- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.9K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#193
Quote:
sorry for the late reply. So busy taking care of classes. Fiona, unfortunately, has passed away. Here is the rest of the story.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sierra duduk dengan santai di atas karpet bulu. Di hadapannya Raine tengah menghirup teh hangat yang baru saja dibuat.
"Terus sekarang apa?" ucap Sierra.
Raine cuma menggelengkan kepalanya seraya sedikit tersenyum.
"Nggak tau deh." lalu selang berapa saat ia pun balik bertanya, "Ini gila nggak sih?"
"Kenapa mesti gila? Darimananya?"
"Ya. Aku merasa ini tidak wajar. Hubungan .. mmm .. nope, apapun yang terjadi sejak di perkemahan ... sampai kita ketemu lagi hari ini ... itu tuh nggak mungkin banget."
"Nggak mungkin gimana sih. Here we are now. You and me. Both of us. Kita berdua duduk disini sekarang. Bicara lagi. Kenalan. Sesuatu yang belum selesai kita lakukan 12 tahun yang lalu. Bukannya ini waktu yang paling kita tunggu-tunggu dari selama ini? "
"Ya itu dia. Memang dipikirkan dan dinantikan untuk terjadi. Tetapi pas udah kejadian, kok kayanya ngga masuk akal. Mestinya nggak terjadi. Rasanya terlalu ajaib aja. Kok bisa? Mestinya kita ini nggak ketemu."
"Mm ... maksudmu apa Raine? Mestinya kita nggak ketemu? Dulu? atau sekarang?"
"Sekarang."
"Alasannya?"
"Ya karena ini ajaib aja .. kaya' terlalu engga mungkin aja kita bisa ketemu."
Sierra bisa cepat melihat dan tanggap bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggu bagi gadis di hadapannya ini.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Raine? Kau terlihat agak ... depresi." Sierra berucap dengan pelan. Ia tak yakin dengan pilihan katanya.
"Aku belum gila sih, cuma hampir. Ini tuh kaya apa ya. Susah nggambarinnya."
"Dicoba aja dulu."
Raine menghirup tehnya lagi sebelum melanjutkan.
"Ok. Aku coba. Ini tuh kaya' aku ngerasa aku tuh udah menghabiskan waktu selama ini - lebih dari 10 tahun ini - buat nyari kamu - buat ketemu lagi sama kamu. Mmm .. bukan nyari juga sih, enggak pernah justru dengan sengaja mencari. Aku tuh pengennya ketemu gitu aja. Ketemu karna takdir gitu."
"Nah terus?" Sierra masih menyimak walaupun sebenarnya ia ingin berkomentar tapi ia tahan.
"Ya kaya cerita pencarian harta karun bajak laut gitu .. kan banyak orang yang menghabiskan waktu mereka cari harta karun gitu .. dan gak ketemu-ketemu kan?"
"Terus? Jadi mestinya - no - bagusnya ketemu apa enggak tuh harta karun menurutmu?" Sierra tersenyum.
"Ya aku sih, jujur nggak terlalu peduli sama harta karunnya."
dan Sierra pun langsung jlebb...
lalu Raine melanjutkan
"Aku sempat berpikir - penantianku untuk bisa ketemu lagi sama Sierra itu, itulah semangat hidup aku - dan aku gak tau kalau ternyata memang bisa ketemu lagi. Terus sekarang apa. I have nothing to keep me going on."
"Bentar-bentar .. ini masalah perspektif aja sih, menurutku Raine. Menurutmu kalau para pemburu harta karun itu menemukan apa yang mereka cari apa yang terjadi slanjutnya?"
"Mereka akan cari harta karun lain lagi."
"Jadi mereka gak akan bahagia meskipun mereka sudah menemukan satu harta karun?"
"Ya. That's what they are. Mereka pemburu harta karun."
"Dan kamu pikir kamu juga sama seperti itu?"
"Aku nggak bilang aku seperti itu. Aku bilang aku takut aku seperti itu."
Sierra tau ini akan jadi percakapan yang panjang. Gadis ini 12 tahun terombang-ambing. Entah apa yang ia alami selama itu.
Di hadapannya, Raine sedang sangat cemas. Ia merasa perjumpaan ini tidak seperti yang ia bayangkan. Tapi apapun itu, banyak hal yang harus dikatakannya. Ia memerlukan pertemuan ini, setidaknya untuk bisa melanjutkan hidupnya.
0
