Tangis Dilo adalah salah satu kesian asli dari Suku Alas yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara. kesenian ini biasa
disenandungkan pada acara-acara adat seperti tepung tawar, penyambutan, dan perkimpoian. Tangis Dilo sendiri memiliki arti Tangisan Pengantin perempuan Sebelum Menikah di Waktu Subuh, Tangis artinya Ratapan/Menangis dan Dilo artinya Waktu Subuh (Bahasa Alas), kesenian ini sendiri hampir sama dengan kesenian Sebuku, dari Dataran Tinggi Gayo, namun ada sedikit perbedaannya, kesenian Sebuku biasanya berisikan ratapan yang mengandung nasehat yang dilantunkan oleh ibu dari mempelai wanita, sedangkan pada Tangis Dilo biasanya ratapan mempelai wanita tentang penyesalan dan permohonan maaf jika selama dia bersama ibunya banyak menyusahkan kedua orang tuanya sekaligus meminta izin untuk menikah.
Cara Melantunkan Syair
Tangis Dilo dilantunkan oleh seorang prempuan yang esok pagi akan menikah, syair dilantukan oleh si wanita dengan keadaan menangis dan bersujud dipangkuan ibunya sambil merenungkan/menyesali tingkah lakunya selama dia bersama ibunya, selanjutnya adalah si prempuan memasukkan beras dalam satu sumpit (5 bambu beras), kemudian air di isi dalam satu labu atau ceret. Acara ini dilakukan secara tersendiri dengan ibunya, yaitu disaat waktu subuh.
Syair
Eeuuuhh… heeeuuiiiiiiii, heiieiiieihh….. heiieiiieihh….. heiieiiieihh…..
Eeuuuhhh…
Aeuheeuuiihh…. Soh me bandu ameeeee eiiieiihh…..
Eiiieiihh… bekhas se selup de ame ku eeuuuhh…
Eeuuuhh… lawe se ntabu de ame ku ame aeehh…
Eiiieiihh… ken tukakh ganti ni anak ndu aku ame eeuuuhaeehh…
Kakhena sekadan wakhi no ameeeee aeiiieiihh….. e anak ndu aku de ame eeuuuhaeehh… senakhen ngantusi aeee… si kekukhangen bandu de ame ku…
Eeuuuhh… heeeuuiiiiiiii, heiieiiieihh….. heiieiiieihh….. heiieiiieihh…..
Maksud dari syair tersebut adalah :
“Dia sudah berumah tangga, disampaikan beras satu bambu, air satu labu, sebagai tukar gantinya kepada ibunya, karena dulunya ibunyalah yang selalu mengerti dan mengayomi dia, baru saja Ia mengurus ibunya, dan belum sempat membahagiakan dan belum sempat memenuhi kekurangan ibunya, namun pada hari ini Ia sudah terlepaslah mengurus ibu sehari-hari”.
Begitulah kira-kira artinya yang disampaikan kepada ibunya disaat seorang anak perempuan akan pergi meninggalkan ibunya dan pergi ke tempat suaminya. Yang menyampaikan tangis dilo dalam adat alas ini adalah seorang perempuan sambil menyembah dan bersujud di pangkuan ibunya sambil menangis dan mengucapkan (bersyair) dengan kata-kata seperti yang dirangkai di atas kepada ibunya.
Jadi dalam acara adat Alas, apabila si pengantin perempuan besok hendak pulang ke rumah suaminya, ada acaranya seperti yang disebutkan di atas yaitu tangis dilo. Si pengantin perempuan memasukan beras dalam satu sumpit sebanyak satu bambu, kemudian air di isi dalam satu labu atau ceret. Acara ini dilakukan secara tersendiri dengan ibunya, yaitu disaat waktu subuh, maka didalam waktu yang singkat inilah dia sampaikan kepada ibunya melalui tangis dilo.
Dalam adat Alas, sebelum si perempuan atau yang menikah ini pergi ketempat suaminya, maka tangis dilo ini dilakukan sambil menyembah dan bersujud di pangkuan ibunya. Dapat kita rasakan sendiri, bahwa peranan ibu sangat begitu besar dalam kehidupan kita anak-anaknya, dan sesuai dengan ajaran agama agar selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua khususnya Ibu, karena surga berada di telapak kaki ibu.