- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.9K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#195
Kembara Hati Episode Terakhir
EPISODE 7: I GRIEVE - 3 OKTOBER 2009
"Raine.... Kejar aku dong!"
"Raine, lihat, aku punya boneka baru ini."
"Raine, ... kamu suka ya sama cowok yang kemarin itu?"
Tak ada guna semua air mata yang terteteskan di pemakaman Fiona kemarin siang. Tak ada manfaat ia menutupi telinganya. Suara Fiona masih terngiang jelas di kepalanya. Bersahabat sejak kecil, sulit untuk mempercayai kalau kini ia harus menjalani sisa hidupnya sendirian tanpa Fio.
Raine kehabisan tenaga untuk menangis.
Kini Raine hanya duduk termangu di Apartemen Fiona. Seluruh barang-barang masih dibiarkan seperti saat pagi dimana mereka berpisah 2 hari yang lalu, belum ada satu pun yang dibereskan. Semalam Raine terlelap dengan memeluk bingkai yang menjaga salah satu foto dirinya dan Fiona.
Foto itu kini didirikan di atas meja kecil.
Masih dengan mata sembabnya Raine beranjak ke wastafel yang ada di sebelah pintu kamar mandi. Dihidupkannya keran wastafel tersebut, dan ia membasuh mukanya beberapa kali. Sikat gigi dilakukan dengan cepat saja. Dan tak lupa mengikat kembali rambutnya yang berantakan dan agak mengembang.
Usai itu semua, ia masih tak tahu harus berbuat apa, lalu berjalan pelan mengelilingi ruangan tengah apartemen tersebut. Nafasnya masih terasa sangat sesak, maka ia menarik nafas dalam – dalam, menghelanya. Semua adegan yang terjadi kemarin masih terekam jelas dalam ingatannya.
Ruang ICU itu; Max yang wajahnya babak belur tapi tidak menderita luka yang begitu parah, dan Fiona yang masih tetap sangat cantik bahkan dalam kematiannya.
Ia hanya sanggup menggenggam tangan karibnya itu. Berlutut di sisinya dan tersedu.
Tak banyak yang ia ingat dari prosesi pemakaman yang dilakukan di rumah Max. Semua begitu cepat dan ia hanya ingat ia bolak balik pingsan setiap kali tersadar akan kenyataan bahwa Fiona telah meninggal. Ia ingat ramai orang-orang melantunkan semacam nyanyian dalam bahasa asing yang sering ia dengar dari pengeras suara masjid. Ia dan Fiona adalah orang – orang yang kehilangan keluarga, dan oleh sebab itu ia dan Fiona merasa sangat dekat satu sama lain.
Sebelum pulang dari rumah Max usai acara pemakaman itu, ia ingat Max mendekatinya dan berkata, “Raine kau mungkin ingin tahu ini; kata-kata terakhir yang diucapkan Fiona padaku, ‘Apakah Raine sudah bertemu Sierra?’ dan ia mengulanginya tiga kali.”
Lalu setelah itu Lowry dan Kikan berpisah jalan. Sierra dan Raine kembali ke Jakarta ke apartemen Fiona dengan membawa mobil Fiona yang tertinggal di rumah Max.
Dan ia ingat dengan jelas pertengkaran yang terjadi, yang ia mulai, tepat setibanya mereka berada di dalam ruangan apartemen Fiona.
“Apa kau kenal Fiona?” Raine melemparkan kunci mobil ke sofa begitu saja.
“Maksudmu?” Sierra kebingungan dengan pertanyaan mendadak itu dan nada suara yang tak bersahabat.
“Apa kau kenal Fiona?!” Nada suara Raine melengking tinggi.
“Raine! Ada apa denganmu? Tentu saja aku kenal dia, kami satu kantor.”
“Jangan bohong padaku! Kau pasti kenal dia lebih baik dari itu, ya kan?!” Mata Raine mendelik dengan penuh amarah pada Sierra.
Sierra tahu ia tak bisa memberi jawaban yang berbelit-belit saat ini. Itu hanya akan memperburuk situasi.
“Ya,” Sierra menjawab pelan dan matanya menghindar beradu pandang dengan Raine.
“When exactly are you gonna tell me that, kau bajingan pembohong?!”
“Raine. Tenanglah!” Sierra pun meninggikan nada suaranya.
Tapi Raine tak bisa mengendalikan emosinya yang meluap.
“Sejak kapan?!”
“Beberapa hari setelah kita bertemu, 12 tahun yang lalu.” Sierra menjawab dengan pelan.
“Oh no, you f***** shit!”
Semua mulai menjadi jelas bagi Raine sekarang. Ia menjambak rambut di kepala dengan kedua tangannya, dan menjerit tertahan. “F***, f***, f***!”
“Raine, apa yang salah denganmu?”
“Denganku?! Denganku katamu?!” Raine berteriak-teriak histeris.
“Apa kau mengira aku dan Fiona berpacaran? Tidak, ia datang padaku saat itu pertama kali. Ia bilang temannya sangat menyukaiku. Ia meminta kepadaku agar aku jangan berpacaran dengan siapapun. Ia meminta aku untuk tetap mengingatmu. Beberapa kali dalam setahun ia menemuiku. Memeriksaku. Memastikan keadaanku. Menanyakan kabarku. Memastikan apakah aku masih tetap pantas untukmu. Temanmu itu malaikat! Hatinya luar biasa baik!”
“Oh, f*** you. Aku tau persis sifat Fiona dan tepat yang seperti itulah yang ada di pikiranku. Dan itu artinya adalah, selama 12 tahun ini aku berilusi memiliki suatu kisah cinta terbaik yang pernah ada dalam cerita. Aku memimpikan suatu perjumpaan kembali denganmu di suatu saat. Aku memimpikan saat perjumpaan itu terjadi kau dan aku masih sama-sama tetap menjaga rasa kita, menjaga hati kita. Aku berkhayal bahwa ada langit – ada tuhan – ada bintang – ada dewa – atau apalah yang menjaga aku punya keinginan. Tapi apa sekarang? Apa? Aku cuma pemimpi kosong, pembual besar yang gak punya cerita apa – apa buat dibanggakan? 12 tahun aku lewat begitu aja – hilang sia – sia.”
“Loh, kok kamu gitu sih? Aku juga tanpa dikasih tau Fiona, dan tanpa disuruh-suruh, juga akan tetap jaga perasaan yang aku punya buat kamu malam itu hingga saat ini. Kok kamu anggap enteng banget sih? Emangnya kamu tau perasaan aku ke kamu gimana? Dan kamu gak bisa bilang bahwa Tuhan gak ada buat menjaga keinginan kamu! Mungkin Tuhan sudah kirim Fiona ke dunia ini, di usianya yang ternyata sesingkat ini hanya untuk jadi Malaikat yang jaga kamu dan jaga keinginan kamu! Jangan egois, Raine sayang.”
Satu cangkir beling melayang dari tangan Raine yang melemparkannya ke arah Sierra. Sierra menghindar dengan refleks dan cangkir beling yang nyaris mengenai kepalanya itu pecah berkeping-keping menghantam dinding di belakang.
“Don’t you call me that!Sekarang keluar dari sini. Aku gak mau lihat muka kamu lagi!” teriak Raine.
“Raine! Aku tau kamu shock Fiona meninggalkan kita semua begitu cepatnya. Tapi kamu gak bisa ambil keputusan apapun dalam keadaan kaya gini. Coba kamu bayangin usaha Fiona selama ini buat jaga aku agar tetap setia sama kamu.”
“Ya! Dan aku gak butuh itu. Aku gak butuh kamu dijagain siapapun. Aku mau kamu untuk aku dan tetap untuk aku selama dua belas tahun ini. Tapi yang jelas nggak bisa kaya gini. Ini nggak fair. Ini nggak fair untukku. Keluar Sierra keluar! Aku gak mau lihat kamu lagi. Semua ini sudah usai. Sudah! Usai!” Raine menangis sejadinya.
Sierra menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan apartemen Fiona.
Raine berhenti mengenang kejadian kemarin, mengemaskan barang-barangnya dan menarik kopernya. Dan berlalu dari ruangan itu. Ia mencari arah yang baru untuk dituju. Dengan cinta besar Fiona terasa dalam hatinya, Raine tersenyum saat air matanya kembali menetes. “Terima kasih, Fio, Thanks for everything.” ucapnya lirih.
it was only one hour ago
it was all so different then
there's nothing yet has really sunk in
looks like it always did
this flesh and bone
it's just the way that you would tied in
now there's no-one home
i grieve for you
you leave me
'so hard to move on
still loving what's gone
they say life carries on
carries on and on and on and on
it was all so different then
there's nothing yet has really sunk in
looks like it always did
this flesh and bone
it's just the way that you would tied in
now there's no-one home
i grieve for you
you leave me
'so hard to move on
still loving what's gone
they say life carries on
carries on and on and on and on
"Raine.... Kejar aku dong!"
"Raine, lihat, aku punya boneka baru ini."
"Raine, ... kamu suka ya sama cowok yang kemarin itu?"
Tak ada guna semua air mata yang terteteskan di pemakaman Fiona kemarin siang. Tak ada manfaat ia menutupi telinganya. Suara Fiona masih terngiang jelas di kepalanya. Bersahabat sejak kecil, sulit untuk mempercayai kalau kini ia harus menjalani sisa hidupnya sendirian tanpa Fio.
Raine kehabisan tenaga untuk menangis.
Kini Raine hanya duduk termangu di Apartemen Fiona. Seluruh barang-barang masih dibiarkan seperti saat pagi dimana mereka berpisah 2 hari yang lalu, belum ada satu pun yang dibereskan. Semalam Raine terlelap dengan memeluk bingkai yang menjaga salah satu foto dirinya dan Fiona.
Foto itu kini didirikan di atas meja kecil.
Masih dengan mata sembabnya Raine beranjak ke wastafel yang ada di sebelah pintu kamar mandi. Dihidupkannya keran wastafel tersebut, dan ia membasuh mukanya beberapa kali. Sikat gigi dilakukan dengan cepat saja. Dan tak lupa mengikat kembali rambutnya yang berantakan dan agak mengembang.
Usai itu semua, ia masih tak tahu harus berbuat apa, lalu berjalan pelan mengelilingi ruangan tengah apartemen tersebut. Nafasnya masih terasa sangat sesak, maka ia menarik nafas dalam – dalam, menghelanya. Semua adegan yang terjadi kemarin masih terekam jelas dalam ingatannya.
Ruang ICU itu; Max yang wajahnya babak belur tapi tidak menderita luka yang begitu parah, dan Fiona yang masih tetap sangat cantik bahkan dalam kematiannya.
Ia hanya sanggup menggenggam tangan karibnya itu. Berlutut di sisinya dan tersedu.
Tak banyak yang ia ingat dari prosesi pemakaman yang dilakukan di rumah Max. Semua begitu cepat dan ia hanya ingat ia bolak balik pingsan setiap kali tersadar akan kenyataan bahwa Fiona telah meninggal. Ia ingat ramai orang-orang melantunkan semacam nyanyian dalam bahasa asing yang sering ia dengar dari pengeras suara masjid. Ia dan Fiona adalah orang – orang yang kehilangan keluarga, dan oleh sebab itu ia dan Fiona merasa sangat dekat satu sama lain.
--//--
Sebelum pulang dari rumah Max usai acara pemakaman itu, ia ingat Max mendekatinya dan berkata, “Raine kau mungkin ingin tahu ini; kata-kata terakhir yang diucapkan Fiona padaku, ‘Apakah Raine sudah bertemu Sierra?’ dan ia mengulanginya tiga kali.”
Lalu setelah itu Lowry dan Kikan berpisah jalan. Sierra dan Raine kembali ke Jakarta ke apartemen Fiona dengan membawa mobil Fiona yang tertinggal di rumah Max.
Dan ia ingat dengan jelas pertengkaran yang terjadi, yang ia mulai, tepat setibanya mereka berada di dalam ruangan apartemen Fiona.
“Apa kau kenal Fiona?” Raine melemparkan kunci mobil ke sofa begitu saja.
“Maksudmu?” Sierra kebingungan dengan pertanyaan mendadak itu dan nada suara yang tak bersahabat.
“Apa kau kenal Fiona?!” Nada suara Raine melengking tinggi.
“Raine! Ada apa denganmu? Tentu saja aku kenal dia, kami satu kantor.”
“Jangan bohong padaku! Kau pasti kenal dia lebih baik dari itu, ya kan?!” Mata Raine mendelik dengan penuh amarah pada Sierra.
Sierra tahu ia tak bisa memberi jawaban yang berbelit-belit saat ini. Itu hanya akan memperburuk situasi.
“Ya,” Sierra menjawab pelan dan matanya menghindar beradu pandang dengan Raine.
“When exactly are you gonna tell me that, kau bajingan pembohong?!”
“Raine. Tenanglah!” Sierra pun meninggikan nada suaranya.
Tapi Raine tak bisa mengendalikan emosinya yang meluap.
“Sejak kapan?!”
“Beberapa hari setelah kita bertemu, 12 tahun yang lalu.” Sierra menjawab dengan pelan.
“Oh no, you f***** shit!”
Semua mulai menjadi jelas bagi Raine sekarang. Ia menjambak rambut di kepala dengan kedua tangannya, dan menjerit tertahan. “F***, f***, f***!”
“Raine, apa yang salah denganmu?”
“Denganku?! Denganku katamu?!” Raine berteriak-teriak histeris.
“Apa kau mengira aku dan Fiona berpacaran? Tidak, ia datang padaku saat itu pertama kali. Ia bilang temannya sangat menyukaiku. Ia meminta kepadaku agar aku jangan berpacaran dengan siapapun. Ia meminta aku untuk tetap mengingatmu. Beberapa kali dalam setahun ia menemuiku. Memeriksaku. Memastikan keadaanku. Menanyakan kabarku. Memastikan apakah aku masih tetap pantas untukmu. Temanmu itu malaikat! Hatinya luar biasa baik!”
“Oh, f*** you. Aku tau persis sifat Fiona dan tepat yang seperti itulah yang ada di pikiranku. Dan itu artinya adalah, selama 12 tahun ini aku berilusi memiliki suatu kisah cinta terbaik yang pernah ada dalam cerita. Aku memimpikan suatu perjumpaan kembali denganmu di suatu saat. Aku memimpikan saat perjumpaan itu terjadi kau dan aku masih sama-sama tetap menjaga rasa kita, menjaga hati kita. Aku berkhayal bahwa ada langit – ada tuhan – ada bintang – ada dewa – atau apalah yang menjaga aku punya keinginan. Tapi apa sekarang? Apa? Aku cuma pemimpi kosong, pembual besar yang gak punya cerita apa – apa buat dibanggakan? 12 tahun aku lewat begitu aja – hilang sia – sia.”
“Loh, kok kamu gitu sih? Aku juga tanpa dikasih tau Fiona, dan tanpa disuruh-suruh, juga akan tetap jaga perasaan yang aku punya buat kamu malam itu hingga saat ini. Kok kamu anggap enteng banget sih? Emangnya kamu tau perasaan aku ke kamu gimana? Dan kamu gak bisa bilang bahwa Tuhan gak ada buat menjaga keinginan kamu! Mungkin Tuhan sudah kirim Fiona ke dunia ini, di usianya yang ternyata sesingkat ini hanya untuk jadi Malaikat yang jaga kamu dan jaga keinginan kamu! Jangan egois, Raine sayang.”
Satu cangkir beling melayang dari tangan Raine yang melemparkannya ke arah Sierra. Sierra menghindar dengan refleks dan cangkir beling yang nyaris mengenai kepalanya itu pecah berkeping-keping menghantam dinding di belakang.
“Don’t you call me that!Sekarang keluar dari sini. Aku gak mau lihat muka kamu lagi!” teriak Raine.
“Raine! Aku tau kamu shock Fiona meninggalkan kita semua begitu cepatnya. Tapi kamu gak bisa ambil keputusan apapun dalam keadaan kaya gini. Coba kamu bayangin usaha Fiona selama ini buat jaga aku agar tetap setia sama kamu.”
“Ya! Dan aku gak butuh itu. Aku gak butuh kamu dijagain siapapun. Aku mau kamu untuk aku dan tetap untuk aku selama dua belas tahun ini. Tapi yang jelas nggak bisa kaya gini. Ini nggak fair. Ini nggak fair untukku. Keluar Sierra keluar! Aku gak mau lihat kamu lagi. Semua ini sudah usai. Sudah! Usai!” Raine menangis sejadinya.
Sierra menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan apartemen Fiona.
--//--
Raine berhenti mengenang kejadian kemarin, mengemaskan barang-barangnya dan menarik kopernya. Dan berlalu dari ruangan itu. Ia mencari arah yang baru untuk dituju. Dengan cinta besar Fiona terasa dalam hatinya, Raine tersenyum saat air matanya kembali menetes. “Terima kasih, Fio, Thanks for everything.” ucapnya lirih.
Diubah oleh rahan 24-01-2015 00:15
0