan Kabupaten Flores Timur. Di hadapannya terbentang laut sawu yang cukup ganas. Sudah sejak dulu masyarakat Lamalera terkenal sebagai masyarakat nelayan, dan pemburu ikan paus secara tradisional.
perburuan ikan paus, suku Lamalera menggunakan peralatan yang sangat tradisional untuk berburu. Dengan hanya bermodalkan dan berbekal kapal nelayan khas yg disebut Palendang dan tombak kayu yang ujungnya diberi besi tajam, mereka siap memburu mamalia laut paling besar ini. Kesuksesan dalam perburuan bergantung pada kerja sama tim pemburu.
Tradisi ini memang banyak ditentang oleh berbagai pihak. Tapi sebenarnya suku Lamalera dalam berburu ikan paus, tidaklah sembarangan dan serakah dalam berburu, mereka berburu hanya sesuai dengan kebutuhan saja. Mereka sangat menghargai laut,
karena laut memberi mereka kehidupan sejak zaman nenek moyang mereka.
Sedangkan menurut cerita turun-temurun, bahwa orang-orang Lamalera dahulunya berasal
dari daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Luwuk, mereka
melakukan perjalanan menyeberangi laut. Melakukan perjalanan laut untuk mencari tempat yang lebih baik.
Dalam perjalanan mereka sampai di pulau Lepanbatan.
Tapi setelah sekian lama menetap di pulau Lepanbatan ini, ternyata pulau Lepanbatan tenggelam akibat bencana alam, sehingga mereka pun bergegas meninggalkan pulau Lepanbatan dan melanjutkan perjalanan melalui laut dengan menaiki peledang kebakopuka (perahu tradisional), serta membawa kerangka perahu yang bernama Buipuka, yang sampai sekarang masih digunakan di Lamalera.
Akhirnya mereka tiba di sebuah pulau yang bernama pulau Lembata.
Wilayah Lamalera terletak di pantai selatan pulau Lembata provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini pulau Lembata sudah menjadi kabupaten sendiri yang sebelumnya gabung dengan Kabupaten Flores Timur. Di hadapannya terbentang laut sawu yang cukup ganas. Sudah sejak dulu masyarakat Lamalera terkenal sebagai masyarakat nelayan, dan pemburu ikan paus secara tradisional.
perburuan ikan paus, suku Lamalera menggunakan peralatan yang sangat tradisional untuk berburu. Dengan hanya bermodalkan dan berbekal kapal nelayan khas yg disebut Palendang dan tombak kayu yang ujungnya diberi besi tajam, mereka siap memburu mamalia laut paling besar ini. Kesuksesan dalam perburuan bergantung pada kerja sama tim pemburu.
Tradisi ini memang banyak ditentang oleh berbagai pihak. Tapi sebenarnya suku Lamalera dalam berburu ikan paus, tidaklah sembarangan dan serakah dalam berburu, mereka berburu hanya sesuai dengan kebutuhan saja. Mereka sangat menghargai laut,
karena laut memberi mereka kehidupan sejak zaman nenek moyang mereka.
"ya begitulah, terkadang kalau memang itu sudah turun-temurun berburu hewan dilindungi,
ya bagaimanapun susah mau diberhentikan...hmm semoga mereka gak punah, baik sukunya, maupun hewannya"
ya bagaimanapun susah mau diberhentikan...hmm semoga mereka gak punah, baik sukunya, maupun hewannya"

Spoiler for Sumber:


Tambahan dari para Kaskus-ers
- Terimakasih agan niko.x7

Suku Kubu ( Anak Dalam)
Spoiler for Pic + Explain:


Quote:
Original Posted By niko.x7►
Agan kurang 1 yakni cara berburu Suku Kubu yang bermukim di Provinsi Jambi.
Suku Kubu
Untuk berburu umumnya mereka menggunakan senjata tombak sebagai senjata utama. Ada dua jenis tombak yang mereka miliki. Pertama, tombak yang panjangnya kurang lebih setinggi orang dewasa dan bagian mata tombaknya ber-berangko (diberi sarung). Tombak jenis ini oleh mereka disebut kujur berongsong. Cara menggunakannya adalah dengan memegang bagian tengahnya, kemudian dilemparkan (dengan satu tangan) ke sasaran. Kedua, tombak yang panjangnya hampir mencapai 3 meter. Di ujung tombak ini ada semacam pisau yang runcing yang kedua sisinya tajam (bentuknya lebih lebar dan lebih pendek daripada tombak jenis yang pertama).
Cara mempergunakannya adalah tangan kanan memegang pangkalnya, kemudian tangan kiri menopangnya, baru dilemparkan ke arah sasaran (arahnya selalu ke arah kiri). Kedua jenis tombak tersebut matanya terbuat dari logam (besi) dan batangnya terbuat dari kayu tepis. Kayu ini di samping berserat, tetapi juga keras dan lurus, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai batang tombak. Tombak biasanya digunakan berburu nangku (babi hutan), kera, rusa (kancil), napu, kijang (menjangan). Sebagai catatan, binatang-binatang tersebut terkadang ditangkap dengan cara penjeratan. Untuk berburu berbagai binatang tersebut biasanya mereka pergi daerah-daerah sumber air, karena kawanan binatang biasanya berdatangan kesana untuk suban (minum).
Selain tombak mereka juga menggunakan batang pohon yang berukuran sedang dan berat (garis tengahnya kurang lebih 30 cm), khususnya untuk menangkap gajah. Batang pohon tersebut dipotong sepanjang kurang lebih 10 meter, kemudian salah satu ujungnya diruncingi. Sedangkan, ujung lainnya diikat dengan rotan. Selanjutnya, digantung diantara pohon yang besar dengan posisi bagian yang runcing ada di bawah, dengan ketinggian kurang lebih 5 meter dari permukaan tanah. Rotan yang digunakan untuk mengikat salah satu ujung batang tadi dibiarkan menjulur sampai ke tanah. Maksudnya, jika ada gajah yang menginjak atau menariknya, maka gajah tersebut akan tertimpa atau kejatuhan batang kayu yang runcing itu. Sistem ini juga digunakan untuk menangkap harimau. Oleh karena itu, perangkap ini ditempatkan pada daerah yang biasa dilalui oleh gajah dan atau harimau. Perangkap ini oleh mereka disebut pencebung.
Gajah juga dapat ditangkap dengan menggunakan perangkap yang berupa lubang yang cukup dalam dan ditutup dengan ranting serta daun-daunan. Sementara, untuk menangkap badak, mereka membuat parit yang panjangnya 10-15 rentangan tangan orang dewasa (depa). Parit yang lebarnya kurang lebih 1 meter ini semakin ke ujung semakin dalam (kurang lebih setinggi manusia dewasa). Dengan demikian, jika ada badak yang memasukinya, maka ia akan terperangkap karena tidak dapat meloncat atau berbalik.
Sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebud...ala-suku-jambi
Taruh di page one.
Agan kurang 1 yakni cara berburu Suku Kubu yang bermukim di Provinsi Jambi.
Suku Kubu
Untuk berburu umumnya mereka menggunakan senjata tombak sebagai senjata utama. Ada dua jenis tombak yang mereka miliki. Pertama, tombak yang panjangnya kurang lebih setinggi orang dewasa dan bagian mata tombaknya ber-berangko (diberi sarung). Tombak jenis ini oleh mereka disebut kujur berongsong. Cara menggunakannya adalah dengan memegang bagian tengahnya, kemudian dilemparkan (dengan satu tangan) ke sasaran. Kedua, tombak yang panjangnya hampir mencapai 3 meter. Di ujung tombak ini ada semacam pisau yang runcing yang kedua sisinya tajam (bentuknya lebih lebar dan lebih pendek daripada tombak jenis yang pertama).
Cara mempergunakannya adalah tangan kanan memegang pangkalnya, kemudian tangan kiri menopangnya, baru dilemparkan ke arah sasaran (arahnya selalu ke arah kiri). Kedua jenis tombak tersebut matanya terbuat dari logam (besi) dan batangnya terbuat dari kayu tepis. Kayu ini di samping berserat, tetapi juga keras dan lurus, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai batang tombak. Tombak biasanya digunakan berburu nangku (babi hutan), kera, rusa (kancil), napu, kijang (menjangan). Sebagai catatan, binatang-binatang tersebut terkadang ditangkap dengan cara penjeratan. Untuk berburu berbagai binatang tersebut biasanya mereka pergi daerah-daerah sumber air, karena kawanan binatang biasanya berdatangan kesana untuk suban (minum).
Selain tombak mereka juga menggunakan batang pohon yang berukuran sedang dan berat (garis tengahnya kurang lebih 30 cm), khususnya untuk menangkap gajah. Batang pohon tersebut dipotong sepanjang kurang lebih 10 meter, kemudian salah satu ujungnya diruncingi. Sedangkan, ujung lainnya diikat dengan rotan. Selanjutnya, digantung diantara pohon yang besar dengan posisi bagian yang runcing ada di bawah, dengan ketinggian kurang lebih 5 meter dari permukaan tanah. Rotan yang digunakan untuk mengikat salah satu ujung batang tadi dibiarkan menjulur sampai ke tanah. Maksudnya, jika ada gajah yang menginjak atau menariknya, maka gajah tersebut akan tertimpa atau kejatuhan batang kayu yang runcing itu. Sistem ini juga digunakan untuk menangkap harimau. Oleh karena itu, perangkap ini ditempatkan pada daerah yang biasa dilalui oleh gajah dan atau harimau. Perangkap ini oleh mereka disebut pencebung.
Gajah juga dapat ditangkap dengan menggunakan perangkap yang berupa lubang yang cukup dalam dan ditutup dengan ranting serta daun-daunan. Sementara, untuk menangkap badak, mereka membuat parit yang panjangnya 10-15 rentangan tangan orang dewasa (depa). Parit yang lebarnya kurang lebih 1 meter ini semakin ke ujung semakin dalam (kurang lebih setinggi manusia dewasa). Dengan demikian, jika ada badak yang memasukinya, maka ia akan terperangkap karena tidak dapat meloncat atau berbalik.
Sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebud...ala-suku-jambi
Taruh di page one.

Diubah oleh backintroduce 04-02-2015 01:31
0
Kutip
Balas