- Beranda
- Stories from the Heart
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)
...
TS
godaanpuasa
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)

"Semua pertanyaan yang dulu belom bisa gw jawab, semua kalimat yang dulu belum bisa gw ucapin, bakal gw tulis disini"
-Row-
Misi agan-agan semua
ane nubi+ silent reader akhirnya turun gunung juga

ane disini mau nulis cerita ane gan, karna terinspirasi dari beberapa cerita-cerita keren yang ada di SFTH

cerita ini based on real-life events dari seseorang bernama Row, dari jaman dia SMK-Kuliah. Tetapi sebisa mungkin ane samarin, terutama tempat dan nama orang" nya buat menjaga privasi
ok gan, langsung aja kita mulai...
link photo diatas
Spoiler for Prologue:
"ini tempat favorit gw "
"wah keren banget row, lo harusnya ngajak gw dari dulu kesini" gadis itu tersenyum sangat senang, melihat row dengan mata yang berbinar
"ahaha, enak aja ini tempat spesial gw, lagian kalo lagi gak full moon kaya gini, gw juga jarang kok naek kemari"
gadis itu melihat kelangit, memang benar dari tempat ini bulan dan bintang terlihat sangat jelas. Langit biru kegelapan yang luas disinari oleh gemerlap bintang dan cahaya bulan sungguh melegakan hati, seakan untuk saat ini tak ada yang perlu dipikirkan, tak ada yang perlu dicemaskan.
mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati keindahalan langit malam tersebut.
"Row"gadis itu memangil pelan
"Kenapa ?" row menjawab seadanya, masih asik menatap langit.
tiba-tiba gadis itu menggenggam tangan kiri row
"menurut lo, gw ini cw yang menarik gak sih ?"
row yang kaget karna tangan nya di genggam refleks melihat kearah gadis tersebut. Row terdiam, entah apa yang terjadi, gadis disampingnya terlihat berbeda dari biasanya, wajahnya bersinar terkena paparan sinaran Bulan, matanya sedikit berkaca-kaca, dan senyumnya sangat menawan.
Row menatap mata gadis itu, tangan kanan row ikut menggengam tangan gadis tersebut.
"lo itu........"
Spoiler for index:
Prologue,Index,Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Spoiler for Part 1:
LANGIT sudah gelap. Jalanan lengang hanya dilewati beberapa mobil dan motor yang melaju dengan kencang, entah ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat atau takut akan bahaya dari para begal yang mengincar. Jam 01.00 pagi, saat suasana sedang hening, saat semua orang terlelap, saat semua orang tertidur, mengistirahatkan tubuh dan mengisi tenaga untuk menjalani kehidupannya esok pagi. Row justru masih terjaga, di tempat yang sangat ramai ini, di tempat yang penuh teriakan dan juga asap rokok,Warung Internet.
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Diubah oleh godaanpuasa 02-02-2015 00:31
someshitness dan 9 lainnya memberi reputasi
10
78.7K
Kutip
508
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
godaanpuasa
#465
update
Spoiler for Epilogue Part 2:
“Astaga kangen banget dah gw sob” orang itu mempererat pelukannya.
“Iye gw juga, tapi coba lepasin dulu sob, risih gw” Pemuda itu mendorong badan orang tersebut, embuat mereka kini saling bertatapan
“Gilak 2 taon nda ketemu lo, makin tebel gini kumis ama jenggot lo Row, kaya penjahat di pelem-pelem hahahaha”
“Ngaca woy, badan nambah kurus, baju gombrong uda kaya bandar narkoba lo dep hahaha”
“Udah oy lanjut ngobrol nya di dalem aja”
Row menoleh, terlihat seorang wanita sedang duduk dikursi belakang mobil, melambaikan tangan dan tersenyum kearah Row, Row balas tersenyum.
“Oke say, yok ah uda di panggil Nyonya sob” Depan masuk kedalam pintu kemudi, diikuti oleh Row yang masuk melalui pintu kiri.
“Woke uda siap, nda ada yang ketinggalan kan ?”
“Ntar dulu sob” Row menahan Depan, dengan wajah serius. Row melihat wajah Depan lalu Wajah wanita yang duduk di kursi belakang seorang diri.
“Kenapa sob ?”
“Nda gw baru sadar aja, lo beruntung banget yo Dep , bisad apet bini kaya gini” Perkataan Row membuat Depan salah tingkah dan wanita tersebut tersenyum malu.
“Tapi sayang…..”
“Nah kenapa lagi ini ?” wajah Depan seketika berubah mendengar kalimat row yang belum selesai.
“Iya, Apes banget lo Nin bisa dapet Laki kaya gini” Seketika Mobil tersebut penuh dengan tawa Row dan Nina, sedangkan Depan malah memasang wajah kesal karna sudah dikerjai oleh Row.
“Becanda sob hehe”
“Woo kompak bener kamorang ngeledekin gw ye, kampret”
Row dan Nina kembali tertawa bersama. Sedangkan mulai fokus menghidupkan mobil dan menjalankannya sambil tersenyum.
♠
Mobil klasik ini ternyata masih cukup bertenaga untuk melintasi jalanan. Suaranya pun masih terdengar cukup baik, meskipun tidak sehalus mesin-mesin kendaraan modern. Tetapi setidaknya, suara mesin mobil ini tidak membuat warga marah saat melintas di perumahaan pada malam hari.
“Woiya gw pikir lo becanda soal pintu utara di sms tadi Dep, taunya emang beneran ada ya”
“Ahaha asli sob, kalo yang baru ke kota pelajar pasti bingung kalo nanya arah, patokannya pake arah mata angin sob kalo dimari”
“Lah terus tau mana barat mana timur gimana coba ?”
“Patokannya pake Tugu Koa Pelajar Row, jadi warga sini nda bakal ketuker soalnya pake satu patokan, yaitu landmark kota ini” Kali ini Nina ikut membantu menjelaskan kepada Row.
Row mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya ke arah kaca, Memerhatikan tata kota serta aktifitas warganya di pagi hari. Menurut Row bagian iniliah yang membuat perjalanan liburan begitu menarik, kesempatan untuk dapat melihat suasana kota serta kebiasaan warga yang berbeda di setiap kota yang Row kunjungi.
“Nah sekarang kita mau kemana dulu nih ?, Taman Kota, Tugu, atau Istana ?”
“Basing dah yang penting ada makanan, laper sob gw”
“ kalo gitu kita langsung kerumah aja yuk, Gw uda belanja lho persiapan buat nyambut kedatangan lo Row, uda lama kan lo gak nyicip masakan gw hehe ”
“Boleh juga, tapi yang lo maksud masakan bukan mie rebus kan Nin ?” Kali ini Row dan Depanlah yang tertawa, tak peduli dengan wajah kesal Nina.
“Enak aja, gw uda diajarin Abang masak tau”
“Yo wes yok ah Bang kita meluncur” Row tersenyum menggoda Depan, tetapi Depan terlihat dengan takut-takut berusaha menahan tawanya.
Mobil klasik Depan melaju dengan kecepatan sedang, membuat Row dapat melihat-lihat sekeliling dengan lebih leluasa. Satu lagi hal menarik yang Row temukan di Kota ini adalah jumlah lampu merah yang cukup banyak serta memiliki jarak yang tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lain. Mungkin ini adalah salah satu hal yang membuat kota ini terkenal dengan jalan yang bebas dari macet. Mobil terus melaju menuju rumah Depan yang berada di daerah Utara, pusat kerajinan keramik di Kota itu.
♠
“Jadi gimana bisnis lo, lancar sob ?” Row memulai pembicaraan
“Yah lumayan lah, lo tau kan di Kota ini juga banyak yang bisnis dibidang kuliner, perasaan dalam waktu deket ada aja pesaing baru”
Row mendengarkan sambil menyeruput kopi hitamnya, ini kopi hitam Row yang kedua pada hari ini.
“Mana pengusha baru modalnya gede-gede lagi sob, dekor tempatnya gila, cozy abis” Depan menghisap rokoknya lebih kencang, ekspresi khawatir terlihat di wajahnya.
“Tenang sob, gw yakin pelanggan yang udah cocok sama rasa makanan lo nda bakal lari, inget kan tempat Chef dulu, dipinggir jalan modal bantal meja panjang sama bantal duduk doang tapi ampe ngantri-ngantri sob”
“kalo itu mah, diaorang mau ngeliat asisten Chef yang kece ini sob” Depan tersenyum bangga.
“Ah ke PD-an lo kampret”
Mereka berdua tertawa bersama
“Baaaang, Roooow , makanan uda jadi nih” Teriakan Nina terdengar dari bawah, membuat Depan dan Row bergegas meninggalkan balkon menuju meja makan yang berada di lantai bawah.
Row, Depan dan Nina sudah duduk bersama di meja makan. Nampaknya kali ini Nina benar-benar sudah jago memasak, terbukti dari tersedianya sayur asem, goreng tepung tempe, sambel kecap, serta ikan acar kuning tertata rapih di meja. Tanpa menunggu Komando tuan Rumah, Row langsung mengambil nasi dan lauk serta memulai menyantap makanan di piringnya. Nina dan Depan hanya tersenyum, mereka sudah kenal lama dengan kebiasaan Row yang satu ini. Jika Row benar-benar lapar maka gerakan Row saat menyantap makanannya sama cepatnya dengan gerakan pukulan master kungfu di film-film asia, hampir tak terlihat dengan kasat mata.
“Kok lo nda ngajak Rani kemari Row ?”
Uhk...!
Kalimat Nina membuat Row tiba-tiba tersedak, denagn cepat Row meminum air yang tepat berada di sampingnya.
“Kok lo bisa tau Rani ?” Row bertanya kebingungan.
“Gimana kaga tau, orang sering banget ngobrol bedua bini gw si Rani”
“Ngobrol gimana ?”
“Iya, ngobrol lewat messenggerHP kita Row”
Row terdiam kaget, bagaimana mungkin Rani bisa mengenal Nina.
“Lah, gw pikir dia dapet kontak gw dari lo Row”
“Mana ada, paling tu anak iseng ngotak-ngatik HP gw pas tidur” Row kembali menyantap makanannya, mencoba menenangkan diri.
“Tapi gak habis pikir gw Row, entah si Rani ini minus berapa matanya ampe bisa kepincut ama lo”
“kurang ajar lo, bisa aja ngebales gw” Mereka bertiga kembali tertawa, membuat suasana makan pagi ini semakin hangat.
“Eh makasi banyak yoo, kalian berdua uda sering mampir ketempat Ibu, kemarin Ibu ceritanya sama gw seneng bener mukanya, jadi lega gw hehe”
“Ah nyantai aja Row, Bini gw malah hobi banget kesana, bisa nanya-nanya resep masakan katanya” Depan melirik kearah Nina, Dibalas dengan senyuman hangat Nina kearah Depan. Sungguh kedua pasangan ini benar-benar terlihat serasi.
“Tetep aja sob, dari Kota Santri ke Kota Pelajar ±12 jam perjalanan, gw aja tadi yang cuma tidur aja gempor, apalagi lo yang musti nyetir”
“Aduh gitu doang mah masih gak sebanding sama jasa-jasa Ibu lo ke gw Row, kalo gak ada Ibu lo waktu itu, uda jadi pengedar narkoba beneran kali gw hehehe”
“Ahahaha, pokoknya tengkyu berat lah sob”
“Oke-oke”
Mereka bertiga kembali melanjutkan makannya, Row kembali mengambil Tempe yang ada di meja.
“Lagian gara-gara sering ketempat Ibu, kan gw jadi bisa ngeliat poto-poto tanpa busana lo pas ujan-ujanan waktu bocah Row”
UHK.....!
Kali ini Row tersedak lebih keras, butuh segelas penuh air untuk mendorong makanan yang tersangkut di kerongkongannya, disambut dengan Nina dan Depan yang tertawa dengan kompak.
“Ada aja, Ibu”
Row tersenyum lalu melanjutkan makannya, kali ini ikan acar kuning yang mulus diangkut Row menuju piringnya.
♠
23:00
Row yang tidak bisa tidur kini terduduk di balkon sendirian, entah mengapa suasana seperti ini sungguh tidak asing bagi Row. Saat-saat seperti ini, saat Row sedang terduduk sendiri bersua dengan teman-temannya yang sedang berkilau indah di atas langit malam, Row tidak pernah sendiri. Keberadaan Wanita itu selalu dirasakan Row, seakan sedang duduk disampingnya, menatap wajah Row dengan senyumnya yang manis.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin jelas menuju kearah balkon.
“Iye gw juga, tapi coba lepasin dulu sob, risih gw” Pemuda itu mendorong badan orang tersebut, embuat mereka kini saling bertatapan
“Gilak 2 taon nda ketemu lo, makin tebel gini kumis ama jenggot lo Row, kaya penjahat di pelem-pelem hahahaha”
“Ngaca woy, badan nambah kurus, baju gombrong uda kaya bandar narkoba lo dep hahaha”
“Udah oy lanjut ngobrol nya di dalem aja”
Row menoleh, terlihat seorang wanita sedang duduk dikursi belakang mobil, melambaikan tangan dan tersenyum kearah Row, Row balas tersenyum.
“Oke say, yok ah uda di panggil Nyonya sob” Depan masuk kedalam pintu kemudi, diikuti oleh Row yang masuk melalui pintu kiri.
“Woke uda siap, nda ada yang ketinggalan kan ?”
“Ntar dulu sob” Row menahan Depan, dengan wajah serius. Row melihat wajah Depan lalu Wajah wanita yang duduk di kursi belakang seorang diri.
“Kenapa sob ?”
“Nda gw baru sadar aja, lo beruntung banget yo Dep , bisad apet bini kaya gini” Perkataan Row membuat Depan salah tingkah dan wanita tersebut tersenyum malu.
“Tapi sayang…..”
“Nah kenapa lagi ini ?” wajah Depan seketika berubah mendengar kalimat row yang belum selesai.
“Iya, Apes banget lo Nin bisa dapet Laki kaya gini” Seketika Mobil tersebut penuh dengan tawa Row dan Nina, sedangkan Depan malah memasang wajah kesal karna sudah dikerjai oleh Row.
“Becanda sob hehe”
“Woo kompak bener kamorang ngeledekin gw ye, kampret”
Row dan Nina kembali tertawa bersama. Sedangkan mulai fokus menghidupkan mobil dan menjalankannya sambil tersenyum.
♠
Mobil klasik ini ternyata masih cukup bertenaga untuk melintasi jalanan. Suaranya pun masih terdengar cukup baik, meskipun tidak sehalus mesin-mesin kendaraan modern. Tetapi setidaknya, suara mesin mobil ini tidak membuat warga marah saat melintas di perumahaan pada malam hari.
“Woiya gw pikir lo becanda soal pintu utara di sms tadi Dep, taunya emang beneran ada ya”
“Ahaha asli sob, kalo yang baru ke kota pelajar pasti bingung kalo nanya arah, patokannya pake arah mata angin sob kalo dimari”
“Lah terus tau mana barat mana timur gimana coba ?”
“Patokannya pake Tugu Koa Pelajar Row, jadi warga sini nda bakal ketuker soalnya pake satu patokan, yaitu landmark kota ini” Kali ini Nina ikut membantu menjelaskan kepada Row.
Row mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya ke arah kaca, Memerhatikan tata kota serta aktifitas warganya di pagi hari. Menurut Row bagian iniliah yang membuat perjalanan liburan begitu menarik, kesempatan untuk dapat melihat suasana kota serta kebiasaan warga yang berbeda di setiap kota yang Row kunjungi.
“Nah sekarang kita mau kemana dulu nih ?, Taman Kota, Tugu, atau Istana ?”
“Basing dah yang penting ada makanan, laper sob gw”
“ kalo gitu kita langsung kerumah aja yuk, Gw uda belanja lho persiapan buat nyambut kedatangan lo Row, uda lama kan lo gak nyicip masakan gw hehe ”
“Boleh juga, tapi yang lo maksud masakan bukan mie rebus kan Nin ?” Kali ini Row dan Depanlah yang tertawa, tak peduli dengan wajah kesal Nina.
“Enak aja, gw uda diajarin Abang masak tau”
“Yo wes yok ah Bang kita meluncur” Row tersenyum menggoda Depan, tetapi Depan terlihat dengan takut-takut berusaha menahan tawanya.
Mobil klasik Depan melaju dengan kecepatan sedang, membuat Row dapat melihat-lihat sekeliling dengan lebih leluasa. Satu lagi hal menarik yang Row temukan di Kota ini adalah jumlah lampu merah yang cukup banyak serta memiliki jarak yang tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lain. Mungkin ini adalah salah satu hal yang membuat kota ini terkenal dengan jalan yang bebas dari macet. Mobil terus melaju menuju rumah Depan yang berada di daerah Utara, pusat kerajinan keramik di Kota itu.
♠
“Jadi gimana bisnis lo, lancar sob ?” Row memulai pembicaraan
“Yah lumayan lah, lo tau kan di Kota ini juga banyak yang bisnis dibidang kuliner, perasaan dalam waktu deket ada aja pesaing baru”
Row mendengarkan sambil menyeruput kopi hitamnya, ini kopi hitam Row yang kedua pada hari ini.
“Mana pengusha baru modalnya gede-gede lagi sob, dekor tempatnya gila, cozy abis” Depan menghisap rokoknya lebih kencang, ekspresi khawatir terlihat di wajahnya.
“Tenang sob, gw yakin pelanggan yang udah cocok sama rasa makanan lo nda bakal lari, inget kan tempat Chef dulu, dipinggir jalan modal bantal meja panjang sama bantal duduk doang tapi ampe ngantri-ngantri sob”
“kalo itu mah, diaorang mau ngeliat asisten Chef yang kece ini sob” Depan tersenyum bangga.
“Ah ke PD-an lo kampret”
Mereka berdua tertawa bersama
“Baaaang, Roooow , makanan uda jadi nih” Teriakan Nina terdengar dari bawah, membuat Depan dan Row bergegas meninggalkan balkon menuju meja makan yang berada di lantai bawah.
Row, Depan dan Nina sudah duduk bersama di meja makan. Nampaknya kali ini Nina benar-benar sudah jago memasak, terbukti dari tersedianya sayur asem, goreng tepung tempe, sambel kecap, serta ikan acar kuning tertata rapih di meja. Tanpa menunggu Komando tuan Rumah, Row langsung mengambil nasi dan lauk serta memulai menyantap makanan di piringnya. Nina dan Depan hanya tersenyum, mereka sudah kenal lama dengan kebiasaan Row yang satu ini. Jika Row benar-benar lapar maka gerakan Row saat menyantap makanannya sama cepatnya dengan gerakan pukulan master kungfu di film-film asia, hampir tak terlihat dengan kasat mata.
“Kok lo nda ngajak Rani kemari Row ?”
Uhk...!
Kalimat Nina membuat Row tiba-tiba tersedak, denagn cepat Row meminum air yang tepat berada di sampingnya.
“Kok lo bisa tau Rani ?” Row bertanya kebingungan.
“Gimana kaga tau, orang sering banget ngobrol bedua bini gw si Rani”
“Ngobrol gimana ?”
“Iya, ngobrol lewat messenggerHP kita Row”
Row terdiam kaget, bagaimana mungkin Rani bisa mengenal Nina.
“Lah, gw pikir dia dapet kontak gw dari lo Row”
“Mana ada, paling tu anak iseng ngotak-ngatik HP gw pas tidur” Row kembali menyantap makanannya, mencoba menenangkan diri.
“Tapi gak habis pikir gw Row, entah si Rani ini minus berapa matanya ampe bisa kepincut ama lo”
“kurang ajar lo, bisa aja ngebales gw” Mereka bertiga kembali tertawa, membuat suasana makan pagi ini semakin hangat.
“Eh makasi banyak yoo, kalian berdua uda sering mampir ketempat Ibu, kemarin Ibu ceritanya sama gw seneng bener mukanya, jadi lega gw hehe”
“Ah nyantai aja Row, Bini gw malah hobi banget kesana, bisa nanya-nanya resep masakan katanya” Depan melirik kearah Nina, Dibalas dengan senyuman hangat Nina kearah Depan. Sungguh kedua pasangan ini benar-benar terlihat serasi.
“Tetep aja sob, dari Kota Santri ke Kota Pelajar ±12 jam perjalanan, gw aja tadi yang cuma tidur aja gempor, apalagi lo yang musti nyetir”
“Aduh gitu doang mah masih gak sebanding sama jasa-jasa Ibu lo ke gw Row, kalo gak ada Ibu lo waktu itu, uda jadi pengedar narkoba beneran kali gw hehehe”
“Ahahaha, pokoknya tengkyu berat lah sob”
“Oke-oke”
Mereka bertiga kembali melanjutkan makannya, Row kembali mengambil Tempe yang ada di meja.
“Lagian gara-gara sering ketempat Ibu, kan gw jadi bisa ngeliat poto-poto tanpa busana lo pas ujan-ujanan waktu bocah Row”
UHK.....!
Kali ini Row tersedak lebih keras, butuh segelas penuh air untuk mendorong makanan yang tersangkut di kerongkongannya, disambut dengan Nina dan Depan yang tertawa dengan kompak.
“Ada aja, Ibu”
Row tersenyum lalu melanjutkan makannya, kali ini ikan acar kuning yang mulus diangkut Row menuju piringnya.
♠
23:00
Row yang tidak bisa tidur kini terduduk di balkon sendirian, entah mengapa suasana seperti ini sungguh tidak asing bagi Row. Saat-saat seperti ini, saat Row sedang terduduk sendiri bersua dengan teman-temannya yang sedang berkilau indah di atas langit malam, Row tidak pernah sendiri. Keberadaan Wanita itu selalu dirasakan Row, seakan sedang duduk disampingnya, menatap wajah Row dengan senyumnya yang manis.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin jelas menuju kearah balkon.
i4munited dan lumut66 memberi reputasi
2
Kutip
Balas