- Beranda
- Stories from the Heart
34 Jam [survival fiction]
...
TS
UncloudedEyes
34 Jam [survival fiction]
34 Jam
*William*
Dan bahkan malam itu aku sedang asik bermalam mingguan bersama kekasihku ke sebuah mall di Surabaya, Tunjungan Plaza. Menikmati secangkir cappucino hangat di cafe dan membahas obrolan ringan tentang kesibukan masing-masing.
"Iya ko, masa si Kevin lho tadi mau ikut, ya aku ga mau. Ini kan malam minggunya kita ngapa juga dia ikut bawa-bawa pacarnya" gerutu Monica kepadaku,
"Ya ga apa-apa kan, biar mereka pacaran juga, dia lho udah gede, malah kamu jadi cece nya ya sekalian bisa kontrol kan pacarannya si Kevin kalo tadi barengan"
"Yang ada nanti malah minta dibayarin, kan kasian kamu"
"Hahaha, sekali kali ya ga apa-apa lah"
Obrolan malam itu terasa sangat hangat apalagi diluar sana sedang hujan, pemandangan luar jendela pun menambah susana makin berkesan. Cinema Cafe, Tunjungan Plaza 1, pukul 20:38 dihari Selasa 11 Februari 2014. Monica, Maret Tahun depan kita akan segera sah menjadi pasangan dalam nama Tuhan, aku pun sudah tak sabar.
"Ko, mama kemarin nanyain kamu"
"Oya?"
"Iya, tanya masalah kerjaan, itu pabrik yang di Semarang lancar kah? Trus mama takut kalo kita nantinya udah nikah masa iya aku ditinggal-tinggal ke Semarang, padahal yang di Gresik kan udah ada juga pabriknya, ga tau lah aneh-aneh itu mama tanyanya"
"Haha iya deh iya, nanti koko jelasin ke mama pas pulang, lah tadi aja pas jemput kamu, mama sama papa ya udah keburu keluar doa di rumahnya Pak Vian"
"Tapi emangnya gitu ya ko? Misal udah nikah, aku ya kamu tinggal-tinggal gitu?"
"Ya bisa jadi, hahahaha ga lah, kalo nginep ya ngajak kamu kesana , tapi kalo cuma sehari doank ya koko kesana sendiri, kasian kamu nya nanti kecapekan kalo terus-terusan ikut" jawabanku membuat raut wajah nya terlihat berfikir, sepertinya cari sela mau nyalahin tapi ga dapet juga tuh, haha.
Mendadak listrik turun daya dan beberapa saat sempat meredupkan cahaya lampu di semua petak mall, wah sepertinya PLN bermasalah karena hujan. Tak selang lama terdengar suara keramaian dari lantai dasar, Monica ku perintahkan untuk tetap di tempat sedangkan aku melongok ke bawah, ramai sungguh ramai, terlihat seperti ada kekacauan seorang pria paruh baya mengamuk dan ditahan beberapa petugas keamanan.
"Ada apa, ko?" Tanyanya saat aku kembali ke kursi semula,
"Ga tau, ada orang ngamuk tuh, biarin aja lah" jawabku ringan.
Obrolan kami pun berlanjut kesana kemari bahkan sesekali membahas tentang tema pernikahan yang tak jarang ucapannya membuatku tertawa.
Bell dari speaker informasi memutus sejenak obrolan kami yang mencoba mendengarkan dengan seksama. Orang-orang terlihat dengan laju kaki tergopoh berburuan keluar dari tempatnya masing-masing.
"Lho ko, kok orang-orang pada lari semua? Ada apa? Aku lho ga seberapa denger tadi"
"Mbak, itu tadi pengumumannya gimana ya? Saya ga seberapa denger?" Tanyaku pada pelayan cafe,
"Buruan aja ko, kita juga siap-siap ini. Tadi saya dengernya ada kebakaran dari lantai UG, pengunjung diharap segera evakuasi diri ke emergency point"
"Oh makasih ya mbak"
Setelah bill aku bayar dengan gesekan Credit Card, tangan Monica sama sekali tak kulepaskan menuju ke parkiran mobil di basement. Semua akses lift dan eskalator mati, orang-orang berdesakan pelan melewati jalur evakuasi yang ditetapkan, namun tidak untukku, aku alih-alih menarik Monica melewati jalur lain yang lebih sepi untuk seger menuju lahan parkir.
"Maaf Bapak, jalur evakuasinya lewat sini" salah satu security menegurku sambil memintaku kembali ke antrian yang padat,
"Sebentar Pak, saya mau ke toilet dulu" alasanku,
Langkah demi langkah ku ambil melalui jalur yang tidak orang lain lewati dan mendadak cahaya hitam pekat menggantikan semua warna terang yang sebelumnya memandu kami, ya benar listrik padam.
"Ko, aku takut... Mending kita balik aja ikutin orang-orang tadi"
"Udah ga apa-apa kok, koko bisa pake flashlight dari hape, dikit lagi udah sampai mobil"
Satu per satu anak tangga kami injaki menurun, dan penerangan pun hanya berbekal lampu flash kamera handphone samsung yang baterainya pun tersisa 23%. Herannya, pembangkit listrik darurat seperti genset atau lainnya tidak segera menyala memberikan penerangan. Ah, mungkin semua petugas sedang sibuk dengan proses evakuasi.
Terdengar suara teriakan keras kesakitan dari pria yang menggema dan memenuhi ruang kosong seluruh basement sampai lorong tangga, Monica menggenggamku erat dengan tanpa kami ketahui dari mana asal pasti sumber teriakan itu. Kami berdua hanya melanjutkan ketukan langkah kaki menuju tujuan utama. Suasana kembali sangat-sangat hening dan dingin angin merosok melalui lorong tangga yang kami lalui menambah pekatnya rasa takut yang dialami kekasihku tak terkecuali juga aku.
Tangga terakhir dan ini arah ke lokasi mobilku berjejer dengan mobil-mobil pengunjung lainnya, lampu-lampu mulai menyala dengan berawal redup dan semakin terang, saat mata ku benar-benar bisa melihat kedepan dengan jelas tanpa selang sedetikpun gadis yang sedari tadi ku gandeng tangannya menjerit tak karuan hingga membuat telingaku sedikit sakit. 3 mayat berlumuran darah tertidur lemas tak bernafas dengan beberapa bagian tubuh yang tidak utuh telah menjadi santapan pemandangan pertama kami setelah kegelapan kosong tersentuh cahaya.
Sebelum semakin terlambat, aku yakin ini adalah tindak kriminal palng sadis di dunia yang bisa aku saksikan langsung bukan melalui layar tv. Aku segera menarik tangan lemasnya yang sekarang wajahnya pun terlihat pucat berpeluh dingin menahan tangis, didepan sana mobil Daihatsu Xenia berwarna silver masih dalam posisinya semula, kuambil kunci kendaraan roda 4 ku dan membukakan pintu untuk gadis ini. Aku segera memasuki mobil, memasangkan belt untuk Monica dan segera menghidupkan mesin. Injakan pada pedal gas ku pijak pelan menuju keluar basement.
Rute memutar turun kebawah menuntun mobilku pada satu titik dimana terlihat seorang pria berlumuran darah berjalan sempoyongan di depan sana. Aku bingung, kondisi yang membuat jantung terpompa memberiku dua pilihan, menolongnya ataukah aku harus tetap melaju. Bel kutekan berulang-ulang namun orang itu tak kunjung menepi, tetap berjalan pelan di depan mobilku dan akhirnya memutar badan ke arah kami.
Wajahnya berlumur darah termasuk bagian mulut, telinga kanan terlihat rusak penuh cairan merah kental seperti lendir, paha depannya berlubang seperti luka basah diabetes yang sudah menggerogoti fisik penderita, bahkan saat ku perhatikan aku baru sadar tenggorokan di leher depannya sudah berongga.
Monica tak bersuara, terpaku kaku melihat depan dengan air mata yang terus mengucur. Begitu pula aku, kakiku terasa sangat kaku untuk segera menginjak gas kembali. Sedikitpun aku masih belum percaya, ini adalah mayat hidup pertama yang kulihat. Langkahnya pelan, namun dengan pasti menghampiri mobilku, hingga aku benar-benar sadar ketika tangannya menyentuh kap mobil dan disusul jeritan histeris dari mulut Monica membuatku memijak gas dan menubruk monster itu. Tanpa tahan lagi aku mendaratkan mobilku ke jalan raya dengan selamat.
Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.
Bersambung...
Index List :
34 Jam / Part 2
[url=http://www.kaskus.co.id/show_post/54d4bedda3cb1728608b4574/15/part-3 ]34 Jam / Part 3[/url]
*William*
Dan bahkan malam itu aku sedang asik bermalam mingguan bersama kekasihku ke sebuah mall di Surabaya, Tunjungan Plaza. Menikmati secangkir cappucino hangat di cafe dan membahas obrolan ringan tentang kesibukan masing-masing.
"Iya ko, masa si Kevin lho tadi mau ikut, ya aku ga mau. Ini kan malam minggunya kita ngapa juga dia ikut bawa-bawa pacarnya" gerutu Monica kepadaku,
"Ya ga apa-apa kan, biar mereka pacaran juga, dia lho udah gede, malah kamu jadi cece nya ya sekalian bisa kontrol kan pacarannya si Kevin kalo tadi barengan"
"Yang ada nanti malah minta dibayarin, kan kasian kamu"
"Hahaha, sekali kali ya ga apa-apa lah"
Obrolan malam itu terasa sangat hangat apalagi diluar sana sedang hujan, pemandangan luar jendela pun menambah susana makin berkesan. Cinema Cafe, Tunjungan Plaza 1, pukul 20:38 dihari Selasa 11 Februari 2014. Monica, Maret Tahun depan kita akan segera sah menjadi pasangan dalam nama Tuhan, aku pun sudah tak sabar.
"Ko, mama kemarin nanyain kamu"
"Oya?"
"Iya, tanya masalah kerjaan, itu pabrik yang di Semarang lancar kah? Trus mama takut kalo kita nantinya udah nikah masa iya aku ditinggal-tinggal ke Semarang, padahal yang di Gresik kan udah ada juga pabriknya, ga tau lah aneh-aneh itu mama tanyanya"
"Haha iya deh iya, nanti koko jelasin ke mama pas pulang, lah tadi aja pas jemput kamu, mama sama papa ya udah keburu keluar doa di rumahnya Pak Vian"
"Tapi emangnya gitu ya ko? Misal udah nikah, aku ya kamu tinggal-tinggal gitu?"
"Ya bisa jadi, hahahaha ga lah, kalo nginep ya ngajak kamu kesana , tapi kalo cuma sehari doank ya koko kesana sendiri, kasian kamu nya nanti kecapekan kalo terus-terusan ikut" jawabanku membuat raut wajah nya terlihat berfikir, sepertinya cari sela mau nyalahin tapi ga dapet juga tuh, haha.
Mendadak listrik turun daya dan beberapa saat sempat meredupkan cahaya lampu di semua petak mall, wah sepertinya PLN bermasalah karena hujan. Tak selang lama terdengar suara keramaian dari lantai dasar, Monica ku perintahkan untuk tetap di tempat sedangkan aku melongok ke bawah, ramai sungguh ramai, terlihat seperti ada kekacauan seorang pria paruh baya mengamuk dan ditahan beberapa petugas keamanan.
"Ada apa, ko?" Tanyanya saat aku kembali ke kursi semula,
"Ga tau, ada orang ngamuk tuh, biarin aja lah" jawabku ringan.
Obrolan kami pun berlanjut kesana kemari bahkan sesekali membahas tentang tema pernikahan yang tak jarang ucapannya membuatku tertawa.
Bell dari speaker informasi memutus sejenak obrolan kami yang mencoba mendengarkan dengan seksama. Orang-orang terlihat dengan laju kaki tergopoh berburuan keluar dari tempatnya masing-masing.
"Lho ko, kok orang-orang pada lari semua? Ada apa? Aku lho ga seberapa denger tadi"
"Mbak, itu tadi pengumumannya gimana ya? Saya ga seberapa denger?" Tanyaku pada pelayan cafe,
"Buruan aja ko, kita juga siap-siap ini. Tadi saya dengernya ada kebakaran dari lantai UG, pengunjung diharap segera evakuasi diri ke emergency point"
"Oh makasih ya mbak"
Setelah bill aku bayar dengan gesekan Credit Card, tangan Monica sama sekali tak kulepaskan menuju ke parkiran mobil di basement. Semua akses lift dan eskalator mati, orang-orang berdesakan pelan melewati jalur evakuasi yang ditetapkan, namun tidak untukku, aku alih-alih menarik Monica melewati jalur lain yang lebih sepi untuk seger menuju lahan parkir.
"Maaf Bapak, jalur evakuasinya lewat sini" salah satu security menegurku sambil memintaku kembali ke antrian yang padat,
"Sebentar Pak, saya mau ke toilet dulu" alasanku,
Langkah demi langkah ku ambil melalui jalur yang tidak orang lain lewati dan mendadak cahaya hitam pekat menggantikan semua warna terang yang sebelumnya memandu kami, ya benar listrik padam.
"Ko, aku takut... Mending kita balik aja ikutin orang-orang tadi"
"Udah ga apa-apa kok, koko bisa pake flashlight dari hape, dikit lagi udah sampai mobil"
Satu per satu anak tangga kami injaki menurun, dan penerangan pun hanya berbekal lampu flash kamera handphone samsung yang baterainya pun tersisa 23%. Herannya, pembangkit listrik darurat seperti genset atau lainnya tidak segera menyala memberikan penerangan. Ah, mungkin semua petugas sedang sibuk dengan proses evakuasi.
Terdengar suara teriakan keras kesakitan dari pria yang menggema dan memenuhi ruang kosong seluruh basement sampai lorong tangga, Monica menggenggamku erat dengan tanpa kami ketahui dari mana asal pasti sumber teriakan itu. Kami berdua hanya melanjutkan ketukan langkah kaki menuju tujuan utama. Suasana kembali sangat-sangat hening dan dingin angin merosok melalui lorong tangga yang kami lalui menambah pekatnya rasa takut yang dialami kekasihku tak terkecuali juga aku.
Tangga terakhir dan ini arah ke lokasi mobilku berjejer dengan mobil-mobil pengunjung lainnya, lampu-lampu mulai menyala dengan berawal redup dan semakin terang, saat mata ku benar-benar bisa melihat kedepan dengan jelas tanpa selang sedetikpun gadis yang sedari tadi ku gandeng tangannya menjerit tak karuan hingga membuat telingaku sedikit sakit. 3 mayat berlumuran darah tertidur lemas tak bernafas dengan beberapa bagian tubuh yang tidak utuh telah menjadi santapan pemandangan pertama kami setelah kegelapan kosong tersentuh cahaya.
Sebelum semakin terlambat, aku yakin ini adalah tindak kriminal palng sadis di dunia yang bisa aku saksikan langsung bukan melalui layar tv. Aku segera menarik tangan lemasnya yang sekarang wajahnya pun terlihat pucat berpeluh dingin menahan tangis, didepan sana mobil Daihatsu Xenia berwarna silver masih dalam posisinya semula, kuambil kunci kendaraan roda 4 ku dan membukakan pintu untuk gadis ini. Aku segera memasuki mobil, memasangkan belt untuk Monica dan segera menghidupkan mesin. Injakan pada pedal gas ku pijak pelan menuju keluar basement.
Rute memutar turun kebawah menuntun mobilku pada satu titik dimana terlihat seorang pria berlumuran darah berjalan sempoyongan di depan sana. Aku bingung, kondisi yang membuat jantung terpompa memberiku dua pilihan, menolongnya ataukah aku harus tetap melaju. Bel kutekan berulang-ulang namun orang itu tak kunjung menepi, tetap berjalan pelan di depan mobilku dan akhirnya memutar badan ke arah kami.
Wajahnya berlumur darah termasuk bagian mulut, telinga kanan terlihat rusak penuh cairan merah kental seperti lendir, paha depannya berlubang seperti luka basah diabetes yang sudah menggerogoti fisik penderita, bahkan saat ku perhatikan aku baru sadar tenggorokan di leher depannya sudah berongga.
Monica tak bersuara, terpaku kaku melihat depan dengan air mata yang terus mengucur. Begitu pula aku, kakiku terasa sangat kaku untuk segera menginjak gas kembali. Sedikitpun aku masih belum percaya, ini adalah mayat hidup pertama yang kulihat. Langkahnya pelan, namun dengan pasti menghampiri mobilku, hingga aku benar-benar sadar ketika tangannya menyentuh kap mobil dan disusul jeritan histeris dari mulut Monica membuatku memijak gas dan menubruk monster itu. Tanpa tahan lagi aku mendaratkan mobilku ke jalan raya dengan selamat.
Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.
Bersambung...
===
Index List :
34 Jam / Part 2
[url=http://www.kaskus.co.id/show_post/54d4bedda3cb1728608b4574/15/part-3 ]34 Jam / Part 3[/url]
Diubah oleh UncloudedEyes 06-02-2015 20:29
anasabila memberi reputasi
1
3.7K
28
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
UncloudedEyes
#10
34 Jam
Kisah sebelumnya :
Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.
*William Part 2*
Sesaat setelah kuperhatikan semua semakin kisruh, mobil-mobil yang sedang berbaris padat di jalan sana terlihat semakin tergesa-gesa tak beraturan. Seorang petugas berpakaian security melewati samping mobilku, ku buka kaca mobil dan kulontarkan sebuah pertanyaan.
"Permisi Pak, ada apa ya? Tadi katanya kebakaran tapi saya kok ga lihat sedikitpun asap ataupun tanda-tanda kebakaran ya?"
"Oh ga apa-apa Pak, cuma ada kasus pembunuhan tapi agar evakuasi lancar kami arahkan dengan alasan kebakaran"
Pembunuhan? Tindak kriminal didepan mataku, tapi sepertinya ada yang salah. Ini bukan sekedar pembunuhan biasa. Bahkan Monica pun masih terlihat jelas ketraumaan yg diceritakan raut wajahnya.
"Mon, kamu ga nyoba telepon Kevin?" Tangannya langsung meraih hp di dalam tas jinjing warna hijau yang sedari duduk dalam pangkuan gadis itu.
Kulihat jam Rolex di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 21:42, dan keadaan diluar sana sama sekali tak berubah, hanya saja jika sekedar pembunuhan kenapa sampai orang-orang itu berhamburan sebegitu padatnya. Lamunan fikirku tersudahi saat kekasihku berbicara.
"Ko, Kevin ga angkat teleponnya, aku udah nyoba sampe 4 kali padahal"
"Ya udah, semoga dia baik-baik aja, kita jalan pulang aja sekarang semoga jalannya cepet senggang"
Anggukan sebagai ekspresi dari isyarat setuju dia lemparkan ke mukaku, pelan dan sangat merambat mobil kami bisa keluar menuju jalan raya dalam cuaca yang masih berisikan tetesan hujan.
Dalam padatnya jalanan ku ulang kembali perintahku ke Monica untuk menelepon adik nya, batang hand phone yang digenggam kemudian ditempelkan di telinga dan bercakap-cakap dengan suara dari sebrang sana hingga akhirnya pembicaraan itu disudahi.
"Gimana, Mon?"
"Kevin tadi dijalan lagi naik motor makanya ga diangkat-angkat, lihat miss call dariku beberapa kali akhirnya dia berhenti dipinggir jalan ngangkat teleponku ko, katanya disana baik-baik aja, sekarang lagi perjalanan pulang nganterin ceweknya"
"Puji Tuhan deh kalo baik-baik aja"
Rambatan mobil lumayan bisa sedikit demi sedikit melajukan mobilku perlahan, posisi kami sekarang berjalan lurus di jalan raya embong malang yang sebelumnya ku kira sudah lebih leluasa untuk mengemudi, namun kenyataannya disini lebih padat dari sebelumnya. Tak sedikitpun mobilku dapat bergerak maju hingga akhirnya terlihat puluhan orang berlari kembali ke belakang setelah turun dari masing-masing kendaraannya.
Kubuka jendela mobil dan menanyakan ke satu orang yang sedang berlari tepat melewati samping mobilku.
"Ga tau pasti ko, disana ada orang gila lebih dari tujuh orang ngegigitin orang yang pada naik motor sampe berdarah-darah"
"Ko... Ini gimana, puter balik juga ga mungkin dijalan searah gini" sahut Monica,
"Tenang Mon, kita coba tunggu dulu sebentar" usahaku menenangkan Monica.
Menit berganti menit hingga tak sadar jam digital di dashboardku menunjukkan angka 22:13, dan orang-orang masih terus berlarian tak habis-habisnya. Aku memutar kepala bagaimana cara keluar dari sini.
"Mon" tatapku sambil menggenggam tangannya,
"Kita keluar dari sini, lalu ke UFO aja, duduk disana sampr kondisi leboh kondusif, ok?"
Dia kembali mengangguk untuk kedua kalinya, masing-masing pintu di samping kami buka dan keluar menuju UFO di kiri jalan tak jauh dari mobil. Gerimis masih merata di seluruh langit Surabaya kota dan sedikit membasahi tubuh ku dan Monica. Sesekali angin juga masih merambat di kulit yang membuat air hujan terasa lebih dingin.
"Ko, aku khawatir kalau jalannya ga cepet lancar gimana pulangnya nanti"
"Nanti kalau masih macet terus koko telepon mama deh, bilang kita nginep di hotel aja deket-deket sini, di Tegalsari kan juga ada Hotel Zodiac, lumayan lah ga jelek-jelek bamget, ga apa-apa kan?"
"Iya deh, monmon ikutin koko aja"
Gerimis yang turun bukannya mereda malah semakin deras membentuk hujan yang lebih lebat, aku dan Monica terjebak diteras Supermarket ini. Menunggu hujan untuk reda dan memperhatikan banyaknya mobil yang terjebak macet. Bunyi-bunyian klakson masih sesekali terdengar hingga seseorang yang berteduh disini bersama kami tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang membuat beberapa orang kebingungan. Penyakit ayan? Sekitar 3 orang mengangkatnya agak kedalam persis di depan pintu masuk lobby, keadaannya pun membaik dari sebelumnya yang kejang mengerikan dan mengeluarkan busa dari mulut.
"Ko,"
"Ya Mon"
"Perasaanku ga enak"
"Udah ga apa-apa kok, koko disini nemenin kamu"
Sepertinya kekacauan ini adalah hal yang serius, kulihat di langit sekitar 3 helikopter baru saja lewat ditengah derasnya hujan.
"Perhatian kepada seluruh warga diharapkan segera mencari tempat perlindungan yang aman, kami ulangi perhatian kepada seluruh warga diharap segera mencari tempat perlindungan yang aman" kalimat itu terdengar jelas dari speaker corong yang dipegang seorang polisi di jalan raya.
"Ko..." Monica kembali menatapku, kali ini sungguh aku bingung harus bagaimana, apa yang sesungguhnya terjadi di luar sana.
"Dorrr" terdengar letusan senapan yang telah ditarik pelatuknya, puluhan orang makin terlihat lari terbirit-birit ketakutan. Penembakan? Seserius itu kah? Dari polisi kah atau dari seorang kriminal? Ah, kepalaku dipenuhi rasa penasaran.
Monica memelukku ketakutan dalam tangisan yang sedari tadi tak bisa ditahannya.
"Diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO, kami ulangi diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO" speaker polisi itu kembali melontarkan suara keras. Tanpa tunggu lama puluhan orang berkumpul disini diiringi 4 orang polisi.
Keadaan semakin rancu dengan puluhan tanda tanya di masing-masing kepala warga yang berkumpul dengan tanpa jawaban sedikitpun. Alasan para aparat keamanan selalu menjawab terjadi aksi pembunuhan. Tapi, pembunuhan apa? Dan kenapa? Semuanya masih sangat abstrak.
Arahan demi arahan di berikan pada sekumpulan orang tidak terkecuali kami berdua. Mereka berkata keadaan di luar makin tidak kondusif, banyak orang yang mendadak gila dan saling membunuh dengan cara yang sadis, disini keamanan dijanjikan asalkan kami semua menuruti semua arahan.
"Kalian yakin bisa jamin nyawa saya?" Bentak seorang pria berusia antara kepala 3 dengan kasar kepada polisi yang memberikan arahan.
Makiannya terus berlanjut, bahkan membuat keadaan memanas di pukul 22:57 yang seharusnya dingin hujan membuat kami tertidur pulas dikamar masing-masing. Saat beberapa warga sedang beradu mulut dengan aparat tiba-tiba teriakan keras seorang wanita menghentikan semuanya dan membuat semua orang menengok ke arah sumber suara dimana terlihat pemandangan baru lagi yabg tidak seharusnya aku dan Monica melihatnya, pergelangan kakinya berlumuran darah hingga melantai di nikmati puas oleh orang yang tadi sempat kejang-kejang. Manusia memakan manusia?
Bersambung...
Kisah sebelumnya :
Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.
*William Part 2*
Sesaat setelah kuperhatikan semua semakin kisruh, mobil-mobil yang sedang berbaris padat di jalan sana terlihat semakin tergesa-gesa tak beraturan. Seorang petugas berpakaian security melewati samping mobilku, ku buka kaca mobil dan kulontarkan sebuah pertanyaan.
"Permisi Pak, ada apa ya? Tadi katanya kebakaran tapi saya kok ga lihat sedikitpun asap ataupun tanda-tanda kebakaran ya?"
"Oh ga apa-apa Pak, cuma ada kasus pembunuhan tapi agar evakuasi lancar kami arahkan dengan alasan kebakaran"
Pembunuhan? Tindak kriminal didepan mataku, tapi sepertinya ada yang salah. Ini bukan sekedar pembunuhan biasa. Bahkan Monica pun masih terlihat jelas ketraumaan yg diceritakan raut wajahnya.
"Mon, kamu ga nyoba telepon Kevin?" Tangannya langsung meraih hp di dalam tas jinjing warna hijau yang sedari duduk dalam pangkuan gadis itu.
Kulihat jam Rolex di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 21:42, dan keadaan diluar sana sama sekali tak berubah, hanya saja jika sekedar pembunuhan kenapa sampai orang-orang itu berhamburan sebegitu padatnya. Lamunan fikirku tersudahi saat kekasihku berbicara.
"Ko, Kevin ga angkat teleponnya, aku udah nyoba sampe 4 kali padahal"
"Ya udah, semoga dia baik-baik aja, kita jalan pulang aja sekarang semoga jalannya cepet senggang"
Anggukan sebagai ekspresi dari isyarat setuju dia lemparkan ke mukaku, pelan dan sangat merambat mobil kami bisa keluar menuju jalan raya dalam cuaca yang masih berisikan tetesan hujan.
Dalam padatnya jalanan ku ulang kembali perintahku ke Monica untuk menelepon adik nya, batang hand phone yang digenggam kemudian ditempelkan di telinga dan bercakap-cakap dengan suara dari sebrang sana hingga akhirnya pembicaraan itu disudahi.
"Gimana, Mon?"
"Kevin tadi dijalan lagi naik motor makanya ga diangkat-angkat, lihat miss call dariku beberapa kali akhirnya dia berhenti dipinggir jalan ngangkat teleponku ko, katanya disana baik-baik aja, sekarang lagi perjalanan pulang nganterin ceweknya"
"Puji Tuhan deh kalo baik-baik aja"
Rambatan mobil lumayan bisa sedikit demi sedikit melajukan mobilku perlahan, posisi kami sekarang berjalan lurus di jalan raya embong malang yang sebelumnya ku kira sudah lebih leluasa untuk mengemudi, namun kenyataannya disini lebih padat dari sebelumnya. Tak sedikitpun mobilku dapat bergerak maju hingga akhirnya terlihat puluhan orang berlari kembali ke belakang setelah turun dari masing-masing kendaraannya.
Kubuka jendela mobil dan menanyakan ke satu orang yang sedang berlari tepat melewati samping mobilku.
"Ga tau pasti ko, disana ada orang gila lebih dari tujuh orang ngegigitin orang yang pada naik motor sampe berdarah-darah"
"Ko... Ini gimana, puter balik juga ga mungkin dijalan searah gini" sahut Monica,
"Tenang Mon, kita coba tunggu dulu sebentar" usahaku menenangkan Monica.
Menit berganti menit hingga tak sadar jam digital di dashboardku menunjukkan angka 22:13, dan orang-orang masih terus berlarian tak habis-habisnya. Aku memutar kepala bagaimana cara keluar dari sini.
"Mon" tatapku sambil menggenggam tangannya,
"Kita keluar dari sini, lalu ke UFO aja, duduk disana sampr kondisi leboh kondusif, ok?"
Dia kembali mengangguk untuk kedua kalinya, masing-masing pintu di samping kami buka dan keluar menuju UFO di kiri jalan tak jauh dari mobil. Gerimis masih merata di seluruh langit Surabaya kota dan sedikit membasahi tubuh ku dan Monica. Sesekali angin juga masih merambat di kulit yang membuat air hujan terasa lebih dingin.
"Ko, aku khawatir kalau jalannya ga cepet lancar gimana pulangnya nanti"
"Nanti kalau masih macet terus koko telepon mama deh, bilang kita nginep di hotel aja deket-deket sini, di Tegalsari kan juga ada Hotel Zodiac, lumayan lah ga jelek-jelek bamget, ga apa-apa kan?"
"Iya deh, monmon ikutin koko aja"
Gerimis yang turun bukannya mereda malah semakin deras membentuk hujan yang lebih lebat, aku dan Monica terjebak diteras Supermarket ini. Menunggu hujan untuk reda dan memperhatikan banyaknya mobil yang terjebak macet. Bunyi-bunyian klakson masih sesekali terdengar hingga seseorang yang berteduh disini bersama kami tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang membuat beberapa orang kebingungan. Penyakit ayan? Sekitar 3 orang mengangkatnya agak kedalam persis di depan pintu masuk lobby, keadaannya pun membaik dari sebelumnya yang kejang mengerikan dan mengeluarkan busa dari mulut.
"Ko,"
"Ya Mon"
"Perasaanku ga enak"
"Udah ga apa-apa kok, koko disini nemenin kamu"
Sepertinya kekacauan ini adalah hal yang serius, kulihat di langit sekitar 3 helikopter baru saja lewat ditengah derasnya hujan.
"Perhatian kepada seluruh warga diharapkan segera mencari tempat perlindungan yang aman, kami ulangi perhatian kepada seluruh warga diharap segera mencari tempat perlindungan yang aman" kalimat itu terdengar jelas dari speaker corong yang dipegang seorang polisi di jalan raya.
"Ko..." Monica kembali menatapku, kali ini sungguh aku bingung harus bagaimana, apa yang sesungguhnya terjadi di luar sana.
"Dorrr" terdengar letusan senapan yang telah ditarik pelatuknya, puluhan orang makin terlihat lari terbirit-birit ketakutan. Penembakan? Seserius itu kah? Dari polisi kah atau dari seorang kriminal? Ah, kepalaku dipenuhi rasa penasaran.
Monica memelukku ketakutan dalam tangisan yang sedari tadi tak bisa ditahannya.
"Diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO, kami ulangi diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO" speaker polisi itu kembali melontarkan suara keras. Tanpa tunggu lama puluhan orang berkumpul disini diiringi 4 orang polisi.
Keadaan semakin rancu dengan puluhan tanda tanya di masing-masing kepala warga yang berkumpul dengan tanpa jawaban sedikitpun. Alasan para aparat keamanan selalu menjawab terjadi aksi pembunuhan. Tapi, pembunuhan apa? Dan kenapa? Semuanya masih sangat abstrak.
Arahan demi arahan di berikan pada sekumpulan orang tidak terkecuali kami berdua. Mereka berkata keadaan di luar makin tidak kondusif, banyak orang yang mendadak gila dan saling membunuh dengan cara yang sadis, disini keamanan dijanjikan asalkan kami semua menuruti semua arahan.
"Kalian yakin bisa jamin nyawa saya?" Bentak seorang pria berusia antara kepala 3 dengan kasar kepada polisi yang memberikan arahan.
Makiannya terus berlanjut, bahkan membuat keadaan memanas di pukul 22:57 yang seharusnya dingin hujan membuat kami tertidur pulas dikamar masing-masing. Saat beberapa warga sedang beradu mulut dengan aparat tiba-tiba teriakan keras seorang wanita menghentikan semuanya dan membuat semua orang menengok ke arah sumber suara dimana terlihat pemandangan baru lagi yabg tidak seharusnya aku dan Monica melihatnya, pergelangan kakinya berlumuran darah hingga melantai di nikmati puas oleh orang yang tadi sempat kejang-kejang. Manusia memakan manusia?
Bersambung...
Diubah oleh UncloudedEyes 06-02-2015 20:10
0