- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#204
RAHAN KASKUS MEMPERSEMBAHKAN
"FATE, STAY HERE"
Salju turun disertai dengan angin yang sangat lebat. Kedua anak kecil itu tidak bisa bermain dengan leluasa di luar seperti biasanya. Negeri yang sangat indah itu telah tertutup oleh badai salju sejak tadi pagi, sehingga kedua kakak adik itu yang baru saja menyelesaikan sarapan mereka beberapa saat yang lalu kembali berjalan ke ruang tengah rumah yang terbuat seluruhnya dari kayu itu dengan muka tertekuk.
"Nenek!" teriak si bocah laki-laki.
Si nenek tua terus dengan asyiknya menyulam di atas kursi dekat perapian.
"Nenek!" teriak si bocah perempuan.
"Siapa yang kalian panggil nenek?" si nenek tersenyum manis.
"Nenek sayang." kata si bocah laki-laki kali ini lebih pelan.
"Nenek jelek." kata si bocah perempuan dengan lebih pelan lagi.
Dengan entengnya sang nenek melemparkan sebuah ram layaknya frisbee ke kepala si bocah perempuan. Bletak! Kepala si bocah perempuan otomatis benjol. Tapi bocah perempuan itu hanya terkekeh geli walaupun sudah benjut begitu. "Hihihi... nenek jelek, bisiknya lagi."
"Ada apa Andrew?" ucap si nenek kepada si bocah laki-laki.
"Nek, di luar badai salju."
"Jadi?"
"Tolong hentikan."
"Tidak mau."
"Kenapa tidak mau? Kami tidak bisa bermain di hutan dan di laut, Nek?"
Si bocah perempuan kembali memanggil berbisik, "Nenek Jelek, hei Nenek Jelek,"
"Steffi?" ucap si nenek pada bocah perempuan.
"Ya nek lek?" balasnya nakal dan tak perduli.
Si nenek tiba tiba merogoh ke dalam kutangnya, dan dari balik kutang si nenek itu tiba tiba tangannya sudah memegang cermin seukuran wajah orang dewasa, dan si nenek hadapkan cermin itu kepada Steffi.
Steffi memandang wajahnya dan baru menyadari adanya benjut besar di kepalanya langsung histeris. "Haaahh?!!! Aku benjol! Aku benjol!"
Lalu ia pun menggoyang-goyangkan tangan kiri Andrew yang berdiri di sebelah kanannya.
"Andrew- Andrew aku benjol aku benjol, sembuhkan aku!"
Yang dimintai bantuan menarik lepas tangan kirinya dari Steffi, menarik kepalannya mundur, sebelum lalu dihujamkan bogem kirinya ke wajah Steffi.
Steffi terbang melayang 4 meter dan menghantam lemari kayu yang pintu-pintunya terbuat dari kaca dan amblaslah dia masuk ke dalam lemari itu yang tentu saja langsung jebol.
Steffi bangkit dengan marah. Dari posisi terjatuh ia jongkok, mengambil ancang-ancang dan melesat vertikal menembus langit-langit rumah kayu tersebut. "Aku mau pergi main badai salju." pekiknya yang terdengar hanya sayup-sayup.
Si nenek hanya menggelengkan kepalanya melihat Steffi kabur dan bilang ingin main badai salju.
"Bereskan seperti semula, Andrew."
Hanya dengan menggerak-gerakkan tangannya beberapa saat saja dengan mata menatap lemari yang jebol dan atap kayu yang bolong oleh ulah adiknya, semua bagian yang hancur tadi kembali normal.
"Sudah nek."
"Anak pintar."
"Nek? Aku bosan."
"Kau mau apa?"
"Aku mau cerita, nek."
"Cerita apa?"
"Cerita yang nenek suka?"
Sang nenek berpikir sejenak, lalu matanya berbinar.
"Semua cerita menarik. Tapi ada satu. Ada satu orang yang punya cerita yang lebih baik dari segala cerita. Dan ini bukan sembarang cerita. Ini terjadi ribuan tahun yang lalu."
"Ada pencerita yang lebih baik dari nenek?"
"Ada."
"Namanya Pompadouri. Dia adalah seorang legenda. Dengan kemampuan bercerita yang sangat mempesona."
"Steffi, kembali, nenek punya cerita baru." batin Andrew dalam hati.
Hitungan detik, Steffi masuk menerobos dinding kayu dan langsung duduk bersila di dekat si nenek.
Andrew merapikan dinding kayu yang bolong tanpa disuruh.
Steffi membatin, "Ulang ceritanya."
Dan si Nenek pun dengan otomatis mengulang kalimatnya barusan.
"Namanya Pompadouri. Dia adalah seorang legenda. Dengan kemampuan bercerita yang sangat mempesona."
0