- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#212
EPISODE 6
KEGADUHAN DI PASAR ALBETISTRA
Jangan dibayangkan bahwa yang disebut dengan Pasar Albetistra itu sama dengan konsep-konsep pasar yang lazim dikenal. Di Albetistra yang disebut pasar adalah segala sesuatu yang masih berada dalam peti segel Googlax Corp, segala sesuatu yang berbahaya dan tentu saja para Albetistran yang baru tertangkap diturunkan disini.
Tidak salah bila beranggapan bahwa Albetistra adalah melting pot dunia baru yang diciptakan oleh Googlax Corp sebagai laboratorium penelitian besar yang belum selesai. Parameter kesehatan Albetistran adalah satu-satunya hal yang bisa dipantau oleh Googlax, dan bila ada Albetistran yang turun standar kesehatannya dari batas normal, ia akan segera ditangkap dan dimasukkan ke database untuk menjadi 'Master'.
Otak dan daya pikir manusia diserap untuk dihimpunkan menjadi otak dan daya pikir mesin. Mesin akan menjadi sangat kuat dan superior, sedangkan manusia yang gemar merusak menjadi lebih terkendali dan kehilangan kemampuan merusaknya.
Memang benar para Albetistran pada dasarnya adalah individu-individu berkemampuan khusus yang tak bisa dikuasai oleh Googlax dalam mega plan mereka mengkonversi ras manusia menjadi ras 'Master'. Tak lain karena setiap mereka dimasukkan dalam jaringan Googlax maka komputer dan jaringan Googlax lah yang akan hancur lebur. Dengan kata lain, para Albetistran ini tak ubahnya virus-virus sangat berbahaya.
Pada kenyataannya, Albetistran yang tinggal di Albetistra, untuk membedakan dari individu berpotensi khusus yang belum tertangkap oleh Googlax dan masih mengembara di alam kebebasan, mereka ini tidak berbahaya bagi satu sama lain utamanya karena dua alasan.
Yang pertama, jumlah mereka tergolong sedikit dibandingkan para Master. Dan yang kedua, walaupun Albetistran luas dan cukup nyaman untuk ditinggali, mereka tidak mempercayai para Master ini, dan lebih mempercayai sesama Albetistran.
Alasan jumlah dan alasan beda visi dengan Master inilah yang membuat Albetistran berbahaya bagi Googlax namun tidak berbahaya bagi sesamanya.
Namun hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi.
Para Albetistran berkumpul di Pasar Albetistran. Mereka mengamati turunnya peti segel dari atas dome. Dua buah peti diturunkan perlahan.
Setiap kali ada penghuni baru adalah detik-detik yang sangat menegangkan. Saat pertama kali Teloy, Albetistran dari Afrika datang misalnya, ia turun dengan peti segel berisi singa.
Baik Teloy dan si Singa langsung lari dengan beringas menendang-nendang kaca Dome yang melingkari dan membatasi Pasar Albetistran. Dome ini tidak akan terbuka hingga 5 menit kemudian. Singa tersebut meraung gelisah. Ini tentu saja bukan singa biasa, melainkan jenis yang sangat ganas karena kalau singa biasa saja pasti sudah dihisap oleh mesin Googlax.
Teloy memicingkan matanya memerah. Ia nampak berang dengan semua orang terlihat dari cara serabutannya memukul-mukul kaca Dome pembatas. Semua Albetistran mundur teratur. Tapi karena Singa itu begitu berisik mengaum dan mengaum, perhatian Teloy pun teralihkan kepadanya. Teloy berlari dan melompat setinggi 3 meter dan saat turun kakinya menghujam tepat ke belakang kepala Singa tersebut. Kepala Singa tersebut hancur terinjak seketika, dan si hitam botak Teloy menyelesaikannya dengan bangkit secara perlahan.
Dan pintu pembatas Dome pun mulai bergeser terbuka.
Semua bersiap dengan segala kemungkinan.
Teloy melangkah keluar dari pasar Albetistra.
Padre Benedetto, dari bilik Italia, yang sudah cukup uzur melangkah maju dan ia pun menyapa Teloy dalam bahasa yang asing bagi semua orang disana.
"Wonk 'umuntu lapha umngane." ucapnya.
"Ngempela?" Teloy menjawab
"Yebo, ndodana yami." Padre meyakinkan.
Dan air muka Teloy pun nampak menjadi lebih bersahabat.
Itu adalah satu cerita. Tapi beda lagi saat Jonson baru diturunkan di Pasar Albetistra.
"Ini Indonesia nih kayanya." kata Dandra melihat Jonson muncul dengan batik.
"Belum tentu, Batik kan internasional. Afrika juga bisa," ucap Ibang.
Songke diam saja tak banyak berkomentar.
Pintu Dome terbuka 5 menit kemudian.
Kata-kata pertama yang diucapkannya adalah, "Aku mau pi pis. Uang tak punya. Pergi dimana?" dan itu diulanginya 3 kali.
"Bang, pura-pura gak ngerti aja Bang. Ni orang sakit kayanya nih, gila nih." Songke berbisik pelan pada Ibang.
Ibang tak mau bergerak, tapi Dandra menyeret lengan bajunya dan mereka berjalan balik ke Bilik.
Suara Padre Benedetto, "Anak muda, ikuti orang tiga itu temanmu dan mereka mau ke WC."
"Teri ma Kasi. Hei Tunggu. Ikut aku."
Songke, Dandra dan Ibang terhenti langkahnya, dan mata mereka terpejam penuh penyesalan.
Tapi kali ini, siapa yang sebenarnya akan keluar dari kedua peti segel tersebut?
Diubah oleh rahan 27-01-2015 09:56
0