- Beranda
- Berita dan Politik
kisah ICAC, KPK Hongkong vs Polisi Hongkong era 70an
...
TS
radhityajr
kisah ICAC, KPK Hongkong vs Polisi Hongkong era 70an
Pemberitaan hari ini dipenuhi kabar soal penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjayanto oleh Bareskrim Mabes Polri. Sebelumnya, yang ramai adalah kabar soal pengumuman tersangka Komisaris Jenderal Budi Gunawan, calon Kapolri yang diusulkan Presiden Jokowi, oleh KPK.
Gara-gara penetapan tersangka oleh KPK, langkah Budi Gunawan menjadi Kapolri terhambat. Kita orang awam, kemudian melihat penangkapan Bambang Widjojanto oleh polisi sebagai aksi balasan. Kita dipaksa lagi melihat KPK versus polisi seperti perkara cicak lawan buaya tahun 2009 silam.
Di jagat sinema ada film yang secara khusus mengulik aksi lembaga anti korupsi. Sebuah film Hong Kong yang asyik berjudul ICAC: I Corrupt All Cops rilis 2009 silam. KPK-nya Hong Kong bernama lengkap Independent Commission Against Corruption, disingkat ICAC. Di judul film singkatan itu diplesetkan yang artinya kira-kira "saya beri suap pada semua polisi."
Cerita Film `ICAC`
Filmnya berlatar Hong Kong tahun 1960-an dan 1970-an. Waktu itu, polisi Hong Kong banyak yang terlibat korupsi. Alih-alih memberantas kejahatan, polisi malah rutin menerima suap dari penjahat, penjudi, hingga pramuria.
Dikisahkan, saat Hong Kong masih dibawah jajahan Inggris tahun 1970-an, tersebutlah Inspektur polisi Lak (Tony Leung Ka-fai). Bersama kelompoknya, Unicorn (Anthony Wong), Gale (Eason Chan) dan Gold (Wong Jing) Lak menjadi kaya dan berkuasa dari uang suap yang diterima dari para gangster.
Saat mereka tak bisa menangkap penjahat, Unicorn bertugas mencari kambing hitam, menyalahkan orang tak bersalah, seperti Bong (Alex Fong), seorang pemuda yang harus mengakui kejahatan yang tak dilakukannya. Bong malah sampai disiksa segala.
Pada 1974, pemerintah Hong Kong akhirnya mendirikan lembaga anti korupsi ICAC. Yim (Bowie Lam) yang memimpin lembaga itu merekrut Unicorn dan Bong. Bagi Unicorn, ini saatnya ia sadar untuk jadi polisi baik-baik dan berwibawa. Sedang bagi Bong, ini momen baginya untuk menggulung polisi korup.
Berada di dua kutub yang berbeda, Unicorn harus berhadap-hadapan dengan Lak dan Gale. Cara para gangster menerornya tak main-main. Kekasihnya sampai mati.
ICAC Vs. Polisi Hong Kong
Ada juga adegan saat polisi Hong Kong bentrok dengan petugas ICAC. Terjadi perkelahian hebat antara penegak hukum. Kejadian itu betulan terjadi di Hong Kong. Pada 28 Oktober 1977, beberapa puluh anggota polisi menyerbu kantor ICAC. Polisi merasa terancam masuk penjara oleh aksi-aksi ICAC.
Di film tak dijelaskan, kepala pemerintahan Hong Kong akhirnya memberi pengampunan pada polisi yang korup yang melakukan kejahatan sebelum 1977.
Film yang disutradarai Wong Jing ini lebih tertarik menyoroti nasib Lak dan Gale yang kian terperosok jadi penjahat alih-alih polisi. Di akhir film kita melihat Gale masuk penjara.
Jika ada pelajaran yang bisa dipetik dari film ICAC, yakni persoalan konflik antara penegak hukum bukan monopoli negara kita. Di Hong Kong pun pernah terjadi. Yang terasa ironis, di Hong Kong hal tersebut terjadi tahun 1970-an. Sedang kita masih mengalaminya di tahun 2015!
Sejak diberi amnesti tahun 1977 itu, polisi Hong Kong berbenah. Mereka tak lagi akrab dengan suap dan korupsi. Polisi Hong Kong membiarkan ICAC melakukan pembersihan besar-besaran di institusi mereka. Kerelaan ini yang tak tampak pada kasus KPK versus polisi di negara kita.
Sumur: http://newzflazz.blogspot.com/2015/01/lihat-kpk-vs-polri-jadi-ingat-film-icac.html?m=1
Gara-gara penetapan tersangka oleh KPK, langkah Budi Gunawan menjadi Kapolri terhambat. Kita orang awam, kemudian melihat penangkapan Bambang Widjojanto oleh polisi sebagai aksi balasan. Kita dipaksa lagi melihat KPK versus polisi seperti perkara cicak lawan buaya tahun 2009 silam.
Di jagat sinema ada film yang secara khusus mengulik aksi lembaga anti korupsi. Sebuah film Hong Kong yang asyik berjudul ICAC: I Corrupt All Cops rilis 2009 silam. KPK-nya Hong Kong bernama lengkap Independent Commission Against Corruption, disingkat ICAC. Di judul film singkatan itu diplesetkan yang artinya kira-kira "saya beri suap pada semua polisi."
Cerita Film `ICAC`
Filmnya berlatar Hong Kong tahun 1960-an dan 1970-an. Waktu itu, polisi Hong Kong banyak yang terlibat korupsi. Alih-alih memberantas kejahatan, polisi malah rutin menerima suap dari penjahat, penjudi, hingga pramuria.
Dikisahkan, saat Hong Kong masih dibawah jajahan Inggris tahun 1970-an, tersebutlah Inspektur polisi Lak (Tony Leung Ka-fai). Bersama kelompoknya, Unicorn (Anthony Wong), Gale (Eason Chan) dan Gold (Wong Jing) Lak menjadi kaya dan berkuasa dari uang suap yang diterima dari para gangster.
Saat mereka tak bisa menangkap penjahat, Unicorn bertugas mencari kambing hitam, menyalahkan orang tak bersalah, seperti Bong (Alex Fong), seorang pemuda yang harus mengakui kejahatan yang tak dilakukannya. Bong malah sampai disiksa segala.
Pada 1974, pemerintah Hong Kong akhirnya mendirikan lembaga anti korupsi ICAC. Yim (Bowie Lam) yang memimpin lembaga itu merekrut Unicorn dan Bong. Bagi Unicorn, ini saatnya ia sadar untuk jadi polisi baik-baik dan berwibawa. Sedang bagi Bong, ini momen baginya untuk menggulung polisi korup.
Berada di dua kutub yang berbeda, Unicorn harus berhadap-hadapan dengan Lak dan Gale. Cara para gangster menerornya tak main-main. Kekasihnya sampai mati.
ICAC Vs. Polisi Hong Kong
Ada juga adegan saat polisi Hong Kong bentrok dengan petugas ICAC. Terjadi perkelahian hebat antara penegak hukum. Kejadian itu betulan terjadi di Hong Kong. Pada 28 Oktober 1977, beberapa puluh anggota polisi menyerbu kantor ICAC. Polisi merasa terancam masuk penjara oleh aksi-aksi ICAC.
Di film tak dijelaskan, kepala pemerintahan Hong Kong akhirnya memberi pengampunan pada polisi yang korup yang melakukan kejahatan sebelum 1977.
Film yang disutradarai Wong Jing ini lebih tertarik menyoroti nasib Lak dan Gale yang kian terperosok jadi penjahat alih-alih polisi. Di akhir film kita melihat Gale masuk penjara.
Jika ada pelajaran yang bisa dipetik dari film ICAC, yakni persoalan konflik antara penegak hukum bukan monopoli negara kita. Di Hong Kong pun pernah terjadi. Yang terasa ironis, di Hong Kong hal tersebut terjadi tahun 1970-an. Sedang kita masih mengalaminya di tahun 2015!
Sejak diberi amnesti tahun 1977 itu, polisi Hong Kong berbenah. Mereka tak lagi akrab dengan suap dan korupsi. Polisi Hong Kong membiarkan ICAC melakukan pembersihan besar-besaran di institusi mereka. Kerelaan ini yang tak tampak pada kasus KPK versus polisi di negara kita.
Sumur: http://newzflazz.blogspot.com/2015/01/lihat-kpk-vs-polri-jadi-ingat-film-icac.html?m=1
Diubah oleh radhityajr 25-01-2015 20:36
0
13.9K
79
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
693.6KThread•58KAnggota
Tampilkan semua post
kungfubox
#5
TEMPO.CO, Jakarta - Di balkon gedung itu, gerombolan bromocorah menggebuki korban dan menjatuhkannya hingga tewas. Seorang nenek
menyaksikan peristiwa mengerikan itu lalu meniup peluit. Dua polisi muda
datang mendengar jeritan peluit. Para preman pun menghampirinya tanpa rasa
takut. Apa yang terjadi? Polisi malah meminta si nenek diam, seakan tak menyaksikan peristiwa
berdarah itu. "Ini bukan urusan kamu, Nek," kata polisi itu. Si nenek pun malas
melapor ke kantor polisi karena dua polisi itu mengatakan akan memakan
waktu 48 sampai 72 jam. Sementara itu, kelompok preman sibuk
menghilangkan barang bukti dengan menyingkirkan mayat. Rupanya, sang
polisi sudah kena "salam tempel" para preman. Cuplikan pembuka film I Corrupt All Cops (2009) seakan mewakili potret Hong Kong sebagai negara korup pada periode sebelum 1973, ketika wilayah itu
masih dalam koloni Inggris. Sutradara Wong Jing menyebutnya sebagai zaman
kegelapan. Film yang disingkat ICAC ini berkisah tentang korupsi sekaligus
upaya Hong Kong memeranginya sehingga muncul lembaga antikorupsi ICAC
(Independent Commission Against Corruption)--inisial yang sama dengan judul
film ini--pada 1974. SHARE: Home • • • • • •
• New! Download the Tempo.co for mobile app HOME SENIN, 08 OKTOBER 2012 | 16:35 WIB Belajar dari Hong Kong untuk Bersihkan Polisi Korup Adegan dalam film mungkin saja dilebihkan. Tapi, Hong Kong pernah
mengalami masa ketika korupsi dan pungutan sangat marak di semua sektor.
Kepada Tempo, pensiunan ICAC Hong Kong, Tony Kwok Man-wai, mengamini apa yang ada di film tersebut. "Semua betul. Mereka sangat korup pada masa
itu. Ada satu polisi yang ketika bangun tak menemukan ranjang di kamarnya
karena seluruh kamar tidurnya penuh uang sampai menutupi ranjang," kata
Tony Kwok, Agustus tahun lalu. Penyakit korup ini melanda hampir di semua lini. Warga Hong Kong sangat
familier dengan istilah "mo chin mo sui' (tidak ada uang tidak ada air)". Istilah ini sering dilekatkan pada petugas pemadam kebakaran yang baru bertindak
kalau hitung-hitungan uangnya selesai. Selama 1962 sampai 1972, negeri ini
kehilangan sekitar 10 miliar dolar Hong Kong akibat korupsi. Pada 15 Februari 1974, ICAC berdiri dengan ketuanya, Inspektur Yim
(diperankan Bowie Lam). Di depan anak buahnya, Inspektur Yim membuka
pidato. "Pekerjaan di ICAC penuh dengan godaan, ancaman, dan serangan. Kita bisa
dikucilkan dan keluarga mungkin membujuk kita keluar dari ICAC. Pertama
harus ditanamkan bahwa ini pekerjaan serius. Kita bukan hanya menyingkirkan
polisi korup, tetapi membuat revolusi dan membasmi kerajaan korupsi di
negeri ini. Sekarang kantor kita belum memiliki perlengkapan, tetapi, yakinlah
ICAC akan disegani nanti." Dalam situasi serba-korup, kehadiran lembaga antikorupsi di Hong Kong
mendapat tantangan. Seperti ditayangkan dalam film, ancaman sampai upaya
pembunuhan, kata Tony Kwok, sering kali dihadapi penyidik ICAC. Tapi,
penyelidikan korupsi bukan milik dan usaha satu orang, melainkan milik tim.
"Kalau Anda membunuh saya, tak ada gunanya karena orang lain akan
melanjutkan penyelidikan." Hong Kong akhirnya melewati masa kegelapan. Transparency International
sekarang menempatkan Hong Kong di urutan 12 sebagai negara paling bersih
dari korupsi--bandingkan dengan Indonesia yang menempati urutan 100. ICAC
pun menjadi model komisi pemberantasan korupsi di negara lain, termasuk
Indonesia.
menyaksikan peristiwa mengerikan itu lalu meniup peluit. Dua polisi muda
datang mendengar jeritan peluit. Para preman pun menghampirinya tanpa rasa
takut. Apa yang terjadi? Polisi malah meminta si nenek diam, seakan tak menyaksikan peristiwa
berdarah itu. "Ini bukan urusan kamu, Nek," kata polisi itu. Si nenek pun malas
melapor ke kantor polisi karena dua polisi itu mengatakan akan memakan
waktu 48 sampai 72 jam. Sementara itu, kelompok preman sibuk
menghilangkan barang bukti dengan menyingkirkan mayat. Rupanya, sang
polisi sudah kena "salam tempel" para preman. Cuplikan pembuka film I Corrupt All Cops (2009) seakan mewakili potret Hong Kong sebagai negara korup pada periode sebelum 1973, ketika wilayah itu
masih dalam koloni Inggris. Sutradara Wong Jing menyebutnya sebagai zaman
kegelapan. Film yang disingkat ICAC ini berkisah tentang korupsi sekaligus
upaya Hong Kong memeranginya sehingga muncul lembaga antikorupsi ICAC
(Independent Commission Against Corruption)--inisial yang sama dengan judul
film ini--pada 1974. SHARE: Home • • • • • •
• New! Download the Tempo.co for mobile app HOME SENIN, 08 OKTOBER 2012 | 16:35 WIB Belajar dari Hong Kong untuk Bersihkan Polisi Korup Adegan dalam film mungkin saja dilebihkan. Tapi, Hong Kong pernah
mengalami masa ketika korupsi dan pungutan sangat marak di semua sektor.
Kepada Tempo, pensiunan ICAC Hong Kong, Tony Kwok Man-wai, mengamini apa yang ada di film tersebut. "Semua betul. Mereka sangat korup pada masa
itu. Ada satu polisi yang ketika bangun tak menemukan ranjang di kamarnya
karena seluruh kamar tidurnya penuh uang sampai menutupi ranjang," kata
Tony Kwok, Agustus tahun lalu. Penyakit korup ini melanda hampir di semua lini. Warga Hong Kong sangat
familier dengan istilah "mo chin mo sui' (tidak ada uang tidak ada air)". Istilah ini sering dilekatkan pada petugas pemadam kebakaran yang baru bertindak
kalau hitung-hitungan uangnya selesai. Selama 1962 sampai 1972, negeri ini
kehilangan sekitar 10 miliar dolar Hong Kong akibat korupsi. Pada 15 Februari 1974, ICAC berdiri dengan ketuanya, Inspektur Yim
(diperankan Bowie Lam). Di depan anak buahnya, Inspektur Yim membuka
pidato. "Pekerjaan di ICAC penuh dengan godaan, ancaman, dan serangan. Kita bisa
dikucilkan dan keluarga mungkin membujuk kita keluar dari ICAC. Pertama
harus ditanamkan bahwa ini pekerjaan serius. Kita bukan hanya menyingkirkan
polisi korup, tetapi membuat revolusi dan membasmi kerajaan korupsi di
negeri ini. Sekarang kantor kita belum memiliki perlengkapan, tetapi, yakinlah
ICAC akan disegani nanti." Dalam situasi serba-korup, kehadiran lembaga antikorupsi di Hong Kong
mendapat tantangan. Seperti ditayangkan dalam film, ancaman sampai upaya
pembunuhan, kata Tony Kwok, sering kali dihadapi penyidik ICAC. Tapi,
penyelidikan korupsi bukan milik dan usaha satu orang, melainkan milik tim.
"Kalau Anda membunuh saya, tak ada gunanya karena orang lain akan
melanjutkan penyelidikan." Hong Kong akhirnya melewati masa kegelapan. Transparency International
sekarang menempatkan Hong Kong di urutan 12 sebagai negara paling bersih
dari korupsi--bandingkan dengan Indonesia yang menempati urutan 100. ICAC
pun menjadi model komisi pemberantasan korupsi di negara lain, termasuk
Indonesia.
0