- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tengil Si Playboy Dekil
...
TS
201192
Kisah Tengil Si Playboy Dekil
Sungguh manis sekali pria itu, andai saja gue bukan pria normal yang berkelainan orientasi seksual menyukai sesama jenis, pasti udah gue gebet tuh cowo'......gumam gue sambil terus memandangi seonggok cermin di satu sisi kamar gue yang tak berdosa tapi lebih banyak tersiksa karena terlalu sering mendengar ucapan-ucapan dusta yang kian nista yang terlontar dari bibir manis diri ini. hehehe... 
Salam Super, ya saudaraku yang sejahtera hidupnya..Jika kita ingin selalu berbahagia, tetaplah kiranya kiranya kita berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita, mantan mungkin salah satunya....
Eh, Tapi tunggu sebentar, sejak kapan kepala gue botak di depan dan make kacamata BoBo-Ho? oke abaikan salam sambutan itu.
Oke, gue bakal mulai thread ini dari perkenalan tokoh utama sekaligus perkenalan diri pribadi gue disini, Ini cerita asli tentang kisah sekolah gue semasa SMA 3 tahun dulu. Alhamdulillah gue nyempetin cuma 3 tahun d SMA gue ini, walaupun sebenernya masih betah gue berlama-lama dengan masa remaja gue di tempat itu.
Gue Bengz, banyak orang manggil gue dengan sebutan itu, entah karena lebih dinamis untuk dilafalkan atau mungkin terlalu ribet mereka memanggil nama lengkap gue yang bergelar raden kangmas prabu (*lalu gue mendarat indah dengan elang sakti). Hehehehe.. bejanda kok ..
Nama asli pemberian mendiang almarhum mbah kakung gue adalah.... JENG-JENG-JENG . . . . Bambang Baskoro. Pastinya para pembaca langsung faham kalo gue berasal dari pertanahan Jawa. Yups! kalian BENAR! BENAR-BENAR NGACO!!! hahaha. . . Makannya, gue saranin ga usah nebak-nebak dan ikut seolah kalian adalah Ki Joko Stupid, yang bisa tahu apa yang bakal gue tulis selanjutnya. Gue adalah seorang penduduk asli dari Kesultanan Banten yang berdarah mix, antara ras Persia dan Anggora, Eh bukan...Maksud gue, di dalem darah gue ngalir darah Solo-Pandeglang-Serang-Bogor-Ambon, maka dari itu gue tulis mix.
untuk penjelasannya seperti ini:
-Keluarga Bokap:
Kakek: Solo
Nenek: Pandeglang
Bokap: Serang
-Keluarga Nyokap:
Kakek: Ambon
Nenek: Bogor
Nyokap: Bogor
Dan setelah adonan dikukus selama 9bulan8 hari, terlahirlah GUE!
Coba bayangin, dari darah yang ngalir di tubuh gue aja udah complicated banget, nah begitu pula alur cerita Kisah Tengil Si Playboy Dekil ini, bagai mendaki gunung lewati lembah, melewati sungai yang mengalir indah pula.
Fisikly, Gue bergender pria setulen-tulennya pria. berperawakan sedang, dengan tinggi badan 172cm, berkulit manis. Dan satu lagi, gue sama sekali ga punya logat bahasa. Hal ini dikarenakan masa kecil gue yang berpindah-pindah Bogor-Serang. Jadilah gue ngerti bahasa Sunda dan Jawa-Serang tanpa logat salah satunya.
Mungkin sesi ini gue tutup sampe disini. Cukup perkenalan gue sebagai tokoh utama untuk melanjutkan Kisah Tengil Si Playboy Dekil.

Salam Super, ya saudaraku yang sejahtera hidupnya..Jika kita ingin selalu berbahagia, tetaplah kiranya kiranya kita berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita, mantan mungkin salah satunya....
Eh, Tapi tunggu sebentar, sejak kapan kepala gue botak di depan dan make kacamata BoBo-Ho? oke abaikan salam sambutan itu.
Oke, gue bakal mulai thread ini dari perkenalan tokoh utama sekaligus perkenalan diri pribadi gue disini, Ini cerita asli tentang kisah sekolah gue semasa SMA 3 tahun dulu. Alhamdulillah gue nyempetin cuma 3 tahun d SMA gue ini, walaupun sebenernya masih betah gue berlama-lama dengan masa remaja gue di tempat itu.
Gue Bengz, banyak orang manggil gue dengan sebutan itu, entah karena lebih dinamis untuk dilafalkan atau mungkin terlalu ribet mereka memanggil nama lengkap gue yang bergelar raden kangmas prabu (*lalu gue mendarat indah dengan elang sakti). Hehehehe.. bejanda kok ..
Nama asli pemberian mendiang almarhum mbah kakung gue adalah.... JENG-JENG-JENG . . . . Bambang Baskoro. Pastinya para pembaca langsung faham kalo gue berasal dari pertanahan Jawa. Yups! kalian BENAR! BENAR-BENAR NGACO!!! hahaha. . . Makannya, gue saranin ga usah nebak-nebak dan ikut seolah kalian adalah Ki Joko Stupid, yang bisa tahu apa yang bakal gue tulis selanjutnya. Gue adalah seorang penduduk asli dari Kesultanan Banten yang berdarah mix, antara ras Persia dan Anggora, Eh bukan...Maksud gue, di dalem darah gue ngalir darah Solo-Pandeglang-Serang-Bogor-Ambon, maka dari itu gue tulis mix.
untuk penjelasannya seperti ini:
-Keluarga Bokap:
Kakek: Solo
Nenek: Pandeglang
Bokap: Serang
-Keluarga Nyokap:
Kakek: Ambon
Nenek: Bogor
Nyokap: Bogor
Dan setelah adonan dikukus selama 9bulan8 hari, terlahirlah GUE!
Coba bayangin, dari darah yang ngalir di tubuh gue aja udah complicated banget, nah begitu pula alur cerita Kisah Tengil Si Playboy Dekil ini, bagai mendaki gunung lewati lembah, melewati sungai yang mengalir indah pula.
Fisikly, Gue bergender pria setulen-tulennya pria. berperawakan sedang, dengan tinggi badan 172cm, berkulit manis. Dan satu lagi, gue sama sekali ga punya logat bahasa. Hal ini dikarenakan masa kecil gue yang berpindah-pindah Bogor-Serang. Jadilah gue ngerti bahasa Sunda dan Jawa-Serang tanpa logat salah satunya.
Mungkin sesi ini gue tutup sampe disini. Cukup perkenalan gue sebagai tokoh utama untuk melanjutkan Kisah Tengil Si Playboy Dekil.
Quote:
Polling
0 suara
mohon kripik pedasnya gan !!!
Diubah oleh 201192 24-02-2015 23:03
anasabila memberi reputasi
1
33K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
201192
#186
#Chapter10. Sayonara Japan
Tujuh jam sudah kami menyebrang dari negeri para samurai itu. Kini waktu telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kami landing dengan selamat menggunakan maskapai Japan Air Lines.
Keluarga masing-masing dari kami telah terlihat di gate visitor untuk menjemput kami di Bandara Soekarno-Hatta ini. Pemandangan yang belum pernah gue lihat sebelumnya adalah tulisan "Selamat Datang Para Pahlawan Devisa" di gate arrival bandara. Jika melihat kenyataan kini tenaga para TKW dan TKI yang banyak disalahgunakan oleh "yang katanya" oknum, gue ngerasa mereka lebih layak dapet perlakuan lebih istimewa dibandingan tikus-tikus di legislatif sana yang makanin uang rakyat.
OMA !!!
Pekik gue tertahan, Senang gembira riang gue bisa liat sosok itu ada untuk ngejemput gue di Bandara. Terakhir gue telepon 3 hari yang lalu ketika gue masih ada di Kyoto adalah berita sedih bahwa oma ( read: nenek ) gue sakit dan dalam masa perawatan di Rumah sakit. Tapi kini dia ada di rombongan penjemput bersama bokap-nyokap dan . . . si cewe Bintang, cewe yang selalu bikin gue pengen cepet pulang ketika berada di negeri sakura. Ya, saat gue ga lagi bareng Nguyen ataupun Vanessa tentunya
"Oma katanya sakit?kok malah ikut jemput sih..." ucap gue sambil meluk sosok bermuka cerah itu, yang secara ikatan bathinnya lebih deket sama gue dibandingkan ikatan gue dan kedua orang tua gue sendiri. Karena oma gue yang ngurus gue dari kecil hingga lulus SD di Bogor. Gue malah jarang banget maen ke Serang untuk berlibur sekalipun.
"Terus kamu pikir siapa orang yang pertama kamu mau kasih oleh-oleh kalo bukan oma?". Ucapnya di sela pelukan gue.
Hangat pelukan ini. Kehangatan itu yang pernah gue rasain sebelumnya. Berada di dekapan pelukan Ngan. Kini gue berada lagi di dekapan hangat orang yang terikat bathin lebih dekat dibanding kedua orang tua gue , Kehangatan ini menentramkan gue. Lagi.
================================================================
Dook Dook Dook !!!
Ketukan pintu itu semakin terdengar jelas seiring waktu mepet yang kami punya untuk 1jam lagi kami harus perform di malam farewell party.
"Anjirr ni cewe-cewe, dobrak aja yuk pintunya"gusar Adimas yang terus mengetuk pintu kamar cewek yang sedang berganti kostum.
" Sabar aje ndut, namanya juga cewe, tau ndiri pan kalo cewe dandan ngalahin lamanya episode Cinta fitri season 1 sampe edisi Ramadhan " jawab gue yang disetujui oleh anggukan Rival, Osep dan Dimas yang berada di samping gue.
" Lagian kan tadi kita udah gladi bersih buat persiapan perform mas " ujar Rival pelan, dia gamau diamuk Adimas yang sedang dalam mode "beast" ini.
" Lah ini tapi udah setengah jam lebih kita nunggu di depan pintu kamar gini " sergah Adimas yang tampaknya kesabarannya sudah setipis fiesta all flavour itu.
ckrekk...
Pintu pun akhirnya terbuka. Kami bersorak gembira, Osep dan Rival langsung berebut perosotan di ujung ruangan, Adimas gue liat lagi mandi bola dengan girang di sisi ujung kamar satunya. Oke ini ngaco.
Ketika pintu kamar wanita itu terbuka, terlihat para kavaleri cewek udah siap dengan kostum tarian Bali, dengan make-up yang.....
Astaga, kenapa gue ga pernah ngeliat mereka seperti ini? They look so awesome!
"Lama amat dah, kalo ini masa penjajahan Jepang, lu pada udah ketembak gara-gara dandan kelamaan". Dumel Adimas ndut masih terdengar kesel.
" Yee, kalo masih masa penjajahan ya kita ga kejajah lah, kita kan ada di Jepang sekarang" bales Dyah, si kompor mledug "Ini anak suasana panas malah nyiram bensin" seru gue dalem hati. " Udah-udah ah, hayu buruan, ga enak sama mba' Desi udah lama nunggu kita" Inez segera menengahkan situasi yang mulai ga enak ini. Gue pun ngelirik ke dalem rombongan cewe. Tanty yang anggun dengan kostumnya terlihat canggung dan linglung, gue yang sadar ngeliat tingkah lakunya yang aneh itu langsung narik kesimpulan" Ini pasti ada yang ga beres ".
Kami berada di urutan 5 tampil di malam perpisahan ini. Sebelumnya ada pidato singkat dari panitia pelaksana yang sekaligus menutup acara Summer Camp ini dengan acara farewell party malam ini yang diadakan.
Samoa menjadi negara pertama yang menampilkan aksi pentas mereka, tarian Samoa yang gue liat mirip seperti 3 sapi laut yang maen hoola hop di tengah panggung, 3 orang laki-lai bertelanjang dada dengan goyangan pinggul, astaga...kepala gue rada pusing kalo inget mereka. Sebentar, sapi laut itu ada ga sih sebenernya? Oke abaikan.
Dilanjut berurutan dengan penampilan capoeira dari Brasil dan penyanyian hymne merdeka dari USA. Ada something wrong di penampilan anak-anak USA ini. Di akhir nanyiannya mereka mengambil sekantung kacang lalu melemparkan ke arah para peserta. Tentunya para peserta yang menganggap itu sebagai acara hiburan riuh mengambil kacang yang mereka lempar itu. Tapi gue dengan cepet sadar langsung nahan Adimas serta rombongan Indonesia lain untuk ikut. Karena apa?
Karena gue sadar. Kegiatan "melempar kacang " adalah kegiatan pengunjung wisata kebun binatang di kandang monyet. Dan para monyet itu akan riuh berebut kacang yang dilemparkan pengunjung. USA people, they're basta*d!
"Hey, u're alright?" bisik gue ke Tanty yang entah kenapa pandangannya kosong entah kemana dan matanya merah. Gue cuma takut nti dia malah ngerauk-ngerauk tanah sambil teriak "aing penghuni di diyeu, saha maraneh ngadakeun acara ?!!!!" ( karena yang gue tonton tipi tiap orang kesurupan dimanapun itu entah di Lombok, Jogja, Banyumas atau Aceh sekalipun, pasti setan penunggunya bisa bahasa sunda. Ini masih misteri ).
Jujur gue juga mulai ngerasa sedikit "ga nyaman" ketika memasuki area farewell party ini. Dan karena gue tau Tanty adalah cewe yang sensitif dengan hal ini, gue tau ini pasti ada yang ga beres.
Setelah penyanyian lagu dan sedikit atraksi dari peserta Spanyol, kini giliran kami untuk menari. FYI, ini adalah tarian pertama dan terakhir dalam hidup gue untuk menari di tengah ratusan pasang mata 64 negara. Gue ga akan pernah mau ngelakuin lagi.
Pasca tarian kami selesai, tepuk tangan meriah terdengar dari seluruh penjuru. Yang sebagian malah standing applause. Gue bangga, gue banngga bisa bikin badak jawa ( Read: Adimas ) nari-nari bertingkah seperti unggas stroke di atas panggung.
Tanty semakin melemah, gue pengang jidatnya, panas. Gue suruh Indah dan Vina langsung bawa Tanty ke kamarnya. Gue gatau apa yang terjadi, yang jelas hawa disini ga bersahabat.
Lalu setelah acara selesai kami packing ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap pagi hari berangkat menuju Narita International Airport. Kam harus pulang kembali ke Indonesia.
---
Gue cuma bisa tersenyum di balkon kamar hotel gue, sambil duduk di lantai dan beralaskan tembok yang semakin dingin diikuti dengan malam yang semakin pekat.
Langit malam di Tokyo gak terlalu gue suka, terlalu banyak gedung pencakar langit yang menghalangi bintang untuk berpijar, cahaya lampu di Kota ini terlalu silau.
Sementara diluar kamar terdengar riuhnya para peserta bertukar email, berfoto, adapula gue denger tangis haru karena kami semua tau, ini malam terakhir untuk kami untuk menghabiskan waktu di bawah langit, di atas daratan, di negara yang sama.
Gue ga bisa, terlalu cepet buat gue yang baru mengenal arti kehangatan pelukan Ngan, Nakalnya Vanessa yang selalu dengan sengajanya menggigit leher gue yang sangat sensitif. Jenakanya Rudy, temen cowo Samoa gue. Serta kenangan lain di negeri ini. Gue masih belum siap untuk mengucap ''bye'' untuk semua ini.
Mata ini terpejam di posisi duduk gue saat ini dengan alunan lagu di headset

You and I go hard at each other like we're going to war.
You and I go rough, we keep throwing things and slamming the door.
You and I get so damn dysfunctional, we stopped keeping score.
You and I get sick, yeah, I know that we can't do this no more.
Yeah, but baby there you go again, there you go again, making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.
And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
Try to tell you "no" but my body keeps on telling you "yes".
Try to tell you "stop", but your lipstick got me so out of breath.
I'll be waking up in the morning, probably hating myself.
And I'll be waking up, feeling satisfied but guilty as hell.
Yeah, but baby there you go again, there you go again, making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.
And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, but baby there you go again, there you go again making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo.
Yeah, yeah, yeah, yeah
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
I don't know, whatever.
---
Teh hijau itu pun gue seruput sedikit, "thanks Val" masih sambil memejamkan mata gue berterima kasih buat Rival yang ada disamping gue ini. Mungkin dia juga sama dengan gue, masih belum bisa bilang "bye" buat semua.
Tangannya merangkul ke tangan kanan gue, direbahkan kepalanya ke bahu gue. Oke, gue mulai geli dengan perlakuan ni bocah kampret satu.
Seketika itu juga gue buka mata dan lepas headset yang masih menempel di kuping gue. "Val....!!!" Suara gue tertahan, Tenggorokan gue tercekat untuk sekedar mengusir makhluk ini dari senderannya di bahu gue.
Karena makhluk yang gue maksud adalah bukan lain adalah bidadari Vietnam gue yang sedang erat memeluk tangan kanan gue. Isaknya tertahan dengan tatapan kosong ke arah luar balkon. Air matanya tak henti menetes dari ujung dagunya, sebagian merembes ke dada gue.
"Ngan" . . .
Dia hanya kembali terisak dan mendekap dada gue untuk menenggelamkan muka manisnya yang kini berhias berjuta tetes air mata, beribu cerita, berlapis kenangan.
Erat peluknya di punggung gue dengan posisi kepalanya yang terbenam didada gue bikin gue sedikit atau bahkan ga bisa bergerak", gue cuma bisa mengelus rambutnya.
Sungguh berbeda dengan perpisahan sore hari sebelumnya dengan Dewi Drupadi Meksiko gue, Vanessa. Dengan Vanessa gue masih bisa sedikit berbicara. Tapi kali ini? tenggorokan gue tercekat. hangat pelukan Ngan yang terisak, elusan tangan gue dirambutnya, dan tanpa gue tau alasan sebelumnya, air mata gue mengalir otomatis, tanpa suara.
Dada gue sakit, bukan di fisik sama sekali anehnya, si dalam dada ini terasa ada satu bagian yang dimana otak memerintahkan untuk melepasnya, tapi ga bisa begitu aja nerima perintah otak.
Kami menghabiskan malam itu dengan pelukan erat diderai air mata. Ngan, wanita pertama yang berhasil bikin airmata ini menetes untuk makhluk kalangan hawa yang belum pernah gue lakuin sebelumnya, bahkan untuk nyokap kandung gue sekalipun. lagi-lagi, She's the first.
-----
"Don't forget to call me"
Ucapnya di intercom hotel pagi ini.
Lobby Narita International Hotel itu menjadi saksi bisu perpisahan gue dengan Ngan. Pelukan haru kami tak ayal kembali menjadi sorot perhatian sejumlah pengunjung hotel serta peserta Summer Camp lainnya.
Senyum itu, senyum yang sama ketika gue bertemu dia di bus penjemput Airport pertama kali gue ada di Jepang. Senyum manis itu.
Tadi Pagi pukul 07.00 setempat, Bus untuk Ngan sudah terlebih dahulu menjemputnya. Gue ga bisa mengantarnya ke bandara karena setengah jam kemudian bus kami adalah jadwal selanjutnya yang datang untuk menjemput kami dari Hotel sampai bandara. Sementara Vanessa sudah sejak semalam berangkat.
Dan
MAMAAAA!!!!! teriak kami histeris, pelukan hangat seorang ibu yang selalu mendampingi kami selama menghabiskan musim panas disini. Mama Myuki tak bisa menahan harunya. Mata yang memang tercipta sipit itu menjadi terlihat hanya segaris, dengan derai air mata di sela pelukan kami. Sementara itu gue udah memakai kaca mata hitam, walaupun gue ga ikut menangis, karena dari semalem mata gue udah sembab.
SAYONARA JAPAN!!!
================================================================
Setelah gue bercengkrama singkat dengan Oma , bokap dan nyokap gue. Mata gue langsung tertuju pada gadis manis yang berdiam diri di depan koridor gate.
"Kenapa ga gabung?" langsung gue menggamit lengan gadis itu.
But wait!,
"Kok loe yang jemput gue disini?" tanya gue. Yang setelah gue sadar itu adalah adik dari gadis bintang, dia bukan orang yang gue harapkan jemput gue, walaupun secara fisik mereka kembar identik.
Dia cuma terbata berucap "Bengz, si kakak ga bisa jemput " .....
" Iya, gue juga liat kok, kemana dia? kenapa malah lu yang ada disini?" tandas gue.
" Bengz, kakak gue ............................ "
Keluarga masing-masing dari kami telah terlihat di gate visitor untuk menjemput kami di Bandara Soekarno-Hatta ini. Pemandangan yang belum pernah gue lihat sebelumnya adalah tulisan "Selamat Datang Para Pahlawan Devisa" di gate arrival bandara. Jika melihat kenyataan kini tenaga para TKW dan TKI yang banyak disalahgunakan oleh "yang katanya" oknum, gue ngerasa mereka lebih layak dapet perlakuan lebih istimewa dibandingan tikus-tikus di legislatif sana yang makanin uang rakyat.
OMA !!!
Pekik gue tertahan, Senang gembira riang gue bisa liat sosok itu ada untuk ngejemput gue di Bandara. Terakhir gue telepon 3 hari yang lalu ketika gue masih ada di Kyoto adalah berita sedih bahwa oma ( read: nenek ) gue sakit dan dalam masa perawatan di Rumah sakit. Tapi kini dia ada di rombongan penjemput bersama bokap-nyokap dan . . . si cewe Bintang, cewe yang selalu bikin gue pengen cepet pulang ketika berada di negeri sakura. Ya, saat gue ga lagi bareng Nguyen ataupun Vanessa tentunya

"Oma katanya sakit?kok malah ikut jemput sih..." ucap gue sambil meluk sosok bermuka cerah itu, yang secara ikatan bathinnya lebih deket sama gue dibandingkan ikatan gue dan kedua orang tua gue sendiri. Karena oma gue yang ngurus gue dari kecil hingga lulus SD di Bogor. Gue malah jarang banget maen ke Serang untuk berlibur sekalipun.
"Terus kamu pikir siapa orang yang pertama kamu mau kasih oleh-oleh kalo bukan oma?". Ucapnya di sela pelukan gue.
Hangat pelukan ini. Kehangatan itu yang pernah gue rasain sebelumnya. Berada di dekapan pelukan Ngan. Kini gue berada lagi di dekapan hangat orang yang terikat bathin lebih dekat dibanding kedua orang tua gue , Kehangatan ini menentramkan gue. Lagi.
================================================================
- Tokyo, Narita International Hotel-
malam farewell party
malam farewell party
Dook Dook Dook !!!
Ketukan pintu itu semakin terdengar jelas seiring waktu mepet yang kami punya untuk 1jam lagi kami harus perform di malam farewell party.
"Anjirr ni cewe-cewe, dobrak aja yuk pintunya"gusar Adimas yang terus mengetuk pintu kamar cewek yang sedang berganti kostum.
" Sabar aje ndut, namanya juga cewe, tau ndiri pan kalo cewe dandan ngalahin lamanya episode Cinta fitri season 1 sampe edisi Ramadhan " jawab gue yang disetujui oleh anggukan Rival, Osep dan Dimas yang berada di samping gue.
" Lagian kan tadi kita udah gladi bersih buat persiapan perform mas " ujar Rival pelan, dia gamau diamuk Adimas yang sedang dalam mode "beast" ini.
" Lah ini tapi udah setengah jam lebih kita nunggu di depan pintu kamar gini " sergah Adimas yang tampaknya kesabarannya sudah setipis fiesta all flavour itu.
ckrekk...
Pintu pun akhirnya terbuka. Kami bersorak gembira, Osep dan Rival langsung berebut perosotan di ujung ruangan, Adimas gue liat lagi mandi bola dengan girang di sisi ujung kamar satunya. Oke ini ngaco.
Ketika pintu kamar wanita itu terbuka, terlihat para kavaleri cewek udah siap dengan kostum tarian Bali, dengan make-up yang.....
Astaga, kenapa gue ga pernah ngeliat mereka seperti ini? They look so awesome!
"Lama amat dah, kalo ini masa penjajahan Jepang, lu pada udah ketembak gara-gara dandan kelamaan". Dumel Adimas ndut masih terdengar kesel.
" Yee, kalo masih masa penjajahan ya kita ga kejajah lah, kita kan ada di Jepang sekarang" bales Dyah, si kompor mledug "Ini anak suasana panas malah nyiram bensin" seru gue dalem hati. " Udah-udah ah, hayu buruan, ga enak sama mba' Desi udah lama nunggu kita" Inez segera menengahkan situasi yang mulai ga enak ini. Gue pun ngelirik ke dalem rombongan cewe. Tanty yang anggun dengan kostumnya terlihat canggung dan linglung, gue yang sadar ngeliat tingkah lakunya yang aneh itu langsung narik kesimpulan" Ini pasti ada yang ga beres ".
Kami berada di urutan 5 tampil di malam perpisahan ini. Sebelumnya ada pidato singkat dari panitia pelaksana yang sekaligus menutup acara Summer Camp ini dengan acara farewell party malam ini yang diadakan.
Samoa menjadi negara pertama yang menampilkan aksi pentas mereka, tarian Samoa yang gue liat mirip seperti 3 sapi laut yang maen hoola hop di tengah panggung, 3 orang laki-lai bertelanjang dada dengan goyangan pinggul, astaga...kepala gue rada pusing kalo inget mereka. Sebentar, sapi laut itu ada ga sih sebenernya? Oke abaikan.
Dilanjut berurutan dengan penampilan capoeira dari Brasil dan penyanyian hymne merdeka dari USA. Ada something wrong di penampilan anak-anak USA ini. Di akhir nanyiannya mereka mengambil sekantung kacang lalu melemparkan ke arah para peserta. Tentunya para peserta yang menganggap itu sebagai acara hiburan riuh mengambil kacang yang mereka lempar itu. Tapi gue dengan cepet sadar langsung nahan Adimas serta rombongan Indonesia lain untuk ikut. Karena apa?
Karena gue sadar. Kegiatan "melempar kacang " adalah kegiatan pengunjung wisata kebun binatang di kandang monyet. Dan para monyet itu akan riuh berebut kacang yang dilemparkan pengunjung. USA people, they're basta*d!
"Hey, u're alright?" bisik gue ke Tanty yang entah kenapa pandangannya kosong entah kemana dan matanya merah. Gue cuma takut nti dia malah ngerauk-ngerauk tanah sambil teriak "aing penghuni di diyeu, saha maraneh ngadakeun acara ?!!!!" ( karena yang gue tonton tipi tiap orang kesurupan dimanapun itu entah di Lombok, Jogja, Banyumas atau Aceh sekalipun, pasti setan penunggunya bisa bahasa sunda. Ini masih misteri ).
Jujur gue juga mulai ngerasa sedikit "ga nyaman" ketika memasuki area farewell party ini. Dan karena gue tau Tanty adalah cewe yang sensitif dengan hal ini, gue tau ini pasti ada yang ga beres.
Setelah penyanyian lagu dan sedikit atraksi dari peserta Spanyol, kini giliran kami untuk menari. FYI, ini adalah tarian pertama dan terakhir dalam hidup gue untuk menari di tengah ratusan pasang mata 64 negara. Gue ga akan pernah mau ngelakuin lagi.
Pasca tarian kami selesai, tepuk tangan meriah terdengar dari seluruh penjuru. Yang sebagian malah standing applause. Gue bangga, gue banngga bisa bikin badak jawa ( Read: Adimas ) nari-nari bertingkah seperti unggas stroke di atas panggung.
Tanty semakin melemah, gue pengang jidatnya, panas. Gue suruh Indah dan Vina langsung bawa Tanty ke kamarnya. Gue gatau apa yang terjadi, yang jelas hawa disini ga bersahabat.
Lalu setelah acara selesai kami packing ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap pagi hari berangkat menuju Narita International Airport. Kam harus pulang kembali ke Indonesia.
---
Gue cuma bisa tersenyum di balkon kamar hotel gue, sambil duduk di lantai dan beralaskan tembok yang semakin dingin diikuti dengan malam yang semakin pekat.
Langit malam di Tokyo gak terlalu gue suka, terlalu banyak gedung pencakar langit yang menghalangi bintang untuk berpijar, cahaya lampu di Kota ini terlalu silau.
Sementara diluar kamar terdengar riuhnya para peserta bertukar email, berfoto, adapula gue denger tangis haru karena kami semua tau, ini malam terakhir untuk kami untuk menghabiskan waktu di bawah langit, di atas daratan, di negara yang sama.
Gue ga bisa, terlalu cepet buat gue yang baru mengenal arti kehangatan pelukan Ngan, Nakalnya Vanessa yang selalu dengan sengajanya menggigit leher gue yang sangat sensitif. Jenakanya Rudy, temen cowo Samoa gue. Serta kenangan lain di negeri ini. Gue masih belum siap untuk mengucap ''bye'' untuk semua ini.
Mata ini terpejam di posisi duduk gue saat ini dengan alunan lagu di headset

You and I go hard at each other like we're going to war.
You and I go rough, we keep throwing things and slamming the door.
You and I get so damn dysfunctional, we stopped keeping score.
You and I get sick, yeah, I know that we can't do this no more.
Yeah, but baby there you go again, there you go again, making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.
And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
Try to tell you "no" but my body keeps on telling you "yes".
Try to tell you "stop", but your lipstick got me so out of breath.
I'll be waking up in the morning, probably hating myself.
And I'll be waking up, feeling satisfied but guilty as hell.
Yeah, but baby there you go again, there you go again, making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.
And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, baby, give me one more night
Yeah, but baby there you go again, there you go again making me love you.
Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo.
Yeah, yeah, yeah, yeah
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
So I cross my heart and I hope to die
That I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But I'll only stay with you one more night
I don't know, whatever.
---
Teh hijau itu pun gue seruput sedikit, "thanks Val" masih sambil memejamkan mata gue berterima kasih buat Rival yang ada disamping gue ini. Mungkin dia juga sama dengan gue, masih belum bisa bilang "bye" buat semua.
Tangannya merangkul ke tangan kanan gue, direbahkan kepalanya ke bahu gue. Oke, gue mulai geli dengan perlakuan ni bocah kampret satu.
Seketika itu juga gue buka mata dan lepas headset yang masih menempel di kuping gue. "Val....!!!" Suara gue tertahan, Tenggorokan gue tercekat untuk sekedar mengusir makhluk ini dari senderannya di bahu gue.
Karena makhluk yang gue maksud adalah bukan lain adalah bidadari Vietnam gue yang sedang erat memeluk tangan kanan gue. Isaknya tertahan dengan tatapan kosong ke arah luar balkon. Air matanya tak henti menetes dari ujung dagunya, sebagian merembes ke dada gue.
"Ngan" . . .
Dia hanya kembali terisak dan mendekap dada gue untuk menenggelamkan muka manisnya yang kini berhias berjuta tetes air mata, beribu cerita, berlapis kenangan.
Erat peluknya di punggung gue dengan posisi kepalanya yang terbenam didada gue bikin gue sedikit atau bahkan ga bisa bergerak", gue cuma bisa mengelus rambutnya.
Sungguh berbeda dengan perpisahan sore hari sebelumnya dengan Dewi Drupadi Meksiko gue, Vanessa. Dengan Vanessa gue masih bisa sedikit berbicara. Tapi kali ini? tenggorokan gue tercekat. hangat pelukan Ngan yang terisak, elusan tangan gue dirambutnya, dan tanpa gue tau alasan sebelumnya, air mata gue mengalir otomatis, tanpa suara.
Dada gue sakit, bukan di fisik sama sekali anehnya, si dalam dada ini terasa ada satu bagian yang dimana otak memerintahkan untuk melepasnya, tapi ga bisa begitu aja nerima perintah otak.
Kami menghabiskan malam itu dengan pelukan erat diderai air mata. Ngan, wanita pertama yang berhasil bikin airmata ini menetes untuk makhluk kalangan hawa yang belum pernah gue lakuin sebelumnya, bahkan untuk nyokap kandung gue sekalipun. lagi-lagi, She's the first.
-----
"Don't forget to call me"
Ucapnya di intercom hotel pagi ini.
Lobby Narita International Hotel itu menjadi saksi bisu perpisahan gue dengan Ngan. Pelukan haru kami tak ayal kembali menjadi sorot perhatian sejumlah pengunjung hotel serta peserta Summer Camp lainnya.
Senyum itu, senyum yang sama ketika gue bertemu dia di bus penjemput Airport pertama kali gue ada di Jepang. Senyum manis itu.
Tadi Pagi pukul 07.00 setempat, Bus untuk Ngan sudah terlebih dahulu menjemputnya. Gue ga bisa mengantarnya ke bandara karena setengah jam kemudian bus kami adalah jadwal selanjutnya yang datang untuk menjemput kami dari Hotel sampai bandara. Sementara Vanessa sudah sejak semalam berangkat.
Dan
MAMAAAA!!!!! teriak kami histeris, pelukan hangat seorang ibu yang selalu mendampingi kami selama menghabiskan musim panas disini. Mama Myuki tak bisa menahan harunya. Mata yang memang tercipta sipit itu menjadi terlihat hanya segaris, dengan derai air mata di sela pelukan kami. Sementara itu gue udah memakai kaca mata hitam, walaupun gue ga ikut menangis, karena dari semalem mata gue udah sembab.
SAYONARA JAPAN!!!
================================================================
- Tangerang, Bandara Soekarno Hatta-
17.00 WIB
17.00 WIB
Setelah gue bercengkrama singkat dengan Oma , bokap dan nyokap gue. Mata gue langsung tertuju pada gadis manis yang berdiam diri di depan koridor gate.
"Kenapa ga gabung?" langsung gue menggamit lengan gadis itu.
But wait!,
"Kok loe yang jemput gue disini?" tanya gue. Yang setelah gue sadar itu adalah adik dari gadis bintang, dia bukan orang yang gue harapkan jemput gue, walaupun secara fisik mereka kembar identik.
Dia cuma terbata berucap "Bengz, si kakak ga bisa jemput " .....
" Iya, gue juga liat kok, kemana dia? kenapa malah lu yang ada disini?" tandas gue.
" Bengz, kakak gue ............................ "
regmekujo memberi reputasi
1